
Malam minggu di Balikpapan lumayan ramai, malam ini Andi mengajak Rani makan disebuah restoran pinggir pantai. Dan lagi-lagi Rani harus melihat teman-teman wanita Andi yang tidak sengaja bertemu didepan restoran.
Saat menunggu pesanan datang, Rani berniat mengintrogasi laki-laki didepannya yang tampak santai.
"Bang, sebenarnya berapa banyak teman wanita abang?"
"Hah...pertanyaan kamu aneh, mana ada orang menghitung teman, yang dihitung itu uang, bukan teman, kamu kenapa? Cemburu?"
"Kalo iya kenapa?" Ucap Rani ketus.
"Ya baguslah, cemburu itu tanda cinta, kalo kamu gak cemburu juga aneh. Mereka semua teman, tidak lebih, ya kalo terlihat dekat, memang seperti itu dulu, sekarang abang sudah punya kamu, jadi sebisa mungkin abang menghindari hal-hal yang bisa menjadi fitnah untuk rumah tangga kita."
Mendengar jawaban Andi, tampa sadar Rani tersenyum senang.
"Bang, sini deh! Ada yang mau aku bisikin."
Andi yang terlihat kebingungan, mengikuti apa yang disuruh Rani.
Cup...
Sebuah kecupan mendarat dibibir Andi.
"Kamu agresif juga ternyata." Ucap Andi tersenyum.
"Tapi suka kan?"
"Suka banget."
Mereka melanjutkan makannya, Rani seakan tidak peduli dengan pandangan orang ketika dirinya mencium Andi, dia menikmati makanannya sambil sesekali tersenyum kearah Andi.
Malam minggu malam yang panjang, itu juga berlaku bagi sepasang suami istri dikediaman mereka. Setelah pulang menikmati malam minggu, mereka masih terjaga sambil memaingkan ponsel masing-masing.
Si suami bermain game, si istri berselancar ria didunia maya.
"Dek, kamu udah ganti status di Fb?" Tanya Andi masih dengan gamenya.
"Udah, abang udah?"
"Abang jarang main Fb."
"Aku buka boleh?"
"Buka aja, paswordnya nama abang."
Tampa menunggu lama, Rani langsung membuka Fb Andi, ada beberapa pesan masuk, Rani membuka satu persatu.
"Bang, ada yang kirim pesan, cewe."
"Siapa?"
__ADS_1
"Cewe ngajak kenalan."
"Ouhhh, hapus aja kalo gitu."
"Abang gak mau lihat dulu, lumayan seksi."
"Udah, jangan mancing-mancing, hapus aja." Ucap Andi masih dengan gamenya.
Rani kembali mendapatkan pelajaran berharga, bagaimana sikap dan cara pandang suaminya yang memang sudah matang dalam berpikir, tidak seperti dirinya yang cepat terbawa emosi.
Setelah menyelesaikan pembersihan diakun Fb Andi, Rani mematikan ponselnya, menaruh kembali ke meja. Melihat Andi masih fokus dengan gamenya, membuat ide jail Rani muncul.
Bermodalkan adegan romantis dinovel-novel yang dibaca, Rani berniat menerapkannya sekarang.
Mencoba menggoda dengan berbisik ditelinga suaminya yang ternyata Andi merasa geli. Dilanjutkan dengan mencium leher bertubi-tubi sambil berbisik kata-kata mesra dengan sedikit ******* mampu membuat Andi mengakhiri permainan gamenya.
"Kenapa kamu sekarang suka menggoda abang hah?" Ucap Andi yang sudah merengkuh pinggang istrinya.
Rani tersenyum karena Andi benar-benar terpancing dengan kelakuannya.
"Hanya mau praktekkin apa yang di novel benar apa tidak." Jawab Rani yang merasa geli karena terus diciumi Andi dilehernya.
"Udah abang bilang, jangan banyak kali baca novel, baca buku biar tambah pengetahuan." Ucap Andi masih memeluk pinggang istrinya.
"Ada juga ilmunya, buktinya adk tau cara menggoda abang." Ucap Rani yang akhirnya terdiam menikmati ciuman yang suaminya berikan.
Malam panjang dan indah kembali dirasakan oleh sepasang pengantin baru.
Sudah sepatutnya, pernikahan menjadi penguat dikala badai ujian menghadang, saling menguatkan satu sama lain menjadi penentu seperti apa pernikahan ini kedepannya. Rani dan Andi yang memulai semua dengan perjuangan panjang hingga berakhir dengan ikatan suci dengan janji yang terucap didepan sang pencipta serta keluarga tentu harus lebih kuat untuk berjuang mempertahankan janji tersebut.
Tanggung jawab satu sama lain dalam pernikahan juga menjadi penentu arah dari pernikahan itu sendiri. Saling berbagi bukan halnya dalam urusan ranjang, tapi dalam segala hal, berbagi rasa, berkasih sayang menjadi benteng pertahanan yang harus dikokohkan. Karena cinta akan hilang seiring berjalannya waktu, tapi kasih sayanglah yang akan mempertahankan ikatan pernikahan.
Setahun kemudian...
Kehidupan mereka masih seperti biasanya, Andi masih dengan pekerjaanya, Rani juga masih mengajar disebuah sekolah tidak jauh dari asrama. Rani yang tengah mengandung, masih disibukkan oleh urusan sekolahnya, dia tidak mau mengambil cuti lebih awal, dengan alasan ingin banyak bergerak untuk memudahkan melahirkan secara normal.
"Buk Rani, ini udah masuk bulan ke 9 ya?" Tanya seorang guru.
"Iya buk, perkiraan dokter minggu ini, doakan ya buk."
"Iya, sering-sering aja bapaknya ngejenguk, biar cepat kontraksi." Ucap si Ibu kembali.
"Hehehehe... makasih buk infonya." Ucap Rani mengakhiri pembicaraan tersebut.
Saat tengah berjalan ditaman sekolah, Rani merasa perutnya mulas, dia duduk dibangku taman, sambil meringis kesakitan.
"Ibu kenapa?" Tanya seorang siswa.
"Bisa tolong ibu panggilkan taksi, sepertinya ibu mau melahirkan." Pinta Rani yang membuat murid tersebut lari kedepan.
__ADS_1
"Pak, panggilkan taksi, buk Rani mau melahirkan, cepat." Pinta si murid pada pak satpam yang berjaga diluar.
Rani masih tenang, dengan sesekali menarik nafasnya. Guru-guru ikut panik berlari ke arah taman.
"Yok buk, kami antar ke rumah sakit."
Taksi yang ditunggu belum dapat, akhirnya Rani pergi dengan para guru ke rumah sakit terdekat.
Rasa mulasnya semakin menjadi, tapi Rani masih terlihat tenang, padahal guru perempuan disampingnya terlihat sangat khawatir. Rani mengambil ponselnya mencoba menghubungi Andi.
Rani_
"Bang, adk udah dijalan kerumah sakit x ya, abang nyusul bawa tas yang sudah adk siapin didekat sofa."
Andi_
"Iya, abang langsung kesana, tunggu ya."
Tidak berapa lama, mereka sudah sampai dirumah sakit, Rani langsung dibawa kebagian persalinan, setelah diperiksa ternyata sudah pembukaan 7.
Andi datang 10 menit kemudian, langsung menemui Rani. Tidak lama dokter masuk memeriksa kembali.
"Gimana buk, udah siap?" Tanya sang dokter.
Rani tidak menjawab, dia terus menggenggam tangan Andi sambil terus mengedan. Dan akhirnya, suara bayi menggema diruangan tersebut. Seorang bayi perempuan yang cantik.
"Selamat bapak dan ibu, bayinya perempuan, alhamdulillah sehat." Ucap Dokter.
"Terima kasih banyak Dok." Ucap Andi.
Andi dan Rani sangat bahagia, kehadiran putri cantik menjadi pelengkap rumah tangga mereka. Andi mencium kening istrinya yang masih terbaring lemah penuh senyum. Lengkap sudah kebahagiannya dengan kehadiran si cantik "Khaila".
"Khaila" yang bermakna cantik menjadi pilihan keduanya untuk diberikan kepada putri kecil mereka yang memang sangat cantik, tidak mirip ibunya sedikitpun.
Anak adalah titipan sang pencipta, sebagai orang tua yang diberi amanah oleh sang pencipta, sudah sepatutnya kita menjaganya dengan baik, membekali ilmu pengetahuan serta ilmu agama untuk keberlangsungan hidupnya. Baik buruknya seorang anak tidak akan terlepas dari tanggung jawab orang tua didunia maupun akhirat.
------------------------ THE END ----------------------
Hai Readers... ekstranya aku cukupkan sampai disini ya... semoga kalian senang, janga lupa like, komen, vote serta kasih bintang ya...
Thank quuu so much Readers...
Assalamualaikum...
Aceh, 19 November 2020.
Hai..... Readers tercinta...
__ADS_1
Ini karya selanjutnya, jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak...