
"Hal yang paling menyakitkan adalah ketika orang yang kita sayang, kita harapkan ternyata dia tidak sesuai dengan harapan. Seperti sekarang bahkan sekarang saat bertemu kembali Andi tidak tertarik denganku. Bagaimana dulu Andi mengatakan kalau kita bertemu akan langsung dinikahin, sekarang sudah ketemu jangankan diajak nikah di ajak jadi pacarpun tidak". Rani terus saja bertanya-tanya dalam hatinya sepanjang perjalanan.
Kali ini Pratu Yogi meminta Rani untuk duduk didepan, melihat dia seperti kurang sehat, teman-temannyapun menyetujui usulan Pratu Yogi dan dia juga yang jadi supir kali ini.
"Wahhh,,, bang yogi mah gitu, memamfaatkan kesempatan dalam kesempitan." celutuk Melati yang diiringi suara tawa dari yang lain.
Suara dibelakang terdengar riuh oleh candaan mereka lain halnya didepan, Rani yang dari tadi hanya terdiam sambil memeluk boneka beruangnya terus larut dalam pikirannya sendiri sampai akhirnya dia tertidur.
Pratu Yogi yang dari tadi melihat tidak bertanya sedikitpun, pikirannya terus berpikir dan bertanya-tanya apa yang membuat Rani seperti sekarang, kalau karena ungkapan perasaannya semalam rasanya tidak mungkin karena dia sudah mulai aneh semenjak mereka makan.
"Apa yang sebenarnya terjadi dek." gumam Pratu Yogi
Truk melaju sudah 4 jam perjalanan, mereka berhenti sebentar untuk makan dan beristirahat karena waktu sudah siang.
__ADS_1
"Dek,,, dek,,, bangun kita makan dan shalat dulu." Pratu Yogi mencoba membangunkan Rani yang masih tidur.
"Ehmmmm... sudah jam berapa bang?" tanya Rani
"Sudah jam 1 siang, yok yang lain lagi shalat juga." Pratu Yogi beranjak turun disusul Rani.
Menyadari Rani yang masih belum cukup kuat Pratu Yogi menyodorkan lengannya untuk dipegang oleh Rani saat turun, Rani menerima dengan tersenyum.
"Wow.... kita seperti nyamuk ya teman-teman?" seloroh Dewi pada teman-temannya yang melihat Pratu yogi menarik tangan Rani kesebuah meja.
Rani membiarkan saja apa yang dilakukan Pratu Yogi, karena saat ini dia tidak ingin bertanya atau mendengarkan penjelasan apapun. Perutnya sudah meronta minta makan tapi mulutnya sangat malas untuk terbuka.
"Apapun yang sedang kamu pikirkan jangan sampai kamu menganiaya tubuhmu dengan tidak memberinya hak." kata tegas Pratu Yogi membuat Rani yang dari tadi duduk melihat kearah laki-laki yang kini didepannya.
__ADS_1
Pratu Yogi menyodorkan sepiring nasi yang sudah lengkap dengan lauk pauk didalamnya. Sementara dimeja lain kawan-kawan Rani dan Pratu Yogi hanya melihat mereka dengan ribuan pertanyaan.
Pratu Yogi yang dari tadi melihat Rani mengaduk-aduk nasi dalam piringnya hanya bisa menggeleng kepala sambil melepaskan nafasnya dengan kasar. Setelah menghabiskan makanannya Pratu Yogi bangun dan duduk disamping Rani.
"Sepertinya kamu tidak mendengar apa yang tadi abang bilang, sekarang buka mulutmu atau semua orang disini akan melihat abang teriak." ucap Pratu Yogi sambil menyuapkan nasi kemulut Rani.
"Bang Dimas, saya gak pernah lihat muka bang Yogi semarah itu, sebenarnya apa yang terjadi ya?" ucap Prada Edo yang merasa penasaran.
"Iya, saya juga gak pernah lihat sebelumnya, Rani juga kenapa ya?, kalian kan temannya masak gak tau dia kenap?" selidik Pratu Dimas
"Kami juga gak tau bang dari semalam dia aneh banget." jawab Melati.
Rani yang masih disuapi oleh Pratu Yogi tidak lagi bisa menahan air matanya, Pratu Yogi seperti mengerti, tidak ingin menahan air mata itu, sambil terus menyuapi Pratu Yogi mengambil tisu untuk menghapus air mata Rani yang terus turun.
__ADS_1