Abang Tentara, Tembak Aku!!!

Abang Tentara, Tembak Aku!!!
Ekstra...2


__ADS_3

Sebulan kemudian...


Seminggu setelah lebaran, Andi dan Rani yang sudah mendapatkan izin menikah dari kantor sedang menempuh perjalanan kerumah Rani. Kali ini kepulangan Rani tampa diikuti oleh dua sahabatnya. Tempat pertama yang dituju adalah kantor Koramil terdekat untuk melapor. Andi juga akan menginap disana untuk keamanan.


Keesokan harinya....


Keluarga Rani menyambut Andi yang ditemani oleh kepala koramil serta beberapa anggotanya. Orang tua Rani tidak mempermasalahkan lagi dengan siapa Rani menikah, karena begitu Rani bilang Andi akan kesana, ayahnya langsung setuju.


Hanya dihadiri keluarga inti, mereka yang sudah terlebih dahulu mengajukan nikah ke KUA, hanya tinggal menunggu kesiapan mempelai. Acara lamaran sederhana, sebagai orang tua pihak Andi diwakili oleh Komandan Koramil beserta istri. Sesuai keinginan Rani yang tidak mengizinkan Andi membawa barang seserahan, akhirnya pihak Andi hanya membawa kue beserta buah-buahan.


Setelah mendapat kepastian dari kepala KUA, maka pernikahan mereka akan dilangsungkan lusa dirumah. Rani mengatakan pada orang tuanya untuk tidak membuat acara besar-besaran walaupun dia anak pertama, karena di Samarinda akan ada resepsi kembali


Hari H...


Hari yang dinanti akhirnya datang juga, tepat jam 9, acara sakral tersebut berlangsung khidmat. Andi datang mengenakan pakaian putih dengan peci hitam, sederhana tapi keren. Dengan satu tarikan nafas dia menjawab dengan lantang. Ada hal lucu saat ijab kabul berlangsung. Ayah Rani yang menjadi wali nikah mengucapkan ijab dalam bahasa Aceh, sedangkan Andi menjawab dengan bahasa Indonesia.


Kata "sah" seakan menggema diruang tersebut. Andi kemudian berdiri, menyematkan cincin dijari Rani.


"Kapan abang belinya?" Tanya Rani pelan.


"Waktu abang ke kantor, kenapa gak suka ya?"


"Suka, aku pikir abang kasih cincin yang dulu."


"Tenang, kamu dapat dua, nih satu lagi." Ucap Andi tersenyum sambil memasukkan kembali cincin tunangan sebelumnya.


"Eh ini pengantennya kok asik bicara, ayok sungkem dulu ke orang tua." Ucap seorang tetua kampung.


Mereka sungkeman, dilanjutkan acara tepung tawari. Terakhir mereka bersalaman dengan para tamu yang hadir.


"Selamat ya." Ucap Danramil beserta ibu.


"Terima kasih banyak komandan beserta ibu mau menemani sampai hari ini." Ucap Andi.


"Iya, sama-sama, kami juga bahagia melihat kalian. Jadi kapan kembali ke Samarinda?"


"Minggu depan, insya Allah buk."


Karena tamu undangan tidak terlalu banyak, selepas zuhur, mereka sudah bisa istirahat. Menikmati makan siang bersama keluarga terdekat.


Diseluruh Aceh, mungkin hanya pernikahan Rani yang berbeda. Jika pernikahan umumnya pihak laki-laki akan membawa berbagai barang, sampai batang tebu, tunas kelapa yang dihias, sirih junjung, satu tandan pisang, beras belum lagi perlengkapan wanita, benar-benar banyak. Tapi kali ini, Andi hanya membawa diri dan mas kawin.


"Gimana habis 50 juta?" Sindir Rani saat mereka dikamar.


"Hahahha...ingat aja kamu, sepertinya habis dek, tiket pesawat lagi, habislah segitu."


"Nah, dah tau banyak habis duit, jadi nikahnya cukup sekali." Ucap Rani.


"Memang siapa yang mau nikah berkali-kali, bisa nikahin kamu aja sudah syukur alhamdulillah, kalo abang mau, dah dari dulu abang nikah, cuma gadisnya gak ada yang keras kepala kayak kamu."


"Hohoho...ngapain abang suka kalo gitu?"

__ADS_1


"Entah, kamu pake jimat apa?"


"Ih...musyrik, kalo aku pake jimat muka aku dah cantik, putih, glowing, ini masih gini-gini aja gak berubah."


Cup...


Sebuah kecupan berhasil mendarat dibibir Rani.


"Sudah boleh kan?" Goda Andi.


"Jangan dulu boleh? Nanti aja di Samarinda."


"Kenapa?"


"Malu, bangun pagi-pagi rambut basah."


"Hahahahha....tapi masih lama kita pulang, masak abang harus tunggu seminggu lagi."


"Ya gak usah tunggu seminggu, lusa aja kita pulang, tapi dosa gak sih kalo aku nolak abang?"


"Ya dosalah, abang kan udah sah jadi suami kamu, kapanpun abang mau seharusnya seorang istri memenuhinya, katanya anak pengajian, udah pernah ikut seminar pranikah, masak itu aja gak tau."


Cup...


Andi kaget mendapat kecupan dari Rani.


"Permintaan maaf karena menolak ajakan suami."


Dan malam indahpun berlalu dikamar pengantin baru. Perjalanan cinta yang indah, menguras emosi dan air mata, pada akhirnya jodoh berpihak pada mereka yang berjuang dengan doa dan ridha ilahi.


Perjalanan panjang kembali dimulai, mereka kini dalam perjalanan kembali ke Samarinda. Disambut dengan keluarga Andi yang sudah sampai duluan kerumah. Acara resepsi yang akan dilangsungkan seminggu kemudian.


Rani yang belum mengenal keluarga Andi secara keseluruhan, terlihat sedikit canggung. Bagaimanapun bertemu keluarga suami untuk pertama kalinya pasti membuat jantung deg-degan. Setelah berkenalan satu persatu, Rani minta izin ke kamar, badannya benar-benar lelah, sedangkan Andi masih berbincang dengan keluarganya mengenai acara resepsi.


"Sayang..." Panggil Andi.


Melihat Rani tidak meresponnya, Andi merebahkan tubuhnya sambil memeluk Rani.


Paginya...


"Dek, bangun udah subuh." Ucap Andi.


"Iya, bentar lagi."


"Bangun, gak enak ada keluarga abang diluar."


Mendengar kata-kata Andi, dengan cepat Rani bangun langsung kekamar mandi.


Andi tertawa melihatnya. Bagaimana tidak, hal paling memalukan adalah ketika keluarga besar berkumpul, sementara pengantin masih tertidur.


"Untung gak payah mandi wajib, bisa malu kalo kelihatan rambut basah pagi-pagi." Ucap Rani dikamar mandi.

__ADS_1


Pagi ini Rani merasa senang, karena dia bangun pagi, dan tidak terdengar ledekan dari keluarga Andi.


Seminggu kemudian...


Acara resepsi secara militer akhirnya terselenggara dengan meriah. Orang tua Rani bersama kedua adiknya telah tiba dua hari sebelum hari H.


Setelah melalui ritual militer, tamu-tamu yang hadir sudah mulai naik ke pelaminan untuk memberikan selamat kepada pengantin. Teman-teman Andi yang mengetahui kisah mereka juga ikut hadir membawa serta keluarga mereka.


"Akhirnya, sang bujang bertemu juga dengan jodohnya." Ucap salah satu teman Andi.


"Makasih ya sudah datang." Ucap Andi.


"Gimana udah buka segel?"


Mendengar pertanyaan temannya, Andi tertawa sementara Rani membuang mukanya entah kemana.


"Benteng kokoh, susah tembus." Ucap Andi yang mendapat cubitan dari Rani.


Teman yang satu berlalu, teman yang lain datang.


"Kisah kalian seperti perang Aceh aja, bertahun-tahun perang akhirnya damai juga, kalian, bertahun-tahun pacaran akhirnya nikah juga, selamat ya, akhirnya kamu bertemu jodoh juga, saya pikir kamu gak rencana menikah."


"Hahahaha...bukan gak mau bang, tapi yang seperti ini susah dapatnya." Ucap Andi.


"Dilihat dari posturnya, memang susah didapat, agresif." Bisik si teman pada Andi yang masih bisa didengar oleh Rani.


"Hahahha... Makasih sudah datang bang." Ucap Andi.


Nampak, Yogi datang bersama orang tuanya serta Andra.


"Andra....mama kangen." Ucap Rani.


"Mama." Panggil Andra.


Merekapun berfoto bersama.


"Selamat bang, Ran, semoga kalian bahagia sampai tua." Ucap Yogi.


"Terima kasih banyak Yogi." Ucap Andi memeluk Yogi.


"Makasih bang." Ucap Rani sambil mencium Andra sekali.


"Selamat ya nak, semoga kalian bahagia selalu." Ucap Ibu Yogi.


"Terima kasih banyak bu." Ucap Rani sambil memeluk ibu Yogi.


"Maaf bu." Bisik Rani.


"Tidak apa-apa nak."


Acara resepsi akhirnya selesai jam 2 siang, karena tidak banyak tamu yang diundang.

__ADS_1


__ADS_2