Abang Tentara, Tembak Aku!!!

Abang Tentara, Tembak Aku!!!
S2...14


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, keluarga Rani sudah berunding memilih tanggal yang tepat untuk melaksanakan pernikahan. Tanggal 25 Februari menjadi pilhan keluarga Rani dan sudah disetujui oleh keluarga BM. Rani yang tengah membuat daftar undangan terkejut dengan dering ponselnya.


Rani_


"Ya...Puput...kenapa?"


Putra_


"Eh...loe udah cek email belum? Nama kita udah keluar, tinggal konfirmasi serta pilih daerah penempatan."


Rani_


"Maksudnya apa Puput...aku gak ngerti."


Putra_


"Hadouehhh...gini nih kalo orang mau kawin suka lambat loading. Yang ikut PPG kemaren di PNSkan, sekarang mereka minta konfirmasi kita, bersedia atau tidak, loe cek email dulu deh!"


Rani langsung membuka emailnya, dan dengan penuh semangat langsung mengisi form pendaftaran.


📩 Rani


"Put, milih lokasi dimana?"


📩 Putra


"Bintan, Kepri. Dek Pan juga ngambil disitu."


📩 Rani


"Ok, aku ikut kalian."


Tampa bertanya pada orang tuanya terlebih dahulu, Rani yang mendengar akan di PNSkan menjadi sangat antusias. Putra kembali mengirim pesan.


📩 Putra


"Buk, perjanjiannya sampai 30 tahun baru bisa mengajukan pindah, jadi mikir dulu, elo kan mau kawin."


Rani yang tampa pikir panjang, langsung mengirim konfirmasi melalui email.


📩 Rani


"Gue dah kirim konfirmasi, let go to Kepri."


📩 Putra


"Luar biasa, wanita keras kepala atau wanita karir?"


📩 Rani


"Dua-duanya. Hahahhaha..."


Setelah semua berkas dikirim via email, Rani mengirim pesan ke BM.


📩 Rani


"Pengumuman dari pemerintah sudah keluar, kemungkinan bulan depan sudah berada ditempat dinas baru dengan status PNS 3T. Maaf sepertinya pernikahannya harus dibatalin."


Sesaat kemudian...


Tinggg....


BM_


"Hallo, assalamualaikum, adk serius ini?"


Rani_


"Walaikumsalam. Iya barusan dapat emailnya dan udah adk konfirmasi serta mengirim berkas kembali."


BM_


"Jadi kita gak bisa nikah?"


Rani_


"Syaratnya 30 tahun baru bisa mengajukan pindah."


BM_


"Kok bisa mendadak gini?"


Rani_


"Adk juga gak tau, tadi lagi buat daftar tamu undangan, tiba-tiba Putra hubungin suruh cek email, ya udah sekalian terus adk daftar karena mereka juga udah daftar."

__ADS_1


BM_


"Penempatannya dimana?"


Rani_


"Adk pilih sama kayak kawan-kawan yang lain biar ada kawan, di Bintan, Kepri."


BM_


"Kenapa gak pilih di Aceh aja, disini juga ada pulau terluar."


Rani_


"Aduh, gak kepikiran, tadi milihnya karena ikut orang ini aja."


BM_


"Jadi udah pasti nih, batal nikah?"


Rani_


"Iya, adk tinggal urus berkas fisik yang lain besok."


BM_


"Adk udah bilang sama orang tua?"


Rani_


"Belum, bentar lagi adk bilang, ini cincinnya nanti adk balikin waktu adk berangkat ya."


BM_


"Adk seperti gak merasa sedih atau kecewa sedikitpun ya?"


Rani_


"Bukan gitu bang, ini tuh keinginan adk dari dulu, sekarang udah didepan mata, rugi kalo adk gak ngambil."


BM_


"Iya abang ngerti, tapi kenapa dibatalin? Kan bisa diundurin?"


Rani_


BM_


"Kok 30 tahun, kan kita bisa undurin tahun depan."


Rani_


"Abang mau ikut adk ke daerah dinas?"


BM_


"Kenapa enggak."


Rani_


"Abang tanya keluarga abang dulu deh, abang kan anak laki-laki satu-satunya, yakin orang tua abang ijinin abang tinggal jauh dari mereka? Kita juga gak bisa pulang tiap tahun, itu juga lokasinya belum tentu sesuai seperti yang kita pilih, bisa jadi malah penempatannya ke Maluku atau Papua."


BM_


"Yahhh...gak tau bilang juga abang kalo gitu."


Rani_


"Gini aja, kita gak tau kedepannya gimana, tapi Rani gak mau janjiin apa-apa ke abang, cincin tunangannya tetap Rani kembaliin, kalo memang kedepannya kita bertemu lagi, ya udah langsung nikah aja, gimana?"


BM_


"Terserah adk aja lah."


Rani_


"Sekali lagi maaf."


BM_


"Ya udah, abang tutup dulu, assalamualaikum."


Rani_


"Walaikumsalam.

__ADS_1


Tutttt......


Malam hari, saat orang tuanya berkumpul, Rani langsung memberitahukan tentang pengangkatannya. Walau terkejut dan sedikit perdebatan tapi tetap saja orang tuanya mendukung. Bagaimanapun bagi orang tua Rani, anaknya menjadi PNS adalah sebuah kebanggaan.


Keesokan harinya, mama BM juga menelpon, Rani meminta maaf dan menjelaskan semuanya, bagaimanapun seorang ibu pasti kecewa dengan apa yang terjadi. Mama BM bisa menerima dengan baik, Rani juga mengatakan akan membawa cincin tunangan kerumah mereka secara langsung.


Pertengahan Februari, Rani bersama teman-temannya sudah siap berangkat menuju ibu kota provinsi, mereka menginap semalam dihotel, esoknya akan langsung terbang kedaerah penempatan. Setelah menyimpan barang di hotel, Rani kembali menghubungi BM.


Rani_


"Hallo, assalamualaikum, adk udah dihotel xxx, boleh minta jemput?"


BM_


"Iya, sebentar lagi abang datang."


Lima menit kemudian, BM tiba dengan wajah datar, sedikit senyum, tidak seperti biasanya.


"Ayo!" Ajak BM.


Rani menaiki motor yang dibawa BM, tidak berselang lama, keduanya sudah sampai di rumah BM. Orang tua dan kakaknya juga ada disana.


"Sudah lama sampai?" Tanya Bapak BM.


"Baru aja Pak, langsung kemari."


"Kapan berangkatnya?"


"Insya Allah besok pagi Pak."


"Kapan rencana pulang ke Aceh lagi?" Tanya Mama BM.


"Belum tau Buk, lihat nanti, ongkos buat pulang juga lumayan, sekali lagi saya minta maaf mewakili keluarga saya juga Pak, Buk, maaf karena sudah mengecewakan semua orang termasuk keluarga saya sendiri, ini cincin dan beberapa barang yang dibawa kemarin, untung belum dipake."


"Kenapa barangnya juga dikembalikan?" Tanya mama BM.


"Gak papa buk, gak enak saya nerimanya."


Pembicaraan dengan keluargapun berakhir, sebelum mengantar Rani kembali ke hotel, BM mengajak Rani mampir ke cafe.


"Mau minum apa?" Tanya BM.


"Jus jeruk hangat aja, abang kok diam aja dari tadi? Marah sama adk?"


"Kecewa aja, keputusan mendadak dan terkesan buru-buru, padahal masih bisa kita bicarakan lebih dulu, kalo gini apapun yang abang bilang sudah gak ada artinya."


"Maaf..."


"Dari tadi adk udah banyak minta maaf, tapi yang namanya kecewa ya tetap aka kecewa."


"Maaf."


"Mau sampe kapan adk minta maaf?"


"Lain juga adk gak tau mau bilang apa, semuanya serba mendadak."


Pembicaraan sore itu jelas tidak menemukan solusi karena mereka memang tidak sedang mencari solusi.


Sesampainya di depan hotel, Rani langsung menjulurkan tangannya.


"Salam perpisahan." Ucap Rani.


Mereka berjabat tangan sebagai bentuk perpisahan yang menyakitkan.


"Semoga kita sama-sama bahagia dengan cara kita masing-masing, tetap bersilaturrahmi ya." Ucap Rani kembali, yang diangguki oleh BM.


"Abang pulang ya, maaf gak bisa ngantar ke bandara." Ucap BM.


"Iya, gak papa, hati-hati."


Dan perpisahan itu akhirnya benar-benar terjadi. Mengecewakan tapi harus mengikhlaskan. Setiap orang punya pilihan untuk kehidupannya sendiri, tampa intervensi dari pihak luar.


Keesokan harinya...


Lima orang sahabat sudah bersiap menjemput masa depan yang mereka pilih untuk dijalani dengan sepenuh hati. Bukan hanya status jabatan yang melekat, tapi jiwa pendidik yang sudah terpatri dihati, membuat mereka mantap melangkah kedepan.


 


Yeeeee....ini adalah akhir-akhir menuju akhir yang sebenarnya...seperti apa akhirnya???


Like....


Komen....


Vote....

__ADS_1


__ADS_2