
Malam hari dikediaman Praka Yogi...
Setelah makan malam, mereka melanjutkan bakar-bakar jagung dengan sesekali diiringi permainan gitar oleh Praka Yogi.
"Malam ini seperti malam perpisahan dulu ya?" Ucap Dewi.
"Iya nih, jadi ingat masa itu, kok gak beli ayam aja sih bang?" Tanya Mela.
"Udah sore, kami gak masuk supermarket lagi, ada bapak-bapak penjual jagung, ya udah beli itu aja, gak repot juga." Jawa Praka Yogi.
Sementara itu, Andi yang melihat Rani lagi asik membakar jagung sambil melamun langsung menghampiri duduk disebalahnya.
"Dek, kamu kenapa? Kok banyak diamnya abang lihat? Biasa kamu cerewet."
"Mmm,,, gak papa bang, gak ada bahan juga buat dibahas."
"Lusa abang pulang, abang gak tau kedepannya gimana? Apa kita berjodoh atau tidak, semoga suatu hari kita bersama."
"Iya, semoga kita bisa sama-sama bahagia."
"Abang akan tetap tunggu kamu, bahkan kamu janda sekalipun."
"Hahaha... aneh."
"Iya, lihat aja nanti kalo gak percaya."
"Abang bukannya nunggu aku, memang abangnya aja belum ketemu yang pas, kalo dah ketemu pasti abang lupain aku."
"Pokoknya lihat aja nanti oke."
"Hubungan kita tuh aneh banget ya? Ketemu, pisah, ketemu lagi, pisah lagi, kedepannya apa kita akan ketemu?, hmmmm,,, kalo iya, Rani akan menertawai nasib kita dengan semangat."
__ADS_1
"Kita kan gak pernah tau gimana kedepannya, abang hanya berharap kita bahagia walaupun abang akan tetap mengingat kamu sebagai cinta pertama abang."
"Rani juga gak bisa ngelupain abang begitu aja, bagaimanapun abang orang yang pernah ada dihati dan pikiran Rani, laki-laki yang sangat Rani inginkan walaupun tidak kesampaian, setidaknya Rani sudah berjuang."
"Terima kasih sudah jadi bagian cerita indah dihidup Rani, kelak Rani ingin menulis kisah kita ini, kisah yang tidak mungkin Rani lupakan seumur hidup." Ucap Rani kembali.
Malam itu dilewatkan dengan penuh canda tawa karena sore minggu mereka akan ke Jakarta mengantar Andi pulang lebih dulu pada hari senin, disusul kepulangan mereka hari selasa ke daerah masing-masing.
Banyak kenangan manis yang mereka lalui menjelang perpisahan kali ini, Rani dan Andi seakan benar-benar menikmati waktu yang tersisa walaupun mereka tidak hanya berdua.
Seperti dalam perjalanan ke Jakarta, Andi terus menggenggam tangan Rani atau mereka terlibat perbincangan kecil, sesekali diiringi canda tawa keduanya. Tidak sedikitpun terlihat wajah sedih dari keduanya. Sampai akhirnya hari yang ditunggu datang juga.
Senin pagi....
Saat ini mereka sudah di bandara mengantar kepulangan Andi ke Balikpapan.
"Jangan lupain kami bang ya!" Ucap Adam
"Apa abang boleh peluk kamu terakhir kalinya?" Tanya Andi.
Rani menganggukkan kepalanya kali ini, dan pelukan terakhir kali ini Rani tidak bisa menahan air matanya yang ikut keluar. Rani terisak didalam pelukan Andi beberapa menit.
Andi mengusap kepala Rani yang masih menangis walau sudah ditahan tapi air mata itu terus keluar.
"Abang sayang sama kamu, kabari abang kalo kamu sudah sampai Aceh ya!"
"Abang juga kabarin Rani kalo udah sampe ya!, Rani juga sayang abang."
Mendengar ucapan Rani, Andi kembali memeluknya, mengecup sekilas kening Rani kemudian melepasnya.
"Kalo ada jodoh, kita pasti bertemu, kamu jangan lupa berdoa semoga kita berjodoh, udah jangan menangis lagi, malu dilihat orang."
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa saat, panggilan untuk penumpang pesawat rute Jakarta - Balikpapan tiba, Andi yang menggenggam tangan Rani dengan terpaksa melepasnya.
Andi kembali memeluk dan mencium kening Rani sekilas sebelum berangkat.
"Jaga diri ya sayang, abang cinta kamu." Ucap Andi terakhir kali pada Rani.
Ucapan terakhir Andi seperti mengandung arti tersediri bagi Rani, kata-kata yang memang jarang diucapkan, karena bagi Rani jika lelaki yang mengatakan cinta terkesan gombal dan mengada-ngada, tapi kali ini Andi mengatakannya justru saat mereka akan berpisah.ď
Hal itu sedikit banyaknya berpengaruh terhadap perasaan Rani yang kembali membaik, dia juga sudah benar-benar menerima semuanya. Andi sudah kembali ke Balikpapan, dan hari ini mereka juga sudah berada dibandara kembali, bukan untuk mengantar melainkan mereka yang kali ini diantar oleh Mela dan suaminya.
"Geng, pokoknya saling ngabarin ya." Ucap Mela.
"Iya, dunia dah canggih, jarak bukan lagi penghalang." Ucap Adam.
"Bang Yogi jagain Mela ya, semoga kalian cepat dapat momongan." Ucap Rani.
"Semoga kalian juga cepat nyusul kita, jangan lupa undangan, biarpun kami gak bisa datang." Ucap Praka Yogi.
Para gadis saling berpelukan sampai akhirnya mereka mendapat panggilan untuk masuk.
"Kasih kabar kalo dah sampe ya!" Ucap Mela yang dibalas "oke" oleh semuanya.
Pesawat yang mereka naiki akhirnya lepas landas mengantar mereka ke daerah masing-masing. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, seperti itulah kehidupan, suka tidak suka kita tidak punya pilihan, hanya menjalani dengan sebaik-baiknya.
---------------------------THE END-----------------------------
Like....
Komen....
Aceh, 29 Oktober 2020
__ADS_1