Abang Tentara, Tembak Aku!!!

Abang Tentara, Tembak Aku!!!
DenganMu...


__ADS_3

Setelah beberapa jam menempuh perjalanan, mereka berhenti untuk makan siang dan shalat zuhur. Kali ini Andi yang jadi imam. Selesai shalat mereka menuju ke warung makan diseberang jalan. Dan seperti mengulang waktu dengan orang yang berbeda tangan Rani digenggam Andi tiba-tiba sambil menyebrang jalan dan dibawa kesebuah meja.


Putra yang melihat adegan merekapun kaget, sementara Rani hanya bisa pasrah dengan tatapan semua orang termasuk Putra.


"Kamu mau makan apa?" tanya Andi


"Batu" jawab Rani singkat yang merasa kesal melihat tingkah Andi.


"Buk, ada batu? calon istri saya mau makan batu katanya." tanya Andi pada pemilik warung yang membuat seisi warung melihat kearah mereka.


Ranipun bangun dari duduknya mengambil nasi dan beserta lauknya. Rasanya ingin cepat pergi dari situ saking malunya. Setelah memesan Rani menghampiri meja Putra dan Pratu Dimas.


"Rani gabung ya?" ucap Rani singkat


"Kami sih gak apa-apa cuman Danru gimana tuh?" tanya Pratu Dimas.


"Putra, tolongin aku ya?" pinta Rani.


Andi tiba-tiba datang kemeja mereka.


"Dek, kamu gak mau temani abang makan?" tanya Andi


"iya, nih mau kesana." jawab Rani sambil menatap kearah Putra dan Pratu Dimas.


Merekapun kembali kemeja semula, dan makanan yang tadi dipesan sudah diantar oleh penjaga warung.


"Lho... ini mbak yang nangis sambil disuapin dulu kan? saya ingat betul sama mbak, tapi abangnya lain ya? yang dulu agak putih." ucap ibuk penjaga warung yang membuat Andi menatap tajam kearah Rani.

__ADS_1


"Itu anak buah saya buk, ini calon istri saya." ucap Andi penuh penekanan.


"Ouh maaf ibuk gak tau, ya udah silahkan dinikmati ya." jawab ibuk tersebut.


"Kenapa dulu kamu nangis sampe disuapin sama Yogi?" tanya Andi.


"Gara-gara kamu tuh, jadian sama Melati." jawab Rani sambil terus menyuapi sendok nasi kemulutnya.


"Hahahha... makanya jadi orang jangan suka sok hebat pakek acara gak kenal, padahal cinta." seloroh Andi.


Rani terus menikmati makannya tampa peduli sama ucapan Andi lagi. Selesai makan Rani langsung kekasir untuk membayar dan ternyata sudah dibayar oleh Andi tampa sepengetahuannya. Rani hanya bisa menarik nafas kasarnya karena setelah ini banyak lagi permintaan yang harus dia turutin karena tidak ada makan siang gratis.


Rani segera keluar menunggu ditruk, saat lagi duduk dibelakang Andi langsung duduk disampingnya menaruh lengannya dibahu Rani dan tampa permisi dia mengabadikan di Hp. Rani yang tak siap hanya menatap kearah layar tampa senyum bahagia. Setelah beberapa saat yang lain pun ikut naik.


"Ayo kita pindah kedepan." ajak Andi yang sudah menggenggam tangan Rani.


"Apa kamu mau saya cerita semuanya kemereka?" bisik Andi


Rani yang kaget dengan bisikan Andi langsung turun pindah kedepan. Rani kaget waktu naik supirnya bukan lagi Pratu Dimas.


"Bang Edo..." ucap Rani sambil tersenyum


"Iyaa dek, abang gantiin sekarang." ucap Prada Edo.


Merekapun kembali melanjutkan perjalanan panjang. Tampa pikir lama Andi kembali menceritakan tentang hubungannya pada Prada Edo. Rani memilih diam sambil sesekali melihat kearah Prada Edo.


Berbeda dengan Pratu Dimas, Prada Edo lebih banyak bicara karena oranganya memang ramah. Diapun tidak segan-segan menanggapi omongan Andi.

__ADS_1


"Wah, saya gak nyangka kalo kamu pacar pertama Danru dek." ucap Prada Edo.


"Biasa aja bang, semua sudah berlalu, Danru sekarang dah milik orang." ucap Rani


"Tapikan kalian belum putus, kalo menurut abang seharusnya kamu perjuangin tuh cinta kamu, lagian kamu aneh kekasih dah didepan mata malah kamu pura-pura gak kenal, namanya juga lelaki dek, saat orang yang diharapkannya jauh, kalo ada yang dekat ya dicoba aja." ucap Prada Edo sambil tertawa.


Sementara Andi kali ini memilih pura-pura tidur merebahkan kepalanya dibahu Rani.


"Abang ini laki-laki juga dek, kalo digituin juga pasti kecewa banget, kamu gak sayang sama Danru? dia dah lama membujang, pasti dia harapin kamu buat jadi istrinya." ucap Prada Edo kembali.


"Tau ah bang gelap..." ucap Rani singkat.


"Terus kamu sama bang Yogi gimana?" tanya Prada Edo


"Ya gak gimana-gimana bang, dia perhatian orangnya dan gak memaksakan saya untuk menerimanya apalagi dia tau tentang saya dan Danru abang." ucap Rani.


"Tapi saya rasa dia pasti mengalah karena gak mungkin merebut calon istri Danru." jawab Prada Edo.


"Kamu tanya hati kamu aja, kamu sebenarnya masih ada rasa gak sama Danru?, saya lihat Danru masih sayang sama kamu." ucap Prada Edo kembali.


"Tau ah bang... Rani bingung..." jawab Rani singkat sambil merebahkan kepalanya kebelakang sambil melirik kearah Andi tidur.


"Tentara bisa tidur siang juga ya bang?" tanya Rani


"Hahahha... kamu aneh dek, tentara juga manusia kalo kami ada waktu ya kami tidur siang juga." ucap Prada Edo.


Melihat Andi yang tertidur, tangan Rani tergerak untuk menyentuh rambutnya, dulu rambut ini yang dia lihat masih sama sampai sekarang, dia menyentuh pelan rambut Andi.

__ADS_1


__ADS_2