
"Welcome back Aceh, home sweet home." Ucap Rani setelah menginjakkan kaki dibandara Sultan Iskandar Muda.
Setelah 6 bulan lebih mengikuti PPG di Surabaya, akhirnya mereka pulang kembali ketanah kelahiran. Masih dengan Putra teman seperjuangan dan juga sekabupaten dengannya.
"Kita gak da yang jemput ya? Sedihnya..." ucap Rani pada temannya.
"Lebay,,, tuh abang taksi banyak tinggal pilih." Ucap Putra menunjuk arah supir taksi.
"Kita langsung pulang atau gimana?"
"Kita cari makan dekat terminal aja dulu, lapar nih."
"Oke, pilih taksi aja dulu yok."
Jarak dari bandara ke terminal kurang lebih 30 menit. Letak bandara diibukota provinsi, sementara Rani dan Putra berasal dari kabupaten yang jarak tempuhnya kurang lebih 6 jam dari ibukota provinsi.
Setelah sampai didepan terminal bus, mereka memilih makan disebuah warung, tidak jauh dari terminal.
"Eh, ada pesan dari geng." Ucap Rani yang baru membuka Hpnya.
"Iya, aku juga nih, balas aja dulu, biar mereka tenang." Ucap Putra.
Sambil makan, mereka membalas pesan-pesan dari temannya.
"Bang Andi gak nanya elo dah sampe?" Tanya Putra.
"Ada, ini lagi kubalas."
Setelah berbalas pesan, mereka kembali melanjutkan makan. Dering ponsel Rani kembali berbunyi.
Rani_
"Hallo, assalamualaikum."
BM_
"Walaikumsalam, dimana dek? Jadi pulang hari ini."
Rani_
"Jadi, ini udah sampe Aceh, tapi belum sampe kampung."
BM_
"Kok gak kasih kabar? Biar abang jemput."
Rani_
"Gak usah, ada kawan juga nih."
BM_
"Sekarang dimana?"
Rani_
"Mau berangkat lagi nih."
BM_
"Jadi gak bisa ketemu dong kita?"
Rani_
"Ya kalo mau ketemu, abang kesanalah."
BM_
"Ya kan bisa ketemu dulu sebelum abang kesana."
Rani_
"Ya gimana, kami dah mau berangkat juga nih."
BM_
"Ya udah kalo gitu, hati-hati ya, kabarin abang kalo udah sampe."
Rani_
"Oke."
BM_
"Assalamualaikum."
Rani_
"Walaikumsalam."
Tuttttttt
"Siapa?"
"Kenalan di Facebook."
"Ngajak ketemu?"
"Hehehehe, iya."
"Orang mana?"
"Hadoehhh, aku berasa diintrogasi, iya Bapak Putra yang terhormat, orang Banda Aceh, ganteng kalo aku lihat photonya, tapi aslinya gak tau."
"Bang Andi tau?"
"Tau, udahlah aku males bahasnya, yang pasti kalo dia mau ketemu aku, silahkan kerumah, kalo gak ya udah, by...by..."
"Baguslah kalo loe gitu, aku pikir cuman sama bang Andi aja loe gitu."
"Ya gak lah, semua laki-laki yang mau dekatin gue harus siap kerumah gue."
"Hehehe... betul tuh."
"Iyalah, kita kan udah bukan anak ABG lagi, masak ketemu laki dijalan, gak lucu."
"Terus kalo abang itu serius gimana?"
"Nahhh... itu juga gue bingung, tapi kami kan belum ketemu, siapa tau waktu lihat gue dia gak suka."
"Kalo sebaliknya gimana?"
"Entar deh gue pikir, hahahha."
Setelah perdebatan yang tidak ada ujungnya, tiba waktunya mereka menaiki bus yang akan membawa mereka kekampung halaman masing-masing.
"Magrib sampe nih kayaknya." Ucap Rani dalam bus.
"Iya, telpon orang rumah suruh jemput." Ucap Adam.
"Nanti kira-kira mau sampe aku telpon, kan rumahku gak jauh dari jalan."
Setelah beberapa menit melaju, mereka memilih tidur selama perjalanan.
Tepat jam 6 sore Rani lebih dulu sampai, Rani dijemput oleh adik keduanya bernama Rey. Sementara Putra masih melanjutkan perjalanannya sekitar 30 menit lagi.
"Put, aku duluan ya, nanti kabari kalo dah sampe." Ucap Rani saat turun dari bus.
"Oke."
Mereka akhirnya berpisah, Rani langsung menghampiri Rey yang sudah menunggu didepan halte.
"Ada oleh-oleh kak?" Tanya Rey.
"Ihhhh... baru pulang bukannya tanya kabar malah tanya oleh-oleh."
"Ngapain tanya kabar, orangnya udah didepan mata, kalo gak nampak baru tanya kabar."
"Baiklah Rey tersayang, oh iya, ibuk masak apa?"
"Udang asam pedas."
"Akukan alergi udang, pengen sate, dah lama gak makan sate."
__ADS_1
"Disana gak ada yang jual sate?"
"Ada, tapi kan beda, disana sate madura, sate padang ada juga, tapi inikan sate khas daerah kita, gak ada didaerah lain, SATE MATANG."
"Minta duit, biar aku beli."
"Iya, tunggu sampe rumah."
Rani sampai kerumahnya disambut adiknya, ayah dan ibu, bibi dan tante yang merupakan tetangga mereka.
Melepas lelah dengan berbaring sebentar rasanya cukup nyaman bagi Rani setelah sebelumnya mandi serta shalat magrib.
"Den, jadi beli sate?" Tanya Rey
"Jadi, dong say, uangnya dalam tas."
"Berapa?"
"50 aja."
Rani tiga bersaudara, ketiganya perempuan. Hanya adik yang kedua sedikit berbeda, Rey terlihat tomboy, dengan rambut pendek, dia juga sekolah di SMK yang kebanyakan jurusan untuk anak laki-laki. "Rey" itu sendiri panggilan yang diberikan oleh teman-teman SMKnya.
Dia juga tidak pernah memanggil Rani dengan sebutan kakak. "Deni" itulah panggilan dia untuk Rani. Masing-masing dari mereka memiliki akhiran nama yang hampir sama, Rani, Raida dan yang bungsu Raisa.
Setelah puas dengan sate berbincang kembali rebahan didepan tv, ayah dan ibunya juga disana sambil menonton tv. Rey juga ikut bergabung disana, hanya sibungsu Raisa yang tidak hadir, karena dia berada ditempat ngaji.
"Jadi gimana yang tentara itu, jadi dia kemari?" Tiba-tiba ayah Rani bertanya tentanga Andi. Rani pikir ayahnya sudah lupa tentang Andi.
"Gak tau Yah, mau ikut pendidikan lagi katanya." Jawab Rani.
"Terus cincinnya udah dikembalikan?"
"Udah Yah."
"Kalian pernah ketemu lagi?"
"Kemaren Yah, di Bandung. Dia datang ke nikahan personelnya kebetulan nikahnya sama kawan Rani."
"Kenapa gak sekalian dia kemari? Ke Bandung dia bisa, ke Aceh kenapa gak bisa?"
"Gak tau yah."
"Memang dasarnya dia gak niat sama kamu, gak usah tunggu dia lagi, laki-laki gak cuman dia."
"Iya Yah."
Tidak ada saling menunggu diantara mereka, karena pada dasarnya Rani sendiri tidak memiliki hubungan dengan orang lain. Andai ada lelaki lain yang datang untuk melamar terus Rani menolak karen masih menunggu Andi tentu hal itu baru bisa disebut 'menunggu'.
Jam 10 malam...
"Kak, mana oleh-oleh?" Tanya Raisa yang baru pulang dari pengajian.
"Diluar." Jawab Rani yang kini tengah berbaring dikamar, sedangkan adik dan ibunya tengah membongkar isi koper diluar.
Tinggg....
Dering ponsel Rani berbunyi.
Rani_
"Hallo. Assalamualaikum."
Andi_
"Walaikumsalam, apa kabar dek?"
Rani_
"Alhamdulillah baik, abang dimana nih?"
Andi_
"Diasrama, lagi ngapain?"
Rani_
"Gak ada, santai aja dikamar, kenapa?"
Andi_
Rani_
"Mmmm, udah ketemu bang Yogi sama Mela?"
Andi_
"Belum, Yogi masih cuti. Kapan kita seperti mereka? Kamu gak mau dek?"
Rani_
"Kan abang udah tau jawabannya."
Andi_
"Kamu mau tunggu abang selesai pendidikan?"
Rani_
"Kalo abang mau jemput kemari, Rani tunggu abang."
Andi_
"Kamu bilang mau tunggu, tapi nanti begitu ada yang lamar kamu langsung mau."
Rani_
"Ya gimana jadi? Tunggu abangpun gak ada kepastian, sampe kapan Rani tunggu?"
Andi_
"Iya abang ngerti, oh ya, Dodik titip salam."
Rani_
"Salam kembali ya."
Andi_
"Mereka semua ngarapin kita nikah."
Rani_
"Ya semua kan ada di abang, Rani oke-oke aja."
Andi_
"Ya udah abang selesai pendidikan dulu nanti abang kabarin lagi."
Rani_
"Iya."
Andi_
"Udah dulu ya, abang mau istirahat, capek habis latihan."
Rani_
"Iya. Assalamualaikum."
Andi_
"Walaikumsalam."
Tuttttttt....
Setelah menutup telpon dari Andi, Rani yang rindu dengan teman-temannya membuka akun fbnya. Beberapa teman kampusnya yang online, sedangkan teman yang satu lokasi 3T dulu tidak ada yang online.
Saat berencana menutup keluar dari akun, tiba-tiba ada chat masuk.
📲 BM
"Ngapain? Belum tidur?"
__ADS_1
📲 Rani
"Rencana mau tidur."
📲 BM
"Jam berapa sampai?"
📲 Rani
"Jam 6, abang ngapain?"
📲 BM
"Lagi ngopi, abang rencana mau kesana, tapi abang belum pernah kesana, kira-kira rumahnya jauh dari terminal gak?"
📲 Rani
"Rumah Rani dekat sama jalan negara kok, gak susah nyarinya, kapan abang mau kemari?"
📲 BM
"Belum tau, abang cari teman dulu yang kira-kira tau daerah sana, jadi gak nyasar nanti sampai sana, udah dulu ya, abang mau pulang, nanti abang telpon."
📲 Rani
"Oke.
-----------------------------
Flash back on...
BM adalah kenalan Rani di Facebook. Awal kisah keduanya adalah saat Rani sedang mengikuti PPG. Saat itu dia tengah menikmati malam minggu dengan berselancar ria didunia maya, tepatnya di facebook. Ada beberapa permintaan pertemanan masuk. Salah satunya dari Baruna Bengkel. Rani yang saat itu kurang kerjaan langsung menerima permintaan pertemanan tersebut.
Entah kenapa, setelah menerima permintaan pertemanan, akun Baruna Bengkel yang tenyata sedang online membuat Rani iseng menyapa dikolom obrolan. Tampa diduga sipemilik akun ternyata membalas obrolan tersebut dan berlanjut. Akun tersebut ternyata akun bisnis yang langsung dikelola oleh ownernya.
Sampai beberapa saat setelah isya, akun tersebut kembali mengirim pesan.
📲 Baruna Bengkel
"Abang kirim permintaan pertemanan pake akun pribadi abang, diterima ya?"
📲 Rani
"Iya."
Setelah beberapa menit setelah Rani menerima permintaan pertemanan dari akun pribadi yang bernama BM. Sebuah chat masuk dan seperti kebanyakan kasus yang lain. BM ngajak kenalan dan Rani pun membalas sekedarnya karena saat itu Rani masih berstatus dengan Andi.
Rani yang awalnya malas melayani ajakan kenalan lebih lanjut karena saat mereka menanyakan tahun kelahiran masing-masing membuat nyali Rani menciut. Dikarenakan tahun kelahiran sang pemilik akun yang berjarak 9 tahun dari tahun kelahiran Rani.
Hal tersebut membuat Rani yang masih berpikiran setengah ABG curiga akan sipemilik akun.
"Jangan-jangan ini laki orang, atau duda, atau iiiiiiii....serem ih." Gumam Rani.
"Loe lihat aja dulu photonya buk." Ucap Mela yang saat itu berada didekatnya.
"Photonya sih oke, tapi asli gak nih?" Jawab Rani.
Setelah melihat lebih jauh photo-photo sipemilik akun, Rani baru kembali menanggapi chat dari sipemilik akun. Entah keyakinan apa yang Rani miliki hingga dia berani memberikan nomor ponselnya pada sipemilik akun tersebut.
Beberapa hari setelahnya ada nomor baru masuk ke Hp Rani.
Rani_
"Hallo, assalamualaikun, siapa ya?"
×××××××_
"Ini abang yang kmaren malam minta no di adek difb."
Rani_
"Baruna Bengkel?"
×××××××_
"Iya, simpan ya? Lagi ngapain?"
Rani_
"Baru keluar istirahat makan siang, ya udah bang ya, waktu istirahatnya gak lama, Rani mau makan dulu."
××××××_
"Iya, assalamualaikun."
Rani_
"Walaikumsalam."
Setelah mengakhiri perbincangan, Rani kemudian mengganti xxxxxx menjadi BM. Ya itu adalah singkatang dari sang penelpon. Nama lelaki itu ada Masriz, karena dia lebih tua 9 tahun dari Rani makanya Rani memanggil bang Mas yang disingkat BM.
Flash back of....
-------------------
Nasib anak gadis tinggal dikampung, selalu jadi bahan omongan para orang tua kurang kerjaan selain bertanya "kapan kawin?".
Apalagi setiap menghadiri pesta perkawinan dikampung, selalu aja pertanyaan itu keluar dari ibu-ibu yang merasa diri mereka udah tua. Dan bagi para ibu-ibu yang anak gadisnya mau menikah tentu dengan bangga menceritakan tentang anaknya atau calon menantunya.
Dan setiap pesta pernikahan dikampungnya, saat itu pula Rani dan ibunya terlibat perdebatan. Ibunya selalu memaksa Rani untuk datang kepesta bahkan membelikan kado supaya Rani datang dengan alasan "Nanti kalo kamu kawin gak ada yang datang."
Seperti hari ini, dari pagi ibunya sibuk menyuruh Rani pergi kesalah satu pesta kerabat mereka. Dengan malasnya Rani pergi lengkap dengan kado yang sudah dibeli oleh ibunya.
"Nanti disana jangan duduk aja, bantuin apa yang bisa." Ucap ibunya sebelum Rani pergi.
Pesta perkawinan dikampung masih erat dengan sikap gotong royang membantu sesama dalam hajatan apapun tampa perlu diminta oleh tuan rumah.
Saat tengah menikmati pesta, tepatnya melihat orang mondar mandir tidak jelas didepan pelaminan, suara pesan masuk ke ponsel Rani.
📩 BM
"Ngapain dek?"
📩 Rani
"Lagi dipesta orang kawin."
📩 BM
"Adk kapan?"
📩 Rani
"Nih lagi nunggu jodoh, mudah-an ketemu, doain ya!"
📩 BM
"Tungguin abang ya!"
📩 Rani
"Gak janji, siapa cepat dia dapat."
📩 BM
"Kode keras nih kayaknya, hahahaha."
📩 Rani
"Ya terserserah mau anggap apa."
📩 BM
"Ya udah, abang kerja dulu ya cari modal kawin."
📩 Rani
"Ouh dah mau kawin juga rupanya, ya udah lanjut, jangan lupa undangannya."
📩 BM
"Oke, nanti lanjut lagi ya!"
__ADS_1
"Huffftttt..." Rani membuang nafasnya kasar.