Abang Tentara, Tembak Aku!!!

Abang Tentara, Tembak Aku!!!
S2...11


__ADS_3

Tidak berselang lama, dering ponsel kembali berbunyi.


Rani_


"Ya...buk persit tercinta, setelah sekian lama baru muncul, kemana aja?"


Mela_


"Assalamualaikum dulu biar berkah, maaf deh, baru bisa telpon, begitu sampe sini banyak yang harus diurus, belum lagi kegiatan diasrama seabrek, rasanya badan gue remuk redam, ini juga gue telpon karena bang Yogi keluar piket. Loe kok gak balas yang tadi diFb?"


Rani_


"Walaikumsalam. Mulai deh jiwa-jiwa ingin tahu. Berarti loe telpon gue cuma karena penasaran sama yang tadi? Kalo gak loe gak akan telpon gue, wahhh....tega loe ma gue, bukannya tanya kabar sahabat loe ini setelah sekian lama kita gak ngobrol, eh malah nanya itu."


Mela_


"Ya maaf, lagian ngapain gue nanya kabar loe, jelas-jelas loe baik-baik aja, kalo gak baik ngapain posting photo gitu, pasti posting photo lagi dirumah sakit, atau tangan lagi diinfus, ini photo lagi ketawa-ketiwi, mana ada orang sakit gitu."


Rani_


"Sakit gue lain Melllll, sakit tapi tak berdarah, susah diungkapkan dengan kata-kata."


Mela_


"Yayayayayya...terus gimana ceritanya sama bang Andi, masih lanjut?"


Rani_


"Ya gitu deh, antara ada dan tiada, bingung gue bilangnya."


Mela_


"Eh, tapi yang gue dengar nih, dia tuh biar cuma tentara tapi banyak usahanya, loe kan tau orang bugis itu otaknya bisnis, sekarang dia udah pindah ke Samarinda, dengar-dengar ada perusahaannya disana, tajir loe dia, gak nyesal loe nikah sama dia."


Rani_


"Yayayayaya...itu juga udah tau, bang Affan udah cerita. Tapi prinsip gue tetap, kalo dia gak mau kemari ya udah, by...by..."


Mela_


"Hmmmm...bau-baunya seperti ada cadangan."


Rani_


"Yups...that's right baby."


Mela_


"Serius? Siapa?"


Rani_


"Yang kenalan di Fb dulu, ingat gak? Yang orang Aceh."


Mela_


"Mmm,,,yang loe bilang dah tua?"


Rani_


"Iya, gue udah disamperin kerumah, terus orang tuanya udah kerumah dan yang terakhir keluarganya melamar gue secara resmi."


Mela_


"Wahhhh...gue ketinggalan info penting nih. Terus gimana?"


Rani_


"Ya gak gimana-gimana, bang Andi juga udah tau."


Mela_


"Kok tragis benar kisah cinta loe ya? Yang sabar, banyak-banyak doa semoga Allah kasih yang terbaik, oh ya, BM tuh aslinya gimana, tua gak kayak umurnya?"


Rani_


"Jauh, wajahnya gak menunjukkan umurnya."


Mela_


"Ganteng donk."

__ADS_1


Rani_


"Lumayan."


Mela_


"Sama bang Andi gantengan mana?"


Rani_


"Mmmm...gak bisa dibandingin, karena kerjaanya kan beda, kalo bang Andi jelas-jelas mainnya dibawah matahari, kalo BM kan didalam."


Mela_


"Biar wajah loe pas-pasan tapi cowo yang dekatin ganteng-ganteng ya? Salah satunya laki gue."


Rani_


"Hahaha...karena mereka suka cewe yang apa adanya bukan yang ada apanya, gue juga gak pernah jaim sama mereka, jadi diri sendiri aja, kalo dasarnya banyak ngomong kayak gue yang lanjutin aja, kalo tuh cowo gak suka ya udah by...by..."


Mela_


"Iya sih, cewe sekarang kebanyakan jaim-jaim gitu, padahal dibelakang beuhhh...semua diembat."


Rani_


"Loe gimana, dah hamlon?"


Mela_


"Udah nih, baru 2 bulan."


Rani_


"Selamat ya! Semoga lancar sampai lahiran."


Mela_


"Elo sering ketemu sama Puput ya?"


Rani_


Mela_


"Hati-hati, tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan yang bertahan tampa rasa, takutnya, tampa loe sadari si Puput naksir sama elo."


Rani_


"Gak lah, dia juga dah tau sikon gue gimana, eh, ibu hamil gak papa jam segini belum tidur?"


Mela_


"Bentar lagi baru tidur, masih kangen, loe mau tidur ya?"


Rani_


"Bentar lagi juga, besok BM juga kemari."


Mela_


"Whatttt? Ngapain? Kangen ya sama elo?"


Rani_


"Gak tau, katanya mau main aja."


Mela_


"Iyalah, dia pasti kangen sama tunangannya, kalo gak kangen justru aneh dan patut dipertanyakan."


Rani_


"Tau ah, terserah dia aja."


Mela_


"Ya udah kalo gitu, elo tidur gih, jangan sampe besok ketemu dia muka loe gak fresh."


Rani_


"Iya...iya...ya udah loe juga tidur, jangan begadang gak baik buat janin, assalamualaikum."

__ADS_1


Mela_


"Walaikumsalam..."


Tutttttt.....


Keesokan harinya...


Jam 4 sore, BM sampai kerumah, setelah shalat ashar mereka kemudian berpamitan pada ibu.


"Kita mau kemana?" Tanya Rani.


"Kemana enaknya, abang gak tau daerah sini."


"Ke kota sebelah gimana? Disana ada tempat santai dipinggir laut."


"Mmmm...boleh juga, ayo!"


Mereka menempuh perjalanan ke kota sebelah selama lebih kurang satu jam. Mereka memilih duduk dipondok yang disediakan dipinggir pantai tersebut.


"Mmmm...enak ya suasananya?" Tanya Rani basa basi.


"Lumayan, tapi disini pasir pantainya hitam ya?"


"Iya, memang semua pasir itu hitam kan?"


"Hahahha...ya gak lah dek, dikota abang, pasirnya putih, air lautnya juga cantik, makanya adk sesekali main kesana."


"Gak ah, takut tsunami, terus katanya disana juga barang-barang mahal."


"Ya kalo memang udah waktunya gak mesti harus tsunami, buktinya, ada yang selamat biarpun rumahnya dekat laut, nanti setelah nikah aja kita keliling ya? Sekalian bulan madu sampai ke pulau seberang."


"Gimana ya kalo nanti tinggal disana, udah gempa bentar-bentar."


"Hahaha...adk tuh mikirnya aneh-aneh aja, kalo gempa ya lari, yang penting jangan panik. Abang dulu 3 hari setelah tsunami udah keluar, mayat dimana-mana sebagian udah busuk, abang perbaiki motor bapak yang gak sempat dibawa air, untungnya bisa hidup, pake itu abang keliling melihat situasi kota yang hancur semua."


"Serem ya?"


"Adk sepupu abang malah hampir gila, gak sanggup dia lihat mayat dimana-mana, terakhir abang masukin kerja di NGO tempat abang kerja biar pikirannya teralihkan, kalo didiamkan benar-benar bisa gila."


"Gak kuat ngebayanginnya, udah sore, kita pulang yok, nanti kita mampir ditempat bakso, boleh?"


"Ya udah ayo!"


Seperti yang dikatakan Rani, merek mampir ditempat bakso yang cukup terkenal, bukan karena baksonya melainkan isi didalamnya bukan hanya bakso tapi lengkap dengan sumsum dan daging serta tetelan yang menggiurkan. Ternyata BM belum pernah makan bakso ini, karena dikotanya tidak ada. Melihat cara makannya yang sangat bersemangat membuat Rani tersenyum senang.


"Disana gak ada ya?" Tanya Rani.


"Hehehehe...sop sumsum ada, kalo ini gak ada."


"Enak?"


"Enak, abang suka, nanti kalo abang kemari lagi, kita kesini lagi ya?"


"Hahahaha...mau bungkus bawa pulang?"


"Hehehehe....gak usah, gak enak lagi kalo abang bawa pulang, lagian abang besok baru pulang."


"Abang mau nginap?"


"Iya, tapi bukan dirumah adk, abang nginap ditempat kawan."


"Mmmm...."


Menjelang magrib mereka sampai dirumah, saat BM beranjak pulang, tiba-tiba dia memberikan beberapa lebar uang merah kepada Rani.


"Eh, gak usah, adk ada uang."


"Ambil aja, adk tunangan abang, jadi terima ya."


Tampa menunggu persetujuan, BM langsung menyerahkan uang tersebut ketangan Rani. Ternyata memang begitu tradisinya, menjelang bulan puasa diikuti lebaran, calon suami akan memberikan uang kepada calon istrinya. Hal yang tidak pernah Rani ketahui sebelumnya.


 


----------------


Like....


Komen....


Vote....

__ADS_1


__ADS_2