
Sebulan setelah pertemuan hari itu, mereka masih saling berkiriman kabar. Sedangkan Andi seperti biasa tampa kabar. Terlalu biasa sekejap datang sekejap kemudian hilang membuat Rani kebal akan sosok Andi.
Hari-hari Rani terus berjalan dengan segala kegiatan. Seperti hari ini dia mendapat jadwal ikut pelatihan dikantor dinas pendidikan kabupaten B. Sudah dari pagi dia disana bersama bapak kepala sekolah.
Tepat jam 12 acara selesai, saat ini dia tengah mendampingi kepala sekolah untuk mengambil beberapa dokumen dari dinas untuk sekolahnya. Dering ponsel tiba-tiba mengejutkannya.
Tingggg.....
Rani_
"Hallo, assalamualaikum."
BM_
"Walaikumsalam, dimana dek? Mama abang dirumah tuh."
Rani_
"Hahhh...Rani dikabupaten nih, mama abang maksudnya?"
BM_
"Pulang dulu bisa? Mama abang ada dirumah adk sekarang."
Rani_
"Hahh... kok mendadak? Kenapa gak kasih tau dari tadi malam?"
BM_
"Hehehe...sengaja buat kejutan, pulang sekarang ya, mama abang tunggu tuh ya, abang gak ikut, mama sama kakak aja."
Rani_
"Ihhh,,,nyebelinnnn."
BM_
"Sebelnya dipending dulu, selamat bertemu calon mertua, udah ya, assalmualaikum."
Rani_
"Walaikumsalam."
Tutttt....
"Kenapa buk?" Tanya bapak kepala sekolah.
__ADS_1
"Mmmm, saya pulang duluan boleh pak?"
"Sebenarnya mau saya ajak makan, tapi kalo mau pulang ya udah gak papa."
"Ganti makan, duit aja boleh gak pak?"
"Hahahha...tunggu cair anggaran dulu."
"Ya udahlah, saya pulang pak yah, kalo makan ingat kolestrol pak ya."
"Hahahha...anggaran gak jadi cair ya."
"Heheheh...."
Guru-guru sampai kepala sekolah ditempat Rani mengajar sangat bersahabat. Kepala sekolahnya walau bisa diajak bercanda tapi sisi wibawanya tetap ada. Mereka semua sangat menyenangkan, walau mendapat gaji yang tidak bisa dibilang gaji tapi kenyamanan ditempat mengajar membuat Rani betah.
Rani terus melajukan motornya dengan jalan raya yang padat berhubung jam makan siang. Dalam perjalanan pulang, pikirannya terus tertuju kerumah. Dimana sang calon mertua datang bertamu tentu untuk bertemu dengannya. Membayangkan bertemu calon mertua pertama kali rasanya entah seperti apa.
Semasa kuliah dulu dia dan teman-temannya pernah bersoleroh mengatakan akan mencari suami yang sudah tidak punya orang tua lagi, tidak punya kakak perempuan atau adik perempuan. Kenyataannya sekarang dia akan bertemu dengan calan ibu mertua serta kakak perempuannya.
Begitu lama rasanya sampai kerumah, perasaan kacau balau diatas motor membuat motor seakan tidak melaju. Belum lagi memikirkan reaksi ibunya dengan kedatangan tamu mendadak. Kalau dibilang lebih dulu, ibunya bisa menyiapkan minuman atau makanan ala kadar menyambut tamu.
Kedatangan mendadak ini benar-benar membuat Rani frustasi saat mengendarai motornya.
"Awas loe BM, akan kucincang hidup-hidup, lihat aja nanti." Gumam Rani diatas motor.
"Assalamualaikum, udah lama buk ya?" Ucap Rani sambil bersalaman dengan 2 orang wanita diruang tamu, ada anak laki-laki kemungkinan anak kakaknya.
"Belum, maaf ya jadi harus buru-buru pulang."
"Gak papa buk, tadi acaranya memang udah siap, Rani tinggal sebentar kedalam buk ya?"
"Iya, gak papa."
Rani masuk kekamarnya sebentar, kemudian duduk kembali bergabung dengan calon mertuanya. Jangan tanya bagaimana rasanya, karena susah untuk dijelaskan. Kalau permen nano saja masih bisa diungkapin rasanya, tapi bertemu calon mertua pertama kali siapa yang bisa ungkapin perasaannya. Lebih horror dari pada ikut sidang dengan dosen killer sekalipun.
"Pelatihan apa Ni?" Tanya kakak BM.
"Pengisian data sekolah online kak."
Setalah berbincang sekitar 30 menit, mereka pamit pulang. Rani ikut mengantar sampai kedepan lorong sampai mereka dijemput oleh suami calon kakak ipar yang tadi tidak ikut masuk.
Hari ini perasaan Rani campur aduk, kedatangan keluarga BM menjadi tanda keseriusan hubungannya dengan Rani. Diluar dugaan, ternyata bentuk keseriusan seorang lelaki bisa langsung ditunjukkan, tampa banyak bicara.
Malam menjelang....
Sepasang suami istri tengah terlibat perbincangan serius...
__ADS_1
"Tadi orang tuanya udah kerumah kita Yah." Ibu memberitahukan ayah Rani.
"Jadi gimana?"
"Ya gak gimana-gimana Yah, mereka bertamu, ibu terima, udah gitu aja, mereka mau ketemu sama Rani."
"Raninya ada tadi?"
"Ada, dia pulang waktu ditelpon sama calonnya."
"Mendadak begitu, gak ngasih tau dulu kalo mau datang, Ayah jadi gak bisa ketemu."
"Mungkin karena niatnya cuma mau kenalan dulu sama anak kita Yah."
"Ya sudah, kita tunggu aja kabar selanjutnya."
Sementara didalam kamar, Rani benar-benar mencincang BM dengan kata-katanya melalui telpon.
Rani_
"Kejutan abang gak lucu ya, Rani gak suka."
BM_
"Tapi abang suka, kan keren kejutan abang."
Rani_
"Keren dari Hongkong."
BM_
"Udah jangan marah-marah lagi, kan mau jadi istri soleha."
Rani_
"Gak ada istri-istri, abang benar-benar nyebelin, abang gak tau, gimana aku bawa motor tadi, untung gak nabrak, kalo aku nabrak terus mati gimana? Abang orang pertama yang aku datangi."
BM_
"Hust... jangan ngomong gitu. Abang niatnya mau kasih kejutan yang tak terlupakan buat adk, dan kejutannya berhasil, ya kan?"
Rani_
"Gak, aku masih sebel sama abang, jangan telpon-telpon aku dulu."
Tutttttt......
__ADS_1
Belum sempat dijawab oleh BM, Rani langsung menutupnya. Kekesalannya benar-benar diluar kendali, entah kesal karena kejadian tadi siang atau sebenarnya dia lagi PMS. BM yang beberapa kali menelpon kembali tapi tidak diangkat akhirnya menyerah juga.