Abang Tentara, Tembak Aku!!!

Abang Tentara, Tembak Aku!!!
Perang Batin...


__ADS_3

"Hmmm.... gimana nanti setelah abang pulang? Rani bakal merindukan momen kita dipinggir sawah ini, rasanya menenangkan ditemani lelaki terbaik seperti abang." ucap Rani


"Maafin Rani kalo Rani pernah nyakitin abang dengan sikap, perbuatan atau kata-kata Rani yang mungkin pernah melukai abang, Rani juga minta maaf karna gak bisa balas perasaan abang, jujur Rani merasa bersalah sama abang dan Melati. Rani merasa paling jahat, pengkhianat, perebut pacar teman. Rani gak tau harus gimana hadapinnya." ucap Rani kembali sambil menahan air matanya.


"Bang Andi pasti saat ini sedang marah karena Rani gak peduli sama dia, sikap Rani dingin kepadanya. Rani gak bisa manis, atau sayang-sayangan layaknya orang lain, rasa bersalah itu terus menghantui, wajah abang sama Mela terus aja ngikutin Rani. Mungkin ini balasan atas apa yang Rani perbuat, Rani membohongi Mela, merebut orang yang dia sayang, Rani capek ngadapinnya bang, selama ini kita gak pernah bicara, abang menghindari Rani kan?, Rani bisa terima alasan abang, tapi Rani tetap harus bicara sama abang, maafin Rani kalo membuat situasi abang tambah sulit. Ungkap Rani penuh penyesalan."


Pratu Yogi yang dari tadi diam akhirnya membuka suaranya karena tidak tahan melihat wanita yang masih ada dihatinya bersedih.


"Abang memang sedih, tapi abang gak punya kuasa menentang sang pemberi jodoh, abang berharap siapapun jodoh Rani nanti itu yang terbaik yang Allah pilihkan begitu juga dengan abang, semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik karena yang baik menurut kita belum tentu baik dimata Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui dari ada kita ciptaanya. Kedepan, tetaplah jadi Rani yang baik, ceria jangan sedih-sedih, jangan mikir macam-macam, dan jaga kesehatan ya!" Ucap Pratu Yogi tersenyum sambil tangannya membelai kepala Rani seperti seorang kakak kepada adiknya.


"Kita balik yok, jangan sedih lagi, Mela juga abang rasa baik-baik aja, mungkin kamunya terlalu perasa." ucap Yogi kembali


Pratu Yogi bangun dari duduknya, mengulurkan tangan kepada Rani untuk ikut bangun. Rani menyambut uluran tangannya dengan tersenyum. Mereka kemudian berjalan menyusuri sawah sambil bercanda. Pratu Yogi tau saat ini yang Rani butuhkan adalah suasana berbeda karena dia terlalu merasa bersalah sampai lupa keadaan sekitarnya.


Rani merasa lega karena Pratu Yogi sudah seperti biasa lagi. Tampa Rani sadari genggaman tangan mereka masih menyatu dari tadi. Keduanya merasa nyaman dengan itu tampa mereka sadari semua orang dipos melihat tidak terkecuali Andi.


"Wahhh... lihat mereka mesra banget, si Rani gak sadar apa udah punya tunangan?" Ucap Mela pada temannya yang lain.


"Bakal ada perang nih." ucap Putra tiba-tiba yang membuat semua mata menatapnya.


Saat sudah sampai dipos, mereka baru menyadari kalau dari tadi mereka saling menggenggam. Dengan cepat mereka saling melepaskan dengan menatap kearah masing-masing.


"Bang, sepertinya kita dalam masalah." ucap Rani tersenyum menatap Pratu Yogi.


"Bakal kena hukum nih sama suami kamu." ucap Pratu Yogi menghela nafasnya.


"Hehehe,,, calon bang, belum tentu jadi, sebelum dipanggil, kita samperin aja yok, kita kasih laporan biar big bos gak murka." ucap Rani menarik kembali lengan Pratu Yogi agar mengikutinya.

__ADS_1


Mereka berdua menuju ruang tamu menghadap dua Danru yang sulit diprediksi sifatnya. Rani kembali bersikap dingin, senyuman yang tadi merekah kembali hilang dihadapan Andi dan Affan.


"Kami kembali, maaf tadi Rani yang meminta supaya bang Yogi menggenggam tangan Rani sebagai bentuk perpisahan kami." ucap Rani menjelaskan.


"Pratu Yogi silahkan kembali ketempat." ucap Affan.


"Siap Dan." ucap Pratu Yogi kemudian kembali keluar bergabung dengan yang lainnya.


"Bang, jangan hukum bang Yogi, itu semua Rani yang mau." ucap Rani gusar.


"ikut abang!" ucap Andi masuk keruang kerjanya yang diikuti Rani.


Dengan gelisah Rani memasuki ruang kerja Andi. Dia menunduk takut karena baru kali ini dia melihat Andi marah, sungguh sangat menakutkan. Setelah Rani masuk, dengan cepat Andi mengunci pintu. Rani semakin takut dan terus menunduk.


"kenapa dek? tadi kamu berani sekali minta ijin abang untuk pergi dengan lelaki lain, bahagia banget kamu sama Yogi, sekarang didepan abang kenapa kamu gak tersenyum seperti tadi, padahal abang tunangan kamu tapi senyuman kamu malah buat orang lain." ucap Andi sambil mengangkat dagu Rani.


"Bang, aku mau keluar." ucap Rani memecahkan keheningan diantara mereka.


"Lagi-lagi kamu bersikap acuh sama abang, apa sedikitpun kamu gak pernah pikirin perasaan abang?, selama ini abang cukup bersabar hadapin sikap dingin kamu, tapi hari ini kamu kelewatan dek, kamu nyakitin hati abang." ucap Andi masih menatap Rani.


"Apa abang tau, tadi kenapa aku bisa tersenyum bahagia?, rasa bersalahku terhadap bang Yogi sudah hilang, bang Yogi udah maafin aku dan dia bisa bersikap seperti dulu terhadapku, itu yang aku mau bang, bukan seperti kemaren-kemaren, dia menjauh serta acuh padaku, itu membuat aku semakin bersalah, tapi tadi dia sudah menerima semua ini tampa merasa tersakiti dengan hubungan kita." ucap Rani menjelaskan.


"Jadi gimana, apa marahnya mau dilanjutkan Pak Andi?" Tanya Rani penuh penekanan sambil tersenyum.


Melihat Rani tersenyum padannya, Andi melepaskan dagu Rani, tangannya melingkar kuat dipinggang Rani membuat Rani kaget.


"Kamu pintar mempermainkan perasaan orang dek ya, kamu sungguh berbakat, tadi kamu bikin marah abang sampai ke ubun-ubun, sekarang secepat kilat kamu buat abang senang, wowww... kamu calon istri yang luar biasa, sekarang kamu akan rasakan hukuman atas perbuatan kamu ini." ucap Andi tersenyum penuh arti.

__ADS_1


"Hah?,,, jangan aneh deh bang, awas aku mau keluar, gak enak dilihat sama orang-orang." ucap Rani gelagapan.


"Duduk sini!" ajak Andi membawa Rani duduk disofa, Andi langsung merebahkan badanya disofa dengan paha Rani yang jadi bantal.


"Hari ini kamu udah buat abang berpikir keras, sekarang pijit kepala abang, biar abang rileks lagi, baru tunangan kepala abang hampir pecah kamu buat, gimana kalo dah jadi istri." ucap Andi menutup matanya.


"Ya udah gak usah dijadiin istri." ucap Rani sambil memijit kepala Andi.


Mendengar jawaban Rani, Andi membuka kembali matanya.


"Tuh kan, kamu ajak ribut lagi, udahlah abang mau tidur bentar, pijit yang enak biar suami betah." ucap Andi tersenyum kembali menutup matanya.


Rani tidak menjawab omongan Andi kali ini, dia hanya memonyongkan bibirnya, sambil mengarahkan kepalan tangannya kewajah Andi.


________**€__________€________


yopssss... para Readers yang dicintai dan mencintai


author mohon kalo udah baca tinggalin jejak yach


di like, di Rate,,, dikomen juga,,,,


kalo ada kritik dan sarannya,,,


Author menerima sepenuh hati


"""ah....jadi makin sayang...."""

__ADS_1


thank quuu Readers**....


__ADS_2