
Sorry Readers....baru update, kemaren libur sejenak, sambil nyari inspirasi di Bukit Barisan...
Jangan lupa...
Like...
Komen....
Vote....
Biar aku makin semangat nerusin ceritanya...
Happy Reading...🥰🥰🥰
------------------
Mempunyai anak gadis yang sudah siap untuk menikah tentu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi setiap ibu didunia ini. Begitu mendapat pinangan seorang laki-laki untuk anak gadisnya tentu membuat hati seorang ibu merasa lega dan tenang. Apalagi ibu Rani yang sudah sangat paham bagaimana anaknya.
Dulu, waktu Rani masih SMP, saat itu Rani telat pulang sekolah karena ikut kerumah temannya untuk bertemu Andi. Setelah sampai kerumah, ibunya langsung bertanya "Apa gak mau sekolah lagi? Biar dibakar aja buku sama baju?" Setelah itu, Rani tidak pernah lagi telat pulang sekolah, saat itu Andi juga sudah pindah tempat tugas.
Saat SMA, kejadian serupa kembali terjadi. Ada lelaki yang baru menjadi pacar Rani. Setiap siang dia selalu kerumah Rani, karena Rani gak pernah mau ketemu diluar. Entah merasa jengah melihat tingkah anaknya. Beberapa hari kemudian, ibunya kembali bertanya "Mau lanjut kuliah atau kawin?" Dan bersambung dengan omelan-omelan khas ibu-ibu.
Siang itu juga, ketika si lelaki kerumah langsung diputusin oleh Rani. Bukan hal yang sulit untuk membuat keputusan itu, karena pada dasarnya Rani memang tidak memiliki perasaan untuk lelaki itu. Hanya status saja yang dia mau, selebihnya Rani gak mau tau. Apalagi mengingat jatah tidur siangnya yang terganggu.
Sama halnya ketika kuliah, Rani yang dikenalin dengan teman lelaki dari sahabatnya lewat Hp. Mereka ketemu selanjutnya pacaran, itu juga tidak berlangsung lama, karena tiap mereka ketemuan diluar, Rani selalu mengantuk. Rani anak yang tidak tahan panas siang hari. Dia akan merasa pusing jika berada diluar ruangan. Dan lagi-lagi mereka putus, tidak ada rasa sedih seperti kehilangan Andi. Pacar sesaat itu hanya keisengan yang tidak baik untuk ditiru.
Sampai akhirnya sekarang resmi menjadi tunangan seseorang. Sifatnya juga masih seperti itu, kurang peduli akan statusnya, padahal ini tidak lagi tentang mereka berdua, tapi kedua keluarga menjadi taruhan jika nanti Rani berulah. Dan benar saja, belum sehari tunangan, dia sudah berulah pada calon suaminya.
Tingggg....
Rani_
"Hallo, assalamualaikum."
BM_
"Walaikumsalam, ngapain dek?"
Rani_
"Gak ada, lagi lihat-lihat cincin tunangan."
BM_
"Kok dilihat, dipakai dong."
Rani_
"Harus ya?"
BM_
"Mmmm...itukan tanda kalo adk dah punya tunangan, harusnya sih dipake, biar gak ada yang dekatin adk lagi."
Rani_
"Ihhhh... gak mau kalo gitu, adk kan masih pengen bebas, nanti kalo ada cowo lebih ganteng dari abang rugi dong kalo dia gak mau dekatin adk."
BM_
"Hadeuuuhhh...ya udah terserah adk aja kalo gitu, malas abang berdebat, abang tadinya mau bilang kalo abang udah sampai rumah nih ya!"
Rani_
"Mmmm...adk pikir mau bilang cinta, kan abang belum pernah bilang cinta sama adk?"
BM_
"Harus ya abang bilang gitu? Gak cukup dengan apa yang udah abang kasih?"
Rani_
"Emang abang udah kasih apa?"
BM_
"Adk istirahat ya, kayaknya capek banget, abang mau ngopi dulu, assalamualaikum."
Tutttttttt....
"Nah kan, belum sehari udah nampak aja aslinya, gimana kalo udah jadi suami, ihhhh....nyebelin banget jadi orang." Rani berdecak kesal sendiri.
Rani yang moody bertemu dengan pria dewasa dan sedikit pendiam rasanya akan setimpal. Tidak mendapat lawan debat, akhirnya Rani mencari pelampiasan keorang lain. Siapa lagi teman yang bisa diajak berdebat.
Tingggg....
Rani_
__ADS_1
"Hallo, Putraaaaa...."
Putra_
"Apa loe buk? Malam-malam telpon gue."
Rani_
"Gue habis tunangan nih Put, tapi nyebelin banget nih orang, belum sehari jadi tunangan dah bikin emosi gue naik turun."
Putra_
"Ada masalah apa sampe loe muncul tanduk?"
Rani_
"Kok tanduk?"
Putra_
"Hahahaha...iyalah, tiap loe emosi, selalu ada tanduk tak kasat mata muncul dikepala loe."
Rani_
"Yang bener? Gak lah, nih gak ada, loe pikir gue anak TK bisa loe kibulin?"
Putra_
"Hahahaha....maaf deh, jadi apa masalahnya?"
Rani_
"Gue kan tadi bilang kedia, gue gak mau pake cincin tunangan dari dia, nanti kalo ada cowo lain yang mau dekatin gue jadi gak bisa gara-gara lihat gue pake cincin, eh...dia malah bilang terserah ke gue, nyebelin gak tuh?"
Putra_
"Gini nih, kalo umur sama otak gak sejalan. Ya wajarlah dia bilang gitu, buat apa juga dia ngajakin loe tunangan kalo bukan untuk ngikat loe biar gak didekatin sama cowo lain. Makanya dikasih cincin tunangan buat loe pake sebagai tanda kalo loe calon istri dia, hadeuuuhhhh."
Rani_
"Tau ah, gue lagi bad mood nih."
Putra_
"Sekarang loe wudhu terus shalat gih, banyak setan samping loe, kata orang, kalo orang mau nikah tuh cobaannya banyak banget, mungkin aja ini salah satunya. Tapi loe harus rubah dikit-dikit sifat loe itu, karena kalo gue lihat sifat loe itu justru bikin setan tambah senang dekat sama loe. Lagian jadi perempuan jangan terlalu angkuh sama penampilan, secantik apapun perempuan kalo gak ada laki-laki yang mau sama aja."
Rani_
Putra_
"Nah, gitu kan enak dengarnya, ya udah, assalamualaikum."
Rani_
"Walaikumsalam."
Tuttttttt......
Belum beberapa menit ponsel Rani kembali berdering.
Rani_
"Yah Puput....kenapa lagi?"
Putra_
"Gue lupa mau kasih tau, ada penerimaan asisten dosen di kampus swasta kabupaten sebelah, gue mau daftar, loe gimana?"
Rani_
"Boleh tuh, hitung-hitung nambah pengalaman, kirimin aku syarat-syaratnya ya!"
Putra_
"Oke."
Tutttttttt.....
Rasa kesal tadi langsung hilang, melihat berkas persyaratan yang dikirim Putra. Dengan batas waktu yang mau habis, Rani segera menyiapkan berkas-berkas yang diminta.
"Rey, besok temanin kekabupaten sebelah yok!" Pinta Rani pada adiknya.
"Acara apa?" Tanya ibu Rani.
"Mau ngelamar jadi asisten dosen, tadi Putra ngasih info."
"Gimana Rey, bisa?" Tanya Rani kembali.
__ADS_1
"Oke."
"Pagi-pagi kita langsung berangkat ya?"
"Hmmmm."
"Sekolah gimana?" Tanya Ibu kembali.
"Sekolah lanjut, besok ijin sehari."
Dan perjalanan panjang itupun terjadi. Butuh waktu 2 jam sampai ke kabupaten sebelah. Sambil nyelam minum air cocok nih buat perjalan kakak beradik tersebut yang sama-sama hobi jalan jauh.
Setelah menyerahkan berkas, mereka langsung pulang. Panitia mengatakan akan mengghubungi jika lulus administrasi.
Satu minggu kemudian semua berjalan sempurna, lamaran diterima, dan mereka akan melaksanakan tes berupa Micro Teaching dilaksanakan seminggu setelahnya.
Sehari menjelang hari tes, Rani sudah mempersiapkan bahan-bahan yang akan dia ajarkan nantinya. Bermodalkan kenekatan serta pengalaman mengajar, akhirnya Rani lulus dan diterima menjadi asisten dosen.
Seminggu kemudian, dia dipanggil kembali untuk menandatangani kontrak kerja. Dan saat pulangnya, Rani yang naik angkutan umum duduk seperti biasa sampai tiba-tiba ada lelaki yang ikut duduk disampinya. Ransel si lelaki menjadi pemisah keduanya.
Beberapa saat terdiam, si lelaki memulai aksinya, dari bertanya pulang kemana, sampai ujung-ujungnya minta no Hp. Dasar memang si Rani yang gak jelas, dengan seenak hatinya dia memberikan no Hp pada laki-laki lain. Terasa tidak ada beban sama sekali saat memberikan nomer tersebut.
Dan sudah bisa ditebak, si lelaki tersebut pasti akan mengghubunginya. Seperti tampa sadar Rani juga menanggapi dengan sepenuh hati. Entah apa yang dipikirannya.
Tapi itu tidak berlangsung lama. Saat keduanya kali ini terlibat pembicaraan serius di telpon.
Rani_
"Wah, saya gak bisa kalo abang mau seperti itu, sayang capek-capek saya kuliah kalo cuman jadi ibu rumah tangga, berarti kita gak jodoh."
Mr X_
"Wanita itu kan ujung-ujunganya jadi ibu rumah tangga juga, jadi gimana? Saya mau serius, tapi saya gak mau adk bekerja."
Rani_
"Kan kalo jadi guru gak papa, ketemunya sama anak-anak, lain halnya kalo jadi pegawai swasta, lingkungan kerjanya udah pasti sering ketemu lawan jenis."
Mr X_
"Iya, tapi saya lebih suka ibu rumah tangga, biar saya yang kerja, istri dirumah jagain anak, saya pulang disambut istri rasanya bahagia seperti itu."
Rani_
"Ya kalo gitu, abang harus cari wanita lain, kalo saya gak bisa kayak gitu."
Mr X_
"Ya udah kalo itu keputusannya, berarti kita gak jodoh."
Rani_
"Iya."
Mr X_
"Tapi kita masih bisa temanan kan?"
Rani_
"Bisa kok, gak masalah buat saya."
Mr X_
"Jadi kapan ke kampus lagi?"
Rani_
"Belum tau, udah tanda tangan kontrak tapi belum dapat panggilan nih."
Mr X_
"Ouhhh. Siapa tau kita bisa ketemu lagi."
Rani_
"Insya Allah."
Mr X_
"Ya udah kalo gitu, saya tutup dulu ya? Assalamualaikum."
Rani_
"Walaikumsalam."
Tuttttttt.....
__ADS_1