
3 tahun kemudian....
3 tahun di daerah terpencil bukan hal yang mudah, walaupun sebelumnya sudah pernah merasakan. Tapi lokasi penempatan kali ini diluar harapan dan pilihan sebelumnya. Saat mengisi data online, lokasi yang dipilih adalah Bintan, Kepri. Pulau dengan sejuta pesona, dengan penginapan mewah setara luar negeri, tidak terbayang bisa tinggal disana, apalagi sampai bertemu bule patah hati, yang kalau beruntung bisa dinikahin, menikmati penginapan mewah dengan suguhan alam Maldives.
Ah...sayang seribu sayang, harapan sirna sebelum kenyataan. Seminggu setelah tes, keluarlah pengumuman nama dan lokasi penempatan. Dengan penuh syukur beriring doa, wajah yang tadinya cerah dalam sekejap berubah mendung melihat lokasi penempatan Sungai Areh, Sintang Kalimantan Barat.
Saat itu rasanya ingin tertawa, mengingat apa yang sudah dihayalkan kemaren-kemaren. Keputusan sudah dibuat, suka tidak suka harus diterima dengan lapang dada. Bukannya tidak mau ke Kalimantan lagi, tetapi masalah ongkos menjadi pemicu, tidak bisa pulang setiap tahun ke Aceh, karena berat diongkos.
Dusun yang Rani tinggali tidak memiliki listrik apalagi signal, mereka menggunakan sistem surya untuk penerangan. Untuk kebutuhan dunia maya, setiap ada kesempatan mereka akan turun ke Sintang, menyewa kost untuk beberapa malam menginap sambil berselancar ria didunia maya.
Beberapa bulan pertama, Rani sempat kesal, mengingat dia lupa mengisi ulang pulsa sehingga nomernya tidak bisa dipakai lagi. Dia kehilangan beberapa nomer penting, sehingga harus mengirim pesan melalui Facebook atau meminta pada teman yang lain.
3 tahun, satu pulau dengan Andi, tidak ada kabar sama sekali darinya. Mengirim pesan melalui Facebook, sampai menitip nomer pada suami Mela, belum juga ada titik terang. Rasanya percuma juga berharap lagi, mungkin dia juga sudah menikah. Pelan-pelan Rani melupakan semua kenangan indah itu.
Mendekati ujian akhir semester menjadi rutinitas yang melelahkan, mulai dari mempersiapkan soal, mendata semua nilai-nilai sebelumnya, sampai nanti ujian dilanjutkan dengan pengisian rapor menjadi ajang tempur fisik dan pikiran.
Lain halnya saat ini, setelah 2 bulan tidak turun gunung karena ujian, akhirnya setelah dua hari sebelumnya para siswa menerima rapor, dan senyum para guru juga ikut mengembang, bagaimana tidak, libur panjang adalah hal terindah didepan mata. Menikmati suasana lain tentu hal yang sangat menyenangkan sambil melepas segala penat dua bulan yang lalu.
Mereka yang baru turun gunung, tengah asik menikmati kopi sambil tertawa riang, sampai sebuah pesan mengejutkan masuk ke ponsel Rani dan Putra.
📩 Bang Yogi
"Innalillahi...Rani, Mela udah meninggal, tadi jam 10 pagi, maafkan kalo Mela ada salah-salah ya, doakan dia."
"Eh, ini aku dapat pesan dari bang Yogi." Ucap Rani memperlihatkan pesan kepada Putra dan Irvan.
"Aku juga dapat nih." Ucap Putra.
"Eh, tunggu lihat tanggalnya!" Ucap Putra kembali.
"Udah sebulan Put, gimana ini, kita kesana yok!" Ucap Rani yang sangat gelisah.
"Dek Pan gimana? Ikut kami ke Balikpapan?" Tanya Putra.
"Ikut, kita pergi sekarang, masih ada tiket ke Pontianak?"
"Gak tau, yok tanya dulu! Loe pulang aja, siap-siap, biar aku sama Dek Pan yang nyari tiket!" Pinta Putra.
"Iya." Jawab Rani lemah.
Di Sintang, mereka punya langganan kos-kosan, pemiliknya sudah seperti keluarga mereka sendiri. Sudah kebiasaan, jika mereka turun gunung, duduk santai sambil minum kopi di warung sebelah. Menutup laptop, dengan segera Rani menuju kosnya, tidak banyak yang harus disiapkan, karena baju yang dibawa masih didalam tas, tadi begitu sampai mereka langsung ke warung.
__ADS_1
8 jam perjalanan dari Sintang ke Pontianak menggunakan damri. Jam 6 sore, mereka tiba di Pontianak, langsung mencari tiket pesawat ke Balikpapan.
"Udah bilang sama bang Yogi kita mau kesana?" Tanya Rani.
"Udah, sekalian minta alamat."
"Kapan berangkat kesana, malam ini atau besok?" Tanya Rani kembali.
"Besok pagi aja, ini sudah malam, kita istirahat dulu siapin tenaga buat besok, habis isya tidur terus, jangan main ponsel lagi, aku belum bisa terima kabar ini, banyak pertanyaan dikepala, cuma gak mungkin aku tanya sama bang Yogi, nanti kalo kita udah sampai pasti bang Yogi kasib tau sendiri, loe jangan banyak pikiran, jangan sampe loe yang drop." Putra memperingatkan Rani, karena sejak menerima pesan dari bang Yogi, Rani terlihat lemah.
Jam 10.45 mereka mendarat di Bandara Sepinggan Balikpapan. Tampak Yogi sudah menunggu dipintu kedatangan.
"Maaf bang ya, kami telat datang." Ucap Putra yang duduk disamping Yogi yang tengah mengemudi.
"Iya, saya ngerti kok, makasih ya kalian mau datang kemari."
"Bang, kami mau ke makam Mela dulu boleh?" Tanya Rani.
"Boleh, dia pasti senang kalian datang, kebetulan lokasinya gak jauh dari asrama."
Tidak banyak obrolan didalam mobil, semuanya larut dalam pikiran masing-masing, tidak lucu juga kalau mereka bercanda seperti dulu, karena keadaannya sekarang sangat berbeda.
Tidak berselang lama, mobil yang mereka tumpangi sudah didepan pemakaman umum. Setelah membeli beberapa botol air dan juga bunga, mereka langsung menuju makam Mela.
"Setelah sekian lama gak ketemu, sekarang kita malah bertemu seperti ini, bahkan kita sudah lama tidak saling telponan, aku kangen Mel sama loe." Ucap Rani sambil terus menahan isak tangisnya.
Selesai menabur buang, mereka pamit pulang, belum selangkah berjalan, Rani jatuh pingsan. Dengan sigap Putra menangkap tubuh Rani, sampai akhirnya diangkat oleh Yogi ke Mobil.
Sampai dirumah, sudah ada orang tua Yogi yang menyambut kedatangan mereka. Begitu melihat Rani yang kembali digendong oleh Yogi, membuat orang tua Yogi panik.
"Ini kenapa?" Tanya ibu terlihat khawatir.
"Gak papa buk, dari kemarin setelah terima pesan dari bang yogi dia sudah nampak beda, kurang nafsu makan, lebih banyak diam, tadi juga lumayan panas, karena dia gak tahan terik buk." Jawab Putra menjelaskan.
Entah sadar atau tidak, saat ini Rani terbaring dikamar Mela, sahabatnya. Sementara yang lain sedang berbicara diruang tamu.
"Benar gak papa kita biarin seperti itu?" Tanya Ibu kembali, mengingat sudah lebih setengah jam Rani tidur.
"Insya Allah gak buk, nanti begitu bangun udah segar, dikasih minum air hangat aja." Jawab Yogi.
"Hahahaha...abang masih ingat aja sikon dia." Ledek Putra yang dibalas senyum semua orang.
__ADS_1
"Maaf bang, kalo boleh tau Mela kenapa?" Tanya Putra lemah.
"Dia kecelakaan saat ke pasar, yang nabrak juga meninggal, abang dirumah jagain Andra."
"Andranya sekarang dimana?" Tanya Putra kembali.
"Dikamar lagi tidur, kalian makan dulu gih, biar ibu yang tungguin Rani." Pinta ibu Yogi.
Sementara di kamar, Rani tengah asik bicara sambil tersenyum.
"Hahahaha...lucu ya dia, ganteng lagi, ahhhh jadi gemeshhhh."
"Iya dong mama Rani, kan anak bunda Mela sama ayah Yogi."
"Enak aja loe ngajarin si Andra manggil gue mama, entar dikira orang anak gue lagi, bisa gagal kawin gue kalo cowo-cowo tau gue punya anak."
"Rani, gue titip Andra ya, sayangin dia seperti loe sayangin gue, temanin bang Yogi juga, bilang jangan sedih terus, kasihan Andra."
"Enak aja loe titip-titip, Andra bukan barang tapi anak elo, lagian mau kemana sih?"
"Gue pergi ya Ran, Andra sama mama Rani ya sayang, bunda sayang Andra."
"Eh... Mela, loe kemana, balik gak, nih Andra, wah kebangetan memang loe, Melaaaaaa."
Teriakan Rani membuat semua orang masuk kekamar. Rani masih terus memanggil nama Mela.
"Nak, sayang bangun, bangun ya udah siang." Ucap ibu Yogi sambil mengusap pipi Rani pelan.
"Yogi, dia demam, apa gak sebaiknya panggilin dokter diklinik?"
Tampa menjawab, Yogi langsung menghubungi dokter di klinik, sesaat kemudian, dokter yang sudah sampai langsung memeriksa Rani.
"Sepertinya banyak pikiran, ditambah kelelahan, nanti setelah minum obat, insya Allah sudah baikan, ini saya tulis resepnya." Ucap Dokter sambil menyerahkan resep ke Yogi.
"Terima kasih dokter." Ucap Yogi.
Rani sudah tidak mengigau lagi, ibu Yogi juga mengompresnya, dengan telaten ibu Yogi mengurus layaknya anak sendiri. Sedangkan Andra tengah bermain dengan kakek serta Putra dan Irvan diluar.
------------
Like....
__ADS_1
Komen....
Vote....