Adakah Aku Dalam Hatimu

Adakah Aku Dalam Hatimu
Resepsi Pernikahan Alfi & Khaira


__ADS_3

*** Raga ku memang berada di sampingmu


Namun hati ku terasa begitu jauh


Begitu pun dengan dirimu


Yang tak pernah mencintaiku....


Namun aku ingin menjadi ombak dilautan


yang siap menerjang walau


Sebesar dan sekeras apapun karang


yang menghadangnya


Begitulah diriku yang kini mencoba


Menembus keras nya hatimu..... ***


 


💕 KHAIRA NAJWA SAFIRA 💕


🔷🔷🔷🔷🔷


Suara adzan yang berkumandang membuat khairan terbangun dari mimpi indah nya.mimpi yang hanya membuat nya tersenyum walau hanya sesaat dan kini setelah ia terbangun dari mimpinya itu, ia kembali harus menghadapi pahit nya kehidupan yang kini ia jalani.


khaira mengerjapkan mata nya berulang kali untuk menstabilkan penglihatan nya,saat ia mulai bisa menetralkan penglihatan nya,dilihat nya jam dinding yang ada dikamar nya, yang sudah menunjukkan pukul 5:30 pagi. khaira bergegas bagun dari tempat tidur, menuju kekamar mandi membersihkan diri nya kemudian berwudhu dan shalat subuh.


Selesai shalat ia melantunkan beberapa ayat suci Al-Quran dan tak lupa pula ia berdoa kepada Allah, agar hubungan nya dan Alfi semakin membaik.


Hari ini akan menjadi hari yang bersejarah bagi setiap pasangan yang baru menikah, hari yang penuh kebahagiaan dengan pesta yang Megah. Menjadikan nya kenangan yang tak terlupakan. tapi tidak bagi khaira ia tidak tahu haruskah ia bahagia menghadapi hari yang bersejarah ini?.


Dilubuk hati nya yang terdalam terdapat sebuah rasa sakit dan kesedihan yang ia rasakan. Melupakan orang yang di cintainya tak semudah ketika dia mengucapkan nya. rasa sakit itu terpaksa ia rubah menjadi sebuah kebahagiaan demi orang-orang yang ia cintai.


Hari sudah menunjukkan pukul 09:15 pagi, rombongan pengantin pria akan datang jam 01: 30 siang.penata rias yang akan menghiaskan wajah khaira dengan polesan make up pun sudah datang. Khaira duduk di depan meja rias nya di samping nya ada penata rias yang mulai memoleskan wajah nya dengan berbagai polesan make up.


Saat khaira sedang dihias dengan berbagai make up Silvia masuk kedalam kamar khaira untuk menemui nya.


" Hy pengantin baru, selamat pagi dan selamat berbahagiaaa.... "teriak Silvia dengan suara cempreng nya sambil melangkah masuk menuju pada khaira.


Khaira yang sedang di hias tidak melihat ke arah belakang tempat Silvia berdiri, karna tanpa ia melihat pun dia sudah tahu siapa lagi pemilik suara cempreng sekaligus lebay itu selain sahabat baik nya.


" kamu bisa ngak siih ngak usah teriak-teriak aku juga dengar kali apa yang kamu bilang, memang nya kamu fikir ini pasar? " ucap khaira dengan nada jengkel, matanya terpejam karna penata rias sedang menghias wajah nya.


" Aduh...duhduhh... Pengantin baru kok galak amat sih harus nya kamu hari ini bersikap kalem, diam jangan banyak bicara agar kamu semakin terlihat anggun, jangan galak-galak dong nanti babang Alfi tampan malah kabur saat melihat pengantin wanitanya segalak kamu" ucap Silvia panjang lebar, ia terkekeh saat mengatakan kata-kata berakhir nya membayangkan reaksi Alfi yang mendapati sifat galak nya khaira seperti macan yang sedang mengamuk .


Khaira memutar matanya malas mendengar ucapan Silvia yang terlalu berlebihan, apalagi saat mendengar Silvia masih menyebut Alfi dengan sebutan ' babang tampan', huff... malah membuat nya tambah jengkel, bukan ia cemburu hanya saja ia merasa Silvia terlalu berlebihan, ya meski pun pada kenyataan nya Alfi memang tampan siih tapi percuma punya wajah tampan kalau sikap nya itu selalu membuat ia naik darah.


" aduhh Silvia kamu ngak perlu nyebut-nyebut dia dengan embel-embel ' babang tampan ' geli tau ngak dengar nya. " ucap khaira, sambil meniru gaya bicara Silvia saat menyebut kata ' babang tampan ' wajah nya sama sekali tidak menampakkan senyum. penata rias masih terus melanjutkan tugas nya tanpa memperdulikan dua orang sahabat baik itu yang sedang bertengkar.


" cie.. cieee... yang cemburu karna suami nya di puji sama wanita lain" Silvia tersenyum sambil mengarahkan kepalanya ke wajah khaira yang sedang dirias.


khaira membuka mata nya sekilas saat merasakan ada yang memperhatikan nya dari dekat. dan saat ia membuka matanya ia melihat wajah Silvia yang ada didepannya sambil tersenyum tidak jelas.

__ADS_1


"padahal yang muji aku loh sahabat baik nya eh tapih tetap aja ia cemburu. kayak nya kamu takut banget kehilangan dia, tenang aja ira sayang, ngak akan aku ambil pujaan hati mu itu karna minggu depan aku juga udah nikah jadi tenang aja semua nya aman" ucap Silvia pada khaira ia terkekeh geli saat melihat khaira menatap tajam ke arah nya walau pun sedang di rias tapi sahabat nya itu masih saja bisa bersikap galak pada nya.


Khaira benar-benar kesal mendengar ucapan Silvia yang selalu mengejek nya andai ia tidak sedang di rias pasti sahabat nya itu sudah dicakar nya.


" via lebih baik kamu keluar deh jangan bikin mood ku tambah hancur " ucap khaira pada Silvia, ia tak perduli jika Silvia marah padanya karna ucapan nya itu, habis nya itu salah silvia sendiri yang sudah membuat mood nya jadi tambah anjlok.


" kamu ngusir aku, jahat banget sih kamu masak kamu tega ngusir sahabat mu sendiri, aku datang kesini baik-baik bawa kado lagi buat kamu eh kamu malah ngusir aku. " ucap Silvia dengan memajukan bibir nya seperti anak kecil yang sedang merajuk.


Khaira melirik ke arah Silvia sesaat, ia memutar mata nya jengah karna melihat sikap over lebay Silvia yang sudah mulai keluar.


" siapa yang ngusir aku hanya tidak suka aja mendengar ucapan kamu tadi terlalu berlebihan tau ngak?" ucap khaira kemudian. Silvia tidak menanggapi apapun yang dikatakan khaira ia masih betah dengan wajah nya yang seperti benang kusut itu.


"hufff... " khaira menghembus nafas nya kasar


" ya udah aku minta maaf deh kamu boleh disini temani aku tapi kamu harus diam ngak boleh banyak bicara" ucap khaira lebih baik ia mengalah dari pada sahabat nya itu tak mau bicara lagi pada nya.


Sudah menjadi kebiasaan Silvia, kalau mereka sudah berdebat Silvia takkan mau bicara pada khaira atau meminta maaf padanya, dan pada akhirnya khaira lah yang harus minta maaf pada Silvia walau pun sebenar nya yang salah itu Silvia tapi tetap saja ia yang harus meminta maaf duluan.


"via maafin aku ya aku janji deh ngak akan ngomong gitu lagi sama kamu " ucap khaira lembut, dalam hati nya ia tertawa ia seperti sedang membujuk anak kecil yang sedang merajuk.


"beneran kamu janji ngak bakal ngusir aku lagi " tanya Silvia pada khaira wajah nya masih sama tidak menampakkan senyum.


" ia aku janji, tapi kamu harus diam ngak boleh banyak bicara, soal nya kakak ini kan butuh konsentrasi saat memoles wajah ku agar tidak terjadi kesalahan dan hasil nya juga akan sempurna " jawab khaira ia berusaha memberi pengertian pada Silvia agar ia mengerti dan tidak banyak bicara pada nya.


" ya udah deh aku maafin aku janji akan diam dan ngak banyak bicara tapi ini aku mau kasih kamu kado " ucap Silvia sambil tersenyum sambil menunjukkan sebuah kotak berukuran sedang yang dibaluti dengan kertas kado berwarna biru muda dengan motif bunga-bunga dan hiasan pita diatas nya.


.


" eumm... apa tuh isi nya? " tanya khaira pada silvia setelah sekilas ia melirik ke arah kado yang ada di tangan Silvia.


" loh memang nya kenapa? ada masalah? itu isi kado nya ngak aneh-aneh kan?" tanya khaira ia merasa bingung mengapa Silvia meminta khaira sendiri yang membukanya.


Silvia hanya tersenyum mendapat pertanyaan dari khaira.


khaira melihat wajah Silvia yang tersenyum dari pantulan cermin di depan nya, ia merasa bingung mengapa Silvia tersenyum seperti itu hingga ia memikirkan hal-hal negatif tentang Silvia. khaira memicingkan mata nya dan bertanya pada Silvia.


" kamu kenapa senyum-senyum gitu? Jangan-jangan benar apa yang aku bilang ya kamu kasih aku kado yang aneh-aneh? atau jangan-jangan ini isi nya bom? " khaira menanyakan berbagai pertanyaan hingga Silvia bingung harus menjawab yang mana terlebih dahulu.Silvia kaget saat mendengar kata-kata terakhir khaira.


" huchh... enak aja kalau ngomong ngapain coba aku kasih kamu bom" ucap Silvia pada khaira ia merasa kesal saat khaira menuduh nya melakukan hal-hal yang di luar pemikiran nya.


" habis kamu sih pake bilang aku yang harus buka sendiri kado nya kan aku jadi berfikir yang ngak-ngak tentang kamu " ucap khaira lagi.


" udah nanti kamu lihat sendiri apa isi nya sekarang lebih baik kamu diam biar make up nya cepat selesai " ucap Silvia mengakhiri perdebatan nya dengan khaira.


" heum... " khaira hanya bergumam menanggapi perkataan Silvia.


" kalau gitu aku taruh dimana ni kado nya? " tanya Silvia pada khaira.


" kamu taruh aja di dalam lemari bajuku " jawab khaira. Silvia pun berjalan kearah lemari yang ada di kamar khaira lalu menaruh kado yang si bawanya tadi di dalam lemari tersebut.


kemudian ia kembali duduk di tepi kasur tempat tidur khaira dan mengamati penata rias yang sedang memoles wajah khaira dengan teliti. satu jam kemudian khaira selesai dirias, butuh waktu hampir dua jam untuk menunggu khaira selesai dirias.


khaira berdiri dari duduk nya dan membalikkan badannya ke arah Silvia, Silvia yang melihat khaira sangat kagum dengan hasil make up yang benar-benar sempurna. kini wajah khaira terlihat semakin cantik dengan balutan busana khas daerah mereka.


khaira keluar dari kamar nya menuju pelaminan didampigi oleh Silvia dan penata rias. setelah sampai di atas pelaminan khaira duduk di sisi kiri menunggu kedatangan Alfi dan rombongan nya yang sebentar lagi akan sampai.

__ADS_1


Tak lama kemudian rombongan Alfi dan keluarga nya sampai di rumah khaira, suara musik yang mengiringi penari yang menampilkan Tarian khas daerah yang di mainkan oleh anak-anak sudah terdengar.


tarian itu umumnya di gunakan saat penyambutan pengantin pria atau wanita, dan ada juga digunakan untuk penyambutan tamu-tamu yang terhormat pada suatu acara misalnya ; saat penyambutan wali kota atau orang-orang yang berpengaruh pada daerah dan negara.


setelah tarian itu selesai Alfi beserta rombongan nya baru di persilahkan masuk dan menikmati hidangan yang telah di sediakan.


Alfi berjalan ke arah pelaminan dengan di didampingi oleh dua orang anak kecil yang tadi menampilkan tarian penyambutan mereka, ia berjalan menuju ke tempat dimana saat ini khaira berada. khaira yang berdiri di atas pelaminan wajah nya ditutupi oleh kipas yang di pegang oleh Silvia yang berada di samping nya.


Begitu Alfi sampai didepan khaira, Silvia baru menurunkan kipas yang menutupi wajah khaira.


DEG...


DEG...


DEG....


Alfi dan khaira sama-sama merasakan jantung mereka yang berdetak kencang karna terpana melihat satu sama lain. Alfi menggunakan pakaian khas daerah yang khusus di gunakan oleh pengantin pria dan dilengkapi dengan penutup kepala pria khas daerah. begitu pun dengan khaira yang menggunakan pakaian khas daerah khusus wanita lengkap dengan pernak-pernik yang menghiasi kepala nya, yang menambah kecantikannya.


Khaira langsung mencium punggung tangan Alfi yang kini berdiri di depannya, lalu setelah itu Alfi duduk di kursi sisi kanan tempat khaira duduk.mereka terlihat bagaikan ratu dan raja dimata para tamu undangan. khaira tersenyum saat duduk di atas pelaminan bersama alfi. bibir nya menampakkan senyum yang merekah namun matanya menyiratkan luka yang terpendam dalam hatinya.


Alfi melirik kearah khaira yang sedang tersenyum, lalu ia mendekat kan wajah nya ke telinga khaira dan membisikkan sesuatu yang membuat senyum khaira menghilang dan tubuh nya menjadi beku.


" Tersenyumlah sepuas nya selagi kamu masih bisa tersenyum karna mungkin nanti kamu takkan bisa tersenyum lagi seperti ini " ucap Alfi di telinga khaira sambil tersenyum miring, khaira yang mendengar ucapan Alfi membuat senyum nya menghilang dan tubuh nya membeku.


" Dan satu lagi bersiap-siaplah untuk nanti malam karna semua nya akan dimulai dari nanti malam " ucap Alfi masih berbisik ditelinga khaira,


Lagi-lagi ucapan yang dilontarkan alfi membuat tubuh nya seketika semakin membeku " apa maksud nya tadi berkata seperti itu?" batin khaira. "apa jangan-jangan diaa...mauu..uu..? "khaira menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan semua pifikiran buruk yang ada di otak nya. tidak mungkin alfi akan melakukan apa yang ada di dalam fikiran nya karna mengingat alfi yang tak mencintainya.


" loe kenapa geleng-geleng kepala gitu, pusing?" tanya alfi khaira hanya diam tidak menjawab pertanyaan Alfi.


" atau ada sesuatu yang loe fikirkan? memang nya loe mikirin apa? soal perkataan gue tadi? " tanya Alfi bertubi-tubi. seketika wajah khaira memerah saat mendengar pertanyaan terakhir yang di lontarkan Alfi, karna merasa malu apa yang telah difikir kan nya.


Alfi yang melihat wajah khaira yang memerah, merasa bingung dan apa yang membuat khaira menjadi bulshing seperti itu? fikir nya.


Sesaat kemudian ia sadar apa yang di ucapannya tadi bisa saja khaira berfikir yang Tidak-tidak, ia segera meralat ucapannya tadi agar tidak menimbulkan kesalah pahaman.


"eheumm... " Alfi sengaja berdehem untuk mengalihkan perhatian khaira. dan benar saja khaira langsung mengarahkan pandangannya nya kearah Alfi.


Alfi pun menatap ke arah khaira, lalu pandangan mereka bertemu khaira langsung mengalihkan pandangannya kedepan saat matanya dan mata Alfi bertemu.


" gue cuma mau bilang loe jangan sampai salah paham tentang apa yang gue bilang tadi, maksud gue loe harus mempersiapkan diri loe karna semua penderitaan loe akan dimulai mulai nanti malam " ucap Alfi tersenyum miring.


" loe jangan pernah berfikir yang tidak-tidak karna gue takkan pernah mau menyentuh loe walau hanya seujung kuku gue dan gue juga ngak bakal membiarkan loe menyentuh barang-barang gue apalagi tubuh gue walau pun itu hanya seujung kuku loe, ngerti ngak".lanjut Alfi lagi,sambil menekan kan kata-kata terakhirnya. khaira yang mendengar ucapan Alfi membuat hatinya terluka. seharusnya Alfi tidak berbicara seperti itu karna dapat melukai perasaannya. jika tidak bisa mencintai nya tapi setidak nya ia bisa menghargai perasaan khaira.


Khaira berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir di pipinya, baru kemarin Alfi mengucapkan ijab kabul dihadapan ayah dan keluarganya tapi sekarang ia sudah mulai menyakiti nya bahkan di atas pelaminan sekalipun.


seharus nya Alfi membuat khaira bahagia tapi malah sebaliknya ia membuat khaira terluka dihari seharus nya ia bahagia.


Selanjutnya hanya keheningan diantara mereka, khaira tetap berusaha menampilkan senyum dibibir nya walau sebenarnya hati nya masih terluka karna perkataan alfi tadi.


Tanpa terasa matahari sudah mulai tenggelam di arah barat, khaira dan Alfi turun dari pelaminan menuju kekamar mereka untuk mengganti pakain yang mereka pakai, sungguh hari ini adalah hari yang paling melelahkan bagi mereka, seharian duduk di pelaminan dan berfoto-foto bersama para tamu undangan.


🌹🌹🌹🌹🌹


 

__ADS_1


__ADS_2