Abang Tentara, Tembak Aku!!!

Abang Tentara, Tembak Aku!!!
S2...3


__ADS_3

Disinilah mereka sekarang, sebuah pantai dipinggir kota kabupaten. Sejenak keduanya diam, sambil menatap hemburan ombak didepan mereka, ternyata BM orangnya sedikit pendiam.


"Jadi gimana?" Pertanyaan itu keluar dari mulut BM yang masih menatap kearah laut.


"Ya abang gimana?" Balas Rani.


"Kalo abang sih oke, abang juga gak mau pacaran apalagi jarak kita jauh."


"Rani terserah sama abang karena abang udah lihat Rani, Rani juga gak mau pacaran, tapi sebaiknya abang tanya sama orang tua abang dulu."


"Orang tua abang gak masalah, yang penting anaknya senang, kapan adek main kerumah abang? Orang tua abang mau kenalan?"


"Dimana-mana orang tua abanglah yang kemari, Rani gak mau kerumah abang, kalo orang tua abang mau kenal sama Rani, kami tunggu dirumah."


"Ya udah, nanti abang bilang sama orang tua abang."


"Kenapa abang mau sama Rani? Kitakan baru kenal?"


"Abang gak tau bilangnya gimana, tapi hati abang yakin aja, makanya abang nemuin kamu jauh-jauh kemari."


"Mmmm, kamu sendiri kenapa mau sama abang?" BM kembali bertanya.


"Karena abang yang berani kerumah ngajakin serius."


"Iyalah, umur kita udah bukan anak SMA lagi, buat apa pacaran yang gak jelas, lebih baik nikah, pacaran bisa setelahnya, ya kan?"


"Mmmm...iya in aja deh."


"Memang iya. Kesana yok!" Ajak BM jalan dipinggir pantai.


Mereka berjalan dipinggir pantai dibawah langit mendung tampa sepatah katapun keluar dari mulut masing-masing. Sampai akhirnya BM menjulurkan tangannya saat mendaki tanjakan pasir dipinggiran pantai. Rani menyambut uluran tangan tersebut.


Itulah kedua kalinya mereka saling menggenggam tangan masing-masing walau hanya sebentar.


Diperjalanan pulang, hujan mengguyur keduanya disepanjang jalan, untungnya tidak deras. Terkesan romantis berada dibawah hujan berdua.


"Abang akan ingat momen ini nanti." Ucap Rani.

__ADS_1


"Romantis ya?" Jawab BM yang hanya dibalas senyum oleh Rani.


Sampai dirumah, BM tidak lagi mampir, dia turun sebentar kemudian pamit pulang.


Pertemuan pertama yang bagi Rani tidak terlalu heboh, tapi berbeda dengan ibunya. Setelah makan malam, Rani yang tengah asik menonton tv bersama ayahnya dihampiri oleh ibunya dari dapur. Seolah mengikuti insting seorang ibu yang baru dikenalin dengan laki-laki oleh anak gadisnya, tentu jiwa ibu-ibu penasaran pasti tengah menghampiri ibunya juga.


"Tadi siapa? Tinggal dimana?" Tanya Ibu.


"Namanya Masriz, tinggal di ibukota provinsi, kerja di NGO asing, punya usaha bengkel."


"Siapa?" Tanya Ayah Rani setelah mendengar obrolan istri dan anaknya.


"Calon menantu." Jawab ibu Rani.


"Gimana boleh sama abang itu?" Tanya Rani.


"Kami tidak melarang, yang penting tau agama, lagian yang ini gak payah naik pesawat, kalo ada apa-apa pun mudah dikunjungi." Ucap ibu Rani.


"Terlalu putih seperti ayam broiler." Ucap Rani enteng.


"Tanyakan dulu orang tuanya, setuju apa tidak. Menikah tampa restu orang tua itu gak enak, apalagi kita perempuan. Mau kamu punya mertua garang?"


"Hahahaha...iya bu, tadi Rani udah bilang kedia, suruh tanyain orang tuanya dulu." Jawab Rani.


"Iya, bagus tuh. Sekilas ibu lihat orangnya juga baik."


"Amin." Ucap Rani


"Lelaki itu selain agama yang penting, baik juga penting, jangan sampai main pukul, kalo ada laki yang main pukul bagusnya langsung pisah aja." Ucap ibu kembali.


"Jangan lupa istikharah." Ucap Ayah.


"Iya Yah, bentar lagi istkharah." Jawab Rani sambil berjalan kearah kamarnya.


Setelah shalat isya, Rani benar-benar melakukan shalat istikharah, memohon petunjuk pada sang pencipta jodoh supaya memberikan jodoh terbaik untuknya. Sebelumnya Rani juga pernah shalat istikharah saat bertemu Andi di Bandung.


Jam 10 malam...

__ADS_1


Dering ponsel membuyarkan lamunan Rani yang dari tadi entah kemana.


Tingggg....


Rani_


"Hallo, assalamualaikum."


BM_


"Walaikumsalam, dah tidur dek?"


Rani_


"Belum, abang dimana?"


BM_


"Udah dirumah nih ya."


Rani_


"Mmmm,,, iya, istirahat gih, kan capek bawa motor jauh!"


BM_


"Iya, nih abang mau cari kopi dulu bentar, abang tutup dulu ya, assalamualaikum."


Rani_


"Iya, walaikumsalam."


Tutttttt....


"Apa benar semua ini? Apa hamba wanita yang jahat? Ya Rabbi,,, beri petunjukMu untuk hamba." Batin Rani.


Dalam agama islam dilarang menghibbah seorang wanita muslim yang sudah dihibbah oleh lelaki muslim lainnya. Sementara dalam kasus Rani seperti apa kedepannya, Rani hanya bisa pasrah. Salah atau betul tindakannya kali ini semuanya dia yang hadapi. Keputusannya yang menyesuaikan dengan prinsip hidupnya membuat keadaan jadi seperti saat ini.

__ADS_1


__ADS_2