Adakah Aku Dalam Hatimu

Adakah Aku Dalam Hatimu
Peresmian Boutique Khaira


__ADS_3

*** Kau Adalah Wanita Yang Hebat Dan Istri Yang Sempurna Selalu Mampu Bersikap Mandiri Tanpa Menunggu Uluran Tangan Ku, Sungguh Aku Beruntung Bisa Memiliki Mu ***.


••• Alfianda Rahman •••


🌿 🌿 🌿 🌿 🌿


Lagi-lagi Alfi hanya mampu menghembus nafas nya kasar, saat melihat sikap khaira lalu ia juga ikut membaringkan tubuh nya di samping khaira hingga mereka sama-sama terpejam menuju ke alam mimpi.


◾◾◾◾◾


" الصلا ة خير من النوم....... "


' Assalatu khairumminan na'um.....'


Alfi Berusaha mengumpulkan kesadaran nya saat sayup-sayup ia mendengar suara adzan yang menggema.


Setelah matanya terbuka sepenuhnya ia menolehkan pandangan nya ke sisi kiri tempat tidur, Alfi mengernyitkan dahi nya saat ia melihat khaira yang sudah tak ada di samping nya.


" Cekleekk.... "


Alfi merubah posisi tidur nya menjadi duduk saat mendengar pintu kamar mandi yang terbuka. Tampaklah khaira yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah nya yang masih basah.


Alfi bangkit dari duduk nya saat melihat wajah khaira yang begitu pucat.


" sayang.... kamu kenapa? sakit? " tanya Alfi sambil melangkah kan kaki nya ke arah khaira.


" ngak...aku cuma lagi pusing aja " jawab khaira sambil melangkahkan kaki nya dan duduk di kursi meja riasnya.


" ya udah nanti kita kedokter ya buat periksa keadaan kamu "


Khaira langsung menolehkan pandangan nya ke arah Alfi saat mendengar suara suami nya itu.


" Ngak usah kita kan harus pergi " ucap khaira pandangan nya masih terarahkan ke arah Alfi.


" memang nya kita mau pergi kemana? " tanya Alfi pasal nya ia tak tahu kemana khaira akan mengajak nya pergi.


" kalau mau tau tempat nya cepetan mandi setelah shalat subuh kita langsung menuju ketempat acara nya ".


Ucap khaira ia bangkit dari duduk nya menuju ke arah lemari untuk mengambil berbagai peralatan shalat yang akan mereka gunakan.


Alfi akhirnya memutuskan untuk segera membersihkan diri nya di kamar mandi, percuma saja memaksa khaira menjawab kemana mereka akan pergi pasti khaira ngak akan memberi tahu nya, fikir Alfi.


Setelah membersihkan diri nya di kamar mandi Alfi keluar dengan pakaian casual nya, baju oblong berwarna abu-abu dan celana panjang selutut.


Alfi melangkahkan kaki nya ke arah khaira yang kini sudah memakai mukena nya dan berdiri di atas sajadah. Sesampainya di sana ia memperhatikan raut wajah khaira yanh terlihat begitu pucat.


" Sayang... apa perlu kita panggilkan dokter untuk memeriksa keadaan kamu, aku punya teman seorang dokter, jadi kalau kamu ngak mau pergi ke dokter, kita bisa panggilkan dia untuk datang kesini buat memeriksa keadaan kamu "


Ucap Alfi sambil memperhatikan wajah khaira yang terlihat begitu pucat.


" aku kan udah bilang ngak usah, aku ngak apa-apa kok mungkin karna kecapean makanya jadi kurang enak badan begini "


ucap khaira Alfi tak pernah mengalihkan pandangan nya menatap wajah khaira yang pucat dengan tatapan khawatir.


" udahlah ngak usah natap aku kaya gitu mending kita shalat " ucap khaira sambil membalikkan tubuh Alfi agar membelakangi nya.


Alfi hanya menghela nafas nya saat khaira tak mau mengikuti apa yang ia katakan. ia hanya berharap semoga khaira baik-baik saja dan tak terjadi apa-apa pada nya.


Alfi segera memakai sarung dan bju koko yang sudah di siapakan khaira untuk nya tak lupa juga ia menggunakan peci bundar berwarna putih. Mereka pun melaksanakan shalat subuh berjamaah, sesudah shalat seperti biasa mereka memasak dan sarapan pagi.


Tanpa terasa hari sudah menunjukan pukul 06: 30 pagi. khaira dan Alfi baru saja selesai sarapan dan mereka langsung kembali ke kamar untuk bersiap-siap karena acara pembuakaan butik khaira akan dimulai pukul 08:00-Wib.


" Sayang kamu yakin mau kita pergi, coba lihat wajah kamu pucat gitu, mending kita ke dokter atau kalau kamu ngak mau ke dokter kamu istirahat aja di rumah "


Alfi kembali mencoba membujuk khaira agar mau di memeriksa diri nya di rumah sakit.


Pandangan nya terarahkan ke arah khaira yang kini sedang duduk di depan meja rias dan sedang memakai pasmina nya.


khaira hanya berpenampilan sederhana dengan memakai baju bewarna biru muda dan hijab yang bermotif bunga-bunga, ditambah lagi dengan riasan make-up yang tidak berlebihan menambah kecantikan nya walau pun hanya dengan kesederhanaan.


Sedangkan Alfi ia menggunakan kemeja berwarna hitam dengan lengan nya sedikit di gulung dan celana jins yang berwarna senada dengan baju nya.


" Ngak bisa kita harus pergi karna ini acara penting banget " ucap khaira ia bangkit dari duduk nya setelah selesai memakai pasmina nya.


" Memang nya sepenting itu ya sampai kamu mengabaikan tubuh kamu yang terlihat begitu lemah " tanya Alfi pandangan nya masih menatap khaira yang kini bangkit dari duduk nya.


" ya pentinglah.... bahkan ini sangat penting karena menyangkut masa depan ku " ucapan khaira membuat Alfi menatap bingung ke arah nya.


" memang ini acara apaan sih sampai kamu menganggap nya begitu penting, coba deh kamu lihat wajah kamu di depan cermin, pucat banget meski pun kamu sudah memakai make-up wajah kamu tetap terlihat pucat "


Khaira menolehkan pandangan nya ke arah cermin rias nya, benar apa yang di katakan Alfi wajah nya terlihat sangat pucat meski sudah memakai sedikit riasan make-up.


" oh ya...Nih ada titipan buat kamu " ucap khaira, ia memberikan sebuah kertas berukuran tujuh senti..


Alfi menatap bingung kertas yang di sodorkan khaira pada nya.


" Memang nya itu apa ? " tanya Alfi sambil mengambil alih kertas yang di pegang khaira.


" Baca aja itu dari mantan kamu... " ucap khaira acuh, meski pun hubungan Elisa dan Alfi sudah berakhir namun masih terdapat sedikit kekesalan jika mengingat penghiatan Alfi pada nya dulu.


" UNDANGAN.....??? " ucap Alfi sambil menatap bingung ke arah khaira.


Ia kembali mengalihkan pandangan nya menatap undangan yang ada di tangan nya. dahi nya mengkerut saat membaca nama yang tertera pada undangan itu.

__ADS_1


" Elisa & Rizwan... ? Mereka mau nikah ? " tanya Alfi ia menatap ke arah khaira.


" iya...mereka mau nikah minggu depan, kenapa ngak rela kalau dia nikah sama orang lain ? " tanya khaira datar ia juga menatap ke arah Alfi dengan tatapan sinis.


" kok kamu ngomong nya gitu ? dia itu masa lalu ku justru aku akan sangat bahagia jika Elisa akhir nya bisa menemukan pending hidup nya "


Khaira mengalihkan pandangan nya ke arah lain saat mendengar ucapan Alfi.


" udahlah.... lebih baik sekarang kita pergi, oh ya satu lagi undangan nya ada di dalam laci tolong berikan pada Alfi besok saat pergi kerja " ucap khaira sambil menatap datar ke arah Alfi


" Tapi yank... kamu kan lagi sakit "


" ngak perlu khawatir aku akan baik-baik saja, ayo kita pergi... "


Ucap Khaira ia meraih tas selempang nya yang ada di atas meja rias, lalu ia menarik Alfi keluar dari dalam kamar.


Akhir nya....walau dengan sedikit terpaksa, Alfi memutuskan untuk mengikuti khaira ketempat yang ingin mereka tuju, meski pun Alfi tak tahu kemana khaira akan mengajaknya.


Didalam perjalanan khaira tak seperti biasanya yang selalu mengisi perjalanan mereka dengan ocehan nya, kali ini ia hanya diam dan sesekali ia memejamkan mata sambil menyenderkan tubuh nya di senderan kursi.


" Sayang kita kerumah sakit ya " ucap Alfi sambil mengamati khaira dengan wajah khawatir.


" aku kan udah bilang ngak usah kerumah sakit " ucap khaira ia hanya membuka matanya sekilas menatap ke arah alfi.


" tapi yank.... kamu..... "


Belum sempat Alfi melanjutkan ucapan nya ia melihat khaira yang menutup mulut nya dengan tangan.


" Huek...Huek..... ".


khaira merasakan perut nya yang di aduk-aduk hingga membuat nya terasa ingin muntah.


Melihat hal itu Alfi pun menepikan mobil nya di pinggir jalan.


" Sayang kamu ngak apa-apa kan? " Alfi terlihat begitu panik saat melihat wajah khaira yang semakin pucat.


Tanpa menjawab pertanyaan Alfi khaira keluar dari dalam mobil. Khaira mengeluarkan seluruh isi perut nya di tepi jalan, untung saat itu jalanan tidak terlalu padat sehingga tak banyak orang melihat keadaan nya yang seperti itu.


" Huek.... Huek.... huek..... "


melihat khaira yang tak henti-henti nya mengeluarkan isi perut nya. Alfi dengan sigab mengambil air mineral yang ada di dalam mobil nya.


" Sayang... kamu minum dulu biar kamu lebih enakan.... " ucap Alfi sambil menyerahkan botol minuman itu kepada khaira.


Khaira menerima botol minuman yang di berikan Alfi, ia mencuci mulut nya yang terasa pahit berulang kali lalu meneguk nya hingga tenggorokan nya terasa dingin akibat air yang mengalir.


" gimana udah baikan? " tanya Alfi saat ia melihat khaira yang terlihat lebih tenang.


" udah, ayo kita lanjut lagi perjalanan nya " ucap khaira seraya melangkahkan kaki nya ke pintu mobil.


" aku ngak apa-apa... " ucap khaira sambil menampilkan senyuman nya, lalu ia membuka pintu mobil dan masuk kedalam nya.


Alfi hanya bisa menghela nafas nya saat ia melihat khaira yang masih kekeh untuk melanjutkan perjalanan mereka.


Alfi melangkahkan kaki nya ke arah pintu pengemudi lalu masuk kedalam mobil dan kembali melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda.


Mobil Alfi di sebuah butik yang dikerumuni oleh banyak orang. Alfi menatap bingung ke arah khaira saat khaira meminta nya agar berhenti di butik tersebut.


" ayo kita turun.... " ucap khaira sambil menatap ke arah Alfi, yang kini juga menatap ke arah nya.


" Kita ngapain berhenti disini yank.? kata nya tadi kamu mau ngajak aku keacara yang begitu penting terus kita ngapain berhenti disini? ". Khaira tersenyum saat mendengar suami nya itu.


" udah ikut aja nanti kamu juga akan tauuu.... " ucap khaira lalu ia membuka pintu dan keluar dari dalam mobil.


melihat khaira yang sudah turun dari mobil Alfi pun ikut turun dan melangkahkan kaki nya kesamping khaira.


Alfi masih terlihat begitu bingung mengapa khaira mengajak nya kebutik itu, kebingungan nya semakin bertambah saat ia melihat bunda Annisa dan Azkia yang ada di sana.


Tanpa sengaja mata nya teralihkan pada logo yang bertuliskan nama butik tersebut.


" BOUTIQUE KHAIRA......??? "


Alfi menolehkan pandangan nya kearah khaira, begitu pun khaira ia juga mengalihkan pandangan nya ke arah Alfi sambil menampilkan senyuman manis nya.


" Sayang.... ini butik kamu...??? " Alfi menanyakan nya dengan ragu-ragu takut dugaan nya itu salah.


" Menurut kamu...??? " khaira malah balik bertanya pada Alfi membuat Alfi menaikkan sebelah alis nya.


Khaira Malay tersenyum melihat raut kebingungan yang terpancarkan dari wajah suami nya itu.


" ia ini butik aku hari ini peresmian butik nya "


Alfi membulatkan mata nya saat ia mendengar ucapan khaira.


" Beneran....??? " tanya Alfi seolah tak percaya saat ia mengetahui butik yang lumayan besar itu merupakan milik istri nya.


" iya beneran...kan abang lihat sendiri tulisan yang ada di logo itu ' Boutique Khaira ' itu arti nya itu butik khaira, dan hari ini adalah hari peresmian nya, berkat bantuan bunda Annisa dan azkia akhirnya aku bisa mendirikan butik ini hingga sampai pada hari ini ".


Ucap khaira sambil tersenyum, menatap butik yang ada di hadapan nya.


" aku ngak nyangka ternyata istriku bisa mandiri juga, sampai bisa bangun butik sendiri tanpa bantuan aku... " ucap Alfi sambil mengalihkan pandangan nya ke arah khaira.


" oh ya Ngomong-ngomong kamu dapat modal dari mana buat bangun butik ini ? " khaira menolehkan pandangan nya ke arah Alfi saat mendengar ucapan suami nya itu.

__ADS_1


" aku pinjam sama bunda Annisa " jawab khaira santai.


" kamu pinjam sama bunda kenapa ngak minta sama aku kalau kamu butuh modal ? " tanya Alfi pandangan nya masih terarahkan ke arah khaira.


" Aku mau membangun butik ini dengan usaha ku sendiri, maka nya aku ngak minta bantuan kamu " khaira juga menatap ke arah Alfi yang kini masih tak mengalihkan pandangan dari diri nya.


" Tapi aku kan suami kamu, harus nya kamu bicara dulu sama aku ".


" ya maaf aku tidak ber maksud ngak menghargai kamu tapi ini semua aku lakukan agar aku bisa hidup mandiri "


Alfi hanya diam mendengar penuturan khaira ia mengalihkan pandangan nya menatap ke arah bunda Annisa dan Azkia yang tersenyum sejak melihat kedatangan mereka.


" Udahlah kita ngak perlu meributkan masalah ini lebih baik sekarang kita masuk, abang ngak lihat sejak tadi bunda sama azkiabbsudah menunggu kedatangan kita " Ucap khaira berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.


lalu ia mengenggam tangan Alfi dan membawa nya menuju ke arah butik.


" Assalamualaikum..... " ucap khaira dan Alfi secara bersamaan.


" Waalaikum salam... " jawab semua orang yang ada di sana, bunda Annisa dan Azkia juga beberapa orang lain nya sudah hadir di acara peresmian butik khaira.


" Maaf bun khaira sama bang alfi terlambat datang nya " ucap khaira pada bunda Annisa.


" iya ngak apa-apa kami juga baru sampai kok " ucap bunda Annisa sambil tersenyum. Namun senyuman nya itu hilang saat ia melihat wajah pucat khaira.


. " Khaira kamu sakit ya ? wajah kamu pucat gitu ? " tanya bunda Annisa sambil mengamati wajah khaira.


" Ngak bun aku cuma sedikit pusing " ucap khaira memaksakan senyum nya.


Tak berapa lama mama Alfi dan papa Alfi pun juga hadir di acara tersebut.


" Assalamualaikum..... " ucap mama Alfi dan papa Alfi secara bersamaan.


" waalaikum salam " jawab semua orang yang ada di sana.


" ini acara nya udah mulai ya ? " tanya mama Alfi sambil menatap satu persatu orang-orang yang ada di sana.


" belum ma.... justru ini kita mau memulai nya " ucap khaira sambil tersenyum ke arah mertua nya itu.


" yaudah ayo kita mulai, khaira kamu pimpin pembukaan acara nya " ucap bunda Annisa.


" kok khaira bunda aja yang membuka acara nya atau Azkia aja gimana ? " ucap khaira sambil mengamati bunda Annisa dan sekilas ia melirik ke arah Azkia yang ada di samping nya.


" ya udah kalau gitu Azkia aja yang buka " ucap bunda Annisa, Azkia langsung menolehkan pandangan nya ke arah bunda Annisa saat ia mendengar ucapan nya.


" Bundaa.... inikan butik khaira harus nya khaira dong yang membuka acara nya " ucap Azkia berusaha menolak permintaan mertua nya itu.


" Kamu kan asisten saya jadi kamu juga berhak untuk membuka acara ini " ucap khaira sambil menatap ke arah Azkia.


Azkia yang mendengar ucapan khaira menghembus nafas nya kasar, akhir nya ia memilih untuk mengalah jadi nya Azkia lah yang membuka acara pembukaan butik tersebut.


Setelah melalui berbagai rangkaian acara dan pembacaan doa dari seorang ustadz yang sengaja mereka undang. Semua orang yang ada di sana pun masuk kedalam butik dan menikmati berbagai hidangan makanan yang telah di sediakan untuk acara peresmian butik khaira.


Khaira sangat bersyukur karna pada akhir nya ia bisa mewujudkan mimpi nya menjadi seorang desainer dan dapat membuka butik nya sendiri.


Sejak dulu jauh sebelum ia menikah dengan Alfi ia sudah merangkai impian nya itu bersama mama nya. Air mata nya seketika menetes kala mengingat kedua orang tua nya yang tidak hadir di acara yang begitu berharga bagi nya.


Sebenar nya khaira sangat ingin mengajak kedua orang tua nya untuk melihat hasil kerja keras nya selama ini. Namun karna jarak yang terlalu jauh ia tak mungkin pulang pergi, dari kota tempat ia tinggal ke kampung halaman nya.


" Sayang.... kamu kenapa ? "


Khaira segera menghapus air mata nya saat ia mendapatkan sentuhan lembut Alfi di bahu nya.


Khaira menolehkan ke arah Alfi dan memperlihatkan senyuman terpaksa nya.


" Aku ngak apa-apa, aku hanya kangen sama mama dan ayah, udah lama banget ngak bertemu sama mereka " ucap khaira dengan lirih air matanya kembali mengalir saat mengingat sudah berbulan-bulan ia tak pulang ke kampung halaman nya.


" gimana kalau awal bulan depan kita pulang ke rumah mama sama ayah ? " ucapan Alfi membuat khaira yang menunduk kembali menatap ke arah Alfi.


" beneran awal bulan depan kita pulang kesana ? " tanya khaira sambil menatap Alfi dengan mata nya yang basah.


" iya nanti kita akan pulang kesana, jangan nangis lagi, Hari ini kamu harus selalu tersenyum karna inikan hari peresmian butik kamu " ucap Alfi sambil menghapus air mata yang ada di pipi khaira.


Khaira yang mendengar ucapan Alfi hanya diam ia masih menatap wajah Alfi yang kini tersenyum menatap nya.


" Ayo kita gabung sama yang lain, ngak perlu sedih nanti aku pasti akan anterin kamu ke rumah mama "


Ucap Alfi sambil merangkul pundak khaira. Khaira menganggukkan kepala nya dan melingkarkan tangan nya di pinggang Alfi.


Mereka kembali menikmati acara tersebut hingga tanpa terasa mata hari mulai tenggelam di ufuk barat. semua tamu undangan mengucapkan selamat kepada khaira atas peresmian butik baru nya. Bahkan banyak orang yang sudah meninggalkan butik nya.


Setelah membereskan bekas acara peresmian butik, khaira dan Alfi kembali kerumah mereka, begitu pun dengan bunda Annisa dan Azkia mereka juga pulang setelah di jemput oleh zaki.


🌻 🌻 🌻 🌻 🌻


Happy Reading....


Maaf jika up nya terlalu lama, Nantikan kelanjutan episode nya yang akan kembali saya up besok 🙏😊


-


Salam Author


-

__ADS_1


Ety Salmila


__ADS_2