Abang Tentara, Tembak Aku!!!

Abang Tentara, Tembak Aku!!!
Rasa Ini...


__ADS_3

Like....


Komen....


Vote.....


Happy Reading....


----------------------------


"Sebenarnya ini hal yang sepele, banyak kok yang datang kesana setelah itu mereka menikah, abang rasa itu bukan sesuatu yang memalukan."


"Itu menurut abang, tidak menurut aku. Kalo aku kesana kesannya aku yang minta dinikahin sama abang, kalo kedepannya ada apa-apa dengan rumah tangga kita, dengan mudahnya abang bilang "dulu juga kamu yang datangin abang kemari." Ngerti kan maksud Rani sekarang?"


"Jadi kamu tetap gak mau kesana?"


"Enggak."


"Berdebat sama kamu rasanya gak akan pernah menang, kenapa sih dek kamu keras kepala gini? Apa kamu memeng gak berniat menikah sama abang?"


"Kalo aku gak niat, gak mungkin mau terima abang balik, tapi kenyataannya abang tidak mau menemui orang tuaku, tampa restu mereka Rani gak akan bahagia dengan abang."


"Ya udahlah, abang capek berdebat masalah ini, lebih baik kita lupain sebentar masalah ini, kita nikmatin waktu kita selama disini, abang kangen sama kamu."


"Terserah abang, tapi lebih baik cincin ini Rani kembalikan ke abang." Ucap Rani sambil melepaskan cincin dan memberikan kepada Andi.


Mereka saling menatap untuk beberapa saat.


"Jangan jadikan hubungan ini beban pikiran, Rani masih menunggu selama belum ada lamaran dari orang lain, semua keputusan ditangan abang, kalo nanti abang berubah pikiran dan datang menemui orang tua Rani, dengan senang hati Rani terima cincin itu kembali."

__ADS_1


"Jadi hubungan kita berakhir sekarang? Kamu benar-benar putusin abang?"


"Kita bukan putus, tapi Rani memberikan abang waktu untuk berpikir, mengambil keputusan yang terbaik untuk hubungan kita, Rani masih sayang sama abang, dan gak perlu abang ragukan, tapi Rani juga berusaha realistis dengan hubungan ini, Rani tidak mau menjalin hubungan tampa kepastian, jadi Rani tunggu kepastian dari abang sampai nanti ada yang datang melamar."


"Kamu tega sama abang."


"Udah bang ya, Rani rasa semua sudah jelas, lebih baik kita turun, ayo," ucap Rani bangkit dari duduknya.


Melihat tidak ada respon dari Andi, Rani menggenggam tangan Andi dengan penuh senyum.


"Yok, turun." Ucap Rani lembut membuat Andi mengikutinya dengan patuh.


Mereka terus berjalan sambil berpegangan tangan tampa sepatah katapun membuat teman-temannya tersenyum bahagia tampa tau cerita malah sebaliknya.


"Cieee....mesranya." ucap Mela.


"Jadi gimana udah bereskan." Tanya Mela kembali.


"Beres, tenang aja." Ucap Rani sambil menahan sesak didadanya.


"Kita jalan yok, nikmati malam dikota Bandung?" Ucap Mela.


"Elo gak capek Mel? Baru tadi resepsi sekarang dah keluyuran bukannya istirahat." Ucap Putra.


"Habis kalian pulang tadi, aku langsung tidur, bangun-bangun ternyata dah magrib, jadi belum ngantuk nih." Ucap Mela.


"Tau ah, elo tuh, tapi bagusnya kita pulang aja, kasian Bunda mesti nunggu kita pulang malam." Ucap Putra kembali.


"Iya pulang aja, besok aja lanjutin jalannya." Ucap Rani yang diangguki teman-temannya.

__ADS_1


Mereka akhirnya pulang ketempat masing-masing.


"Rani duluan bang ya." Ucap Rani sebelum naik kedalam taksi.


Andi hanya membalas dengan senyuman kecil.


"Saya juga pulang kalo gitu, makasih ya?" Ucap Andi pada Praka Yogi dan Melati.


Kini hanya tinggal sepasang suami istri yang juga ikut kembali ke hotel. Didalam perjalanan, Mela yang dari tadi merasa ada yang aneh dengan sikap Rani dan Andi akhirnya meluapkan pada sang suami yang tengan menyetir.


"Bang, aku kok ngerasa ada yang aneh sama mereka? Abang ngerasa gak?"


"Iya sih, tapi kita kan gak bisa ngapain-ngapain juga, hubungan mereka hanya mereka yang dapat menyelesaikannya. Yang penting kita udah berusaha mengkondisikan supaya mereka bisa dekat dan menemukan titik temu dari masalah mereka."


"Kalo Mela yang jadi bang Andi, besok langsung Mela datengin tuh orang tua Rani ke Aceh."


"Itu kan kamu, pemikiran Danru lain, kita gak tau, mungkin banyak hal lain yang Danru pikirin."


"Ah, banyakan mikir, diambil orang baru tau."


"Ya,,, berarti mereka gak jodoh, kita gak bisa memaksa kehendak diri sayang, semua sudah diatur oleh sang pencipta."


"Iya juga ya." Ucap Mela nyengir...


Mereka sudah sampai dikediaman masing-masing, di salah satu kamar hotel sepasang suami istri tengah menikmati indahnya malam pertama, sedangkan dikediaman Praka Yogi, seorang laki-laki sedang menikmati malam dengan pikiran yang entah kemana.


Dikediaman Mela, saat semuanya sudah berada didunia mimpi, Rani tengan berderai air mata menahan sesak didada memikirkan pembicaraannya tadi dengan Andi. Sesekali menatap jari manisnya yang sudah kosong, hanya tinggal bekas dikulit jarinya.


"Apakah ini akhirnya?" Batin Rani seakan hanya pertanyaan itu yang terus terngiang.

__ADS_1


__ADS_2