
*** Sakit itu datang saat aku harus memilih dia dibandingkan dirimu yang telah lama kucinta, mengubur kan semua rasa dan juga impian yang ingin ku raih bersamamu. Maaf bukan aku tak ingin untuk setia menanti mu kembali, tetapi takdir yang memaksakan ku untuk berhenti menunggumu dan mengikhlaskan segalanya. Untukmu yang aku cinta semoga kau bisa mendapatkan yang lebih baik dariku yang mampu menanti dirimu hingga di batas kemampuannya ***.
◾◾◾◾◾
Sesampai nya dirumah khaira langsung menuju ke kamarnya. begitu masuk kekamar khaira langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang tidak terlalu besar itu.
Kegiatan hari ini membuat tubuh khaira terasa remuk setelah melalui perjalanan yang lumayan jauh untuk melakukan akad nikah, ia juga harus melakukan prewed di dua tempat yang berbeda dan dalam jarak yang berjauhan, ditambah lagi ia harus menggunakan gaun yang beratnya hampir sama dengan berat badan nya.
Khaira dan keluarga nya sampai dirumah lebih dari jam 6 sore, karna waktu tempuh dari tempat pemotretan terakhir dengan rumah khaira sekitar satu jam setengah.
Khaira memejamkan matanya agar tubuh nya semakin releks, menikmati kenyamanan saat berbaring di atas tempat tidur nya. setelah ia merasakan tubuh nya sudah cukup membaik ia bangun dan segera meraih handuk lalu membuka gaun yang tadi di pakainya saat pemotretan, kemudian bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan keringat yang ada di tubuh nya.
20 menit berlalu khaira keluar dari kamar mandi dengan melilitkan handuk di tubuhnya. kaki nya melangkah ke arah lemari mengambil sebuah gamis berwarna hijau muda. saat ia ingin melangkah masuk kekamar mandi ia mendengar suara azan berkumandang. ia kembali melanjutkan langkah nya masuk kekamar mandi memakai baju yang tadi di pilih nya lalu berwudhu untuk melaksanakan shalat magrib.
Setelah selesai shalat khaira duduk di depan meja rias yang ada dikamar nya. ditatap nya bayangan wajah nya dicermin. wajah yang menutupi seribu luka dihatinya. khaira menundukkan wajah nya berusaha menahan air mata yang sudah mengenang di pelupuk mata nya. tak sengaja ia melihat lukisan Inai ditangan nya warna merah yang menghiasi jari dan juga telapak tangan nya.
Air mata yang ditahan nya sejak tadi akhir nya mengalir deras di pipinya. harus nya ia bahagia karna kini dia telah menemukan pendamping hidup nya apalagi lelaki tampan yang menjadi idola para remaja seperti Alfi, ditambah lagi dengan profesi nya sebagai atlit voli dan seorang co-pilot.
Namun kini yang dirasakan nya bukan lah kebahagian melainkan sesak didada nya. air mata nya terus mengalir dan hati nya semakin hancur saat mengingat seseorang yang telah lama di nantikan nya terpaksa ia lupakan.
Meski pun hubungan nya dengan rizwan tanpa kepastian dan juga khaira tak pernah tau bagaimana perasaan rizwan terhadap nya, Namun ia tetap terus menanti sampai pada akhir nya ia harus menyerah dan semua penantian panjangnya berakhir dengan sia-sia. terkadang hatinya juga bertanya-tanya 'adakah ia di hati rizwan? harus kah ia menanti tanpa ada kepastian dari orang yang selalu ia rindukan? '
Namun tak pernah ada jawaban atas setiap pertanyaan nya itu, yang ia rasakan hanya lah perasaan yang menyiksa ketika ia tak dapat menemukan orang yang ia rindukan.
Hanya lewat doa ia mengungkapkan segala kerinduan nya. mengungkapkan segala keluh-kesahnya kepada sang pemilik hati, selalu berdoa agar ia dan orang yang di cintai nya di pertemukan dalam satu ikatan yang suci.
Namun semua nya kini tak dapat lagi ia wujudkan karna ternyata Allah telah memilihkan seseorang untuk mendampingi hidup nya. IKHLAS itu lah yang ingin ia raih walau pada kenyataannya tak semudah saat mengatakannya.
Khaira menatap dirinya di cermin menghapus air matanya lalu ia membuka laci yang ada pada meja rias nya. di ambil nya sebuah buku berwarna pink berukuran 7 cm. itu merupakan buku diary khaira yang berisikan curahan hatinya.
💞 Khaira POV 💞
kutatap diriku dicermin dan kuhapus air mata yang mengalir di pipiku, lalu aku membuka laci yang ada di meja rias ku, Aku mengeluarkan sebuah buku yang berisi curahan isi hatiku.
Aku mulai membuka lembaran demi lembaran, mencoba membaca setiap tulisan yang kutulis dengan tangan ku, hati ku semakin hancur saat aku mengingat pertama kali nya aku bertemu rizwan. saat aku tersiksa karna menahan rinduku padanya dan saat aku berada dalam kegelisahan menantikan dirinya.
🌹🌹🌹🌹🌹
Diary...
Terkadang rindu ini datang kepada ku,
Rindu ingin berjumpa dengan mu
Rindu ingin bercanda dengan mu
Dan rindu semua tentang dirimu...
__ADS_1
Aku ingin berjumpa dengan mu
Dan melihat dirimu walau hanya sekejap
Itu cukup untuk menjadi pengobat rinduku...
💕💕💕
Diary.....
Haruskah aku menantimu disini?
Sedangkan ku tak tahu
Apakah aku ada di dalam hatimu?
Apakah engkau juga mencintaiku?
Dan juga menantikan
Saat-saat kita akan berjumpa?.
Menanti tanpa kepastian
Itu bukanlah hal yang mudah
Menantikan dirimu kembali.
Aku hanya berharap
Semua penantianku takkan sia-sia
Dan suatu saat nanti semua impianku
Bersamamu akan terwujud....
❤❤❤❤
Air mata ku kembali mengalir saat ku membaca setiap bait yang tertulis di kertas putih itu.
luka, rindu dan kecewa semua nya menjadi satu. harapan yang begitu besar untuk hidup bersama rizwan kini hanya akan menjadi kenangan untukku.
aku berdoa dalam hatiku semoga Allah segera menghapus perasaan ini dan semoga aku bisa mengikhlaskan semua yang terjadi.
Ternyata benar apa yang dikatakan silvia waktu itu, ikhlas memang sangat mudah dalam mengatakan nya namun begitu sulit untuk kita melakukan nya.
Saat ini aku baru tahu, ternyata rasanya sesakit ini, ketika kita melepaskan orang yang kita cintai dan berusaha mengikhlaskannya.
__ADS_1
Andai aku bisa memilih, aku ingin tak pernah merasakan jatuh cinta, tak pernah merasakan bagaimana rasa nya ketika kita merindukan dia dan bagaimana rasa nya ketika kita terpaksa harus melupakan nya demi seseorang yang tak pernah kita cintai.
Saat ini aku tak pantas lagi memikirkan nya, merindukan dia dan berharap berjumpa dengan nya karna kini aku sudah memiliki pendamping hidup ku, meski pun aku belum bisa mencintai nya tapi setidaknya aku masih bisa berbakti pada nya. Aku yakin cinta itu akan datang dengan sendiri nya saat aku dan Alfi sudah hidup bersama.
Namun kini yang jadi permasalahannya adalah Alfi, aku tak mengetahui banyak hal mengenai laki-laki yang kini sudah menjadi suamiku itu. bagaimana perilaku nya?
bagaimana lingkungannya?
dan apakah ia punya kekasih atau tidak?
Namun aku pernah mendengar jika ia masih sendiri dan tidak memiliki kekasih. tapi siapa yang bisa percaya begitu saja mengingat wajah nya yang lumayan tampan semua wanita pasti ingin menjadi kekasihnya.
tak banyak yang ku tahu tentang dia, Aku hanya tahu ia seorang atlit voli dan bekerja di sebuah Bandara di daerah kami. Anak kedua dari tiga bersaudara, memiliki seorang kakak perempuan dan adik yang seumuran dengan ku. Dan sepertinya ia juga berasal dari keluarga yang berada.
Mungkin ini akan menjadi hal tersulit bagiku dalam menghadapi nya. apalagi perbedaan kami yang terlalu jauh membuat aku merasa tak pantas berada disamping nya, ditambah lagi dengan sikap nya yang secara terang-terangan menunjukkan kalau dia tak sedikit pun menyukai ku.
Huufft.... Aku menghembus nafas ku kasar, merasa lelah memikirkan semua yang terjadi padaku. rasa nya begitu rumit perjalanan kisah cinta yang aku lalui. saat ini yang harus ku fikirkan adalah bagaimana caranya menghadapi sikap Alfi pada ku nantinya.
"Tokk.... tok.. tok tokkk... "
suara ketukan pintu kamarku membuat aku tersadar dari lamunan panjang ku. aku melihat ada sisa air mata dimataku lalu aku menghapus nya dengan menggunakan tisu.
" Khaira ayo keluar kamu belum makan sejak tadi lebih baik kamu makan dulu, setelah itu kamu langsung istirahat agar besok kamu terlihat segar, ingat besok akan menjadi hari yang membahagiakan sekaligus melelahkan untuk mu jadi kamu harus banyak istirahat" ucap mama dari balik pintu.
Aku menghembuskan nafas ku kasar memikirkan hari esok, saat aku masih tetap harus menjalani hari-hari melelahkan seperti yang kurasakan hari ini. bersandiwara di depan semua orang dengan berusaha tersenyum walau sebenarnya aku terluka.
" ia ma khaira mau shalat dulu habis itu baru khaira makan" ucapku dari dalam kamar
Setelah itu tak terdengar lagi suara mama dari luar mungkin mama sudah kembali kedapur.
Aku bangkit dari duduk ku bergegas kekamar mandi untuk berwudhu dan kemudian aku melaksanakan shalat 'isya.
setelah selesai salat aku duduk di meja rias ku kembali, kulihat mataku yang sedikit sembab karna menangis tadi. aku memoleskan sedikit bedak tabur di wajah ku dan memoleskan sedikit lipstik di bibirku.kini mataku terlihat sudah tidak terlalu sembab lagi,.
Kemudian aku membuka pintu menuju ke luar kamar, aku melihat masih ada beberapa tetangga yang masih berada dirumah ku, mereka lagi berbincang-bincang, entah apa yang mereka bicarakan aku tak perduli.
Aku langsung menuju ke meja makan dan membuka tudung saji yang ada di atasnya. Aku melihat banyak makanan yang tersaji disana, namun aku sama sekali tidak berselera, melihat makanan yang tersaji itu. walau tidak memiliki selera makan tapi aku memaksa kan diriku mengisi perut ku dengan sedikit makanan agar tidak kosong. selesai makan aku kembali ke kamar, aku enggan jika orang-orang yang ada di sana menanyakan perihal pernikahan ku tadi pagi.
💞 Khaira POV end 💞
🔷🔷🔷🔷🔷
Terima kasih buat semua yang sudah membaca dan juga memberi komentar nya.
Nantikan episode selanjutnya ya dan jangan lupa like nya.
Terima kasih.
__ADS_1
@ety salmila