Abang Tentara, Tembak Aku!!!

Abang Tentara, Tembak Aku!!!
S2....7


__ADS_3

📩 Rani


"Put, ketemuan yok!"


📩 Putra


"Kapan? Dimana? Jam berapa?"


📩 Rani


"Besok, ditempat biasa jam 10, gimana?"


📩 Putra


"Besok Minggu, dipantai aja yok! Biar kayak orang-orang pacaran."


📩 Rani


"Hahahha...kayak orang pacaran, tapi jalannya sendiri-sendiri."


📩 Putra


"Jadi gimana?"


📩 Rani


"Jauh Put, besok juga pasti rame di pantai, ditempat biasa aja, aku pengen makan mie disitu."


📩 Putra


"Mie kok makan mie?"


📩 Rani


"Maksud anda?"


📩 Putra


"Oke, besok ya!"


"Ihhhhh....nih anak, bukannya dijawab dulu yang ditanya." Rani menggerutu sikap Putra.


Keesokan harinya...


Rani datang sedikit lebih awal langsung duduk setelah memesan mie kesukaannya. Putra datang 10 menit kemudian.


"Kok telat?"


"Macet, hari minggu rame orang dijalan."


"Kenapa gak lewat jalan tikus?"


"Namanya juga jalan tikus, mana ada mulus, lubang sana sini."


"Oke, alasan anda bisa diterima kali ini, pesan mie gih."


"Loe yang bayar ya? Nanti minumnya gue bayar."


"Gampang, kalo duit habis, tanah kuburan belakang rumah bisa kita gadaikan.


"Loe kan dah jadi guru honor, dah ada gaji, nah gue?"


"Hahahaha...gaji? Nyebutnya aja bikin hati ini miris, kayak gak tau aja loe!"


"Yang pentingkan gaya dah pake PDH."


"Isi dompet urusan belakangan ya?"


"Terus ngajakin ketemuan dalam rangka curhat apa nih?"


"Hehehe, tau aja, BM sama keluarganya mau melamar kerumah, bang Andi telpon kemaren malam, katanya suruh tunggu dia tahun depan, aku bingung Put."


"Udah istikharah?"


"Udah."


"Terus?"


"Ya gitu aja?"


"Maksud gue, loe gak ada mimpi gimana gitu? Karena menurut gue dengar, biasanya kita mimpi tentang orang yang kita maksud."


"Mmmmm...dulu sama bang Andi, gue mimpi nampak dia aja, terus sama BM pernah sih gue mimpi, tapi apa iya nampak lewat mimpi?"

__ADS_1


"Loe mimpiin BM apa?"


"Mmmm, dia kerumah gue sama kakaknya, terus gue kasih sajadah kedia."


"Nah itu, berarti loe nyuruh dia jadi imam loe."


"Kok loe tau? Sejak kapan loe jadi penafsir mimpi?"


"Sejak gue jadi teman curhat loe."


"Hahahha...."


"Udah, kalo memang BM kerumah loe sama keluarganya, berarti memang ini jalan yang Allah takdirkan, loe terima aja sepenuh hati, karena semua kejadian ini gak akan terjadi tampa kehendak dari sang pencipta, coba loe pikir betul gak?"


"Iya sih, gimana kalo sementara gue tunangan aja dulu sama BM sambil tunggu bang Andi?"


"Wahhhh...jahat loe buk, kalo loe ngelakuin itu, gue orang pertama yang gak akan nganggap loe teman gue lagi. Loe dah nyakitin hati semua orang termasuk orang tua BM, apa loe tega? Kalo gue diposisi BM, pasti kecewa banget gue sama loe, dan apa loe yakin bisa bahagia dengan mengecewakan hati orang lain?"


"Hmmmm... gitu ya?"


"Loe ingat-ingat lagi gimana BM memperjuangkan loe, dia jauh-jauh kemari buat nemuin loe, terus ngajak loe serius, dengan tampang dia kayak gitu, apa loe bisa dapat yang lebih dari dia dengan wajah loe yang pas-pasan? Kalo jadi perempuan jangan sok kecakepan, rendah hati bagus buat jiwa loe yang gak jelas."


"Hahahaha...gue gak sok kecakepan Putra, gue cuman bingung sama hati gue, kan loe tau sendiri gimana hati gue buat bang Andi?"


"Iya, gue tau. Tapi loe sendiri yang bilang harus realistis, cinta itu sesaat, dalam pernikahan yang paling penting kasih sayang, rasa itu yang melanggengkan sebuah rumah tangga."


"Wahhh... dah siap jadi imam juga nih kayaknya."


"Gue memang dah jadi imam setelah disunat."


"Hahahaha...yayayayaya....terus ini gimana?"


"Loe terima aja lamarannya, selama ini BM juga baikkan? Doa banyak-banyak semoga memang dia jodoh loe yang tepat, semoga juga dia punya kesabaran tingkat tinggi buat ngadapin sikap loe yang gak jelas."


"Gue jelas kok, tapi benar juga omongan loe, semoga dia punya kesabaran lebih buat hadapin gue yang moody, makanya gue suka cowo yang jarak umurnya rada jauh dari gue, jadi saat moody gue kumat, dia gak ikut-ikut kumat. Bayangin aja kalo gue nikah sama cowo seumuran seperti elo, belum 2 hari nikah dah piring terbang dirumah."


"Dan sepertinya loe memang gak cocok jadi istri tentara, apalagi istri bang Andi. Dia orang bugis yang terkenal tegas dan keras sama dengan watak loe, gak yakin gue kalo loe kawin sama dia loe bisa bertahan."


"Ihhhh...tapi dia cinta tuh sama gue."


"Hohoho...itu cuma sampul Raniiiiii. Ibarat kata orang pacaran itu taik kucing rasa coklat, kalo dah nikah semua itu hilang Raniiiiii, gak ada lagi cinta-cintaan, semua sudah asli bukan lagi imitasi. Sekarang gue tanya, BM itu gimana?"


"Ya gak gimana-gimana, biasa aja."


"Hehehehe, biasa aja, ngomong juga seperlunya aja, tapi dia belum bilang cinta sama gue."


"Lelaki dewasa kadang memang gak lagi mengumbar kata cinta lewat mulut, tapi lebih ketindakan seperti sekarang, dia mau ngelamar loe."


"Gitu ya? Tapi gue kan pengen dengar Put."


"Elo tuh, macam anak SMP baru puber, lagian gue heran kok bisa ya BM mau sama loe? Secara, muka loe kan pas-pasan."


"Biar muka gue pas-pasan tapi mulus, buat apa putih tapi jerawatan. Gue tuh apa adanya, gak jaim, bang Andi dulu suka sama gue juga karna sikap gue yang apa adanya."


"Iya sih, gue juga gak suka kalo cewe sok jaim, entar gue mau cari yang kayak loe juga lah, eh, maksud gue yang gak jaim, kalo yang lainnya gak usah sama kayak loe, bisa ubanan sebelum waktunya gue kalo sikapnya kayak loe."


"Jangan ngatain gue, nanti kualat baru tau."


"Dah oke kan sekarang, terima lamaran, menikah dan bahagialah wahai sahabatku, lupain masa lalu."


"Terus kalo bang Andi telpon gue bilang apa?"


"Bilang yang sepatutnya loe bilang, salah dia sendiri ngapain gak lamar loe duluan."


"Iya deh, thank quuuuu ya Puput?"


"Putra bukan siput."


"Hehehehe..."


Setalah bicara dengan Putra, perasaan Rani sedikit membaik. Sejenak memikirkan teman-temannya dulu, membuat Rani merindukan sosok Dewi.


Rani_


"Hallo, assalamualaikum Wie."


Dewi_


"Walaikumsalam, tumben telpon, ada angin apa nih?"


Rani_


"Tiba-tiba rindu, lagi sibuk ya?"

__ADS_1


Dewi_


"Iya, sibuk ngurus daftar tamu undangan."


Rani_


"Maksudnya?"


Dewi_


"Hehehehe...iya, aku mau nikah sama Akhi 2 bulan lagi, sorry belum ngabarin kalian, teringat aku sebulan sebelum hari H mau ngabarin kalian, eh karena elo telpon ya udah aku kasih kabar sekilas."


Rani_


"Sungguh tega engkau wahai sahabatku, aku sungguh tidak menyadari ternyata dirimu sungguh terlalu."


Dewi_


"Udah deh, gak usah drama. Oh ya, gimana sama bang Andi?"


Rani_


"Aku mau dilamar."


Dewi_


"Wahhh...selamat ya, akhirnya kalian jadi juga, ihhh... senengnya lihat kalian bersatu."


Rani_


"Hufffttt...bukan sama bang Andi, Dewiiiiiii."


Dewi_


"Hahh...terus siapa? Jangan bilang loe dijodohin ya?"


Rani_


"Abang yang di Fb dulu, ingat gak?"


Dewi_


"Yang orang Aceh itu ya? Yang loe bilang tua?"


Rani_


"Hehehe, iya."


Dewi_


"Tunggu, kalo dia mau melamar berarti kalian udah ketemu dong?"


Rani_


"Udah buk Dewiii, udah kerumah, udah ketemu ibu aku juga, yang terakhir mamanya kerumah aku."


Dewi_


"Wahhh...aku ketinggalan info penting dong nih, terus gimana abang tu? Benar dah tua? Photonya di Fb asli gak?"


Rani_


"Asli buk De, umurnya aja tua, wajahnya gak Wie, kayaknya kalo aku nikah sama dia, duluan aku deh yang tua."


Dewi_


"Hahahaha, selamat ya kalo gitu, semoga lancar sampai hari H, jangan lupa undangan."


Rani_


"Saling mendoakan ya! Semoga kalian juga lancar sampai hari H."


Dewi_


"Ya udah kalo gitu, nanti saling kabari lagi ya, aku mau ke percetakan dulu."


Rani_


"Oke, assalamualaikum."


Dewi_


"Walaikumsalam."

__ADS_1


__ADS_2