
Truk keluar dari komplek markas, mereka akhirnya kembali ketempat tugas. Belum lama truk melaju tiba-tiba kembali berhenti didepan jajaran ruko pinggir jalan.
"Dek, ikut abang sebentar, kalian juga ya." ucap Andi pada Rani dan anggota lainnya.
Mereka semua ikut turun mengikuti Andi nyusuri jajaran toko sampai akhirnya berhenti didepan sebuat toko perhiasan.
"Selamat pagi bapak ibuk ada yang bisa dibantu?" Ucap penjual perhiasan keturunan Tionghoa
"Saya mau cari cincin buat tunangan." ucap Andi
"Ouh kami banyak pilihan silahkan dipilih yang mana bapak suka? Ada ukurannya pak?" Tanya koko kembali.
"Ini calon istri saya." ucap Andi menarik Rani kesampingnya.
"Pas sekali ada calonnya jadi bisa langsung dites, jadi mbak pilih yang mana?"
"Terserah abang aja mau yang mana." ucap Rani menatap Andi.
Rani tidak tau kalau Andi akan membelikannya cincin tunangan.
"Yang ini bagus, gimana dek?" Tanya Andi
"Hmmm,,, iya bagus." ucap Rani.
Rani mencoba dan akhirnya pilihan jatuh kecincin tersebut. Setelah dicoba, Rani melepaskan kembali cincinya.
"Dimas, tolong direkam ya!" Ucap Andi menyerahkan Hpnya.
Andi mengambil cincin tersebut kemudian memutar badan Rani hingga mereka saling berhadapan.
"Rani, cinta pertama abang, anak SMP yang masih lugu waktu itu tapi sekarang setelah 10 tahun berpisah kini kita bertemu lagi, hari ini didepan anggota abang, teman kamu dan pemilik toko jadi saksi lamaran abang hari ini. Maaf karna kita lagi dalam tugas, abang gak bisa ngelamar kamu ditempat romantis. Rani maukah jadi istri abang, jadi masa depan abang, jadi ibu untuk anak-anak abang?"
__ADS_1
Rani terdiam menatap Andi.
"Insya Allah, Rani bersedia." ucap Rani singkat sambil tersenyum.
Seluruh anggota dan orang-orang sekitar yang melihat adegan lamaran dadakan bertepuk tangan gembira sambil melontarkan ucapan selamat kepada keduanya. Andi memasang cincin dijari manis Rani dan mengecup kening Rani sekilas. Suara riuh kembali terdengar dari orang-orang yang melihat adegan tersebut.
"Udah yok, malu dilihat orang." ucap Rani
"Bentar, bayar dulu." ucap Andi tersenyum
Mereka kembali melanjutkan perjalanan panjang. Andi terus menggenggam tangan Rani, tanpa sadar Rani tertidur karena dari tadi malam dia belum tidur sama sekali.
Selama perjalanan, disaat mereka singgah dibeberapa tempat Andi memberikan perhatian besar terhadap Rani, sampai Rani terkadang merasa risih mengingat banyak mata yang melihat mereka.
"Bang, biasa aja, malu dilihat sama yang lain." ucap Rani.
"Biarin aja, cuman ini kesempatan abang buat dekat sama kamu." ucap Andi memberi penjelasan yang akhirnya mau tidak mau Rani menerima semua perlakuan istimewa Andi padanya.
Adegan tampa sengaja tersebut rupanya dilihat oleh Melati dan beberapa anggota yang lain.
"Makasih." ucap Rani
"Pelan-pelan." ucap Andi tersenyum
Rani menegakkan badannya hendak pergi saat itulah dia melihat Melati dan Dewi yang berdiri menghadapnya dengan tatapan penuh tanya.
"Kenapa lo buk tadi?" Tanya Dewi
"Hmm,,, dari tadi aku tidur, lagi enak-enak mimpi eh,,, dah sampe." ucap Rani.
"Eh, bentar ya mau samperin big bos dulu." ucap Melati
__ADS_1
"Udah yok Wie, biarin aja Mela, bantuin Putra turunin barang yok." ajak Rani yang diangguki oleh Dewi.
Sementara didepan truk ada sepasang manusia yang satu bahagia yang satu gelisah dengan ribuan pertanyaan dibenaknya.
"Abang kenapa gak bilang kalo ikut pergi? Terus kenapa belakangan ini abang jarang hubungin aku?" Tanya Melati
"Aduh dek, abang baru sampe, besok aja boleh, capek nih badan, ngantuk lagi, besok aja ya?" Tanya Andi
"Besok kita bicara, ini udah malam, kamu tidur ya, abang juga mau tidur." ucap Andi yang sebentar kemudian berlalu pergi.
Saat Rani dan Dewi sibuk mengatur barang didalam rumah, Melati masuk dengan wajah ditekuk dan beberapa saat kemudian diapun menangis.
Setelah puas menangis, Rani dan Dewi duduk disamping Melati dan tanpa ditanya Melati langsung bercerita tentang apa yang terjadi diantara dia dan Andi tadi.
"Yeelah lo buk, itu mah salah elo udah tau dia capek baru pulang jauh belum apa-apa dah lo todong pertanyaan, semua cowo juga gitu, kalo aku yang jadi cowonya gitu juga. Habisnya kesel juga punya cewe gak sabaran gak tau situasi kondisi mau nyerbu-nyerbu aja." ucap Dewi menasehati.
"Iya, tunggu besok aja, lagian kan dah dibilang besok, tunggu aja, malam ini biarkan dia tidur, akupun mau makan dah laparrrrr." ucap Rani berlalu ke dapur.
Sudah jam 10 malam tapi ketiga gadis itu belum juga tidur.
"Eh Ran, lho kok duduk didepan sama bang Andi?" Tanya Melati
"Ouhhh itu, aku disuruh pindah kedepan karena aku cewe sendiri gak enak dilihat orang, kalo didepan ada kaca jadi gak nampak." jawab Rani
"Cerita apa aja kalian? Bang Andi ada tanya-tanya aku gak?" Tanya Melati penasaran
"Cerita waktu dia tugas ke Aceh, suasana disana, banyaklah, tapi gak cuman ama dia, aku sama bang Dimas dan bang Edo juga cerita-cerita. Lebih seru sama bang Edo malah." jawab Rani.
Saat lagi asik cerita, Rani dapat SMS dari Andi.
"Selamat tidur sayang, mimpi indah."
__ADS_1
Rani tidak membalas, dia merebahkan badannya sambil menghela nafas. Merekapun akhirnya tidur dalam pikiran masing-masing.