
*** Salah satu tempat ter nyaman bagi kita adalah rumah. di mana kita akan kembali dalam suka dan duka membawa seribu cerita saat kita kembali dari perjalanan kita yang panjang *** .
💧💧💧💧💧
" Ceklekk.. "
Suara pintu utama yang terbuka, seorang laki-laki memasuki rumah yang terbilang mewah tersebut.
Dia adalah Alfi, saat ini waktu sudah menunjukan jam 03: 40 pagi. Untuk pertama kali nya Alfi pulang kerumah lebih dari pukul 1 pagi karna biasa nya ia pulang paling telat sebelum jam 1 pagi.
Alfi melangkah kan kaki nya menaiki tangga menuju ke kamar nya yang berada di lantai dua. saat ia sudah berada di depan pintu kamar ia meraih gagang pintu namun ternyata di kunci oleh khaira dari dalam. untung nya alfi memiliki kunci cadangan yang ia letakkan di laci meja kecil yang ada di depan kamar nya.
Alfi membuka laci meja lalu mencari kunci cadangan kamar nya setelah menemukan nya Alfi langsung membuka pintu kamar dan melangkah masuk ke dalam nya.
saat ia sudah berada di dalam kamar ia kembali menutup pintu dan menggunci nya.
ketika ia membalik kan badan nya ingin melangkah ke arah ranjang dilihat nya khaira yang tertidur di sofa.
" kenapa dia tidur di sofa padahal kan dia bisa saja tidur di ranjang saat aku tidak pulang " gumam Alfi dalam hati, lalu ia kembali melanjutkan langkah nya ke arah tempat tidur dan berbaring disana hingga ia terlelap dalam tidur nya.
Waktu sudah menunjukan jam 05: 30 pagi
khaira terbangun saat mendengar suara adzan dari HP nya,
khaira menggunakan aplikasi jadwal shalat di HP nya sehingga pada saat waktu shalat telah tiba HP itu akan mengumandangkan suara adzan dengan sendirinya.
Khaira mengerjabkan mata nya berulang kali untuk menyesuaikan dengan cahaya lampu yang masih menyala di kamar nya.
semalam ia sengaja tetap menyalakan lampu kamar karna ia tidur sendiri jadi ada rasa takut jika ia tidur dalam keadaan gelap.
khaira yang sudah bangun langsung merubah posisi nya menjadi duduk, ia merentangkan tubuh nya berulang kali untuk meregangkan tubuh nya yang terasa pegal karna iya tidur di sofa.
" Huaammm.. " khaira menguap sambil meregangkan tubuh nya. memutarnya kekanan dan ke kiri.
" lain kali loe boleh tidur di ranjang kalau gue ngak pulang " khaira terkejut saat mendengar suara seseorang, ia menghentikan aktifitasnya itu dan mencari asal suara tersebut.
Mata nya terbelalak saat melihat Alfi yang bersender di kepala ranjang sambil menatap kearah nya.
" abang kapan pulang? " tanya khaira ia kaget melihat Alfi tiba-tiba ada dikamar.
sejak kapan Alfi pulang padahal semalam kan ia sudah menunggu nya pulang hingga lebih dari jam dua pagi, dan zuhdi bilang Alfi semalam nginap di kosan teman nya.
" hey ngapain bengong di situ ?" ucapan Alfi membuat khaira tersadar dari lamunan nya.
" ngak siapa yang bengong, oe ya abang kapan pulang bukan nya semalam abang tidur di kosan teman abang ya? " tanya khaira sambil melangkah mendekati Alfi.
Alfi mengernyit kan dahi nya saat mendengar ucapan khaira pasal nya semalam saat khaira menelpon nya ia tidak mengatakan kalau ia akan nginap di kosan teman nya.
" Semalam aku tunggu abang pulang sampai ketiduran diruang tamu untung ada zuhdi yang bangunin aku " ucap khaira setelah ia sampai di samping ranjang dan mendudukkan diri nya disana.
Alfi mengernyitkan dahi nya saat mendengar penuturan khaira seolah ia tak percaya.
" masa iya dia nunggu gue pulang sampai ketiduran diruang tamu " batin Alfi sambil terus memandang ke arah khaira.
" terus zuhdi bilang kalau abang paling telat pulang ke rumah jam satu dan biasa nya kalau sudah terlalu malam abang akan nginap di kosan teman abang, jadi kapan abang pulang aku ngak mendengar suara pintu yang terbuka saat abang masuk ke kamar ." lanjut nya lagi yang di akhiri dengan pertanyaan.
" ya iya lah loe ngak dengar, orang loe tidur kaya kebo " ucap Alfi sambil terkekeh, khaira memajukan bibirnya ia tak Terima Alfi mengatakan nya seperti itu.
" lagian loe ngapain tunggu gue pulang? " tanya Alfi datar pandangannya masih mengarah kepada khaira.
khaira yang mendengarkan pertanyaan Alfi mengernyitkan dahi nya
" bukan nya itu memang tugas ku sebagai seorang istri menunggu suami nya pulang. lagian semalam abang kemana sampai lewat tengah malam ngak pulang-pulang " tanya khaira.
" bukan urusan loe " ucap Alfi datar, yang membuat mata khaira melebar saat mendengar jawaban yang diberikan alfi. ia merasa geram saat Alfi berbicara seperti itu pada nya.
"aku kan udah bilang itu menjadi urusan ku karna kamu suami ku jadi tentu saja itu menjadi hak ku sebagai seorang istri " ucap khaira sambil menghembus nafas nya kasar dan membuang pandangan nya ke arah lain.
" gue kan juga udah bilang ngak usah sok-sokan jadi istri yang baik untuk gue, apa lagi pake nunggu - nunggu gue pulang segala " ucap Alfi sambil menatap sinis ke arah khaira.
" kamu aneh banget jadi orang, istri perhatian bukan nya terima kasih malah marah - marah, di mana - mana Suami akan senang kalau istri nya perhatian nah ini malah marah " ucap khaira,menatap sekilas kerah Alfi lalu kembali membuang pandangannya ke arah lain.
" ya gue juga bakal senang kalau istri gue perhatian tapi bukan dari loe karna gue ngak butuh " ucap Alfi seraya bangkit dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
" lalu kamu mau nya di perhatikan sama siapa? apa kamu ingin di perhatikan sama perempuan itu? " ucapan khaira membuat langkah kaki Alfi terhenti ia kembali membalikkan badan nya menghadap khaira.
" Apa maksud ucapan loe barusan? Dan siapa wanita yang loe maksud itu? " tanya Alfi sambil menyipitkan mata nya, berusaha meminta penjelasan atas ucapan khaira barusan.
" harus nya aku yang nanya seperti itu siapa wanita yang dengan lancang nya mengangkat telpon mu kemarin saat aku menelpon mu? " ucap khaira ia menatap tajam ke arah Alfi.
" wanita yang mana aku ngak ngerti apa yang kamu maksud? " ucap Alfi sambil menatap ke arah khaira dengan tatapan penuh tanda tanya.
" udah lah ngak usah pake pura-pura lupa, jawab aja dengan jujur siapa wanita itu kalau memang itu selingkuhan mu bilang aja yang sejujur nya aku ngak akan marah" ucap khaira ia masih terus menatap Alfi namun kini tatapan nya terlihat redup seperti mencoba menyimpan luka yang ia rasakan.
sejenak Alfi berfikir siapa wanita yang di maksud khaira dan telah mengangkat telpon nya semalam pasal nya ia tidak menemukan panggilan tak terjawab dari khaira selain saat ia baru saja selesai bermain voli.
Ya, semalam Alfi tak pulang kerumah saat pulang kerja karna dia dapat tawaran main voli di luar kota, karna takut terlambat datang ke lokasi akhirnya ia memutuskan segera berangkat ke lokasi yang di tuju tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu.
setelah cukup lama berfikir akhirnya ia tau siapa yang telah mengangkat telpon nya, dia Riska salah satu teman wanita yang cukup dekat dengan nya.
Namun ia segaja tak mengundang Riska pada saat resepsi pernikahan nya karna ia tau jika Riska mempunyai perasaan lebih dari sekedar teman padanya. ia takut akan membuat Riska sakit hati dan akan membuat pertemanan nya dengan Riska renggang.
Alfi terdiam mendengar apa yang khaira ucapkan barusan, apalagi saat menatap tatapan mata khaira ia dapat melihat jika khaira kini sedang mencoba menahan air mata nya. Alfi langsung mengalihkan pandangan nya saat menatap tatapan mata khaira.
" Dia bukan selingkuhan gue, dan loe jangan ikut campur apa pun masalah pribadi gue " ucap Alfi lalu membalikkan badan nya.
saat ia ingin melangkah Lagi-lagi ucapan khaira membuat langkah nya terhenti.
" abang yakin kalau dia bukan siapa-siapa abang? " ucap khaira ia bangun dari duduk nya dan kini berdiri tepat di belakang Alfi.
" jika abang memang ada hubungan dengan wanita itu tolong jawab jujur aja aku akan coba mengerti karna kita menikah memang bukan atas dasar cinta jadi aku tidak berhak melarang abang untuk mencintai seseorang " ucap khaira sambil menatap punggung Alfi yang kini membelakangi nya.
Alfi kembali membalikkan badan nya menghadap khaira.
" loe tuli ya gue kan udah bilang dia bukan siapa-siapa gue kita cuma temenan dan loe tau kan kalau gue punya banyak teman baik itu cowok mau pun cewe, jadi gue minta loe jangan nuduh gue sembarangan " ucap Alfi sambil menatap tajam ke arah khaira.
" Dan satu lagi gue udah bilang loe ngak boleh ikut campur urusan gue, mau gue punya wanita lain atau tidak itu bukan urusan loe, NGERTii.... " ucap nya lagi, lalu membalikkan badanya lagi berjalan kedalam kamar mandi meninggalkan khaira yang mematung karna ucapan nya.
khaira hanya terdiam mendengar ucapan Alfi ' SESAK ' itu lah yang ia rasakan dalam hati nya sikap dingin Alfi telah membuat jarak nya dengan Alfi terlalu jauh, bahkan Alfi seolah menganggap ia tak ada di hidup nya.
Khaira terduduk lemah di atas ranjang bahkan kini air mata nya telah meluncur deras di pipi nya.
" Ceklekkk... "
Alfi keluar dengan pakaian santai kaos oblong hitam dan celana yang panjang nya selutut.
Khaira langsung berjalan kedalam kamar mandi dengan menundukkan kepala nya ia tak mau jika Alfi melihat nya menangis.
Setelah 20 menit berada di dalam kamar mandi khaira keluar dengan pakaian yang biasa ia kenakan gamis
polos warna hijau muda dan hijab yang menutupi hingga pinggang dan bagian dada nya.
Selama ia menikah dengan Alfi tak sekali pun ia melepas hijab nya di depan Alfi, bahkan saat tidur sekali pun ia tetap memakai nya. bukan ia tak mau hanya saja ia belum siap karna ia belum bisa mencintai Alfi sepenuh nya dan di tambah lagi sikap Alfi yang dingin menunjukan jika ia tak suka pada khaira.
" hari ini kita pulang ke kampung " ucapan Alfi membuat khaira menoleh padanya yang kini sedang duduk di kepala ranjang sambil memainkan handphone nya.
khaira mengernyitkan dahi nya bukan nya waktu itu Alfi bilang kalau mereka akan menginap di sini selama 3 hari dan sekarang mereka baru 2 hari disini kenapa Alfi mengajak nya pulang?.
" loh bukan nya kemarin abang bilang kita akan ginap disini selama tiga hari? " tanya khaira pada Alfi. ia melangkah ke arah meja rias lalu duduk di kursi meja rias yang ada di sana.
" kenapa? loe ngak mau pulang kerumah orang tua loe lagi? " alfi menjawab pertanyaan khaira dengan bertanya balik pada khaira.
" bukan gitu kemarin kan abang bilang ada pekerjaan disini, " jawab khaira.
" gue ada jadwal main voli nanti malam di daerah sana makanya gue ngajak loe pulang hari ini " ucap Alfi tanpa mengalihkan pandangan nya dari benda pipih yang ada di tangan nya itu.
" lagi pula besok kan hari pernikahan teman loe yang bernama silvia itu kan? " ucapan Alfi membuat khaira melongo pasal nya ia lupa kalau besok adalah hari pernikahan Silvia sekaligus resepsi.
" Astagfirullah.... " ucap khaira seraya menepuk jidat nya.
" Aku lupa kalau besok Silvia akan nikah, tapi aku bawa kado apa ya soal nya aku belum sempat beli kado untuk nya " tanya khaira lebih kepada dirinya sendiri walau di dengar oleh Alfi yang berada didekat nya.
" Memang nya Silvia kemarin dia bawa kado apa buat loe? " tanya Alfi pada khaira ia menatap sekilas ke arah khaira lalu kembali menatap layar pipih itu.
Khaira yang mendengar ucapan Alfi mencoba memutar ingatan nya untuk mengingat apa yang di bawa Silvia waktu itu. Muka nya berubah merah saat ia mengingat ketika dia membuka kado dari Silvia, sebuah baju tidur berwarna merah tanpa lengan dengan panjang nya selutut, hampir sama dengan lingerie, Namun baju yang di bawa Silvia lebih tertutup dari pada lingerie.
Saat khaira mencocokkan pada diri nya khaira merasa geli sekaligus malu jika sampai alfi melihat nya memakai pakaian seperti itu, ia terlihat seperti wanita penggoda.
__ADS_1
" Muka loe kenapa merah gitu? " pertanyaan Alfi membuat khaira membuyarkan ingatan nya tentang kado yang ia Terima dari silvia.
" eh eng.. engga kenapa - napa kok " jawab khaira sambil tersenyum kikuk.
" loe belum jawab pertanyaan gue tadi, kemarin silvia bawa apa buat loe? "
Lagi-lagi Alfi membuat khaira menjadi salah tingkah ia tak tau harus menjawab apa, tak mungkinkan jika ia bilang yang sebenar nya apa yang silvia bawa untuk nya. Namun ia juga tak ingin berbohong pada alfi.
" it.. itu kemarin silvia bawa baju untuk ku " ucap khaira agak gelagapan. memang benarkan apa yang khaira katakan ia tak sepenuh nya berbohong.
" oe ya udah kalau gitu loe juga bawa baju aja buat dia, nanti kita mampir di toko baju saat kita pulang kesana " ucap Alfi sambil menatap ke arah khaira..
" ya udah kalau gitu aku setuju " jawab khaira sambil tersenyum.
" tapi gue ngak bisa datang kesana besok? "ucap Alfi lagi, khaira menaikkan sebelah alis nya mendengar penuturan Alfi.
" kenapa? " tanya khaira singkat. sambil terus menatap ke arah Alfi.
" gue besok harus kembali kesini karna ada pekerjaan " ucap Alfi khaira hanya mengangguk - anggukkan kepala nya tanda mengerti.
" jadi abang beneran ngak bisa datang? padahal silvia pasti sangat senang kalau abang datang ke pernikahannya secara kan abang itu ' babang tampan ' nya silvia. " ucap khaira seraya meniru gaya silvia bicara saat menyebutkan kata
' babang tampan'.
Alfi hanya menggelengkan kepala nya sambil tertawa kecil saat mendengar khaira menirukan gaya bicara silvia. Alfi masih mengingat saat untuk pertama kali nya silvia menemui nya dilapangan voli waktu itu gaya bicara nya membuat Alfi merasa geli sendiri. Alfi mengidikkan bahu nya sambil tersenyum memikirkan sikap Silvia pada nya lalu kembali memainkan handphone nya.
Hari sudah menunjukkan pukul 13: 30, setelah selesai shalat zuhur dan makan siang, sesuai dengan yang telah direncanakan Alfi dan khaira segera bersiap-siap untuk pulang ke desa tempat tinggal khaira. Saat khaira mencoba memasukkan pakaian nya ke dalam tas ransel yang ia bawa Alfi malah menegur nya.
" Mau ngapain " tanya Alfi pada khaira saat ia melihat khaira memasukkan pakaian nya ke dalam tas.
" emang nya ngak liat aku lagi masukin baju-baju ku untuk dibawa pulang " jawab khaira tanpa menoleh ke arah Alfi ia masih terus melanjutkan kegiatan nya itu.
" udah ngak usah dibawa pulang tuh baju nanti kalau loe kesini lagi loe ngak perlu bawa banyak baju lagi " ucap Alfi sambil melihat khaira yang masih memasukkan baju-baju nya ke dalam tas.
" aku ngak punya banyak baju disana kalau aku ngak bawa pulang ni baju nanti aku pake apa disana " jawab khaira kini ia menatap ke arah Alfi yang berdiri di dekat nya.
" Nanti kita beli yang baru buat di bawa pulang kesana, lagi pula kan nanti kita juga akan mampir di toko baju buat beli baju yang akan kamu bawa untuk Silvia besok " ucap Alfi lagi.
" ngak usah aku ngak mau dibeli baju baru, cukup beli baju buat Silvia aja " ucap khaira yang telah selesai memberekan semua perlengkapan nya kedalam tas.
" loe gimana sih gue punya niat baik di tolak nah giliran gue nya bersikap tidak baik loe malah ceramahin gue panjang lebar, aneh loe jadi orang " ucap Alfi pada khaira yang kini hanya diam menanggapi ucapan nya.
" udahlah pusing gue ngak tau cara ngadepin loe, kalau udah selesai cepetan keluar gue tunggu di ruang tamu " ucap Alfi lagi lalu berlalu keluar, meninggal kan khaira di kamar.
" justru aku lah yang bingung tidak tau cara menghadapi sikap mu yang berubah-ubah kadang baik, kadang juga berubah menjadi dingin " gumam khaira dalam hati.
" Huufff...."
khaira menghembuskan nafas nya kasar lalu di angkat nya tas ransel yang berisi perlengkapan nya dan berlalu keluar kamar menyusul Alfi yang sudah lebih dulu keluar.
saat ia menuruni tangga menuju ke lantai bawah, di lihat nya alfi yang sudah lebih dulu berada disana, dan juga mama Alfi yang sedang mengobrol dengan alfi.
" udah siap ngak ada yang ketinggalan kan? " tanya alfi pada khaira saat ia sudah sampai di lantai bawah. khaira hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.
" ya sudah kalau gitu alfi dan khaira pamit ya ma, tapi besok alfi akan pulang lagi kesini karna alfi harus kerja besok " ucap Alfi sambil menyalami tangan mama nya.
" iya kalian hati-hati di jalan ya, Alfi bawa mobil jangan ngebut - ngebut ingat sekarang ada istri kamu yang mesti kamu jaga dan siapa tau sudah ada nyawa baru di dalam sana yang menambah tanggung jawab kamu. " ucap mama Alfi sambi cengengesan, Alfi tersenyum kikuk saat mendengar ucapan mama nya tentu saja ia mengerti apa maksud ucapan mama nya itu.
khaira hanya menundukkan kepala nya ia tak tahu jika nanti mertua nya bertanya perihal ' itu ' pada nya apa yang harus ia katakan, pasal nya hubungan nya dengan Alfi saat ini bagaikan dua kutub yang sulit untuk si satukan.
Setelah berpamitan pada mama Alfi, khaira dan Alfi bergegas menuju ke mobil dan menelusuri jalanan kota yang masih ramai karna saat ini jam pulang nya sekolah.
Seperti yang Alfi katakan saat mereka masih berada di rumah nya Alfi membawa khaira kesalah satu toko pakaian khusus wanita untuk membeli baju yang akan khaira bawakan sebagai kado pernikahan untuk Silvia.
Tak hanya membelikan kado untuk Sivia, Alfi juga membelikan beberapa setelan baju untuk khaira, meskipun khaira sudah menolak nya namun Alfi tetap memaksa khaira untuk membelikan nya.
Khaira yang malas berdebat dengan Alfi akhirnya menuruti apa yang di inginkan laki-laki itu.
Setelah selesai membeli pakaian untuk Silvia dan khaira dan juga membeli beberapa cemilan untuk di bawa pulang , mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju kerumah khaira.
setelah menempuh waktu 3 jam lebih akhirnya mereka sampai di desa khaira dan di sambut ramah oleh mama khaira yang tak menyangka menantu dan anak nya akan pulang lebih cepat dari pada yang telah direncanakan.
💚 💚 💚 💚
__ADS_1