
"Kita shalat magrib dimesjid sana aja ya." ucap Andi sambil menunjuk kearah mesjid disudut jalan.
"Kenapa gak pulang aja?" Tanya Rani
"Malam ini kita habisin waktu berdua aja, nanti abang kabarin kakak kalo kita pulang jam 10." ucap Andi.
Mereka melaksanakan shalat di mesjid setelah itu mereka menikmati alun-alun kota dengan berbagai jajanan.
"Panjang umur." ucap Andi tersenyum menunjukkan nama di Hpnya.
Andi_
"Assalamualaikum kak."
Kak Ira_
"Walaikumsalam, kalian dimana? Kok gak pulang?"
Andi_
"Kami lagi di alun-alun nih kak, pacaran bentar kak, nanti jam 10 pulang."
Kak Ira_
"Eh,,, jangan macam-macam anak gadis orang belum dihalalin tuh, jangan pulang malam-malam."
Andi_
"Ya ampun kak, Andi udah besar kak, tenang aja, paling kalo kebobolan ya dinikahin aja gampang."
Kak Ira_
"Jangan macam-macam cepat pulang, nanti abang marah tuh."
Andi_
"Iya kak, bentar lagi pulang, baru pesan makanan nih, kakak mau apa biar dibeliin?"
Kak Ira_
"Huffff... mau nyogok? Gak mempan. Siap makan langsung pulang ya?"
Andi_
__ADS_1
"Iya kakak sayang."
Andi terkekeh mendengar omelan kakaknya setelah menutup telpon.
"Cepetan makannya, gak enak kita keluar malam-malam." ucap Rani.
"Tenang aja, abang gak akan aneh-aneh kalo kamu gak mau." seloroh Andi yang mendapat tatapan tajam dari Rani.
Rani yang tidak nyaman terus memaksa Andi untuk pulang, akhirnya janji jam 9 jadi jam 8. Andi menghela nafas panjangnya karena waktunya berduaan tidak berlangsung lama.
Merekapun sampai dirumah.
"Assalamualaikum... maaf kak kami telat." ucap Andi.
"Walaikumsalam... iya dimaafin, mana martabaknya?" Jawab kak Ira.
"Katanya tadi gak mau disogok?" Seloroh Andi
"Eh... ini kak." jawab Rani sambil menyerahkan bungkusan martabak.
Rani meninggalkan para lelaki diruang tamu, dia mengikuti kak Ira ke dapur.
"Gimana ngedetenya lancar?" Tanya kak Ira
"Hufffttt...biasa aja kak, malah tadi ditelpon sama pacarnya lagi." jawab Rani.
"Udah, yang sabar, jalanin aja dulu, kalo memang ketahuan pada akhirnya berarti memang sudah waktunya. Kedepan yok, kita ngobrol besok kalian dah pulang." Ucap kak Ira berlalu kedepan.
"Ayah ngobrol apaan kok seru banget?" Tanya kak Ira sambil meletakkan piring martabaknya.
"Biasalah Bun, Andi minta wejangan buat dapatin hati Rani lagi." ucap Bang Udin.
"Kalian kan dah balikan jadi apa lagi?" Tanya kak Ira pada Rani.
"Rani minta sama bang Andi untuk jaga sikap didepan anggotanya kak." ucap Rani
"Lho jaga sikap gimana? Emang Andi sikapnya gimana?" Tanya kak Ira penasaran.
"Andi panggil dia calon istri kak kemaren dipasar, ada anggota Andi juga disana. Terus ibu penjual sayur disana pikir kami suami istri gara-gara Andi pegang tangan Rani terus, katanya kami pasangan serasi kak." ucap Andi penuh percaya diri.
Rani yang melihat tingkah Andi memilih diam. Sementara kak Ira dan suaminya hanya menggeleng kepala.
Setelah beberapa lama obrolan itu berakhir, kak Ira dan suaminya sudah tidur, sementara Andi dan Rani sudah berpindah keruang TV. Andi meminta waktu pacaran tadi yang tidak sampai jam 10 harus diganti sekarang. Jadilah mereka duduk didepan TV mengganti waktu tadi.
__ADS_1
"Beri Andi sedikit waktu untuk merasakan indahnya dicintai sama kamu, cuma sekarang waktunya sebelum kalian akan terpisah lagi." pinta kak Ira pada Rani sebelum tidur.
Setelah mendengar kata-kata kak Ira tadi, Rani yang duduk disamping Andi yang lagi sibuk mencari saluran TV yang diinginkan menatap lekat kearah laki-laki disampingnya. Ada rasa bersalah menyelimuti hati karena semua ini tidak akan terjadi andai dia tidak bersandiwara.
"Abang ganteng ya?" Ucap Andi yang menatap Rani dengan posisi wajah mereka berhadapan.
"Maafin Rani, seandainya Rani gak pakek sandiwara mungkin Rani gak perlu nyakitin hati Melati dan bang Yogi. Rani menyesal, Rani juga merasa bersalah pada abang dan mereka." ucap Rani.
Andi menggenggam tangan Rani erat masih menatapnya dengan lekat.
"Udah ya, kita lupain yang udah terjadi, sekarang kita hadapin apa yang akan terjadi. Kamu tau dek saat ini yang paling membuat abang takut apa?" Tanya Andi
" abang takut kenapa?" Tanya Rani
"Takut abang gak sanggup menahan godaan setan yang dari tadi bisikin hal-hal yang sangat abang inginkan saat ini." ucap Andi masih menatap Rani.
Mendengar ucapan Andi, Rani merasa gelagapan karena pikirannya sudah jelas tertuju kemana.
"Kalo gitu Rani tidur duluan ya?" Tanya Rani.
"Jangan, abang gak apa-apa, kok kamu jadi gelisah gitu?" Ucap Andi sambil tersenyum melihat tingkah Rani.
"Apa kamu gak pengen tau setan bisikin apa sama abang?" Tanya Andi usil
"Hah... gak tau." jawab Rani menahan rasa gugupnya.
"Abang bilang ya biar kamu tau seberapa dahsyat bisikan setan itu, dia mau abang mencium kamu, bibir kamu tepatnya, memeluk kamu, dannnn." ucapan Andi terpotong
"Udah bang gak usah diterusin, aku udah tau lanjutannya. Aku bukan lagi anak SMP yang gak ngerti hal-hal begituan." ucap Rani kesal.
"Tidur aja yok, ngantuk nih." ucap Rani kembali
"Wahhh dek, kamu nekat juga ya ngajak abang tidur." seloroh Andi
"Beuhhh... maksudnya tidur dikamar masing-masing. Aku ngantuk mau tidur." ucap Rani kesal.
"Ayolah temanin abang, nanti jam 11 baru tidur." ucap Andi.
"Ya udah, tapi janji jangan bilang yang aneh-aneh ya, lihat ke TV jangan ke Rani." ucap Rani
"Iya...iya... tapi lihat kamu lebih enak dari pada lihat TV, pengen digigit." ucap Andi sambil tersenyum menggoda.
Mendengar kata-kata Andi yang mulai aneh menurutnya, Rani langsung bangun dari duduknya, belum lagi dia bangun, Andi menarik tangannya hingga badannya terjatuh diatas Andi.
__ADS_1
Satu kecupan berhasil mendarat dipipi Rani, Andi tersenyum penuh kemenangan. Sesaat Rani membeku mendapat ciuman mendadak yang jantungnya seakan berhenti tiba-tiba, sampai akhirnya bisikan Andi menyadarkannya.
"Ini ciuman pertama kamu kan?" Bisik Andi ditelinga Rani yang dengan gerakan cepat berhasil mencium pipi Rani kembali saat Rani bangun dan langsung kekamarnya. Sementara Andi tersenyum penuh kemenangan.