
Hai Readers tercinta...
Aku curcol dikit nih ya...
Semangatku yang lagi tinggi membuat aku fokus lanjutin kisah aku yang hampir tamat ini.
Gak mudah lho buat menuliskan kisah ini,
Serius, karena banyak hal yang seharusnya sudah tertutup rapat harus dibongkar kembali.
Dari dulu, aku sudah berencana, suatu hari nanti kisah ini harus kutulis.
Jadi begitu ada kesempatan, aku benar-benar merealisasikannya kali ini.
So... Readers... kasih like dan komen yang banyak tiap bab@ ya...
Biar aku makin sayang...
Happy Reading...
--------------------------
"Lama gak ketemu kamu tambah cantik aja." Puji Andi yang telah menyudahi makannya.
"Thank you, abang juga ganteng dengan seragam itu."
"Ayo kita nikah biar kamu lihat abang pakek seragam ini terus!"
"Hahaha...abang nginap dimana?"
"Dirumah Yogi, masih lama di Bandung?"
"Enggak, mungkin 4 hari lagi pulang, tapi belum tau juga sama yang lain, belum ngebahas."
"Abang gak lama cuti, kita jalan-jalan ya habis ini?"
__ADS_1
"Abang tau jalan?"
"Ajak Yogi sama Mela."
"Yeee... gangguin orang bulan madu aja."
"Jadi gimana? Abang kangen banget sama kamu sayang, kamu gak kangen apa? Jauh-jauh abang kemari pengen ngasih kejutan, habisin waktu berdua, dah ketemu gini masak cuman disini-sini aja?"
"Entarlah Rani pikir dulu, lagian Rani tuh maunya abang ke rumah Rani bukan kemari."
"Iya abang tau, tapi abang belum bisa sekarang, kalo abang kerumah kamu gak cukup uang 10 juta, minimal abang bawa 50 juta."
"Kok gitu? Uang segitu banyak buat apa?"
"Hadeuhhh... abang kesana mau ngelamar kamu, beli mas kawin, beli ini itu memang cukup 10 juta? Tiket pesawat aja udah mau 10 juta belum yang lainnya. Mas kawin kamu aja berapa gram emas? Kecuali kamu mau seperangkat alat shalat aja, itupun gak cukup juga 10 juta, pulangnya abang bawa kamu terus tiket kamu gimana? Belum lagi buat acara disana?"
Rani terdiam mencerna perkataan Andi. Tidak pernah sebelumnya memikirkan kesitu, tapi Andi sudah terlalu jauh berpikir. Apa yang sebenarnya ada dipikirannya? Kenapa sepertinya dia sangat pengalaman dengan hal itu.
Walaupun orang tua Rani berasal dari kota kecil dan masih bisa dipanggil orang kampung tapi pemikirannya sangat terbuka. Orang tuanya bukan pengikut adat istiadat yang kuat, yang penting seiman, itu saja sudah cukup.
Sepertinya Andi banyak mendengar kisah yang salah sehingga dia ikut menyimpulkan hal yang sama. Rani banya bisa menghela nafasnya memikirkan perkataan Andi yang dirasa sudah berlebihan.
"Mmm... lagi mikir aja kata-kata abang barusan, sepertinya abang sangat paham proses disana ya?"
"Kawan-kawan abang banyak yang nikah sama orang Aceh, mereka yang bilang sama abang."
"Dan yang mereka bilang tidak semuanya benar."
"Maksudnya?"
"Proses adat itu terjadi sesuai dengan orang tua si gadis. Kalo orang tuanya masih hidup dengan pikiran jaman dulu prosesnya ya akan ikut itu, tapi tidak berlaku dengan orang tua Rani, mereka itu punya pemikiran terbuka, hal-hal yang berbau adat kalo gak terlalu penting gak diambil juga, jadi sekedarnya aja."
"Jadi kalo abang lamar kamu, mas kawinnya gak mesti emas ratusan gram gitu?"
"Ya gak gitu juga, paling 30 gram umumnya."
__ADS_1
"Terus yang lain-lainnya gimana? Kan banyak juga tuh bawaannya waktu nikah."
"Itukan tergantung kondisi, kalo nikahnya dengan orang luar daerah gak ada bawaannya juga gak papa, yang penting akadnya, habis itupun dan angkat koper lagi."
"Jadi berapa abang bawa duit buat kesana?"
"Ya gak tau, lagian lucu kita seperti orang bernegosiasi proyek."
"Iya, proyek rumah tangga."
"Jadi kapan abang ke Aceh?"
"Abang belum bisa pastiin, tahun ini aja cuti abang udah kepake buat kesini, abang juga mau lanjut pendidikan lagi, biar nanti kalo pangkat abang naik hidup kamu juga enak."
"Yahhh...jadi gak tau pastinya ya?"
"Kamu maukan tunggu abang? Pacar-pacar abang sebelumnya juga gak ada yang mau tunggu abang, mereka kawin diluan."
"Ya lagian siapa mau tunggu gak ada kepastian? Cewe itu beda, umur mereka menjadi kendala, kalo asik nunggu abang bisa perawan tua gak kawin-kawin."
"Jadi kamu gak mau tunggu abang?, kita udah tunangan."
"Orang tua Rani gak nganggap tunangan ini karena gak ada restu dari mereka. Mereka juga nyuruh Rani kembaliin cincin ini."
"Terus kamu mau lepasin cincin itu?"
"Kalo abang gak bisa ngasih kepastian Rani akan lepasin cincin ini, apa Rani lepasin sekarang aja? Kita juga belum tentu bersama, mengingat abang sangat mengejar pangkat, mungkin memang abang belum berniat untuk menikah."
"Bukannya abang mengejar pangkat, cuman abang mau kalo udah nikah hidup udah enak, gak lagi mikir kekurangan uang, banyak teman-teman abang yang bercerai gara-gara uang."
"Setiap orang beda-beda, mungkin istri teman-teman abang itu hidupnya serba berkecukupan sebelum menikah, jadi setelah menikahpun mereka berpikir terus begitu. Tapi itu tidak berlaku untuk Rani karena kami hidup dikampung dengan sederhana jauh dari kesan mewah, kadang kami harus membantu ibu kesawah, atau saat kami perlu uang jajan kami memetik kelapa dibelakang rumah untuk dijual. Jadi tidak semua perempuan seperti istri teman-teman abang."
"Beneran dek kamu kesawah? Kok abang gak percaya ya?"
"Iya cuman jarang, kalo lagi butuh banyak tenaga baru diajak, setahun belum tentu sekali sih,,, hehehe, kan aku disuruh sekolah, ngaji sore sama malam, mana bisa kesawah. Lagian ya, ibu itu gak mau anaknya ikut jejaknya disawah, setiap orang tua pasti ingin anaknya lebih dari orang tuanya."
__ADS_1
"Iya... salut abang sama ibu kamu."
Saat mereka menikmati obrolan panjang, dimeja lain malah mereka sedang jadi bahan omongan teman-temannya. Sementara di atas pelaminan sepasang suami istri yang seharusnya merencanakan bulan madu mereka malah sibuk membicarakan Andi dan Rani.