
Ini untuk kalian, Readers tercinta...
Aku gak pintar buat adegan romantis, jadi harap maklum aja ya kalau tidak sesuai harapan kalian.
Like...
Komen....
Vote....
Happy reading....😉😉😉
-----‐-----‐-----------------
Sudah seminggu, Andi dan Rani sibuk mengurus nikah kantor. Ternyata prosesnya sangat panjang dan luar biasa lelah. Apalagi kalau siang, terik matahari suka bikin sakit kepala. Ditambah dengan suasana puasa.
Hari libur seperti ini adalah hari terindah untuk Rani, dia akan melanjutkan tidurnya setelah subuh. Selama pengajuan nikah, Rani beserta dua temannya ikut menemani. Rani yang diminta ikut ke Samarinda oleh Andi dengan tegas menolak jika kedua temannya tidak ikut.
Rani bahkan mengajak Andra dan neneknya untuk ikut. Yogi yang menyadari kalau Andi dan Rani butuh waktu berdua dengan tegas melarang ibu dan Andra ikut. Tapi Yogi tidak bisa melarang Putra dan Irvan, karena kalau kedua temannya tidak ikut, Rani tidak akan ikut dengan Andi.
Bukan tampa alasan Rani berbuat seperti itu, tapi dia sedang menjaga diri dari kekhilafan yang mungkin bisa terjadi kalau mereka berdua. Jadilah disini Putra dan Irvan sebagai penjaga Rani. Kemana saja Andi membawa Rani, mereka selalu ikut.
Begitu juga jika dirumah, Rani tidak perlu mikirin dapur, karena Andi yang terbiasa bangun pagi dengan teman-temannya yang ikut shalat subuh ke mesjid saat pulang mereka sudah menyiapkan sarapan untuk tuan putri. Sifat tidak peduli keadaan kembali muncul ketika tidak ada orang yang menegur.
Andi sendiri tidak masalah mengingat hari ini libur. Karena Andi sudah melihat bagaimana tepat waktunya Rani saat dibutuhkan. Pemikirannya yang agak kebarat-baratan membuat dia seakan hidup di barat dengan sistem tepat waktu itu wajib.
Jam 9 dia baru bangun, sementara yang lain sudah keluar berolahraga. Setelah mandi, dandan dikit.
"Ouhhh...andai hidup seperti ini terus... alangkah bahagianya hidup hamba ya Rabb." Ucap Rani pada diri sendiri.
"Sayangnya, kalo sudah jadi istri gak bisa lagi bangun sesuka hati." Ucap Andi yang baru datang.
"Iya buk, loe sekarang biasain abis subuh jangan tidur lagi, loe buatin kita kopi, kue-kue, nasi gurih, uhhhh...pasti kita bangga jadi teman loe." Ucap Putra.
"Eh...puasa! Hehehehe...lupa?" Ucap Putra nyengir.
"Iya, gak lucu juga kalo abang berangkat kerja, kamu masih tidur." Ucap Andi kembali.
"Iya...iya...entar diusahain, tapi gak janji, belum kawin aja udah banyak aturan, gimana nanti, ahhh...bisa makan hati." Ucap Rani cemberut.
Tampa aba-aba, Rani kembali merebahkan badannya disofa. Para lelaki seketika hilang, mereka menyegarkan diri setelah bermandikan peluh karena olahraga tadi pagi.
Andi keluar kamar dengan wajah yang segar setelah mandi.
"Eh, tidur lagi?" Tanya Andi.
"Gak tidur, cuma pengen rebahan aja badannya."
"Jangan jadiin puasa sebagai alasan untuk tidur, nanti adk pusing kalo banyak tidur. Kita belanja yok, buat buka puasa nanti."
"Malas bang, panas diluar, beli aja nanti buat buka."
"Hari ini kan libur, abang pengen buka puasa sore ini adk yang masakin, masakan Aceh."
"Suruh Putra sama Irvan aja, mereka juga bisa masak."
"Abang maunya calon istri abang yang masak, gimana?"
"Harus ya?"
"Gak harus sih, tapi anggap aja ini harapan abang, gimana mau ya?" Ucap Andi tersenyum.
__ADS_1
"Putra sama Irvan ikut juga?"
"Iya, mereka lagi siap-siap.
Dengan langkah gontai Rani ikut belanja bersama. Rani yang berpikir akan diajak kepasar, nyatanya begitu mobil masuk parkiran wajahnya langsung berubah.
"Kita ke mall?" Tanya Rani sambil tersenyum
"Iya, gak panas lagi kan?" Ledek Andi.
"Ouh...kalo ini mah, gak usah pulang-pulang juga oke."
"Elo tuh buk, kalo yang berAC aja suka, padahal di Ponti hidup gak ada AC." Ucap Putra.
"Karena disana AC alam, hidup kita jadi nyaman. Kalo disini kan panas."
"Udah, jangan ribut lagi, ayo turun!" Ucap Andi menengahi perdebatan yang tidak jelas.
Seperti yang diduga, Rani sangat betah didalam, melihat ini-itu, dan selalu berhenti didepan tulisan "diskon", "promo". Memang perempuan sangat mencintai 2 kata tersebut.
Melihat betapa lamanya Rani berbelanja, membuat Andi merasa menyesal.
"Bang, besok-besok jangan kemari lagi ya, kami capek ngikutinnya." Ucap Putra.
"Iya, sepertinya ini yang terakhir." Ucap Andi.
Dua jam di Mall terasa singkat bagi wanita, sebaliknya bagi pria dua jam seperti setengah hari. Azan zuhur telah berkumandang, para lelaki sudah ke mesjid. Tinggal Rani sendiri dirumah, setelah mandi dan shalat zuhur, dia kembali tidur dengan lelap.
"Dek...dek...bangun dah ashar." Ucap Andi.
"Iya, bentar lagi."
"Bangun terus, sampai kapan mau tidur?.
Andi keluar dari kamar, sedangkan Rani kembali terlelap.
"Mana dia bang?" Tanya Putra.
"Masih tidur."
"Eh...gak bisa dibiarkan tuh anak."
Putra yang tengah memasak, masuk kamar sambil memukul panci.
"Saor....saor....saor....saor."
"Apaan sih Put, berisik aja."
"Eh, ratu tidur, bangun udah jam 5, loe gak shalat? Jangan tunggu dishalatkan, keburu gak bisa bangun lagi."
Rani yang mendengar tausiah ashar langsung terbangun.
"Elo tuh, jangan nyebut-nyebut itu, serem gue."
"Makanya bangun, shalat biar setan pada lari, lagian tidur sampe magrib, loe gak masakin kita?"
"Hah...jam berapa sekarang?"
"Jam setengah 6."
Rani langsung kekamar mandi, Putra juga ikut keluar, melanjutkan kembali masaknya bersama Irvan dan Andi.
__ADS_1
"Kalian jago juga ya." Ucap Andi.
"Kami anak rantau bang, harus bisa semua kalo mau sukses."
"Iya, kami tentara juga begitu, karena kita tidak pernah tau situasi seperti apa yang akan kita hadapi." Ucap Andi kembali.
"Wangiiiii, aduhhhh...chef Putra dan Irvan memang terbaik." Ucap Rani mengacungi jempolnya.
"Loe, keterlaluan, abang yakin mau nikahin dia?" Tanya Putra pada Andi.
"Insya Allah, mungkin karena ada kalian jadi dia seperti ini, setelah nikah insya Allah pasti terlatih pelan-pelan." Ucap Andi.
"Semoga tidak ada adegan piring terbang." Ucap Putra sambil tertawa.
Mereka melanjutkan memasaknya, malam ini untuk pertama kalinya Rani ikut shalat terawih. Karena capek mengurus persyaratan nikah menjadi alasan dia tidak ikut.
"Dek, senin nanti kamu dites kesehatan sama tes keperawanan, udah tau kan?" Tanya Andi saat mereka tengah duduk depan tv setelah pulang dari mesjid.
"Tes keperawanan gimana periksanya bang?" Tanya Putra.
"Nanti ada dokter perempuan disana yang periksa."
"Kalo udah gak perawan berarti gak boleh nikah ya?" Tanya Putra kembali.
"Tergantung, yang buka segel calonnya atau bukan, kalo calonnya udah pernah buka segel ya gak perlu dites lagi, calon suaminya tinggal bilang ke dokternya."
"Elo masih bersegel kan buk?" Tanya Putra tertawa.
"Eh....kurang ajar loe, gini-gini gue masih punya iman ya buat lakuin gitu-gitu." Ucap Rani kesal.
"Tapi dek, kalo lusa kamu dites, bisa batal puasa, gimana? Apa abang bilang aja sama dokternya kalo udah abang buka duluan?" Tanya Andi dengan wajah serius.
"Memang ditesnya gimana kok bisa batal?" Tanya Rani.
"Kamu ini, masak abang bilang didepan teman kamu ini, pokoknya batal puasa aja, gimana?"
"Kalo abang bilang udah abang buka dulu, nanti disurat keterangannya aku dibuat gak perawan lagi, gak mau ah, enak aja aku perawan dibilang enggak, entar dipikir teman-teman abang aku hamil duluan. Ihhh...gak mau."
"Jadi gak papa nih ya kalo batal puasa sehari?"
"Tapi adk pengen tau cara tesnya gimana? Sakit gak kira-kira?"
"Abang bilangnya lewat ponsel aja ya?" Ucap Andi sambil mengetik di ponselnya.
Selesai mengetik, Andi menyerahkan ponselnya kepada Rani. Dan benar saja Rani langsung terkejut melihatnya. Teman-temannya juga ikut penasaran. Andi langsung mengambil ponsel dan menghapus apa yang dia tulis.
"Gimana, masih mau ikut tes? Gak penting disurat, yang tau kan abang." Ucap Andi.
"Mmmm...nanti deh, Rani pikirin dulu. Masih lama gak prosesnya?"
"Minimal sebulan, mungkin setelah lebaran baru kita bisa nikah, kamu minta mas kawin berapa?" Tanya Andi.
"Mmmm, sebelumnya 40 gram emas."
"Abang tambah 5 jadi 45 ya."
"Hahaha....tahun kemerdekaan ya?"
"Hmmmm...benar juga, oke 45 gram emas dibayar tunai."
"Nanti, belum saatnya."
__ADS_1
Pembicaraan itu terus berlanjut sampai jam 12 malam saat Rani sudah mengantuk. Akhirnya, mereka semua terlelap dalam mimpi masing-masing.