
Seperti janji semalam, hari ini setelah berberes dirumah, mereka menuju ke pos, Rani dan Putra hari ini ada jadwal mengajar jadi dia tidak ikut.
Melati tidak peduli dengan Andi, dia pergi kedapur mencari Pratu Yogi.
"Bang Yogi." sapa Melati tersenyum
"Gak ngajar?" Tanya Pratu Yogi sambil tersenyum.
"Hari ini Rani sama Putra aja, Dewi lagi disamping sama Adam." ucap Melati.
"Jadi Rani gak bisa bantu masak dong." ucap Yogi
"Harus Rani ya? Kalo Mela yang ganti boleh?" Tanya Melati
"Boleh sih kalo tau masakan Aceh." ucap Pratu Yogi tersenyum.
"Bang Yogi baik-baik aja?" Tanya Mela setengah berbisik.
Pratu Yogi mengernyitkan dahinya menatap Melati.
"Emang abang kenapa?"
"Abang kan tau Rani sudah tunangan, abang gak sedih gitu?"
"Heheehe... abang pikir kenapa. Kalo itu sedih sih ada ya wajar lah namanya juga manusia, tapi abang gak bisa maksa, jodoh sudah ada yang atur kita cuma tinggal tunggu aja siapa jodoh kita, dan siapa tau jodoh abang malah kamu."
"Eitssss...." ucap Melati singkat
"Kenapa? Kamu gak mau kalo abang jadi jodoh kamu?" Tanya Pratu Yogi
"Hehehe... udah ah jangan bahas jodoh lagi, seperti abang bilang jodoh gak akan kemana, kalo kita memang jodoh pasti Mela terima dengan lapang dada." ucap Melati penuh percaya diri.
Mereka menikmati masa-masa terakhir sebelum berpisah. Pratu Yogi yang sudah mengetahui kalau Melati adalah orang yang akan dijodohin dengannya membuat Pratu Yogi tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang tersisa.
Sementara diruang tamu, Andi tampa kesal dengan sikap Rani. Andi tidak tau harus berbuat apa lagi agar Rani tidak bersikap dingin kepadanya.
"Udahlah, kasih dia waktu, jangan terlalu dipaksakan. Rasa bersalahnya mungkin lebih besar daripada rasa sayang padamu." ucap Bang Affan menasehati.
"Entahlah bang, saya juga bingung." ucap Andi.
Sementara disekolah Rani dan Putra terlihat serius dengan percakapan mereka.
"Aku gak bisa sok-sok manis sama dia, sementara ada bang Yogi dan Mela yang hatinya terluka." ucap Rani.
"Aku gak tau bilang Ran, situasinya memang tidak mendukung untuk kalian go public sekerang."
"Makanya aku sangat menghindar untuk keadaan yang akan membuatku susah kedepannya, seperti nanti acara di pos, aku malas harus pergi, dia pasti curi-curi kesempatan." keluh Rani.
"Hadapi sewajarnya aja, dan hindari situasi yang akan memperburuk keadaan aja buk."
"Iya, makanya kita gak usah pulang aja gimana?" Tanya Rani
"Lapar buk." jawab Putra sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
"Ya udah lihat nanti aja, yok dah mulai jam kita." jawab Rani mengakhiri perbincangan mereka.
Sementara di pos, semua tertawa bahagia, menikmati kebersamaan sambil memesak dan bercengkrama. Sampai waktu siang menjelang tanpak Rani dan Putra memasuki rumah masing-masing.
Tok....tok....tok...
"Rani yok," ajak Putra
"Duluan aja Put, nanti aku nyusul." ucap Rani dari dalam.
Rani memang tidak berniat kesana, dia memilih tiduran dikamar dengan cuaca yang panas sering membuat kepala pusing.
"Rani mana Put?" Tanya Mela
"Katanya nyusul." ucap Putra
"Yeelah... baru datang main makan aja." ucap Dewi melihat Putra mengambil piring.
"Gak papa, udah siang juga, Pak guru kita pasti sudah lapar, ibu guru satu lagi mana?" Tanya bang Affan yang baru keluar.
"Katanya nyusul bang, Putra disuruh duluan." ucap Putra tersenyum.
Andi yang dari tadi menunggu Rani, akhirnya masuk kedalam untuk menelpon. Dan benar saja Rani benar-benar tertidur dengan Hp yang masih tersimpan dalam tas.
"Saya telpon gak diangkat." bisik Andi sama bang Affan.
"Biar saya yang telpon." ucap bang Affan.
Telpon dari Affan juga tidak diangkat karena Hpnya mode diam jadi tidak ada nada dering.
Teman-temannya yang dari tadi asik berbincang seketika terdiam. Tampa terduga Andi langsung berlari kerumah mereka diikuti Affan dan yang lain.
Mereka langsung masuk mencari Rani sampai kedapur, Dewi san Mela mencari dikamar dan benar saja Rani lagi dikamar tidur dengan lelap. Andi dan Affan sangat kaget melihat Rani tidur hanya menggunakan baju dalam dan celana pendek. Andi dan Affan langsung keluar tampa bicara lagi.
"Gak usah dibangunin Dewi, mungkin dia capek banget." ucap bang Affan.
Merekapun kembali ke pos melanjutkan acara makan siang yang tertunda. Sementara Rani terlelap dengan mimpi indahnya.
"Rani kenapa Mela?" Tanya Pratu Yogi
"Cieeee... masih perhatian." ejek Mela
"Dia ketiduran bang, abang kan tau sendiri kalo panas gini dia mana pernah gak tidur." ucap Mela.
"Iya,,, dia sering pusing kalo main diluar lagi panas terik begini." ucap Pratu Yogi yang tampa disadari didengar oleh Affan dan Andi.
"Sepertinya kamu lebih tau Rani daripada tunangannya sendiri ya?" Ucap Affan yang membuat Andi kesal.
"Karena kami berteman baik, sedikit banyaknya saya tau tentang dia." ucap Pratu Yogi penuh penekanan.
Mereka melanjutkan acara makan siang diselingi candaan. Mereka masih menyiapkan bahan untuk nanti malam, sampai akhirnya orang yang dari tadi tidur muncul.
"Wahhh,,, loe buk,,, tidur macam kebo." ucap Mela melihat Rani datang.
__ADS_1
"Aku lapar, mau masak malas, masih ada makanan?" Tanya Rani lesu
"Masih, yok abang temani." ucap Affan tersenyum.
Rani segera masuk keruang tamu mengambil piring dan memilih duduk sendiri karena dia tidak ingin diganggu saat makan.
"Bang aku mau makan dengan tenang, biarin aku sendiri." ucap Rani melihat Andi masuk.
"Abang gak ganggu kamu, abang juga mau makan." ucap Andi tersenyum.
Rani dengan lahapnya makan tidak peduli siapapun yang melihat. Dia bahkan tidak menjawab siapapun yang bertanya. Setelah menghabiskan 2 porsi makanan, dia keluar dengan penuh senyum kearah teman-temannya.
"Alhamdulillah.... kenyanggggg." ucap Rani
"Pasti nambah." ucap Mela menebak
"Tau aja, rugilah gak nambah makanan enak gitu ya gak abang-abang?" Ucap Rani pada para prajurit yang lagi santai rame-rame.
Mereka membalas dengan tersenyum melihat tingkah gadis didepan mereka yang sedikit konyol. Rani melihat Pratu Yogi membawa Jagung yang banyak.
"Bang Yogi, Rani bantu ya?" Ucap Rani menghampiri
"Gak usah dek, kamu udah makan?" Tanya Pratu Yogi
"Baru aja Rani makan, sampe 2 piring bang." ucap Rani.
"Rani mau bicara berdua boleh?" Tanya Rani yang membuat Pratu Yogi menatapnya serius.
"Tapi jangan disini, kita duduk dekat sawah biasa yok!" Pinta Rani.
"Tapi dek, abang gak enak sama Danru."
"Kita minta ijin sama-sama yok." ucap Rani menarik lengan Pratu Yogi membuat semua mata tertuju kearah mereka.
Affan menggeleng-geleng kepala melihat tingkah Rani, sedangkan Andi sangat ingin meluapkan kemarahannya saat ini.
"Bang Andi, bang Affan, aku tau ini gak pantas, tapi aku minta ijin mau bicara sama bang Yogi sebentar ditempat biasa kami bicara."
Rani menatap Andi sedangkan Andi membuang mukanya tampa menjawab.
"Ya sudah kalian saya ijinkan, Yogi kamu tau harus bersikap seperti apa kan?" Ucap Bang Affan bijak.
"Siap Dan." ucap Pratu Yogi
Mereka keluar bersama berjalan kaki meninggalkan tanya pada setiap orang yang melihat.
"Sudahlah, berikan dia waktu bicara biar tidak merasa bersalah terus." ucap Affan memberi nasehat untuk Andi.
Sementara diluar, teman-teman Rani juga tidak kalah heboh.
"Wahhh... si Rani diam-diam berani juga dia ngajak bang Yogi." ucap Mela.
"Mereka memang harus bicara, lo gak ngerasa bang Yogi berubah begitu tau Rani tunangan, dia pasti kecewa, aku yakin Rani pasti mau minta maaf tuh sama bang Yogi." ucap Dewi.
__ADS_1
"Udahlah, biarin aja mereka mengurus sendiri, sekarang kita kupas dulu nih jagung." ucap Adam.