Adakah Aku Dalam Hatimu

Adakah Aku Dalam Hatimu
Kesalahan Yang Kembali Terkenang


__ADS_3

*** Kesalahan Yang Pernah Ku Lakukan Mampu Merubah Sikap Mu yang Penuh Kelembutan Menjadi Seseorang Yang Bebeda ***


••• Alfianda Rahman •••


🌸 🌸 🌸 🌸 🌸


Setelah memasangkan sabuk pengaman pada tubuh mereka masing-masing, Alfi mulai menghidupkan mesin mobil dan menancapkan gas nya, mengendarai mobil memecah jalanan kota yang kini mulai senggang.


Sesampai nya di rumah Alfi dan khaira lansung melangkah masuk kerumah secara bersamaa setelah Alfi memasukkan mobil nya ke dalam garasi.


Alfi menggendeng tangan khaira saat mereka memasuki rumah, menapaki kaki mereka di setiap anak tangga, sesekali mereka bercerita dan tertawa jika ada sesuatu yang lucu hingga akhir nya mereka sampai di kamar mereka.


" Aku mandi dulu ya soal nya udah gerah benget nihhh.... " ucap Alfi, sambil menatap khaira yang kini sedang melepas hijab nya.


khaira menatap pantulan diri Alfi yang ada di cermin rias nya, ia hanya menganggukkan kepala nya dengan memperlihatkan senyum yang menambah kecantikan diri nya.


Alfi melangkahkan kaki nya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya. sedangkan khaira ia masih menunggu Alfi selesai mandi, ia menatap pantulan wajah nya yang ada di depan cermin, hijab yang menutupi kepala nya sudah ia lepas hingga memperlihatkan rambut hitam nya yang masih tersanggul.


Tak lama Alfi pun keluar dari kamar mandi, khaira bergegas mengambil handuk dan berlalu ke kamar mandi. usai mandi khaira dan Alfi melaksanakan shalat magrib berjamaah seperti yang biasa mereka lakukan.


" Assalamualaikum Warahmatullah...... "


capan salam yang di ucapkan Alfi menandakan jika mereka telah selesai melaksanakan shalat magrib nya.


" yang kita ngaji yuukkk.... aku udah lama banget ngak ngaji ".


Ajak Alfi sambil menatap khaira kini mereka duduk berhadap-hadapan.


Mata khaira berkaca-kaca saat mendengar ajakan suami nya itu, bibir nya tertarik ke atas menampakkan senyuman manis nya, yang mampu membuat Alfi terpesona hanya karna senyuman nya itu.


" ayukkk.... bentar ya aku ambil Al-Quran nya dulu "


Ucap khaira dengan penuh semangat seraya bangkit dari duduk nya mengambil al-quran yang terletak di atas nakas di samping lemari baju mereka.


Khaira segera melangkah kan kaki nya kembali ke arah Alfi yang masih duduk di atas sajadah.


Mereka pun memulai membaca setiap ayat yang terukir pada kitab yang selalu menjadi pedoman umat manusia tersebut. ya Al-Quran adalah pedoman umat manusia bagi orang yang selalu membaca nya.


Suara merdu yang bersau-sautan antara khaira dan Alfi menambah ke sejukkan hati bagi para pendengar nya. Khaira sempat tertegun saat mendengar Alfi melantunkan ayat suci Al-Quran dengan begitu merdu.


Sungguh ia tak menyangka jika suami nya itu memiliki kemampuan yang cukup mumpuni dalam melantunkan ayat suci Al-Quran.


Setelah setelah selesai membaca Al-Quran mereka memutuskan untuk makan malam. Alfi dan khaira keluar dari dalam kamar menuju ke arah dapur.


" kita kan belum masak, jadi harus tunggu aku selesai masak dulu baru kita makan " ucap khaira sambil melangkahkan kaki nya ke arah dapur.


" Ok ngak masalah, aku akan membantu kamu masak biar cepat selesai dan kita bisa segera makan, perut aku udah keroncongan minta di isi " ucap Alfi sambil mengikuti langkah khaira kearah dapur.


" ngak usah, tunggu aja di meja makan aku bisa masak sendiri, lagi pula aku hanya akan memasak telur dadar dan tempe goreng "


Khaira mengambil telur dan juga tempe mentah yang ada di dalam kulkas. kemudian meletakkan nya di meja kecil yang ada di sana.


" telur sama tempe goreng? " tanya Alfi sambil menatap ke arah khaira, khaira yang mendengar pertanyaan Alfi menolehkan pandangan nya ke arah Alfi yang kini berdiri di samping nya.


" iya...ngak apa-apakan kita makan telur sama tempe goreng malam ini ? soal nya itu lebih mudah dan bisa cepat selesai, nanti aku akan kasih sambal di atas nya biar lebih enak "


Ucap khaira pandangan nya masih sama menatap ke arah Alfi yang kini juga menatap nya.


" iya ngak apa-apa, lagian apa pun masakan kamu aku pasti suka "


Alfi melangkahkan kaki nya ke arah kulkas dan membuka nya kemudian mengambil sebotol minuman dingin yang ada di sana, lalu meneguk nya .


Khaira mengambil pisau dan memotong tempe dengan ukuran sedang. Alfi hanya melihat istri nya yang memotong tempe dengan telaten, ia terlihat sudah biasa melakukan hal yang berhubungan dengan dapur.


Alfi sesekali meneguk sisa minuman yang ada di dalam botol plastik tersebut, tanpa mengalihkan pandangan nya dari khaira.


" Abang ngak niat bantuin aku ? " pertanyaan itu sebenar nya sebuah sindiran yang di tunjukan khaira pada Alfi, yang sejak tadi hanya berdiri dan menatap apa yang sedang ia lakukan.


" Hahh...? tadi kan kamu yang melarang aku buat bantuin kamu " ucap Alfi dengan polos nya, membuat khaira berdengus kesal saat mendengar ucapan nya itu.


" ngak peka banget sih jadi orang " gumam khaira ia mengerucutkan bibir nya dan memotong kasar sisa tempe tersebut .


Alfi yang melihat khaira mengerucutkan bibir nya mendesah pelan. ia membuang bekas botol minuman itu ke tempat sampah.


" Baiklah aku akan bantuin kamu, sekarang apa yang mesti aku lakukan ? " tanya Alfi, ia berjalan mendekat ke arah khaira.


Khaira hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Alfi tangan nya masih sibuk memotong tempe.


" Sayang... masa gitu aja kamu marah, tadi kan kamu yang nyuruh aku tunggu kamu di meja makan " ucap Alfi dengan nada yang lembut pandangan nya masih terarahkan ke arah khaira


" ya udah ngapain di sini tunggu aja di sana " ucap khaira datar tanpa mengalihkan pandangan nya ke arah alfi.


" Yang... ayolah jangan marah-marah terus, kalau kamu marah-marah aku akan merubah diri ku menjadi singa dan menerkam kamu, ngak perduli meski pun sekarang kita sedang berada di dapur, aku akan buat kamu tidak bisa berjalan "


Khaira menelan ludah nya kasar saat mendengar ucapan Alfi. ia tau suami nya itu tidak main-main dengan ucapan nya, karna Alfi pernah melakukan itu saat khaira marah besar dan mengamuk pada nya.

__ADS_1


Melihat khaira yang hanya terdiam membuat Alfi menarik sudut bibir nya ke atas menampakkan senyum penuh kemenangan.


Khaira melangkahkan kaki nya ke arah kulkas mengambil beberapa bahan masakan seperti ; cabai merah, bawah putih, bawang merah, tomat dan juga cabai rawit.


khaira meletakkan semua bahan masakan tersebut di depan Alfi, lalu kembali melanjutkan pekerjaan nya yang tertunda tanpa menjelaskan untuk apa semua bahan yang diletakkan khaira di depan Alfi.


" yang ini buat apa ? "


Alfi akhir nya memutuskan untuk bertanya pada khaira, dari pada ia bertindak tanpa tahu untuk apa semua bahan masakan itu, karna jika ia salah dalam melakukan tugas nya, khaira pasti akan kembali mengamuk.


Ada sedikit kesedihan di hati Alfi saat ia mengingat sikap khaira yang sudah berubah. Sekarang khaira sangat mudah marah dan emosi nya mudah terpancing hanya karna satu kesalahan kecil yang ia perbuat.


" Hufff........ "


Alfi menghembus nafas nya kasar saat ia kembali mengingat kesalahan fatal yang pernah ia perbuat pada khaira.


Semenjak khaira mengetahui hubungan nya dengan Elisa khaira berubah menjadi pribadi yang pendiam dan terkadang ia mudah marah.


ia menjadi sosok khaira yang selalu mengutarakan apa yang ada di dalam hati nya, apa pun itu baik atau buruk ia akan mengutarakan nya, meskipun sebagian dari hati nya menolak karna terkadang kata-kata yang ia keluarkan dapat menyakiti hati orang yang mendengar nya.


Semua itu terjadi karna kebodohan nya, meski pun sisi lembut itu tak pernah hilang dari diri khaira, namun tetap saja amarah yang ada di dalam diri nya menutup segala kelembutan yang ada pada nya.


Alfi ingin istri nya menjadi khaira yang seperti dulu, wanita yang ia nikahi sembilan bulan yang lalu meski pun dengan keterpaksaan , Khaira yang selalu bersikap lembut, khaira yang selalu mampu menahan amarah nya dan khaira yang selalu bersabar menghadapi segala kesalahan yang ia perbuat.


Namun seperti nya itu mustahil terjadi, mengingat luka yang ia torehkan di hati khaira begitu dalam, hingga ia membutuhkan waktu yang lama untuk menyembuhkan luka nya itu.


" yang untuk apa semua bahan ini? " Alfi kembali bertanya, saat ia tak mendapat kan jawaban dari wanita cantik yang berstatus istrinya itu.


" untuk bikin sambal, nanti kita pakai pada tempe yang sudah di goreng, potong kecil-kecil cabai merah nya , bawang putih dan merah juga tomat, jangan lupa cabai rawit nya juga, terus cuci hingga bersih dan masuk kan kedalam blender lalu giling hingga halus "


Khaira menjelaskan nya secara detail dengan lembut tanpa menolehkan pandangan nya ke arah Alfi karna ia sedang menggoreng tempe nya.


Ucapan khaira membuat Alfi memperlihatkan senyuman bahagia nya, saat ia kembali mendengar nada lembut khaira ketika ia berbicara.Begitu lah khaira, ia mudah marah namun amarah nya juga dengan cepat bisa kembali reda.


Mungkin Alfi harus lebih bersabar menghadapi sikap khaira yang sulit untuk di mengerti.


Alfi langsung melakukan apa yang tadi di ucapkan khaira, ia memasukkan semua bumbu yang sudah ia potong kecil-kecil kedalam nampan lalu mencuci nya hingga bersih setelah itu baru ia menggiling bahan tersebut hingga halus.


Selama 20 menit mereka memasak akhir nya masakan nya pun jadi, Sederhana memang menu makanan yang saat ini mereka sajikan, namun akan terasa lebih nikmat saat kita menikmatinya bersama orang yang kita cintai.


Alfi membantu khaira menyajikan makanan nya di atas meja. setelah selesai mereka sama-sama mengisi perut mereka yang memang sudah keroncongan sejak tadi.


Tak ada perbincangan selama mereka menyantap makanan nya karna khaira akan marah jika Alfi berbicara saat makan, sehingga yang terdengar hanya lah dentingan sendok yang beradu dengan piring.


Setelah membersihkan peralatan dapur, khaira melangkahkan kaki nya menuju ke lantai atas, menyusul Alfi yang sudah lebih dulu masuk kedalam kamar.


Sesampai nya di depan pintu kamar ia membuka pintu tersebut lalu melangkah masuk. ia melihat Alfi yang kini sudah menyiapkan berbagai keperluan shalat untuk nya.


" Sayang kamu ambil wudhu dulu habis itu kita shalat 'Isya aku sudah siap kan semua keperluan kamu " ucap Alfi saat ia melihat khaira yang baru saja masuk kedalam kamar.


Khaira hnya mengangguk kan kepala nya, lalu menutup pintu kamar setelah itu ia melangkah kan kaki nya ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu sesuai yang di perintahkan Alfi.


Khaira keluar dari kamar mandi dengan wajah nya yang basah karna air wudhu. Setelah memakai mukena ia langsung melaksanakan shalat nya yang di imami oleh alfi.


" Assalamu'alaikum Warahmatullah "....


ucapan salam yang terdengar menanda kan bahwa mereka telah selesai melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang muslim.


Khaira menyalami tangan Alfi, ia mencium punggung tangan Alfi cukup lama hingga Alfi merasakan ada setitik air yang mengenai punggung tangan nya.


Alfi mengangkat wajah khaira hingga kini mereka saling berhadap-hadapan. ia begitu kaget saat melihat mata khaira yang basah karna air mata .


" Sayang kamu kenapa? kenapa nangis apa aku menyakiti kamu? apa ada perkataan ku yang membuat kamu terluka ? "


Tanya Alfi dengan rasa khawatir yang memuncak, ia tak tahu mengapa khaira menangis apa mungkin ia kembali menyakiti nya, itu lah yang ada di dalam fikiran Alfi.


Khaira menggelengkan kepala nya saat mendengar pertanyaan Alfi, air mata masih terus membasahi pipi nya.


" Bukan perkataan abang yang menyakiti ku, tapi aku lah yang selama ini telah melukai perasaan abang, aku tahu jika abang terluka di setiap ucapan ku yang menyakitkan.


Tapi sungguh aku tak tahu mengapa aku seperti ini, mengapa aku selalu saja marah kala aku melihat wajah abang, mengapa aku marah hanya karna kesalahan kecil yang abang lakukan, aa...a... aku......"


Khaira tak dapat lagi melanjutkan ucapan nya entah mengapa ia merasakan rasa sesak di dada nya kala mengingat perlakuan nya yang terkadang terkesan kasar pada Alfi.


Alfi membawa khaira kedalam pelukan nya ia memeluk erat tubuh lemah itu, membiarkan khaira menumpahkan segala air mata kesedihan nya.


" Jangan menangis sayang...., ini bukan salah mu tapi aku lah yang bersalah, aku yang sudah menorehkan luka di hati kamu sehingga kamu menjadi seperti ini, maaf karna kesalahan ku kamu harus terluka "


Ucap Alfi dengan suara parau berusaha menahan air mata yang sudah mengenang di pelupuk mata nya


" Aku janji aku akan membantu mu menyembuhkan luka itu, menggantikan nya dengan kebahagiaan dan cinta yang sempurna "


Ucap nya lagi, Alfi terus memeluk khaira sesekali ia mengecup pucuk kepala khaira yang di tutupi oleh mukenah nya.


Khaira melepaskan pelukan nya dan menatap wajah Alfi dengan mata nya yang basah dan sedikit sembab karna tangisan nya itu.

__ADS_1


Alfi tersenyum menatap ke arah khaira, ia menghapus jejak air mata yang ada di pipi khaira, lalu mengecup kedua kelopak mata itu membuat khaira memejamkan mata nya .


" Abang... ngak.. hiks... hiks... ngak marah ? " tanya khaira sesegukan. Alfi yang mendengar ucapan khaira malah tersenyum ia menangkup kedua pipi khaira dengan tangan nya.


" untuk apa abang marah.... abang sudah begitu banyak memberikan kamu luka sedangkan apa yang kamu lakukan tak sebanding dengan luka yang telah aku torehkan di hati mu "


Ucap Alfi ia kembali menampilkan senyum hangat nya membuat khaira juga ikut tersenyum karna nya.


" Sekarang kita bereskan semua peralatan shalat nya, setelah itu ganti baju terus tidur, jangan bergadang urusan pekerjaan selesaikan besok di butik "


Khaira yang mendengar ucapan Alfi hanya mengangguk patuh dengan wajah nya yang terlihat sangat imut, layak nya anak kecil membuat Alfi gemas melihat nya.


Saking gemas nya ia sampai mencubit kedua pipi khaira.


" Uugghhhh.... lucu nya istri kecil ku ini " ucap Alfi sambil mencubit gemas pipi khaira.


" Auw.....lepasss......" ucap khaira sambil mencoba melepaskan cubitan alfi. Alfi yang mendengar rintihan khaira akhir nya ia pun melepas kan cubitan nya pada pipi khaira.


Khaira mengusap kedua pipi nya yang terasa sakit karna cubitan Alfi, meskipun Alfi mencubit nya tidak terlalu keras namun itu tetap membuat pipi khaira memerah.


" bisa ngak sih, ngak usah pake di cubit segala " ucap khaira sambil mengerucutkan bibir nya sedangkan tangan nya masih sibuk mengelus kedua pipi nya yang terasa perih.


" ya ampun.... sayang sakit ya maaf... habis nya aku gemas banget lihat ekspresi kamu tadi lucu tauu "


Ucap Alfi dengan antusias, ia membayangkan wajah khaira yang terlihat begitu menggemaskan di mata nya. Sedangakan khaira masih mengerucutkan plbibir nya tanpa menanggapi ucapan Alfi tadi.


Alfi kembali melihat ke arah khaira yang kini masih mengerucutkan bibir indah nya itu.


Alfi merasa bersalah pada khaira karna cubitan nya tadi memang membuat pipi khaira sakit lihat saja sampai sekarang pipi nya itu masih memerah. Alfi memindahkan tangan khaira yang menutupi pipi mulus nya.


CUP


CUP


kecupan yang di berikan Alfi di pipi kanan dan kiri khaira, membuat khaira terdiam seketika wajah nya bersemu merah saat ia menyadari jika Alfi baru saja mengecup pipi nya.


Alfi yang melihat wajah khaira yang bersemu merah malah kembali menggoda nya..


" ya Allah sayang apa di cium itu sakit sampai membuat wajah mu merah seperti itu ? " tanya Alfi pangangan nya masih menatap wajah khaira.


" seperti nya sakit di cium lebih parah dari pada sakit karna cubitan, bukti nya bukan hanya pipi kamu yang merah tapi seluruh wajah kamu juga ikut memerah " ucap Alfi berlagak sok polos membuat wajah khaira semakin merah padam.


" Abanngggg...... " ucap khaira ia memukul dada Alfi saking kesal nya karna Alfi masih saja menggoda dori nya.


Alfi malah tertawa saat melihat wajah kesal khaira bercampur malu. ia tertawa lepas sambil tangan nya berusaha menahan tangan khaira yang masih memukul dirinya.


" berhenti memukul aku atau kamu akan ku lempar ke atas ranjang "


Ucap alfi sambil memegang tangan khaira yang terus memberontak ingin memukul diri nya kembali.


ia tersenyum penuh kemenangan saat khaira tak lagi memberontak saat mendengar ucapan nya itu .


" ihhh.... dasar mesum... " Khaira mencoba melepaskan tangan nya dari genggaman Alfi hingga tangan nya pun terlepas.


Setelah itu ia membuka mukena lalu berjalan ke dalam kamar mandi tanpa melipat mukena nya terlebih dahulu.


" Sayang.... mau kemana beresin ini dulu..!!! " ucap Alfi saat ia melihat khaira yang kini sudah berada di depan pintu kamar mandi.


khaira yang mendengar ucapan Alfi menghentikan langkah nya,


" uppsss....aku lupa yang....tolong beresin ya..."


ucap khaira sambil terkekeh dan menutup mulut nya dengan tangan agar tawa nya itu tak lepas, kemudian masuk kedalam kamar mandi, meninggalkan Alfi yang mendengus kesal karna ulah nya.


Sebenar nya ia sengaja membiarkan Alfi yang kembali membereskan perlengkapan shalat nya, karna ia ingin membalas Alfi yang telah membuat nya kesal.


" khairaa..... beresin ini dulu " teriak Alfi saat ia melihat khaira yang hilang di balik pintu kamar mandi.


" Ngak Mauuu..... " ucap khaira dari dalam kamar mandi, ia berusaha menahan tawa nya membayang kan ekspresi wajah Alfi yang sedang kesal.


" Awas kamu ya.... lihat saja aku akan membalas nya " teriak Alfi lagi, mendengar ucapan Alfi khaira kembali tertawa.


Masih terdengar suara Alfi yang bersungut-sungut tidak jelas di dalam kamar, namun khaira tak memperdulikan nya ia lalu menggantikan pakaian nya dan kembali mengambil wudhu.


💠 💠 💠 💠 💠


Happy Reading......


Berikan like dan komentar nya sebagai bentuk support nya untuk author.🙏😊


Salam Author


-


Ety Salmila

__ADS_1


__ADS_2