
Sudah sebulan Rani kembali kerumahnya, kebiasaan bangun pagi dan beraktifitas selama 6 bulan terakhir membuatnya bosan karena tidak ada kegiatan saat ini. Teman-teman satu kampusnya dulu sekarang sudah menjadi guru honor diberbagai sekolah.
Meskipun gaji yang mereka dapatkan tidak bisa disebut gaji karena jauh dari rata-rata dan hanya didapat 3 bulan sekali karena diambil dari dana BOS, tapi cukup membuat mereka bangga, apalagi bisa memakai seragam khas PNS tentu saat memakainya ada rasa bangga tersendiri, walaupun isi dompet tidak sesuai dengan gaji PNS.
Sudah 2 hari Rani keliling keluar masuk sekolah seperti seles penjual barang dari rumah kerumah. Bermodalkan ijazah S1 rasanya untuk mendapat honor bakti saja sangat susah. Kurangnya jam untuk guru sertifikasi membuat para pencari honor sangat susah mendapat tempat.
Padahal kalo dipikir-pikir guru fresh gradueted tentunya akan menyegarkan bagi dunia pendidikan, apalagi murid-murid yang sudah terkontaminasi kecanggihan teknologi serta pemikiran yang mulai keluar dari zaman nenek moyang tentu akan membuat suasana pembelajaran lebih menyenangkan.
Dan setelah 2 hari mempromosikan ijazahnya yang terlihat seperti barang, akhirnya membuahkan hasil. Dan disinilah Rani sekarang, SD Negeri 15. Jangan tanya tentang jurusannya yang guru, karena Rani diterima langsung hari itu juga disebabkan kemampuannya dalam menjalankan program microsoft office.
Kepala sekolahnya tengah sibuk dikejar deadline laporan BOS, dan disekolah itu tidak ada guru yang bisa. Guru PNSnya semua sudah hampir pensiun alias tua, sedangakan guru honor yang lain ternyata juga gaptek. Diterimalah akhirnya Rani jadi guru honor bakti mata pelajaran bahasa inggris, merangkap guru IPS, guru olahraga serta operator sekolah yang saat itu belum ada gajinya.
Disekolah barunya, Rani guru termuda dengan sikapnya yang ceria dan sedikit manja. Guru PNS disana yang rata-rata sudah tua dan mau pensiun bagi Rani seperti orang tua. Dia bahkan tidak segan memanggil salah seorang guru paling tua disana dengan paggilan "Ayah".
Disekolah tersebut tidak ada guru olah raga padahal alat-alat olah raga lengkap dan terlihat baru seperti belum pernah digunakan. Mendapat tugas sebagai guru olah raga tentu sangat menyenangkan bagi Rani. Muridnya bahkan menyambutnya dengan senang ketika tiba disekolah, betapa tidak, semua alat olah raga yang terpajang rapi selama ini, satu persatu dikeluarkan.
Melihat betapa antusiasnya anak-anak tersebut tentu menjadi kebanggaan tersendiri. Apalagi sampai ditunggu kehadirannya. Bahkan jika musim mangga didaerah itu yang terkenal banyak dengan pohon mangga, mereka tidak lupa membawa buah mangga tersebut khusus untuk Rani tampa perlu meminta.
Dua bulan berlalu dengan kegiatan seperti biasa mengajar setiap senin sampai kamis. Kegiatan yang cukup menyita waktu dan pikiran sampai sosok Andi sedikit tersingkir. Andi yang jarang menghubungi semakin membuat hubungan keduanya semakin tidak menentu.
Lain halnya dengan BM, laki-laki itu sering mengirim pesan ataupun menelponnya. Rani yang tengah istirahat siang, dikejutkan dengan suara dering telpon.
Tingg....
Rani_
"Hallo, assalamualaikum?"
BM_
"Walaikumsalam, ngapain dek?"
Rani_
"Gak ada, lagi tiduran aja, panas diluar, abang?"
BM_
"Lagi ngopi, udah makan?"
Rani_
"Soal makan mana boleh telat, hidupkan untuk makan."
BM_
"Kebalik gak?"
Rani_
"Iya ya? Hehehe...."
BM_
"Besok abang kesana ya!"
Rani_
"Hahhh...serius?"
BM_
"Serius dong, tungguin dimana? Biar abang gak nyasar?"
Rani_
__ADS_1
"Dirumah."
BM_
"Abang gak tau jalannya gimana?"
Rani_
"Entar kalo dah sampe kota Rani abang telpon, biar Rani kasih tau jalannya, insya Allah gak bakal nyasar."
BM_
"Benar ya?"
Rani_
"Iya."
BM_
"Ya udah besok abang kabarin kalo udah sampe, abang tutup dulu ya, mau kerja lg."
Rani_
"Oke, assalamualaikum."
BM_
"Walaikumsalam."
Tutttttt.....
BM berasal dari ibukota provinsi, sementara Rani berasal dari salah satu kota kecamatan di salah satu kabupaten yang jaraknya kurang lebih 6 jam dari kota BM.
Tinggg....
Rani_
"Hallo, assalamualaikum."
BM_
"Walaikumsalam, dek, abang udah sampe mesjid nih."
Rani_
"Mesjid mana?"
BM_
"Mesjid depan kantor camat."
Rani_
"Hmmm, abang udah lewat, balik lagi kebelakang, sebelum terminal, ada sekolah MAN 2, disampingnya ada lorong, abang masuk kesitu."
BM_
"Bentar, abang balik dulu, nanti telpon lagi."
Rani_
"Iya."
Tuttttttt.....
__ADS_1
Sesaat kemudian...
Tinggg....
Rani_
"Dah sampe?"
BM_
"Ini dah masuk lorong, rumah adk yang mana? Coba keluar bentar."
Rani_
"Ini dah keluar, tuh abang yang diwarung depan?"
BM_
"Ouh ya, udah nampak, bentar ya, abang antar kawan dulu kerumah sodaranya."
Rani_
"Oke."
Tuttttt.....
Akhirnya, setelah mengantar temannya BM tiba kerumah Rani, dan itu pertemuan pertama mereka secara langsung.
"Assalamualaikum." Ucap BM sambil mengulurkan tangannya.
"Walaikumsalam, masuk bang!" Jawab Rani sesudah berjabat tangan sebentar.
"Hufffttt,,, sampai juga kan kerumah adk?"
"Hmmmmm,,, lumayan."
"Lumayan apa?"
"Lumayan nekat, naik motor 6 jam perjalanan. Mau minum?"
"Gak usah, baru selesai ngopi tadi sebelum kemari."
"Terus kawannya kenapa gak diajak?"
"Dia mau ketempat sodaranya, lagian abang mau ketemu cewe masak bawa kawan."
"Ya...ya...ya...."
"Kita keluar yok."
"Kemana?"
"Kemana kira-kira? Abang kan gak tau daerah sini."
"Kepantai gimana?"
"Hmmmm...boleh."
"Adk tunggu ibu dari pasar dulu sambil siap-siap, adk tinggal dulu ya?"
"Iya."
Saat Rani sudah siap, ibunya pulang dari pasar. Rani memperkenalkan BM pasa ibunya. Mereka terlibat pembicaraan sebentar, sampai Rani datang meminta ijin ibunya untuk keluar.
Ini adalah hal pertama seumur hidup bagi Rani. Dia berani meminta ijin keluar pada ibunya. Dan untungnya, dikasih ijin.
__ADS_1