Abang Tentara, Tembak Aku!!!

Abang Tentara, Tembak Aku!!!
Ektra...3


__ADS_3

Seminggu berlalu, rumah yang tadinya ramai sekarang sepi, hanya tinggal mereka berdua.


"Dek, bangun sudah subuh." Ucap Andi.


"Iya."


"Abang mau ke mesjid, ikut?"


"Abang aja ya, adk lama mandi aja belum."


"Ya udah, abang pergi dulu ya."


"Eh, tunggu, gak dicium dulu?"


"Abang udah wudhu, mandi sana, nanti pulang abang cium."


"Hahahahaha...


Selesai mandi, shalat serta membereskan kamar, tugas selanjutnya seorang istri adalah terjun ke dapur. Saat tengah asik mengiris bawang, Rani merasakan hawa dingin dilehernya. Rani yang terkejut tampa sadar meloncat-loncat sambil memegang pisau.


"Bang, ini gak lucu, aku paling benci dikagetin." Ucap Rani kesal.


"Hahahhaha...maaf."


"Gak ada maaf-maaf, abang mau aku mati jantungan? Terus abang kawin lagi hahhh?"


"Hust,,, pagi-pagi udah ngomong gitu, tadi abang niatnya mau peluk kamu."


"Peluk sih boleh-boleh aja, tapi bilang salam dulu napa? Nih tiba-tiba hawa dingin aja dileher, aku kan jadi horror."


"Makanya jangan kebanyakan nonton film horror, nanti kamu teringat-ingat, jadinya gini. Dek, bikinin kopi ya?"


"Ya." Ucap Rani masih dengan nada kesalnya.


"Eh, apa lagi ini?" Tanya Rani yang melihat Andi kembali mendekatinya.


Cup...


"Permintaan tadi." Ucap Andi tersenyum.


Andi kembali ke kamarnya, sementara Rani kembali melanjutkan kegiatan yang tertunda.


"Dek, kita gak sempat bulan madu gimana?" Tanya Andi yang sudah duduk dimeja makan.


"Ya ga usah, dimana aja kan sama saja, itu-itu juga ujung-ujungnya."


"Adk gak mau pergi kemana gitu? Ke Bali contohnya?"


"Ihhhh...ngapain? Banyak bule cantik disana, nanti abang malah lupa sama aku gara-gara banyak yang lebih mulus."


"Hahahha...kamu memang aneh ternyata."


"Iyalah, aku antik."


"Terus tadi pagi-pagi minta cium kenapa? Gak biasanya."


"Mmmm...itu pengen aja, kayak di novel-novel, kayaknya romantis gimana gitu."


"Ouh...terus apa lagi yang romantis dinovel?"


"Banyak, mereka gitu-gituan didapur, disofa, dimeja makan sampe dikamar mandi, sampe berkali-kali."


"Hahahaha...kamu mau juga?"


"Memang boleh?"


"Boleh, tapi kalo abang gak ada kegiatan ya?"


"Hahahahha..."


"Kenapa?"


"Kalo dinovel kan, si cowo langsung nerkam, kalo abang malah sebaliknya." Ucap Rani tertawa.


"Hidup ini realita, bukan novel, kamu harus bisa bedain, apalagi sampai melakukan berkali-kali, 3 kali aja udah sangat menguras tenaga, apalagi kalo perempuan masih rapat kayak kamu, itu sangat menguras energi."


"Iya, aku kan gak minta berkali-kali juga, abang mau ke kantor?"


"Iya, bentar lagi. Seragam abang udah siap?"


"Udah dong, seperti biasa, aku kan istri yang taat pada suami."

__ADS_1


"Ya udah, sekarang istri yang taat, tolong temani abang sebentar." Ajak Andi yang sudah mengenggam tangan Rani.


"Kemana?"


"Olahraga."


Untuk pertama kalinya, selama menikah mereka melakukan olagraga pagi.


"Sabtu ini kita ke Bpp ya?" Ucap Andi masih mengatur nafasnya disamping Rani.


"Nginap gak?"


"Nginap semalam, sore minggu kita pulang, anggap aja bulan madu."


"Hahahaha...bulannya dimana, madunya dimana..."


"Sekali lagi ya?"


"Hahhh..."


Tampa menunggu jawaban istrinya, Andi langsung menggempur kembali pertahanan istrinya. Ternyata pertempuran tidak hanya diranjang, masih berlanjut kekamar mandi.


"Dek, cepat abang bisa telat apel nih." Ucap Andi sambil memakai seragamnya.


"Iya, nih baretnya. Lagian salah sendiri siapa suruh perang pagi-pagi."


"Perang gak kenal waktu sayang, udah ya abang berangkat."


Cup...


Sebuah kecupan berhasil mendarat dibibir Rani.


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam sayang...." ucap Rani sambil tersenyum.


Begitu banyak hal yang Rani tidak tau mengenai Andi. Perjalanan cinta keduanya yang terpisah jarak membuat keduanya tidak mengetahui kepribadian masing-masing. Rani masih menyesuaikan diri dengan posisinya sebagai istri sambil terus belajar memahami karakter suami.


Ternyata benar kata pepatah, selama kita hidup, kita akan dituntut untuk selalu belajar jika ingin berhasil.


Hari ini seperti yang dijanjikan sebelumnya, mereka akan ke Balikpapan.


"Dek, kamu gak lupa bawa bubuk kopi yang kita beli di Aceh dulu kan?" Tanya Andi didalam mobil.


"Kita makan dulu ya, abang lapar."


"Abang bentar-bentar lapar kok sekerang? Memang abang tipe orang banyak makan ya?"


"Gak juga, mungkin karena sekarang tenaga abang banyak terkuras jadi bawaannya lapar terus."


"Makan sih boleh, tapi harus rajin olahraga, aku gak suka lihat abang punya perut buncit."


"Hahahaha...jadi maunya gimana? Bukannya lelaki buncit itu banyak disukai wanita?"


"Siapa bilang, aku sih sukanya yang kotak-kotak."


"Kalo kotak-kotak nanti dikira orang abang belum kawin, gimana?"


"Ih...awas ya kalo abang macam-macam! Aku sunat sekali lagi."


"Hahahaha...udah ah, yok turun, makan dulu!"


Belum juga Rani turun, sudah ada dua perempuan yang berbicara sama Andi, mereka terlihat akrab. Rasa cemburu seorang istri dengan sendirinya muncul.


"Tenang Rani, cemburu dengan cara yang cantik." Ucap Rani sambil keluar dari mobil.


Rani tersenyum lebar berjalan menghampiri Andi yang masih berbicara dengan kedua wanita tersebut.


"Ouh iya, kenalkan ini istri abang." Ucap Andi memperkenalkan Rani yang sudah berdiri disamping Andi.


"Rani." Ucap Rani sambil mengulurkan tangannya disambut baik oleh kedua wanita tadi.


Setelah berkenalan, kedua wanita tadi pamit pergi. Rani dan Andi kemudian masuk kedalam restoran untuk makan siang. Makanan telah dipesan, perut yang lapar akan segera kenyang, tapi hati yang panas siapa yang akan mendinginkan.


Rani terus berpikir, bagaimana kehidupan suami didepannya sebelum mereka menikah, apakah dia memiliki banyak teman perempuan?. Berbagai pertanyaan terus bermunculan, tapi tidak mungkin bertanya sekarang. Kebiasaan tidak berbicara saat makan rupanya tetap bertahan.


Mereka sudah sampai dirumah Dodik, teman Andi sekaligus mantan pacar teman Rani waktu SMP dulu.


"Assalamualaikum." Ucap keduanya.


"Walaikumsalam, eh...penganten baru udah sampai rupanya, ayo masuk!" Ucap Dodik.

__ADS_1


"Gimana rasanya jadi istri Andi setelah sekian lama, abang salut sama kalian." Tanya Dodik pada Rani.


"Ya biasa ajalah bang, sama kayak yang lain juga, anak-anak mana bang?" Tanya Rani.


"Udah keluar main. Kalian makan disini ya?" Ucap Dodik.


"Gak usah, kami udah makan tadi dijalan." Jawab Andi.


"Rani kebelakang bentar ya." Ucap Rani beranjak ke dapur.


Didapur, istri Dodik tengah menyiapkan minuman untuk mereka.


"Eh kok kemari? Kakak lagi buat minum untuk kalian."


"Gak usah repot kak, kayak tamu jauh aja."


"Ya kan memang jauh, dari Aceh, kakak salut sama kalian, waktu kakak dengar Mas Dodik cerita, kakak hampir gak percaya, ternyata benar-benar kejadian ya?"


"Itu semua kehendak sang pencipta kak, kita gak pernah tau jodoh kita siapa dan dimana akan ketemu, emmm...aku tanya sesuatu boleh?"


"Apa tuh?"


"Waktu baru-baru nikah, kakak pernah lihat bang Dodik sama perempuan lain gak?"


"Hahhh...kenapa nih? Coba cerita sama kakak, lihat perempuan lain gimana maksudnya?"


Akhirnya, Rani menceritakan segala isi pikirannya yang dari tadi dia pendam.


"Hahahaha...kamu lucu, kakak pikir kamu lihat suami kamu lagi dikamar hotel."


"Ihhh...kakak nih, kita cerita malah diketawain." Rani memasang wajah cemberutnya.


"Nih dengar ya kakak bilang, kamu harus percaya sama suami kamu sepenuhnya, tapi waspada itu juga perlu. Selain urusan perut urusan dibawah perut juga harus maksimal, jadwal dia dinas itu harus ada dalam otak. Jangan memancing-mancing keributan sambil menuduh yang bukan-bukan, bisa jadi lama-lama di eneg dengarnya. Poin penting, tampil seksi didalam rumah itu penting, apalagi kalian baru-baru nikah gini, pokoknya jangan kasih kendor, agresif aja jadi wanita, toh buat suami sendiri."


"Wah...panjang ya? Hahahaha."


"Baju tidur kado dari kakak ada kamu pake?"


"Hah...gak tau yang mana kak, soalnya banyak juga dapat kado kayak gitu."


"Nah, berarti gak payah beli lagi, itu aja kamu pake dirumah. Kita kan gak bisa pake baju seksi diluar rumah, ya udah didalam aja kita liarnya, biar Andi ingat rumah terus."


"Nanti deh, dicoba."


"Eh, mana minumnya?" Tanya Dodik.


"Bentar Mas, ibu-ibu ngegosip dulu biar seru." Ucap istri Dodik.


Mereka kembali duduk didepan.


"Ini sekalian titip buat yang lain ya." Ucap Andi menyerahkan bubuk kopi untuk Dodik dan beberapa teman yang lain.


"Kenapa gak sekalian kerumah mereka aja?" Tanya Dodik.


"Mau jalan-jalan dulu bang, kami gak lama disini, besok sore dah balik."


"Rani masih ngajar di Pontianak?"


"Masih bang, sekarang masih cuti, bulan depan balik kesana."


"Jangan lama-lama ninggalin suami, apalagi baru nikah gini, nanti dilirik yang lain." Ucap Istri Dodik.


"Hehehehe...gak kak, Rani mau urus pindah juga, mungkin sebulan disana."


"Eh, kok abang gak gau?" Tanya Andi tiba-tiba.


"Hehehe...kan bekum sempat bilang sama abang, masih lama juga."


"Nah, baru nikah, jangan cepat emosi, hal-hal sepele dianggap gak ada aja, dari pada ribut gak jelas, kamu juga dek, harus biasain diskusi sama suami, apapun itu." Ucap Dodik.


"Iya." Ucap Rani memanyunkan bibirnya.


 



Berikan bintangnya ya Readers....


Like...


Komen...

__ADS_1


Vote....


__ADS_2