
Seperti janji semalam, Andi sudah berada dirumah Melati tepat jam 10 pagi, hanya mereka berdua dan dirumah sebelah ada Adam, sementara Putra dan yang lainnya sudah berangkat kesekolah.
"Maafin Mela soal semalam." ucap Melati sambil menunduk merasa bersalah.
"Gak apa-apa abang ngerti, abang kemari ada hal penting yang mau abang sampein." ucap Andi.
Mendengar kata-kata Andi melati yang semula menunduk mengangkat wajahnya menatap Andi.
"Abang gak bisa lanjutin hubungan kita, sebentar lagi abang juga akan pindah, dan entah apa yang akan terjadi didepan kita sama-sama gak tau, abang harap kamu mengerti dan bisa menerima keputusan abang." Ucap Andi menjelaskan.
"Kenapa bang? Apa abang sudah punya yang lain? Mela perhatikan belakangan ini abang berubah, jujur sama Mela, abang sudah punya pacar lain ya?" Tanya Mela.
"Kamu minta abang jujur, apa kamu siap mendengar kejujuran abang?" Tanya Andi kembali.
"yang penting abang jujur, Mela akan coba menerima apapun itu." ucap Mela berusaha kuat.
Kemudian Andi menceritakan semuanya kepada Melati dengan beberapa alur yang dilewati termasuk nama dan tempat mereka bertemu kembali juga asal usul si wanita.
Melati mencoba menahan air matanya tapi teta saja air mata itu jatuh, hatinya benar-benar hancur saat ini.
"Apa yang kamu rasakan saat ini, dia lebih dulu merasakannya. Saat dia tau abang sudah pacaran sama kamu dia juga hancur bahkan lebih, abang minta maaf atas semua kesalahan yang abang buat, kedepannya mari kita jadi teman dan menata hidup kita lebih baik." ucap Andi.
"Ya udah berarti hari ini kita resmi putus, terima kasih untuk semuanya, sekarang gak ada lagi yang perlu dijelaskan, lebih baik abang pulang aku banyak kerjaan." ucap Mela dengan tatapan penuh kebencian.
Melati segera menutup pintu kemudian menangis dibawah bantal sekencang kencanganya. Tangisan yang dari tadi dia tahan. Sudah 2 jam berlalu sampai teman-temannya pulang dari sekolah.
"Kok tumben jam segini pintu masih tutup." tanya Dewi penasaran.
"Kenapa si Mela? Masih ngorok dia? Gak biasanya." ucap Putra.
"Udah kita lihat aja kedalam." ucap Rani yang diikuti Dewi masuk kedalam.
Mereka terkejut mendapati Melati tidur dengan bantal diatas wajahnya.
"Mel,,,Mel,,,Mel,,,, bangun." Rani menyentuk pipi Melati.
Melati menggeliat sesaat, kemudian menatap Rani dan Dewi sampai air matanya kembali turun. Melati menceritakan semuanya kepada mereka dan Rani merasa sangat bersalah melihat temannya terpuruk.
"Udahlah, kita gak pernah tau jodoh kita siapa? Yang kita pacarin belum tentu jadi jodoh kita, bahkan yang besoknya mau nikah bisa batal kalo emang gak jodoh, ngapain menangisi cowo yang gak jelas, mending nikmatin hidup, cowo gak cuman dia didunia ini." ucap Rani kesal mengingat seperti apa tunangannya.
__ADS_1
"Aku setuju sama Rani, cowo itu baru keren kalo dia berani datang kerumah ketemu ortu kita, ngelamar kita, kalo cuma ngajak pacaran semua orang bisa, ah... udah lo gak usah sedih lagi, nanti kita cari cowo-cowo keren waktu PPG." ucap Dewi penuh semangat.
"Eitsss,,, tunggu dulu buk, abang yang dikairo itu apa kabarnya? Dah putus kalian?" Tanya Melati masih sesugukan setelah menangis.
"Sejak kapan pacaran sama orang Kairo? Ih... kok gak cerita sih sama aku?" Ucap Rani memanyunkan bibirnya.
"Baru kenal buk, mahasiswa indonesia dari Pekanbaru kuliah di Al-Azhar Kairo, kawannya pacaran sama kawan kuliahku, ya dikenalin gitu lah ceritanya, tapi kami gak pacaran, kami ta'aruf, Insya Allah begitu beliau selesai kuliah kami nikah." cerita Dewi yang diaminin oleh kedua temannya.
Mereka akhirnya berpelukan bersama sebagai bentuk dukungan semangat untuk Melati.
Seminggu berlalu, Melati kembali seperti biasa, tidak ada lagi tentara yang main ke rumah mereka, begitupun sebaliknya. Rani juga membatasi Andi menghubunginya. Saat malam pun begitu, Rani melarang Andi menelponnya. Padahal 2 minggu lagi mereka akan berpisah.
Hampir sama dengan Melati, Pratu Yogi yang sudah menjaga jarak dengan Rani juga bersedih mengingat vidio lamaran dadakan mereka yang diperlihatkan oleh Pratu Dimas.
"Buk, bang Yogi kok gak pernah kemari lagi?" Tanya Melati.
"Gak tau, mungkin sibuk kan mau pulang mereka." ucap Rani.
"Iya juga ya, ehmmm...." ucap Melati kembali.
"Ngapain lagi lo mikirin mereka?, masih ngarep?" Tanya Dewi.
"Udah jangan dibahas lagi, mending kita bobok cantik ngantuk nih." ucap Rani langsung menarik selimut.
Mereka akhirnya tidur, walau baru jam 10 malam. Dilain tempat ada hal lain yang terjadi.
Pratu Yogi mendapat telpon dari ibunya.
Ibu_
"Assalamualaikum nak, udah tidur ya?"
Pratu Yogi_
"Belum bu, tumben telpon kangen ya?"
Ibu_
"Iya kangen, kami disini kangen banget sama kamu nak, kapan kamu cuti?"
__ADS_1
Pratu Yogi_
"Nanti lihat dulu bu, kan ini masih satgas, 2 minggu lagi baru pulang."
Ibu_
"Sebenarnya ada yang mau ibu tanya."
Pratu Yogi_
"Kenapa bu?"
Ibu_
"Apa kamu sudah punya calon istri."
Pratu Yogi_
"Belum bu, kenapa tiba-tiba tanya itu."
Ibu_
"Syukurlah kalo belum, ibu sama bapak mau jodohin kamu sama anak sahabat bapak di Bandung, orang tuanya juga setuju sekarang tinggal kalian yang kasih jawaban."
Pratu Yogi_
"Dia udah kasih jawaban bu?, Yogi tunggu jawaban dia aja, kalo dia mau Yogi ikut aja."
Ibu_
"Nanti ibu tanya orang tuanya lagi, ya sudah ibu tutup ya."
Pratu Yogi_
"Iya bu, Assalamualaikum."
Ibu_
"Walaikumsalam."
__ADS_1