Abang Tentara, Tembak Aku!!!

Abang Tentara, Tembak Aku!!!
S2...16


__ADS_3

"Gimana buk, masih demam?" Tanya Yogi yang melihat ibunya sedang mengganti handuk kompres.


"Udah gak sepanas tadi, tapi ini udah lama dia tidur, apa gak dibangunkan saja niar minum obat, ibu juga udah buat bubur."


"Iya bu, bangunkan saja."


Rani yang merasa pipinya ada yang menepuk, mengerjap pelan matanya. Masih terasa lemah, tenggorokannya terasa kering.


"Buk, Mela kok pergi? Apa dia udah gak sayang sama anaknya? Bang Yogi, kenapa abang gak cegah Mela pergi." Rani kembali menangis.


"Udah, tenang ya, semua sudah takdir yang kuasa, kita gak bisa nolak, ikhlaskan Mela ya, biar dia tenang." Ucap Ibu Yogi memeluk Rani.


Yogi yang melihat Rani kembali menangis, langsung kekuar kamar.


"Gimana bang, udah bangun?" Tanya Putra yang baru masuk sambil menggendong Andra.


"Udah, masuk aja."


"Yok dek, kita lihat tante mewek dulu." Ucap Putra apa Andra.


Putra dan Andra masuk kedalam, dilihat Rani tengah disuapin makan oleh ibu Yogi. Begitu melihat Putra dan Andra, Rani kembali berbicara seakan Mela pergi kedaerah lain.


"Andra, lihat bunda kamu jahat banget, tega dia titipin kamu sama tante, dia sendiri entah kemana perginya, telpon Mala buk, suruh pulang dia tuh kelewatan, Rani kesini cuma bentar, eh dia main nitip-nitip aja, dia pikir Andra barang apa?" Ucap Rani dengan nada kesalnya.


Putra dan Ibu Yogi saling menatap, sementara dibalik pintu Yogi juga ikut mendengar apa yang diucapkan Rani.


"Mama."


Kata tersebut keluar dari mulut Andra. Ibu dan Putra yang mendengar juga ikut terkejut.


"Nah kan, Andra kenapa ikut-ikut bunda panggil tante mama, ini tante ya, mama Andra tuh bunda Mela yang kalo ketemu sama tante sekarang mau tante tarik kupingnya."


"Kapan Mela ngajarin Andra panggil Rani dengan sebutan mama?" Tanya ibu Yogi.


"Tadi, eh...kapan ya, perasaan tadi Rani ketemu Mela, loe ketemu Mela juga kan Put? Tapi cuma bentar, setelah kasih Andra ke gue, dia langsung pergi, capek gue panggil gak balik-balik, bikin kesel aja." Ucap Rani yang sudah menghabiskan satu mangkuk buburnya.


Putra dan ibu saling menatap penuh arti.


"Rani mau kekamar mandi dulu buk, mau ganti baju, eh, ini kamar siapa?" Tanya Rani yang merasa aneh.


"Udah, ganti baju dulu biar segar, sebentar lagi magrib." Ucap Ibu sambil membantu Rani bangun.


"Mama." Andra kembali memanggil.


"Tante sayang, bukan mama. Jangan dengerin bunda kamu. Dia selalu bikin kesal tante." Ucap Rani berlalu ke kamar mandi.

__ADS_1


Putra sangat terkejut saat hendak keluar, ternyata Yogi berdiri didepan pintu. Tatapannya sendu menyiratkan rasa kehilangan yang begitu kuat.


Setelah berganti pakaian, Rani langsung keluar kamar, para laki-laki sedang bersiap ke mesjid.


"Gimana udah enakan?" Tanya Ayah Yogi.


"Mmm...udah Pak, maaf jadi ngerepotin." Jawab Rani.


"Ayo! Anak-anak, kami ke mesjid dulu, tolong titip Andra nanti ya, waktu ibu shalat, biasanya bapak yang jagain."


"Iya pak."


"Andra dikamar abang tidurin, jangan digendong dulu ya, takutnya kamu gak kuat." Ucap Yogi.


"Iya bang."


Kini, dirumah tinggal ibu, Andra dan Mela. Mereka bertiga dikamar bermain sama Andra sambil menunggu magrib.


"Makasih ya udah mau datang tengokin Andra." Ucap Ibu Yogi.


"Sama-sama buk, kebetulan kami lagi libur panjang, jadi sekalian jalan-jalan kemari."


"Nak." Ucap ibu Yogi sambil menggenggam tangan Rani dengan tatapan penuh harap.


"Mau ya jadi mama untuk Andra? Dia masih kecil, dia butuh sosok ibu."


"Nak, ikhlasin Mela, dia udah tenang disisi Allah."


"Buk, baru tadi Rani bicara sama dia disini."


"Nak, Mela udah tiada, sudah sebulan nak, ikhlaskan dia biar dia tenang dikuburnya."


Mendengar perkataan Ibu Yogi seakan suara petir yang menggelegar, alam bawah sadarnya seakan pelan-pelan kembali.


"Buk, jadi Mela? Tapi tadi seperti nyata?"


"Mungkin memang Mela ingin Rani sahabatnya yang menjaga Andra, mau ya jadi mama untuk Andra?, Andra ini anak kedua Yogi sama Mela, anak pertamanya keguguran, setahun kemudian baru hamil Andra."


Rani menatap wanita paruh baya dan bayi yang sedang bermain didepannya. Ada rasa sayang mengingat bayi malang yang tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ibu, tapi dia sendiri juga belum tentu sanggup menjadi ibu untuk Andra, mulutnya yang cerewet kalau bicara suka cepat tampa rem.


"Ya Rabb, kenapa jadi begini? Ya Rabb, bantu hamba." Batin Rani.


"Buk, beri Rani waktu, Rani juga gak bisa mengiyakan begitu saja, karena kalo Rani jaga Andra, berarti Andra harus Rani bawa ke tempat tugas, apa bang Yogi ngasih kalo Rani bawa Andra?"


"Itu biar ibu yang bilang sama Yogi."

__ADS_1


"Tapi buk, Mela belum lama pergi, apa gak terlalu cepat Andra pisah dengan ayahnya?"


"Pertanyaan Rani berhasil membuat Ibu Yogi tersenyum, ternyata pikiran Rani betul-betul pendek, tidak sesuai dengan badannya yang tinggi.


Obrolan terhenti ketika azan magrib berkumandang. Setelah Rani shalat, baru kemudian Ibu Yogi shalat. Sambil menunggu ibu Yogi selesai, Rani yang badannya masih lemah, membaringkan tubuhnya disamping Andra.


Tangan kecil Andra mulai meraba wajah Rani, Andra terlihat senang berdekatan dengan Rani. Pelan-pelan Andra mulai bergerak naik ke dada Rani, mendekatkan wajahnya kepipi Rani, tampa disuruh, Andra mencium pipi Rani disertai tempelan air liur dari bibir Andra.


"Maammm."


"Tante sayang, bukan maammm." Ucap Rani sambil memeluk Andra didadanya.


"Ini waktunya dia makan nak, sebentar ibu buatkan dulu." Ucap ibu Yogi yang sudah menyelesaikan shalatnya.


"Yok boy, kita maammm diluar."


"Sanggup gendong?"


"Sanggup buk, beras sekarong aja sanggup tante angkat, apa lagi kamu, yak kan Boy?" Ucap Rani pada Andra.


Mereka sedang didepan tv, sampai terdengar suara para laki-laki kembali dari mesjid.


"Nak, tolong suapin Andra ya, ibu mau siapkan makan malam dulu." Pinta ibu Yogi.


Melihat Rani menyuapi bayi, Irvan dan Putra terpancing untuk menggoda.


"Wahhh...buk, dah bisa jadi ibu beneran loe." Ucap Putra.


"Iya Rani, nanti aku bilang sama mak lo dirumah suruh nyari cowo disana, jadi pas pulang langsung dijikahin." Tambahan provokasi dari Irvan.


"Eh, loe berdua, anak terlantar, bantuin ibuk tuh, jangan taunya makan aja." Balas Rani.


Dengan sigap mereka langsung kedapur. Ibu yang tadinya melarang, terpaksa membiarkan.


"Ibu gak usah capek, selama ada mereka semua aman terkendali, biar laki mereka juga jago didapur, apalagi di sumur...hahahah..."


"Hust...loe jangan ngajarin Andra omongan gak benar, ingat dia tuh mencopy apa yang didengar, jadi ngomong baik-baik dekat dia." Ucap Putra dari dapur.


"Ops...lupa gue."


Bapak yang dari tadi mendengar obrolan mereka hanya tersenyum sambil menunggu makanan dimeja makan. Sementara, Yogi yang tadi masuk kekamar belum juga keluar.


-----------------------


Like...

__ADS_1


Komen...


Vote....


__ADS_2