Abang Tentara, Tembak Aku!!!

Abang Tentara, Tembak Aku!!!
Bermalam Didekatmu...


__ADS_3

Tepat jam 5 sore truk mereka sampai dimarkas kota, saat ini Rani merasa canggung karena kali ini hanya dia sendiri perempuan yang lain laki-laki semua. Rani masih duduk sama Putra karena yang lain sedang memberikan laporan. Setelah 30 menit menunggu Andi bersama Pratu Dimas dan Prada Edo menghampiri mereka.


"Maaf ya jadi nunggu lama." ucap Andi


"Iya bang gak papa." jawab Putra


"Ouh ya karena kamu sendiri jadi kamu tidur dirumah kerabat abang ya dek?" tanya Andi


"Loh... kenapa? disini aja seperti biasa, gak papa." jawab Rani


"Sekarang kami antar kamu kesana." ucap Andi sambil menunjuk kearah kompleks perumahan yang semuanya berwarna hijau.


Andi menggenggam tangan Rani sambil berjalan menuju rumah yang ditunjuk. Putra, Pratu Dimas dan Prada Edo mengikuti dibelakang.


"Yang punya rumah masih kerabat abang, dia wadan disini, tadi abang udah bilang dan dia suruh bawa kamu kerumahnya." ucap Andi


"Bilang apa?" tanya Rani


"Bilang kalo kamu cinta pertama abang terus kamu calon istri abang." jawab Andi


"Hahahha... sepertinya abang salah minum obat." jawab Rani sambil membuang mukanya karena kesal.


"Udah bisa dilepas bang tangannya, aku gak buta." ucap Rani kembali sambil menarik tangannya yang masih digenggam erat oleh Andi.


Merekapun sampai dirumah yang dituju yang ternyata sudah ditunggu oleh yang punya rumah.


"Assalamualaikum." ucap Andi sambil mengulur tangannya

__ADS_1


"Walaikumsalam." ucap sepasang suami istri beserta dua orang anak kembarnya sambil tersenyum


"Sehat bang, kak? ini kenalin Rani yang saya cerita tadi, ini kawannya satu daerah Putra dan ini Edo sama Dimas. Dek ini abang sepupu saya bang Hasanuddin sama istrinya kak Ira, yang kembar ini Raja sama Kaisar." ucap Andi memperkenalkan mereka.


"Yok, masuk dulu kita ngobrol didalam." ucap kak Ira.


Mereka semua masuk dan mengobrol panjang lebar.


Ternyata benar dugaan Rani, dirinya benar-benar seperti diintrogasi kali ini. Mereka bertanya dari a sampai z dan Andi seperti sedang mengerjainya kali ini. Semua pertanyaan yang ditanya abang dan kakak Andi dijawab oleh Rani, suami istri itu beralasan bahwa mereka sudah dengar versi Andi, mereka mau tau versi Rani.


"*Gi*mana mau diubah ceritanya kalo orangnya ada disini, ini mah aku dikerjain mereka, sepertinya memang sengaja nih, gimana cara menghindar ya?" gumam Rani dalam hati.


Tidak bisa mengelak, cerita itupun kembali bergulir walau berusaha untuk tidak terlalu detail tapi mereka dasarnya pendidikan tentara selalu tau cara untuk membuat Rani menjawab sedetail mungkin.


Jadilah sore itu ajang introgasi, Rani tidak membantah mengingat mereka orang lebih tua tidak sopan kalau harus berdebat dengan mereka. Lain halnya jika itu Andi mungkin dia akan berdebat habis-habisan.


Ranipun beranjak mengikuti kak Ira dan meninggalkan para lelaki yang masih asik mengobrol.


"Kalian juga bisa kembali ke barak." ucap Andi


Sementara dikamar para perempuan juga asik mengobrol.


"Gimana enakan udah mandi?" tanya kak Ira


"Iya kak, makasih dan maaf udah ngerepotin, padahal Rani bisa tidur dibarak seperti sebelumnya." ucap Rani yang sudah berganti pakaian.


"Andi bilang kali ini kamu sendirian, bulan lalu ada kawan-kawanmu yang lain, makanya dia ajak kemari, kami juga senang akhirnya dia kenalin cewe ke kami." jawab kak Ira.

__ADS_1


"Jadi gimana kedepannya? apa kamu tetap gak mau sama adek kakak?" kak Ira kembali bertanya.


"Rani belum tau kak, seperti yang Rani bilang tadi, ada hati yang harus bang Andi jaga dan dia juga kawan Rani, anggap gak terjadi apa-apa aja kak, Rani gak mau nyakitin orang apalagi kawan sendiri." ucap Rani.


Percakapan kedua perempuan tersebut berhenti setelah ada yang mengetok pintu.


"Dek dah siap? abang mau mandi juga." tanya Andi


"Eh...udah nih." ucap Rani berlalu keluar mengikuti kak Ira.


Menjelang magrib kak Ira tengah mempersiapkan keperluan suami dan anak kembarnya yang akan berangkat kemesjid, sementara Rani duduk sambil memperhatikan saja.


"Dek, ini sajadah, baju dan sarung tolong kasih ke Andi ya? biar sekalian kemesjid sama bang Udin." ucap Kak Ira yang membuat Rani gelagapan.


"*G*imana nih, kok kesannya aku seperti seorang istri, ahhh... kepedean banget kali ya,,, kan cuman diminta tolong gini aja,,,,ahhhh." gumam Rani yang tidak menyadari perubahan bibirnya yang mengerucut.


"Tok...tok...tok... bang udah siap? nih baju sama sajadah." ucap Rani dari balik pintu.


"Tarok diatas tempat tidur aja dek." ucap Andi dari dalam kamar.


"ambil aja kenapa? Rani depan pintu nih"


"Rani letain aja ditempat tidur mungkin Andi masih mandi." ucap Kak Ira sambil tersenyum.


Rani membuka pintu lebar-lebar, dengan cepat meletakkan sajadah, baju dan sarung tadi diatas tempat tidur. Saat berbalik mau keluar kamar tiba-tiba Andi yang dikira masih mandi rupanya sudah berdiri dibelakang pintu.


"Kenapa gak ambil aja sajadahnya kalo emang udah mandi? bikin repot aja." ucap Rani hendak keluar kamar namun tangannya sudah ditarik duluan oleh Andi.

__ADS_1


Rani merasa gejolak dalam hatinya tidak menentu, jantungnya berdegub kencang saat ini, bagaimanapun situasi saat ini benar-benar canggung untuknya.


__ADS_2