Abang Tentara, Tembak Aku!!!

Abang Tentara, Tembak Aku!!!
Ouh...Hatiiii 1


__ADS_3

Para pria melaksanakan shalat magrib di Mesjid, sementara dirumah Rani membantu kak Ira menyiapkan makan malam.


"Rani bisa masak?" Tanya kak Ira


"Bisa kak, karena Rani anak tertua jadi ibu udah ngajarin Rani banyak hal sampe menjahit juga, ibu bilang seorang perempuan itu harus bisa segala hal." ucap Rani.


"Wuihhh, hebat dong, kakak setuju sama ibu kamu, apalagi kalo kita nikah sama tentara, kita dituntut harus betul-betul mandiri apalagi saat jauh dari suami, hufffttt... kakak tau betul rasanya gimana." ucap kak Ira panjang lebar yang diangguki oleh Rani.


Tidak lama para pria sudah pulang dari mesjid, setelah mengganti pakaian mereka semua sudah berada dimeja makan.


"Nah... makan malam kali ini terasa istimewa ya Yah?" Ucap kak Ira pada suaminya.


"Iya bunda,,, sayang mereka jauh." ucap bang Udin.


"Rani hebat lho Yah, cocok banget kalo jadi istri tentara, pinter masak, menjahit sesuailah sama kriteria istri prajurit." ucap kak Ira kembali pada suaminya.


"Bagus itu, istri prajurit memang harus mandiri, jadi kalian kapan mau nikah kantor?" Tanya bang Udin pada Rani dan Andi yang lagi makan.


"Saya terserah Rani aja kapan siapnya bang, kalo saya sekarang juga gak masalah." ucap Andi tersenyum melirik Rani.


Rani merasa semua mata menatap menunggu jawabannya.


"Maaf, jawabannya masih seperti tadi." ucap Rani singkat.


Mereka kembali menyantap makanannya dalam kebisuan dan pikiran masing-masing.


"Bunda, habis makan kami keluar ya? Malam ini kan malam minggu." tanya sikembar


"Iya, seperti biasa jangan keluar komplek ya? Bunda sama ayah juga mau malam mingguan, udah lama kita gak malam mingguan ya Yah?" Ucap kak Ira pada suaminya dengan memberi kedipan mata.


Suami kak Ira tau betul maksud istrinya ini, diapun mengiyakan ajakan istrinya.


"Kalian jangan heran, biarpun kami sudah tidak muda lagi tapi jiwa kami tetap muda, kasih sayang suami istri harus tetap dipupuk agar terus subur tak dimakan usia. Kalian nanti juga harus gitu." ucap bang Udin.


"Abang mau malam mingguan kemana?" Tanya Andi


"Dikamar aja nonton film atau main film." ucap bang Udin


"Ihhhh... si ayah ini, mereka belum nikah jangan bicara yang aneh-aneh." ucap istrinya sambil tersenyum melirik suaminya.


Makan malampun usai, si kembar sudah keluar dengan sepedanya, Rani duduk diruang tamu sambil mengetik pesan.


Rani_

__ADS_1


"Ngapain bang? Udah makan?"


Pratu Yogi_


"Lagi santai aja nih sama yang lain, baru aja siap makan, adek dah makan?"


Rani_


"Udah bang, pengen cepat pulang kesana."


Pratu Yogi_


"Kenapa? Kangen abang ya?"


Rani_


"Hmmmm..."


Pratu Yogi_


"Kok cuman hmmmm???"


Rani_


"Maunya???"


Pratu Yogi_


Rani_


"Hehehehe..."


Tampa disadari Andi dan yang lain menperhatikannya dari tadi.


"Bun, apa masih ada harapan?" Tanya bang Udin sama Istrinya


"Entahlah Yah, sepertinya sudah ada yang lain dihatinya." jawab Kak Ira.


Andi yang baru keluar dari kamar langsung duduk disebelah Rani membuat Rani berhenti gelagapan.


"Smsan sama siapa?" Tanya Andi


"Sama bang Yogi" jawab Rani jujur

__ADS_1


"Abang lihat ya?" Ucap Andi yang langsung mengambil Hp Rani


Andi menghela nafas panjang saat membaca isi sms Rani dan Pratu Yogi.


"Apa abang sudah gak punya kesempatan lagi?" Tanya Andi dengan raut wajah serius menatap Rani


Rani bingung dengan perasaannya saat ini, apalagi saat ini Andi menggenggam erat tangan Rani menunggu jawabannya. Sementara dibalik ruang tamu sepasang suami istri terus memperhatikan keduanya.


"Lepas bang, gak enak dilihat sama kak Ira dan bang Udin" ucap Rani


"Biarin mereka lihat, mereka juga pernah muda pasti mengerti, sekarang jawab pertanyaan abang." ucap Andi tegas.


"Abang sudah tau jawabanya." ucap Rani singkat


"Berarti kita bisa mengajukan nikah kantor dulu kalo gitu." ucap Andi tersenyum


"Bang... tolonglah, sudah cukup, semuanya sudah berakhir, Rani capek." ucap Rani menahan tangisnya.


"Apa segitu cintanya kamu sama Yogi? Dengan mudahnya kamu lupain abang yang bertahun-tahun dihati kamu, abang gak nyangka segitu mudahnya kamu buang abang dihidup kamu." ucap Andi.


"Kata-kata abang seakan semua salah Rani." ucap Rani


"Iya memang kamu yang salah, kamu bohong sama abang, dan sekarang kamu jalanin hidup kamu dengan orang lain didepan abang, saat abang dengan teman kamu, abang gak tau kalo itu kamu, sementara kamu tau ini abang tapi malah dekat dengan anak buah abang, siapa yang salah disini?" Ucap Andi


"Bang... tolong... Rani capek, membahas ini seperti gak ada habisnya." ucap Rani sambil menghela nafas panjang


"Dari mulai kamu ketahuan sampai sekarang kita gak pernah ngebahas ini sampai selesai, kamu selalu menghindar, sekarang waktu yang tepat, teman-teman dan anak buah abang juga gak ada, kita bahas ini sampai tuntas." ucap Andi penuh penekanan.


"Terserah abang aja." ucap Rani singkat


Melihat Rani yang tidak menanggapinya, tiba-tiba Andi menarik Rani tepat didepannya, mereka saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Rani berusaha mendorong Andi tapi dia kalah kuat.


"Tatap abang dan bilang kalo kamu tidak cinta sama abang." ucap Andi masih menatap Rani


"Bang lepas, jangan seperti ini." ucap Rani yang merasa jantungnya berdetak sangat kuat, matanya tidak sanggup menatap Andi.


"Kenapa? Kamu yang maksa abang seperti ini, kamu selalu menghindar, abang tidak pernah punya kesempatan untuk bertanya ataupun mendapat penjelasan dari kamu." ucap Andi


"Bang,,, Rani udah jelasin kan? Sekarang abang jalani hubungan abang dengan Melati."


"Terus kamu sama Yogi gitu?" Jawab Andi memotong ucapan Rani sebelumnya.


Sementara diseberang sana sepasang suami istri juga ikut berunding.

__ADS_1


"Gimana nih Yah? Apa perlu kita bantu?" Tanya Kak Ira pada suaminya


"Biarin aja dulu Bun, kita pantau aja kalo situasi sudah gak terkendali baru kita turun tangan.


__ADS_2