Abang Tentara, Tembak Aku!!!

Abang Tentara, Tembak Aku!!!
Restu VS Jarak...


__ADS_3

**Dear.... Readers


Author sedih lihat Views@ ribuan


tapi Like dan komen@ dikit....


Padahal,,, like dan komen lah yang jadi


penyemangat Author**...


--------------------


Setelah shalat zuhur, Pratu Yogi mengajak Mela makan siang disebuah restoran. Saat mereka sedang asik bicara sambil menunggu pesanan datan, tampak Andi bersama temannya juga memasuki restoran tersebut.


"Bang Andi..." panggil Mela


"Hai Mel, apa kabar?" Tanya Andi yang menghampiri mereka.


"Duduk bang, dah lama gak ketemu kita ngobrol-ngobrol dulu." Ucap Mela tersenyum.


Bukan tampa maksud Mela mengajak Andi bicara. Sementara Pratu Yogi melihat Mela hanya tersenyum.


"Gimana udah beres pengajuan nikahnya?" Tanya Andi.


"Baru juga sampe bang, abang gimana kapan nyusul kita? Masak abang yang tunangan kita yang nikah." Ucap Mela.


"Hahahaha...kamu tuh ya." Ucap Andi sambil menggeleng-geleng kepalanya.


"Lha kan bener, samperin gih dia ke Aceh, abang temuin keluarganya terus bawa kemari, ah,,, lambat banget sih bang." Ucap Mela kesal.


"Nanti abang bicarain lagi sama Rani gimana baiknya." Ucap Andi.


"Abang udah ngomong sama orang tuanya?" Tanya Mela penuh selidik.


"Hmmmm...belum"


"Ya ampun bang, nih saran Mela ya, abang habis ini telpon deh ayahnya Rani, abang minta restu dulu sebelum melamar secara resmi, abang lihat respon orang tuanya, setuju apa tidak, nah kalo setuju tancap gas deh tuh ke Aceh." Ucap Mela menjelaskan panjang lebar.


"Kalo gak setuju gimana?" Tanya Andi.


"Yah itu mah abang mikir sendiri gimana?" Ucap Mela sewot.


"Bang Yogi aja sebelum kami ketemu udah duluan hubungin ayah Mela buat minta restu, kenalan juga karena belum ketemu, hmmmm.... panteslah hubungan abang jalan ditempat gini, si Rani juga kalo Mela tanya jawabnya juga gak jelas. Mau dibawa kemana hubungan ini?" Ucap Mela ketus.


"Udah, jangan pake emosi, Danru biasa aja kenapa kamu yang sewot." Ucap Pratu Yogi yang dari tadi memperhatikan sikap Melati.


"Hehehe... iya juga ya, habisnya mereka udah tinggal dikit aja, bukanya berusaha sekuat tenaga, ini malah diam-diam aja, dulu aja ngebet pake sembunyi-sembunyi dibelakang aku, sekarang udah ketahuan malah gak jalan-jalan" ucap Mela masih dengan mode kesalnya.


"Maaf Dan." Ucap Pratu Yogi sambil melirik kearah Mela.


"Hehehe... udah gak papa, yang Mela bilang ada benarnya juga, makasih ya sarannya, nanti saya hubungi Rani, saya minta bicara sama orang tuanya." Ucap Andi.


"Nah gitu donk, baru gentle." Ucap Mela.


"Saya tinggal dulu ya, semoga acara kalian lancar." Ucap Andi kemudian beranjak pergi.


Setelah kepergian Andi, Pratu Yogi menarik nafasnya dalam-dalam.

__ADS_1


"Dek, setelah nikah kamu gak boleh gitu lagi sama Danru atau yang lainnya, istri tentara itu punya aturan, gak bisa seenaknya kamu manggil tentara yang lain buat duduk atau bicara dimanapun, kecuali hal-hal yang perlu aja, kalo kamu seperti tadi abang yang akan kena tegur dikantor." Ucap Pratu Yogi memberi penjelasan.


"Iya, Mela gak akan ulang lagi, sekali ini aja." Ucap Mela tersenyum.


Mereka kembali melanjutkan makan yang tertunda.


Sementara dilain tempat, seperti yang Mela sarankan, Andi kini tengah menghubungi Rani.


Tingggg.....


Rani_


"Hallo, Assalamualaikum"


Andi_


"Walaikumsalam, ngapain dek?"


Rani_


"Baru siap shalat, kenapa bang?"


Andi_


"Abang mau bicara sama bapak kamu, bisa?"


Rani_


"Hahhh.... mau bicara apa? Kok mendadak?"


Andi_


Rani_


"Mmmm...ada sih, cuman Rani belum ngomong apa-apa tentang kita sama mereka."


Andi_


"Biar abang yang ngomong, kasih Hpnya sama bapak dulu."


Rani segera menemui ayahnya yang sedang istirahat didepan.


"Yah, ada yang mau bicara"


"Siapa?"


"Bicara aja dulu" ucap Rani sambil menyerahkan Hp kepada ayahnya.


Ayah_


"Hallo, Assalamualaikum"


Andi_


"Walaikumsalam Pak"


Ayah_

__ADS_1


"Ini siapa?"


Andi_


"Saya Andi pak, saya kenal anak bapak waktu dia SMP dulu, waktu itu saya lagi bertugas di Desa Pxxxxx, kebetulan rumah kawan sekolah Rani dekat dengan Pos saya tugas, kemaren waktu dia dinas di Kalimantan kami ketemu lagi, saya berniat untuk menikah dengan anak bapak, jadi saya telpon bapak untuk meminta restu sebelum saya mengajukan nikah ke kantor."


Ayah_


"Jadi Andi ini tentara?"


Andi_


"Iya pak, saya dinas di bataliyon 5xx/R di Kalimantan Timur."


Ayah_


"Saya tidak melarang dengan siapapun anak saya menikah yang penting tau agama, kalo memang Andi mau menikah dengan Rani, Bapak tunggu Andi datang kemari untuk melamar secara baik-baik, kan tidak mungkin seperti ini, kami sekeluarga juga perlu melihat calon suami anak kami."


Andi_


"Baik pak, terima kasih"


Ayah_


"Sama-sama"


Andi_


"Assalamualaikum"


Ayah_


"Walaikumsalam"


Tuttttttt.....


Setelah menutup telponnya, Andi yang berharap angin segar malah frustasi dengan apa yang ayah Rani katakan. Bagaimana tidak, ayah Rani memintanya ke Aceh. Banyak pertimbangan yang membuat Andi berpikir keras untuk melangkah kesana.


Sementara dirumah Rani, setelah berbicara dengan Andi, Rani kembali diintrogasi oleh ayahnya. Dan akhirnya Rani menceritakan semuanya sampai cincin yang diberikan oleh Andi sebagai tanda pertunangan mereka.


"Gimana bisa kamu tunangan tampa persetujuan kami?" Tanya Ayah Rani kesal.


"Mau gimana yah, dia maksa ya udah diterima aja biar cepat selesai." Ucap Rani enteng.


"Terus sekarang gimana? Kamu balikin cincinnya, jangan pakai lagi."


"Kok dibalikin Yah? Emang Ayah gak setuju?" Tanya Rani terkejut.


"Ayah setuju, kalo dia mau datang kemari buat melamar kamu secara resmi, tapi kalo kamu yang kesana jangan harap ayah kasih restu" ucap Ayah Rani.


"Kan Rani juga udah pernah kesana Yah"


"Itu lain, kamu kesana untuk kerja bukan untuk minta dinikahin."


"Jadi sekarang gimana?"


"Kamu bilang sama dia Ayah tunggu dia disini" ucap Ayah Rani selepas kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2