Abang Tentara, Tembak Aku!!!

Abang Tentara, Tembak Aku!!!
S2...17


__ADS_3

Dikamar...


Yogi langsung masuk kamar setelah pulang dari mesjid.


"Abang kangen kamu sayang." Lirih Yogi sambil menatap photo dimeja samping tempat tidur.


Sesekali mengusap wajahnya, seakan menyirat beban batin dihatinya. Kesedihan ditinggal istri tercinta secara mendadak membuat Yogi hampir ilang arah, beruntung orang tuanya bersedia menemaninya saat rapuh. Ditambah Andra buah cintanya dengan Mela, disaat terpuruk dia juga harus kuat untuk anaknya.


Tok...tok...


"Nak, ibu masuk boleh?"


"Iya buk." Jawab Yogi sambil meletakkan kembali photo Mela dimeja.


"Ikhlaskan nak, sudah sebulan lebih, sampai kapan seperti ini, kasihan Andra." Ucap ibu sambil mengusap pundak anaknya.


"Iya buk, Yogi usahain, semuanya begitu mendadak, seakan baru kemaren kami bersama, tapi dengan cepatnya Mela pergi."


Ibu memeluk anaknya yang terlihat rapuh, niatnya ingin membiacarakan hal lain ikut tertunda.


"Sudah, ayo keluar makan dulu, kami semua sudah makan."


"Iya buk, Yogi ganti baju dulu."


Dimeja makan, Rani masih dengan tabiatnya menikmati makan sendiri. Tadi ibu sudah menawarkan untuk menemani, tapi dia tetap menolak, dengan alasan tidak bisa makan kalo ada yang lihat.


"Makan yang banyak, jangan sungkan." Ucap Yogi yang duduk didepannya.


Rani hanya membalas dengan kode jempol bertanda "oke".


Mereka makan tampa ada perbincangan. Yogi yang sudah tau kebiasaan Rani sudah tidak aneh dengan gadis didepannya sekarang.


"Alhamdulillah..." ucap Rani tersenyum.


"Berapa kali nambah loe buk?" Tanya Putra.


"Tenang, gak nambah, tapi porsi digandakan." Jawab Rani santai.


"Kalian lama libur?" Tanya Yogi masih dimeja makan.


"Sebulan lebih, karena akhir tahun ajaran, bertepatan dengan puasa dan lebaran, jadi sekolahnya setelah lebaran nanti." Jawab Rani.


"Jadi lebaran disini ya?" Tanya Ibu.


"E...enggak buk, kita lebaran disana buk?" Ucap Rani gelagapan.


"Dimana?" Tanya Yogi menatap Rani lekat.


"D...di Ponti bang." Jawab Rani sambil menatap Yogi sekilas.


Entah kenapa, saat ini bertemu dengan Yogi terasa canggung bagi Rani, Yogi juga terkesan pendiam, tidak seperti dulu membuat Rani memikirkan untuk cepat pergi dari sana.

__ADS_1


"Kalian lebaran disini ya, gak ada bantahan." Ucap Yogi.


"Hahhh...?" Hanya itu yang keluar dari mulut Rani.


"Iya nak, kalian temani ibu sama bapak lebaran disini ya!" Ucap ibu memelas.


Si ibu juga bertanya pada Putra dan Irvan, tampa menunggu lama mereka langsung "oke" serempak, sedangkan Rani hanya melihat kearah mereka dengan penuh permohonan, tapi sayangnya mereka membalas dengan senyuman penuh arti.


Rani bangkit dari meja makan, membereskan meja, serta mencuci piring-piring kotor. Dia sangat tau diri, kalau dia gak sanggup bangun pagi-pagi untuk mencuci piring, kalau besok ibunya Yogi yang cuci piring, sungguh memalukan buat Rani.


"Jangan dipaksain dek, nanti kamu drop lagi." Ucap Yogi sambil berdiri.


"Gak papa bang, udah masuk banyak nih, insya Allah kuat." Jawab Rani nyengir.


"Maaf ya nak, kamu baru datang udah cuci piring gini." Ucap Ibunya Yogi.


"Gak papa buk, Rani punya kebiasaan susah bangun pagi, jadi kalo sekarang Rani cuci, besok pagi tinggal ambil aja, ibu mau buat susu?"


"Iya nak, Andra belum minum susu dari tadi."


Rani hanya tersenyum, setelahnya berlalu kedepan tv bergabung dengan yang lain.


"Eh, Hp gue mana ya?" Tanya Rani.


"Dalam tas, coba periksa!" Jawab Putra.


Rani mengambil ponselnya, dan ternyata habis baterai.


"Mama..." Andra kembali memanggil terus mendelat kepangkuannya.


"Iya sayang, kenapa?"


"Cucu"


"Oh, Andra mau susu ya? Bentar lagi dibuat sama nenek ya!"


Andra terus bergelayut manja dibadan Rani. Sampai neneknya datang membawa susu. Tampa sadar Rani membaringkan Andra yang lagi minum sasu dipangkuannya. Pelan-pelan diusap kepalanya, sambil di shalawatin.


Entah karena lelah bermain, begitu susunya habis, Andra langsung tertidur.


"Wah...jadi nih kita panggil dia Mak." Ucap Putra.


"Hust, jangan ribut, nanti bangun nih." Ucap Rani.


Yogi mengambil Andra dipangkuan Rani. Saat itulah momen terdekat keduanya kembali. Yogi yang dulu pernah menyayangi Rani bahkan ingin menjadikannya istri seketika sirna karena Rani pacar dari Danrunya. Orang tua termasuk Putra dan Irvan tersenyum penuh arti melihat kedekatan mereka.


"Kamu langsung istirahat, jangan begadang, badan kamu masih butuh istirahat." Ucap Yogi datar.


"Iya." Jawab Rani singkat.


Setelah menidurkan Andra, ternyata Yogi keluar lagi.

__ADS_1


"Ibu sama Rani tidur didalam sama Andra ya! Biar bapak tidur dikamar, kami tidur disini aja." Ucap Yogi.


"Kami dilumpur pun jadi bang." Ucap Putra.


"Memang pernah tidur dilumpur?" Tanya ibu penasaran.


"Pernah buk, jalan dari Sintang ke dusun jaraknya 2 jam, jalannya tanah kuning, kalo hujan motor bak sanggup naik, ya udah tidur dijalan." Ucap Putra sambil tertawa.


"Wah, kalo bawa bayi gimana tuh?" Ibu kembali bertanya.


"Ada juga teman kami yang punya bayi, mereka gak akan turun kalo cuaca hujan, karena udah pasti lama dijalan."


"Tapi kalo gak hujan, jalannya mulus-mulus aja biar gak diaspal." Tambah Irvan.


"Ya sudah anak-anak, bapak mau tidur dulu."


"Ibu juga, yok, Rani kita tidur selagi Andra tidur."


Kini, didepan tv tinggal Putra, Irvan dan Yogi. Banyak hal yang mereka bincangkan, sementara dikamar, Rani yang masih lemah, langsung tidur disisi kanan Andra.


"Bang Andi rumahnya daerah mana bang? Jauh dari sini?" Tanya Putra.


"Rumahnya gak jauh dari sini, tapi dia sekarang tinggal di Samarinda, pindah tugas kesana. Apa mereka masih berhubungan?" Tanya Yogi.


"Enggak bang, sudah lama gak ada kabar, Rani juga udah ganti nomer ponsel."


"Iya, dia ada hubungi saya, nomernya juga udah saya kasih ke Danru, saya pikir Danru sudah mengjubunginya."


"Gak ada bang, mungkin juga waktu bang Andi telpon kami lagi digunung jadi gak ada sinyal."


"Mungkin juga, kalian gak tidur?"


"Bentar lagi bang, kalo abang ngantuk duluan aja."


"Iya, saya tidur duluan ya?" Ucap Yogi.


Malam itu, semua terlelap dengan mimpi masing-masing. Berharap malam cepat berlalu. Sampai ditengah malam, mereka dikejutkan dengan suara Andre.


"Mama..."


Yogi yang merasa mendengar anaknya memanggil, langsung terbangun masuk kekamar. Nampak, Andra sedang menyentuh wajah Rani.


"Sayang, jangan digannggu dulu mamanya, nanti sakit lagi, yok, sama Ayah!"


Yogi membawa anaknya keluar, menggendong Andra sambil membuatkan susu didapur.


"Andra haus ya?" Tanya Yogi pada anaknya.


"Syucu." Ucap Andra.


"Iya, nih lagi ayah buat."

__ADS_1


Setelah memberikan susu untuk Andra, Yogi segera mengganti popoknya yang sudah penuh. Bermain sebentar kemudian tertidur lagi. Yogi kembali menidurkan Andra di samping Rani. Sejenak, Yogi ikut memperhatikan wajah Rani yang masih terlelap.


Azan subuh membangunkan para lelaki untuk ke mesjid. Yogi berdiri cukup lama melihat pemandangan didepannya saat ini. Betapa terkejutnya Yogi saat masuk ke kamar, melihat Andra tidur diatas dada Rani.


__ADS_2