Adakah Aku Dalam Hatimu

Adakah Aku Dalam Hatimu
Boutique Khaira


__ADS_3

*** Tak Ada Usaha Yang Sia-Sia Yang Disertai Dengan Doa Dan Aku Bersyukur Ketika Allah Mewujudkan Mimpi Ku Menjadi Nyata ***


••• Khaira Najwa Safira •••


🍁 🍁 🍁 🍁 🍁


◾ ◾ ◾ ◾ ◾


Setelah membereskan perlengkapan shalat Alfi dan khaira bergegas kedapur untuk memasak sarapan pagi mereka.


Usai memasak mereka pun langsung menyantap sarapan pagi.


" Yank....kamu mau pergi bareng aku atau sendiri...? " tanya Alfi saat ia baru saja menyelesaikan sarapan nya.


" aku udah ngak kerja " jawab khaira sambil mengumpul kan piring kotor.


" hahhh.... kenapa ? kamu di pecat? " tanya Alfi sambil menatap bingung ke arah khaira.


ia yakin jika istri nya itu tak mungkin di keluarkan dari pekerjaan karna ia bisa menilai jika hasil kerja khaira sangat memuaskan. lalu apa yang membuat khaira tak lagi bekerja?, fikir Alfi.


" Aku Resain dari pekerjaan "


ucap khaira sambil melangkahkan kaki nya ke arah dapur dengan tumpukan piring kotor si tangan nya.


Khaira memang sudah mengundurkan dirinya dari butik Riska saat kemarin ia pulang kerja. Riska sempat menahan khaira agar ia tak mengundurkan diri dari butik nya itu.


ia sangat menyukai kemampuan khaira dalam bekerja. Namun setelah khaira menjelaskan alasan ia resain dari butik riska.


ia mencoba memaklumi khaira ia tahu jika ia tak bisa menahan khaira keluar dari butik nya, apabila alasan khaira adalah untuk membangun butik dan meraih kesuksesan nya.


" lohh... kenapa keluar ? bukan nya kamu senang kerja disana? lalu kenapa kamu malai resain? apa ada yang ganggu kamu?".


Khaira yang mendengar pertanyaan Alfi membalikkan badan nya ke arah Alfi, setelah ia meletakkan piring kotor di wastafel.


" Ooo.... aku tau pasti wanita kemarin yang menghina kamu kan?, terus dia ganggu kamu lagi ya makanya kamu resain? " tebak Alfi membuat khaira membelalak kan mata nya, karna ia tak percaya jika suami nya bisa berfikir sejauh itu.


" apasih.... sok tau banget, abang tuh ngak boleh su'udzon sama orang lain, kan aku belum bilang kenapa aku keluar dari pekerjaan ku "


ucap khaira ia melangkahkan kaki nya ke arah Alfi yang masih duduk di kursi meja makan.


jarak antara ruang makan dan dapur memang tidak terlalu jauh sehingga mereka masih bisa mengobrol meski khaira sedang berada di dapur.


" jadi kalau bukan karna dia kenapa kamu keluar? " tanya alfi pandangan nya masih terarahkan ke arah khaira yang kini berjalan ke arah nya.


" Nah itu dia aku tuh mau bilang kalau aku mau istirahat sebentar sampai nanti aku bisa membangun butik ku sendiri " ucap khaira sambil menampilkan senyum nya, ia mendudukkan diri nya di kursi yang ada di depan Alfi.


" kamu mau bangun butik sendiri ? " tanya Alfi tak percaya saat ia mengetahui jika khaira sangat serius untuk mewujudkan mimpi nya dengan membangun sebuah butik.


" ia....aku sudah berencana untuk merancang nya sama bunda Annisa dan azkia " khaira masih menatap ke arah alfi dan masih menampikan senyuman nya.


" kamu mau buka butik sama bunda Annisa dan Azkia ? "


tanya alfi bingung ia tak tahu sejak kapan khaira bisa sedekat itu dengan bunda Annisa, sampai punya rencana mau membuka butik, yang ia tahu khaira hanya sebatas kenal dengan bunda Annisa.


" ia.... Aku, bunda Annisa dan azkia sudah merancang nya beberapa bulan yang lalu, abang masih ingatkan saat kita bertemu di kafe warkop?, waktu itu aku lagi membahas masalah perancangan butik bersama bunda Annisa dan azkia sebagai asisten ku ".


Alfi yang mendengar penjelasan khaira sejenak ia mencoba mengingat kejadian yang di ceritakan khaira. seketika senyum nya mengembang saat ia sudah mengingat dengan jelas kejadian yang hampir membuat nya kehilangan istri sebaik dan secantik khaira.


" aku ingat yank..... waktu itu kamu mau di jodohkan oleh bunda Annisa sama zaki kan?, dan apa kamu tahu, aku sangat kesal waktu aku tahu kamu bilang sama bunda Annisa kamu belum punya pacar.


heumm......apa jangan-jangan kamu sengaja ya bilang belum punya pacar biar bunda Annisa benar-benar menjodohkan kamu sama zaki ? "


goda Alfi sambil memicingkan mata nya namun bibir nya menampakkan senyum.


" iya..... niat nya sih gitu, soal nya zaki lumayan tampan juga , lagi pula waktu itu kan abang masih sama Elisa, yaaaa... aku fikir ngak ada rugi nya juga kalau aku menerima perjodohan itu " .


Ucapan khaira membuat Alfi menatap tajam ke arah nya, namun bukan nya takut khaira malah tertawa saat melihat tatapan tajam Alfi.


" aku cuma bercanda, ngak usah gitu juga kali natap nya. mana mungkin aku mau di jodohkan sama orang lain sementara aku sudah memiliki suami setampan kamu, rugi besar dong aku kalau sampai aku lepasin kamu yang jadi rebutan para wanita "


ucap khaira sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah mata nya.


Alfi tersenyum saat melihat khaira mengedipkan sebelah mata nya, ia menggelengkan kepala nya menatap tak percaya saat istri nya itu kembali bertingkah aneh.


" ya udah kalau gitu aku pergi kerja dulu ya, kamu mau tetap di rumah atau mau aku antar kerumah mama? " tanya Alfi seraya bangkit dari duduk nya.


" aku disini aja, soal nya nanti aku mau bertemu sama bunda Annisa dan Azkia " ucap khaira ia juga bangkit dari duduk nya sambil melangkahkan kaki nya mengantar Alfi hingga di depan pintu.


" ya udah tapi pulang nya jangan kemalaman, dan nanti kamu pergi nya di antar sama pak sabbri "


ucap Alfi sesampai nya di depan pintu ia mengecup kening dan kedua pipi khaira. membuat khaira melirik kesekitar rumah nya untuk memastikan tidak ada orang yang melihat nya.

__ADS_1


ia bernafas lega saat melihat pak sabbri yang berada di pos satpam sedang berdiri dengan membelakangi mereka.


" kamu liatin apa sih, udah lah ngak perlu takut jika ada orang yang melihat perlakuan ku padamu, kita kan sudah menikah jadi sudah tidak menjadi sebuah masalah jika ada yang melihat nya ".


Khaira yang mendengar ucapan Alfi mengalihkan pandangan nya ke arah Alfi.


" Meski pun kita sudah menikah rasa nya kurang pantas jika bermesraan di tempat umum, nanti apa kata orang saat melihat kita yang bertingkah seperti itu ".


" udahlah ngak usah memikirkan apa kata orang, memang zaman sekarang banyak orang yang hobi nya megunjing, mereka selalu membicarakan kesalahan dan keburukan orang lain seolah diri nya begitu sempurna.


Aku harap kamu jangan suka mengumpat, karna mengupat itu ibarat kita memakan bangkai saudara kita sendiri, selain itu ia juga akan membakar semua kebaikan yang kita lakukan hingga tak tersisa ".


Ujar Alfi menasehati khaira agar menjauhi perbuatan yang mengupat- ngupat karna hal tersebut sangat merugikan diri nya.


" iya... tapi apa maksud nya memakan bangkai saudara sendiri ? " tanya khaira ia tak mengerti dengan hal tersebut.


" jadi maksud dari memakan bangkai daging saudara sendiri itu adalah pada saat hari perhitungan kelak, hukuman bagi orang yang suka mengupat - ngupat ia akan memakan daging orang yang di upat nya selama di dunia, sedangkan semua kebaikan yang ia perbuat itu di berikan kepada orang yang telah ia upat " .


" kamu ngak mau kan semua kebaikan yang kamu lakukan jatuh pada orang lain? " tanya Alfi sambil menatap ke arah khaira, khaira menggelengkan kepala sebagai jawaban jika ia tak ingin semua amal yang ia kerjakan sia-sia hanya karna mengupat.


" kalau begitu jangan berbicara jika tidak penting, dan jika kamu berkumpul bersama teman mu lalu mereka mengupat makan lebih baik kamu menjauhi nya, karna jika kamu tetap berkumpul bersama mereka itu arti nya kamu juga telah mengupat meski hanya sekedar mendengar nya saja ".


ucap Alfi sambil tersenyum ia mengelus lembut kepala khaira yang di tutupi hijab nya.


" ya sudah kalau gitu aku pergi dulu, kamu hati-hati di rumah dan jaga dirimu baik-baik " ucap Alfi, khaira menyalami tangan alfi, kemudian Alfi berjalan ke arah motor matic nya.


setelah menyalakan motor nya, ia membunyikan klakson sambil menatap ke arah khaira yang di balas dengan lambaian tangan oleh khaira dan senyuman hangat, setelah itu ia mengendarai motor nya meninggalkan khaira yang masih menatap kepergian nya.


Setelah Alfi pergi kerja khaira melangkahkan kaki nya masuk kedalam rumah, ia ingin membersihan semua piring kotor yang mereka gunakan semalam, namun saat ia melangkahkan kaki nya kedapur ia melihat bibi Hanum yang sedang mencuci piring kotor.


Akhirnya khaira memutuskan untuk pergi kekamar nya. ia ingin menyelesaikan berbagai rancangan untuk pembangunan butik nya yang belum di selesaikan nya.


••• 2 BULAN KEMUDIAN •••


Hampir 2 bulan khaira dan Azkia bersama bunda Annisa mempersiapkan pembangunan butik, akhir nya mereka dapat menyelesaikan nya dan rencana nya besok akan ada acara pembukaan butik.


Oleh karna itu saat ini khaira bersama asisten nya Azkia sedang menyibukkan diri di butik khaira yang akan di resmikan esok hari.


Di sana juga ada bunda Annisa yang membantu mereka mengurus semua keperluan peresmian butik. Kerja sama yang sudah di rancang selama beberapa bulan kini mulai menampakkan hasil nya.


Khaira tak henti-henti nya mengucap syukur kepada Allah karna akhir nya Allah membuka kan jalan untuk diri nya mewujudkan semua mimpi yang telah ia rancang selama bertahun-tahun.


Senyuman tak pernah luntur dari bibir khaira ia terus menatap butik yang telah di dekor untuk peresmian nya besok.


Senyum nya semakin melebar saat mata nya tak sengaja menangkap logo yang ada di depan butik tersebut bertuliskan ' BOUTIQUE KHAIRA '.


BOUTIQUE KHAIRA adalah nama butik yang telah di bangunkan khaira, ia sempat menolak saat bunda Annisa mengusulkan jika nama butik tersebut di namai atas nama nya. Namun bunda Annisa memaksa nya agar butik itu tetap diberi nama dengan nama khaira.


Sempat terjadi perdebatan antara khaira dan bunda Annisa saat kemarin mereka membicarakan soal nama butik yang akan di berikan.


••• FLASHBACK ON •••


" Kira-kira apa ya nama butik yang cocok untuk butik kita ini ? " Tanya khaira, sambil mengamati bunda Annisa dan Azkia yang ada di hadapan nya.


Saat ini mereka sedang berada di kafe yang bersebelahan dengan butik yang mereka bangun. Membicarakan seputaran acara yang akan di adakan saat peresmian butik sambil menikmati secangkir kopi susu hangat.


" Apa ajalah bun, yang terpenting nama butik nya harus memiliki makna yang bagus, karna nama itu kan bisa jadi sebuah doa, sama seperti nama manusia setiap nama pasti akan menjadi doa bagi pemilik nya ".


Ucap khaira sambil menampilkan senyuman nya lalu menyeruput kopi susu yang ada di atas meja.


" Heumm.... Benar juga apa yang kamu bilang aku setuju, tapi nama nya apa ya ? "


Ucap Azkia, yang duduk di sebelah bunda Annisa, lalu ia mengalihkan pandangan nya ke atas atap kafe seolah ia sedang berfikir.


" Aaahaa........ "


Bunda Annisa dan khaira mengalihkan pandangan nya ke arah Azkia saat mendengar suara Azkia yang seperti kegirangan.


Azkia menjentikkan jari nya sambil menampilkan senyuman kegirangan nya, saat ia sudah menemukan sebuah ide tentu nya takkan ada yang menolak ide nya itu.


" Aku tau nama apa yang tepat untuk butik kita "


Bunda Annisa dan khaira saling pandang saat mendengar penuturan Azkia. Mereka menatap ke arah Azkia dengan menaikkan sebelah alis nya seolah mereka bertanya pada Azkia ' APA ??? '.


" BOUTIQUE KHAIRA..... "


Ucapan Azkia membuat khaira membelalak kan mata nya, ia tampak tak setuju dengan apa yang di usulkan Azkia.


Berbeda dengan bunda Annisa ia menampilkan senyum nya setelah memikirkan nama butik yang di usulkan menantu nya itu.


" Loh kenapa harus ada nama aku ? .aku ngak setuju cari nama lain aja" Ucap khaira ia megelengkan kepala nya tanda tak setuju dengan usul yang di berikan azkia.

__ADS_1


" kenapa ? bagus loh jika butik itu kita beri sedikit nama kamu di sana, kan kamu sendiri yang bilang kalau kita harus menamai butik itu dengan nama yang bagus ".


Ucap bunda Annisa, ia menatap ke arah khaira yang masih menampakkan wajah nya yang keberatan untuk menerima usulan azkia .


" Iya aku memang minta agar butik nya di kasih nama yang bagus, tapi jangan pake nama aku juga kesan nya ini ngak ' afdhal ' banget, butik ini kan kita bangun bersama jadi nama nya pun kita juga harus adil jangan hanya memihak pada satu pihak "


Ucap khaira ia juga menatap bunda Annisa dan azkia secara bergantian.


" Khaira nama kamu itu memiliki makna yang bagus, خيرا Dalam bahasa Arab yang berarti ' kebaikan ' , bukan kah itu sesuatu yang bagus jika nama butik itu, kita namai dengan nama yang memiliki arti kebaikan.


Itu akan menjadi suatu doa, sebagai harapan kita kelak butik itu akan memberikan manfaat dan kebaikan bagi setiap orang yang mengunjungi nya ".


Sejenak khaira mencerna kata-kata yang di ucapkan Azkia, dalam hati nya ia setuju jika alasan itu yang di gunakan untuk memakai nama nya pada butik tersebut.


Namun ia merasa berat karna hal tersebut terasa kurang adil untuk bunda Annisa dan Azkia.


" Tapi bunda butik itu kan bukan milik khaira jadi rasa nya kurang pantas jika di atas nama kan atas nama khaira " .


Khaira tetap mempertahankan pendapat nya hal ini juga menyangkut masa depan butik itu, bagaimana jika nanti nya hal ini akan menjadi masalah bagi mereka kelak.


" Ya sudah kalau begitu bunda akan mengalihkan tanah beserta toko nya untuk kamu, anggap saja itu sebagai bentuk pinjaman modal kamu sama bunda "


Khaira menatap tak percaya saat mendengar ucapan bunda Annisa bagaimana mungkin butik itu di alihkan pada nya sementara selama ini mereka membangun usaha itu bersama-sama.


" Ya ngak mungkin lah bun.... Butik itu kan kita bangun secara bersama-sama, jadi mana mungkin dengan semudah itu bunda mengalihkan nya pada khaira, lagi pula kan masih ada Azkia yang lebih berhak menerima nya karna dia kan menantu bunda "


Ucap khaira ia berusaha menyangkal apa yang di usulkan bunda Annisa.


" Bunda tidak memberikan nya secara percuma sama kamu, nanti kamu bisa mengembalikan semua modal yang kamu pinjam sama bunda jika usaha kamu sudah maju, "


Ucap bunda Annisa khaira hanya terdiam mencoba mencerna setiap kata-kata yang di ucapkan bunda Annisa.


" Kalau soal Azkia, nanti bunda pasti akan memberikan nya sebuah toko yang bisa ia kembangkan.


Lagi pula bunda kan tidak bilang mau buka usaha bersama kamu, waktu itu bunda hanya bilang mau meminjamkan modal usaha untuk kamu karna melihat kinerja kerja kamu yang cukup bagus ".


" Tapikan bunda juga ikut andil dalam membangunkan butik ini, jadi itu sama arti nya dengan kita bekerja sama ".


Bunda Annisa yang mendengar ucapan khaira tersenyum.


" Bunda sudah menganggap Alfi seperti anak kandung bunda sendiri dan kamu kan istrinya, itu arti nya kamu juga menantu bunda anggap saja semua bantuan yang bunda berikan sama kamu sebagai bantuan orang tua terhadap anak nya " .


Ucap bunda Annisa ia mengenggam tangan khaira sambil memperlihatkan senyuman yang membuat wajah nya semakin terlihat muda meski pun kini usia nya sudah setengah abad.


" Atau gini aja, nanti kalau butik kamu udah punya modal dan bisa membangunkan cabang nya kamu bisa jadikan cabang itu atas nama Azkia "


Khaira mencoba mempertimbangkan tawaran yang diberikan bunda Annisa.


" Baiklah aku setuju setuju, kamu ngak apa-apa kan Azkia jika aku akan memberikan cabang butik ku nanti nya? ".


Tanya khaira pada azkia, sambil menatap ke arah nya.


" Ia aku ngak masalah, malah aku senang bisa bekerja dengan kamu meski pun hanya sebatas asisten saja " Jawab Azkia sambil tersenyum ke arah khaira.


" Kalau begitu berarti kita sudah sepakatkan kita akan kasih nama butik nya ' BOUTIQUE KHAIRA ' " Ucap bunda Annisa.


Khaira dan azkia pun menganggukkan kepala nya.


••• FLASHBACK OFF •••


Khaira tersenyum sambil menatap butik yang berdiri kokoh di hadapan nya. Sampai sebuah suara mengalihkan pandangan nya.


" Khaira..... "


Khaira mengalihkan pandangan nya kesal suara ia begitu kaget saat melihat orang yang baru saja memanggil nama nya.


"ELISA.....??? "


-


❓❓❓❓❓


Happy Reading......


Nantikan kelanjutan episode selanjut nya 🙏😊


Salam Author


-


Ety Salmila

__ADS_1


__ADS_2