
*"*"* Saat Sebuah Kejujuran Yang Terungkap,
Membuat Aku Harus Menerima Sebuah Kepahitan *"*"*
••• Khaira Najwa Safira •••
🍂 🍂 🍂 🍂 🍂 🍂
" Khaira gue mau bilang sebenar nya gue sama dia.... " Alfi merasa begitu berat untuk melanjutkan kata-kata nya, apa lagi saat menatap tatapan khaira yang penuh dengan tatapan menyelidik.
" Sebenarnya gue sama dia......Gue sama dia...." Alfi kembali menghentikan ucapan nya, ia menundukan kepala nya, ia begitu terlihat gelisah.
" KATAKAN YANG SEJUJUR NYA!! " ucap khaira ia menekan kan setiap kata yang di ucapkan nya, tatapan nya masih terarah kan ke arah Alfi dan mengenggam tangan Alfi.
" Gue minta maaf sama loe, gue ... gue... Sebenar nya gue sama Elisa " Alfi kembali menarik dan membuang nafas nya secara perlahan
" Elisa Itu...PACAR GUE "
DUARrrrrr........
DUARrrrrr........
DUARrrrrr........
Khaira terdiam, ia melepaskan tangan nya yang mengenggam tangan Alfi. SESAK itulah yang kini dirasakan nya, ternyata kenyataan yang ia Terima terasa begitu pahit, Alfi yang telah menuduh nya mendua tapi ternyata • • • • • • •
" Khaira gue minta maaf gue .... gue ngak bermaksud nyakiti loe " Alfi mencoba meraih tangan khaira, namun khaira dengan cepat menangkis tangan Alfi yang mencoba meraih tangan nya.
" SEJAK KAPAN ? " ucap khaira dengan datar, ia masih menekan kan setiap kata yang di ucap nya dan padangan nya masih terarahkan pada Alfi.
khaira berusaha menahan air mata yang kini sudah mengenang di pelupuk mata nya.
" satu bulan sebelum pernikahan kita di gelar " ucap Alfi ia menatap ke arah khaira yang kini membuang pandangan nya ke arah lain.
DEG
Lagi-lagi Alfi membuat goresan luka di hati khaira, sesaat khaira terdiam berusaha menetralkan rasa sakit di hati nya.
" kamu tahu saat itu jika kita akan menikah? " khaira bertanya tanpa menatap ke arah Alfi, sebisa mungkin ia menahan air mata nya.
" gue tau, karna pada saat itu tanggal pernikahan kita sudah di tetapkan tapi gue ngak bisa menolak Elisa saat ia mengungkap kan perasaan nya sama gue " ucap Alfi ia kembali menundukkan pandangan nya.
" KENAPA ? " khaira bertanya dengan suara datar ia masih enggan menatap ke arah Alfi yang ada di samping nya.
" KARNA GUE MENCINTAI NYA..."
" KARNA GUE MENCINTAI NYA..."
kata-kata itu terus tergiang di telinga khaira, Seketika air mata yang tadi di tahan nya kini mengalir deras di pipi putih nya. khaira menolehkan pandangan nya ke arah Alfi saat mendengarkan apa yang baru saja di lontarkan Alfi pada nya.
Begitu SAKIT rasa nya saat suami yang kini mulai di cintai nya malah mencintai wanita lain dan memiliki hubungan lebih dari sekedar teman.
Dan yang lebih ' Menyakitkan ' lagi saat ia harus berjuang untuk bisa mendapatkan cinta dari suami nya, berusaha menahan sakit yang ia Terima dari setiap kata dan perlakuan suami nya, tapi ternyata wanita lain dengan mudah nya mendapat kan cinta dan kasih sayang dari suami nya itu .
" gue minta maaf, gue benar-benar minta maaf, gue tahu apa yang gue lakukan ini akan menyakiti loe tapi gue ngak bisa menahan perasaan gue sama Elisa " ujar Alfi ia kini menatap ke arah khaira berusaha meraih tangan khaira namun lagi-lagi khaira menepis nya.
" Kenapa? bukan kah dulu kamu juga meminta ku untuk melupakan rizwan? dengan mudah nya kamu memaksakan diri ku melupakan dia, kini aku yang akan menanyakan hal itu pada mu, ' bisa kah kamu melupakan dia menghapus nya dalam hati dan ingatan mu? ' "
Alfi hanya terdiam mendengar pertanyaan khaira ia kembali menundukkan kepala nya.
" Kenapa kamu hanya diam? tidak bisa menjawab? " Alfi lagi-lagi hanya terdiam masih dengan menundukkan kepala nya
" sekarang kamu mengertikan Tak semudah itu ketika kita ingin melupakan seseorang semua butuh waktu, begitu pun dengan ku, dan di saat aku sudah mulai melupakan nya kamu malah membuat aku kecewa " ucap khaira air mata masih terus mengalir membasahi pipi nya.
" gue minta maaf, gue tau gue salah tapi tolong maaf kan gue, kasih gue kesempatan sekali lagi gue akan memperbaiki semua nya, tolong " ucap Alfi dengan lirih, khaira hanya menatap ke arah Alfi diam mengamati laki-laki di depan nya yang kini terlihat rapuh.
" tok... tok.. toktok...... "
Suara Ketukan pintu membuat mereka sama-sama menoleh ke arah pintu.
" khaira, Alfi ayo turun nak kita makan malam dulu, papa sama zuhdi udah nunggu kalian di meja makan "
Khaira yang mendengar suara mertua nya dari luar lantas ia menghapus air mata yang masih mengenang di pipi nya.
" iya ma, sebentar lagi kami keluar " ucap khaira dari dalam kamar.
Setelah itu tak terdengar lagi suara mama Alfi dari luar. khaira bangkit dari tempat tidur meninggalkan Alfi menuju ke kamar mandi. Alfi hanya menatap kepergian khaira tanpa bergeming dari tempat nya.
" hufff... "
Alfi menghembus nafas nya kasar, ia membaringkan tubuh nya di atas ranjang lengan nya di jadikan sebagai bantal.
ia memikirkan apa yang harus di lakukan nya agar khaira mau memaafkan dirinya.
" gimana cara nya ya agar khaira mau maafin gue?, ternyata berkata jujur itu sangat menyakitkan " gumam Alfi dalam hati. ia menatap ke arah kamar mandi, masih terdengar suara air dari dalam kamar mandi karna khaira belum juga keluar dari sana.
" Namun gue sedikit lega karna sekarang tak ada lagi rahasia antara gue dan khaira, gue yakin cepat atau lambat khaira pasti memaafkan kesalahan gue yang terpenting sekarang gue harus lebih bersabar menghadapi kemarahan nya saat ini " Gumam nya lagi.
Khaira keluar dari kamar mandi, terdapat sisa air di wajah nya. Matanya terlihat sembab, hidung nya pun memerah. Khaira berjalan melewati tempat tidur tanpa memperdulikan Alfi yang kini menatap ke arah nya.
ia keluar dari kamar meninggalkan Alfi yang masih mematung pada tempat nya.
__ADS_1
" hufff.... "
Lagi-lagi Alfi menghembus nafas nya kasar, ia bingung bagaimana cara nya menghadapi kemarahan khaira.
" Arrrggghhh.... "
Alfi mengacak rambut nya yang kini terlihat semakin berantakan, ia bangkit dari tempat tidur berjalan menuju keluar kamar, menyusul khaira yang lebih dulu keluar.
Sesampai nya di meja makan ia melihat khaira dan keluarga nya yang lain sudah ada di sana menunggu kedatangan nya.
" Bang muka loe kenapa kusut begitu, kaya baju belum di setrika aja? " zuhdi terkekeh saat melihat Alfi yang berjalan dengan wajah kusut.
" diam loe, ngak sopan banget katain orang yang lebih tua seperti itu " ujar Alfi dengan suara ketus. ia mendudukkan diri nya di kursi yang ada di samping khaira.
Di lirik nya khaira yang kini hanya terdiam, tidak seperti biasa nya khaira selalu menebarkan tawa saat berkumpul bersama keluarga nya.
Rasa bersalah kembali menyeruak ke dalam hati nya, ia merasa begitu bodoh karna sudah mengkhianati khaira, wanita yang begitu lugu dan penuh dengan kelembutan.
Seorang istri yang mungkin menjadi idaman semua laki-laki, lembut dan selalu sabar dalam menghadapi diri nya yang selalu menyakiti dan melukai perasaan nya sebagai seorang wanita.
" iya nak, muka kamu kok murung gitu, khaira juga kenapa diam saja dari tadi?, kalian lagi ada masalah kalau memang ada masalah selesai kan dengan cara baik-baik jangan dengan amarah dan emosi agar semua nya bisa terselesaikan dengan kepala dingin "
ucap mama Alfi panjang lebar, Alfi menatap ke arah mama nya sekilas ia melihat ke arah khaira yang ada di samping nya, masih tetapi menundukkan kepala nya.
" ngak kok ma kami ngak ada masalah apa-apa, hanya saja kami lagi memikirkan rencana kami untuk pindah ke rumah kami yang baru "
Khaira yang mendengar ucapan Alfi langsung menatap ke arah nya, Alfi melirik ke arah khaira dan tersenyum.
" Rumah apa maksud nya? " gumam khaira dalam hati ia melihat ke arah Alfi yang kini tersenyum pada mama nya.
" Rumah ? kalian mau pindah dari sini? " tanya mama Alfi sambil mengamati anak dan menantu nya secara bergantian.
" iya kami akan pindah besok, Alfi sudah membeli rumah untuk tempat tinggal kami, jarak nya tidak terlalu jauh dari sini, dan jarak rumah kami dengan Bandara lumayan dekat " ucap Alfi ia tersenyum ke arah mama nya.
" kok pindah sih nak? nanti kalau kamu pindah mama bakal sendiri lagi dong, kalau kamu tinggal di sini setidak nya kan ada khaira yang bakal temani mama kalau kalian pergi "
Mama Alfi menampakkan wajah cemberut nya di depan Alfi dan khaira.
" Nanti kami akan sering ke sini ma buat temani mama, apalagi kalau Alfi kerja lembur, nanti Alfi akan antar kan khaira kesini biar dia ngak sendirian di rumah "
ujar Alfi ia masih menampakkan senyum di bibir nya, sedangkan khaira yang di samping nya menaikkan sebelah alis nya dan menatap bingung ke arah Alfi. tidak mengerti apa yang sebenar nya di rencanakan Alfi.
" ya tapikan tetap saja mama bakal sendirian dan tidak punya teman ngobrol " ucap mama Alfi lagi masih menampakkan wajah cemberut nya.
" kan di rumah masih ada zuhdi, ada papa sama bibi juga jadi mama ngak bakal kesepian " ucap Alfi pandangan nya masih mengarah kan ke arah mama nya.
" zuhdi kamu bilang? dia mana betah di rumah palingan cuma sebentar habis pulang kuliah setelah itu ia pergi lagi " ucap mama Alfi ia melirik ke arah zuhdi yang kini hanya cengengesan menatap ke arah nya.
" uhuuk... uhukkkk "
Zuhdi yang mendengar ucapan Alfi malah tersedak makanan nya, segera di Raih nya gelas yang berisi minuman lalu meneguk nya hingga tandas.
zuhdi menatap ke arah Alfi yang kini tersenyum pada nya.
" enak aja nyuruh orang kawin, memang nya pernikahan itu permainan kalau sudah bosan nanti bisa di tinggal kan begitu saja, aku mah mau menikmati masa muda dulu buat apa mikirin nikah, uang jajan saja aku masih minta sama papa ia kan pa ? "
ucap zuhdi pada papa nya sambil menaik-turun kan alis nya.
" emang ya bocah ngak tau malu, pake ngaku lagi di depan orang kalau masih minta jajan sama orang tua, gengsi dikit dong jadi cowo " ucap Alfi yang kini menatap ke arah zuhdi.
" buat apa gengsi- gengsi ngak penting itu mah sama yang nama nya gengsi, aku orang nya apa ada nya, kalau misal nya mau nyari cewe yang mau menerima aku apa ada nya bukan ada apa nya " ucap zuhdi lalu ia melanjutkan sarapan nya.
" lagi pula mama bukan butuh menantu kali, tapi butuh CUCU " ucap zuhdi dengan menekan kan kata terakhir nya dan di akhiri dengan kekehan
mama dan papa Alfi malah tertawa mendengar apa yang dikatakan zuhdi, memang apa yang di katakan zuhdi ada benar nya juga.
Alfi yang awal nya tersenyum kini senyuman nya itu menghilang saat mendengar ucapan Zuhdi. Alfi melirik ke arah khaira yang kini hanya terdiam tanpa ekspresi .
" Ma, pa, zuhdi khaira pamit ke kamar dulu ya mau tidur " ucap khaira ia segera bangkit dari duduk nya dan melangkah ke arah tangga.
" loh kok ke kamar, kamu belum makan apa pun loh, ayo sini makan dulu " ucap mama Alfi sambil menatap khaira yang mulai melangkah.
" khairan ngak lapar ma " ucap khaira ia kembali melanjutkan langkah nya menaiki tangga menuju ke kamar nya.
" kak khaira kenapa? zuhdi salah ngomong ya ?" tanya zuhdi pada ketiga orang yang ada di hadapan nya, sambil mengamati ketiga orang tersebut, ia meminta jawaban pada mama nya, namun mama nya hanya mengedik kan bahu nya.
Mereka kembali melanjutkan sarapan nya.
" Alfi ke kamar dulu ya ada yang mau Alfi bicara kan sama khaira " ucap Alfi pada kedua orang tua dan adik nya.
" kamu ngak makan dulu ? " tanya mama Alfi saat melihat Alfi bangkit dari duduk nya.
" Nanti aja ma, Alfi mau bicara dulu sama khaira " ucap Alfi sambil menatap ke arah mama nya.
mama Alfi hanya menganggukkan kepala nya, sambil menatap putra pertama nya itu pergi meninggalkan meja makan.
Sesampai nya di kamar Alfi melihat khaira yang kini sedang duduk di pinggir ranjang.
" Apa maksud nya tadi bicara seperti itu saat di meja makan " tanya khaira saat melihat Alfi yang sudah menutup pintu kamar dan melangkah ke arah nya.
" Bicara soal apa? pindah rumah ? " khaira hanya diam mendengar pertanyaan alfi. Alfi yang hanya melihat khaira terdiam mengerti jika yang di maksud khaira memang tentang kepindahan mereka.
__ADS_1
" gue sudah membeli rumah buat kita tempati, tempat nya tidak terlalu jauh dari tempat gue kerja, tadi nya gue mau bilang ini sama loe terlebih dahulu, tapi karna loe tadi marah-marah jadi nya gue ambil keputusan sendiri "
ucap Alfi, khaira yang mendengar ucapan Alfi kini menatap tajam ke arah nya. dan bangkit dari duduk nya mendekat ke arah alfi
" oeee.... jadi maksud nya aku ngak boleh marah saat tau kalau kamu selingkuh IYA?, jadi aku harus bersikap seperti apa? tertawa atau aku harus bahagia saat tau suami ku ternyata tukang selingkuh ?
Kamu mikir dong ada ngak orang yang bisa tertawa lepas, bersikap biasa saja saat mengetahui pasangan nya punya orang lain selain dirinya ? " ucap khaira kini ia hampir tak dapat mengontrol emosi nya.
Biasa nya khaira akan bersikap sabar menghadapi Alfi tapi kini ia sudah berada di batas kesabaran nya.
" sayang maksud aku bukan gitu " ucap Alfi berusaha menenangkan khaira yang kini sedang di baluti emosi.
" kamu bilang apa barusan? kamu panggil aku sayang? " ucap khaira Alfi hanya diam menatap ke arah khaira.
" kamu panggil aku dengan panggilan sayang? lalu bagaimana dengan dia apa kamu juga memanggil nya dengan panggilan yang sama ? " ucap khaira lagi ia menatap tajam ke arah Alfi.
" udah kita jangan bahas dia lagi gue ngak mau kita ribut lagi, gimana kalau sampai semua orang di rumah ini tahu tentang masalah kita ? " ucap Alfi ia kembali berusaha menenangkan khaira.
Khaira terdiam mendengar ucapan Alfi, bagaimana pun juga ia tak ingin orang lain tau tentang permasalahan rumah tangga nya, apa lagi kalau sampai keluarga nya tau jika Alfi selingkuh dari nya.
" Oke aku mau kita pindah, tapi ingat baik-baik jangan pernah kamu membawa wanita itu ke rumah kita nantinya " ucap khaira sambil menatap tajam ke arah Alfi.
Alfi mengernyit kan dahi nya mendengar ucapan khaira.
" loe kok ngomong nya gitu? gue ngak pernah kepikiran mau bawa dia kerumah kita, loe dapat pemikiran dari mana? su'udzon banget jadi orang, dosa, dosa tau ngak mikirin yang macam-macam tentang suami " ucap Alfi dengan menekan kan kata -kata nya.
" siapa tau? kan bisa saja kamu bertingkah seperti di film- film membawa wanita lain kerumah, kalau disini kamu mana berani karna ada mama, tapi kalau di sana bisa saja kan kamu melakukan nya karna hanya ada aku "
ucap khaira sambil membuang pandangan nya ke arah lain.
" apa sih? loe ngawur banget jadi orang, makanya kalau nonton drama jangan di masuki ke hati jadi nya ginikan? " ucap Alfi menatap ke arah khaira.
ia heran kok bisa khaira berfikir kalau dia akan mem bawa Elisa ke rumah mereka. gila kali, kalau sampai Alfi membawa Elisa kerumah nya, itu mah sama saja seperti masuk ke kandang kelinci yang bisa berubah menjadi Macan seperti khaira.
Alfi bergidik ngeri jika hal itu bisa terjadi.
" awas gue mau tidur " ucap Alfi pada khaira yang kini berdiri di pinggir ranjang.
" eh.... Stop kalau mau tidur tuh di sana!, aku ngak mau tidur sama kamu " ucap khaira pada Alfi, sambil menunjukan sofa dengan dagu nya.
" NGAK, gue mau tidur di sini sama loe, memang nya loe ngak tau apa kalau gue itu rindu di peluk sama loe saat tidur " ucap Alfi sambil menatap kesal ke arah khaira.
" hehehe " khaira tertawa miris mendengar ucapan Alfi.
" ngak usah gombal jadi orang ngak bakalan mempan sama rayuan mu yang tidak bermutu itu, mending sekarang ambil bantal terus tidur di sofa, atau kalau kamu mau tidur di luar juga ngak masalah " ucap khaira sambil tersenyum miring ke arah Alfi.
" kok loe tega banget sama gue, gue kan suami loe " ucap Alfi memelas.
" Loe aja tega nyelingkuhin gue, kenapa gue enggak kalau cuma nyuruh loe tidur di sofa? " ucap khaira ia masih tersenyum miring ke arah Alfi.
" hufffff.. " Alfi membuang nafas nya kasar, ia tak ingin menanggapi apa yang di ucapkan khaira, karna kalau ia menanggapi nya pasti mereka akan ribut lagi.
Seperti nya saat ini khaira memang sedang menguji kesabaran nya. Alfi berjalan mendekati tempat tidur mengambil bantal lalu berjalan ke arah sofa dengan gontai.
khaira hanya menatap datar ke arah Alfi yang berjalan ke arah sofa. Alfi kemudian membaringkan tubuh nya di atas sofa, yang lumayan kecil bagi nya karna tubuh nya yang besar.
Sedangkan khaira ia berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu melaksanakan shalat 'isya. setelah selesai shalat ia langsung membaringkan diri nya di atas tempat tidur. tak butuh waktu lama untuk diri nya terlelap dalam tidur dan menyusuri alam mimpi.
Khaira sudah tertidur pulas, sedangkan Alfi ia masih belum bisa tidur karna sofa itu lumayan kecil bagi nya. Alfi menggerakkan badan nya ke kanan dan ke kiri berusaha mencari tempat yang nyaman bagi nya.
Namun ia tetap tak bisa tidur dengan nyaman di sofa. saat ia menoleh ke arah tempat tidur ia melihat khaira yang kini tertidur pulas di sana. ia melirik ke sisi kanan khaira yang kosong.
Senyum nya terbit di bibir tipis nya itu, ia bangkit dari tidur nya melangkah perlahan-lahan ke arah tempat tidur, saat ia sudah sampai ia menaiki tempat tidur tersebut secara perlahan-lahan agar khaira tidak terbangun.
Kemudian ia segera membaringkan tubuh nya di samping khaira, dan menyamping kan tubuh nya ke arah khaira hingga kini mereka tidur berhadap-hadapan.
Di tatap nya wajah cantik khaira yang kini terlihat begitu damai sama seperti saat mereka baru menikah, namun hari ini semua berubah saat khaira mengetahui hubungan nya dengan Elisa.
Alfi tak lagi melihat wajah tenang khaira, dan senyum nya yang indah, kini ia hanya dapat melihat wajah sendu khaira dan air mata yang selalu mengalir dari nya.
" Maaf " ucap Alfi lirih, ada penyesalan dalam hati nya saat kini ia melihat khaira yang mulai menjauhi nya.
Alfi mendekatkan diri nya pada khaira membawa wanita itu dalam pelukan nya. tak perduli jika khaira terbangun dan memaki diri nya.
Alfi menikmati pelukan nya pada khaira, pelukan yang di rindukan nya saat ia berpisah dengan khaira selama beberapa hari yang lalu.
tadi nya ia berharap khaira akan menyambut nya dengan pelukan hangat saat ia kembali ke rumah tapi ternyata semua jauh dari bayangan nya dan semua itu terjadi karna ke bodohan nya.
Alfi memejamkan mata nya menyusul khaira yang kini tertidur pulas dalam dekapan nya.
💔 💔 💔 💔 💔
Bagaimana kelanjutan nya?
Akan kah khaira memaafkan Alfi?
Nantikan kelanjutan episode nya ya!
Salam Author
Ety Salmila
__ADS_1