
Like....
Komen...
Vote...
Thank quuu
Happy Reading....
------------------------
Pagi harinya dikediaman Mela, Bunda Mela terkejut melihat mata Rani yang bengkak.
"Ini kenapa kok bisa gini? Nangis ya semalam? Kalo ada masalah cerita sama Bunda jangan dipendam sendiri, siapa tau Bunda bisa bantu." Ucap Bunda.
"Hehehe, gak papa Bun, Rani kompres bentar dah hilang, nih lagi nyari es batu."
"Cepat-cepat dikompres gak enak dilihat orang rame, nanti siang kita makan bersama dirumah suami Mela, tadi malam mereka telpon, Yogi sama Mela juga datang."
"Kalo Rani gak ikut boleh Bun?"
"Ehhh,,, gak boleh, gak enak nanti orang tua Yogi nanya personel kenapa hilang satu, Bunda mau jawab apa?"
"Iya deh Bun, Rani ngompres mata dulu ya?"
Rani kembali memasuki kamarnya, dilihat Dewi baru selesai shalat subuh.
"Udah shalat Ran?" Tanya Dewi.
"Udah."
"Eh tu mata kenapa? Habis nangis ya?"
"Husst.... jangan gede-gede nanti ada yang dengar."
"Loe kenapa sih gak mau berbagi sama kita? Loe gak percaya sama kita?"
"Bukan itu, gak ada masalah lain dihidup gue, cuman yang kalian tau aja masalah gue."
"Terus tadi malam loe gandengan tangan sama bang Andi maksudnya apa tuh?"
__ADS_1
"Gue dah balikin cincin dia Wie, loe tau sesak banget nih dada dari semalam."
"Kalian putus?"
"Gak ada kata putus Wie, gue cuman bilang ke bang Andi, kalo suatu hari dia siap datang nemuin keluarga gue, cincin itu akan gue terima lagi."
"Terus bang Andi responnya gimana?"
"Gak ada, dia hanya natap gue, entahlah gue harus biasain diri untuk menjauh dari dia, kita kapan pulang?"
"Belum tau juga, tuh cowo pada keasikan disini, mau cari jodoh dulu katanya."
"Mmmm... nanti siang kita diundang makan dirumah bang Yogi, disana juga ada Andi, gimana coba gue harus ketemu lagi sama dia, jujur ya lelah hayati gue sekarang."
"Entahlah, gue juga bingung sama hubungan kalian, nikah mau tapi seorangpun gak mau mengalah, hadoehhhh."
"Kalo loe jadi gue, loe mau gak ke Balikpapan buat nikah sama dia, sementara dia gak pernah kerumah loe, ketemu ortu loe, ngelamar lo, gimana sikap loe ngadapinnya?"
"Boro-boro kesana, restu aja gak dapat kalo gitu, kecuali kawin lari, tapikan restu orang tua segalany buat kita yang perempuan."
"Nah, itu loe ngerti kan, gitu juga sekarang posisi gue."
"Bunda masuk ya?"
"Iya Bun masuk aja." Ucap Dewi.
"Mmmm... kalian gak sarapan?"
"Bentar lagi Bun, belum lapar nih." Ucap Dewi.
"Rani kenapa? Apa Bunda boleh tau? Kan gak mungkin nangis kalo gak ada sebabnya."
Akhirnya, sambil mengompres matanya yang bengkak, Rani menceritakan semuanya tentang hubungannya dengan Andi.
"Aduhhh... rumit juga ya?, tapi kalo Bunda pikir sebenarnya masalah kalian tidak terlalu berat, toh, Andi cuman perlu datang melamar kamu pada orang tuamu, dan itu hal yang lumrah diinginkan oleh setiap orang tua, Bunda juga akan seperti itu."
"Sekarang Bunda ngerti kan, wajar gak sih kalo Rani bersikap realistis dengan menerima orang lain kelak kalo ada yang datang melamar kerumah."
"Seharusnya sih begitu, karena kita gak mungkin nunggu orang tampa kepastian, mending yang pasti-pasti aja. Yang penting siapapun kelak yang datang kerumah, kamu juga harus mempunyai hati padanya, jangan asal terima aja."
"Dia mah cepat Bun, sekarang aja dah ada yang nunggu dia pulang." Sela Dewi.
__ADS_1
"Oh ya, bagus dong, tapi kalian jangan pulang cepat-cepat, Bunda jadi kesepian nanti gak ada kalian."
"Hehehe... Bunda kan dah ada mantu."
"Ih...mereka pasti asik dikamar."
"Hahahaha... Bunda nih."
"Udah yok, sarapan dulu nanti lanjut lagi ngompresnya."
Mereka menyudahi perbincangan pagi dan berlalu kemeja makan. Tampa 3 pria telah duduk hampir menyelesaikan makannya.
"Kok lama Bun? Kami dah makan duluan."
"Maaf, tadi ngurusin anak gadis satu nih yang lagi galau sampe bengkak tuh mata." Ucap Bunda yang membuat semua mata para lelaki melihat kearah Rani.
"Kenapa nak? Rindu kampung?" Tanya Ayah Mela.
"Eh... si Ayah, anak gadis jaman sekarang mana ada yang rindu kampung sampe mata bengkak nangis semalaman, urusan hati Ayah." Ucap Bunda sambil tersenyum.
"Ouhhh, ngapain ditangisin, kalo gak cocok tinggalin cari yang lain, kami para lelaki begitu pemikirannya, makanya dalam kamus lelaki gak ada nangis diputusin pacar, ya kan Boy?" Ucap Ayah Mela santai pada dua lelaki yang tengah asik makan.
"Bener tuh yah, macam lelaki cuman bang Andi aja didunia ini, banyak yang lebih bertanggung jawab, lagian loe buk, hari gini masih nangisin cowo, cemen." Ucap Adam membuat Rani menatapnya tajam.
"Loe jangan natap gitu, takut gue lihat mata loe." Ucap Adam kembali.
"Put, kapan kita pulang?" Tanya Rani mulai buka suara."
"Yang pasti jangan sabtu minggu, biasanya tiket mahal, selasa atau rabu gimana?"
"Harus ya kalian pulang cepat?" Tanya Bunda lesu.
"Iya Bun, gak enak kami lama-lama disini." Ucap Putra.
"Gak papa kok, Bunda sama Ayah senang-senang aja kalian disini."
"Orang tua kami dah tanya juga Bun, gak tau mau ngasih alasan apa lagi." Jawab Putra.
"Oh ya, entar siang kalian siap-siap kita kerumah orang tua Yogi ya!"
"Siap Bun." Ucap mereka serentak.
__ADS_1