
Akhir nya mereka pergi dengan menggunakan mobil alfi, khaira duduk di samping tempat kemudi sedangkan dua pria itu duduk di jok belakang. khaira perasaanya tak pernah tenang mengingat apa yang akan terjadi selanjut nya antara Alfi dan dirinya.
Sesampainya di kantor balai desa mereka segera turun dari mobil dan memasuki kantor kepala desa tersebut.
Salah satu laki-laki paruh baya itu pergi mencari keberadaan kepala desa.
khaira tampak begitu cemas fikiran nya kalut ia sedang memikirkan bagaimana cara nya ia menjelaskan semua nya pada orang-orang yang ada disana dan bagaimana jika mereka tidak percaya dengan penjelasan mereka.
Hari sudah menunjukkan pukul 12:00 malam tapi kepala desa dan orang yang mencarinya belum kembali juga.
20 Menit berlalu tiba-tiba terdengar suara motor dari luar kantor, tak lama kemudian masuk 2 orang laki-laki kedalam kantor salah satunya adalah kepala desa sedang kan satu nya lagi laki-laki yang pergi menemui kepala desa tadi.
Tak lama kemudian kembali terdengar langkah kaki orang yang mendekati kearah mereka. Khaira dan semua orang disana menatap ke arah orang tersebut.
DEG...
DEG....
DEG....
Jantung khaira berdetak begitu cepat saat ia menyadari siapa orang yang berdiri di depan pintu masuk tersebut. seorang laki-laki paruh baya yang sangat disegani oleh khaira dia adalah ayah khaira. dan di belakang nya juga terdapat kakak laki-laki khaira yang umurnya tak jauh beda dengan Alfi. Ayah dan kakak nya menatap tajam ke arah khaira dan melangkah masuk mendekatinya.
PPLAKK.....
Semua orang yang ada disana terkejut menyaksikan apa yang terjadi.Sebuah tamparan melayang di pipi kiri khaira dari ayah nya, meski pun tamparan itu tidak terlalu keras namun cukup memberi bekas hingga membuat pipi nya merah.butiran bening mengalir membasahi pipi khaira mengenai pipi nya yang memerah. PERIH itulah yang dirasakan khaira namun tak sebanding dengan rasa perih di hatinya laki-laki yang paling dicintai yaitu ayah nya tak lagi percaya kepada khaira.
" Pak tenang dulu pak jangan lakukan kekerasan kita bisa bicarakan baik-baik " ucap kepala desa berusaha menenangkan ayah khaira yang sedang di kuasai amarah nya. Namun ayah khaira tak mengubris apa yang dikatakan oleh kepala desa, pikiran nya terlalu kalut memikirkan anak perempuan semata wayang nya melakukan tindakan diluar batas kewajaran.
" Apa yang kamu lakukan benar-benar membuat ayah malu khaira, kamu sudah merusak kepercayaan ayah sama kamu, ayah membiarkan kamu pergi keluar rumah malam-malam begini karna ayah yakin dan percaya kamu bisa menjaga dirimu sendiri. tapi ini apa yang terjadi kamu sudah membuat ayah kecewa" ucap ayah khaira dengan emosi yang meledak-ledak dada nya naik turun karna berusaha menstabilkan nafas dan dirinya yang sedang dikuasai amarah.
Khaira hanya bisa diam dan menangis mendapatkan amukan dari ayah nya. untuk pertama kali ia melihat ayah nya begitu marah pada nya bahkan melakukan kontak fisik dengan menamparnya. sebelum nya ayah khaira tak pernah memukul atau menamparnya jika ia marah kepada khaira namun kali ini wajar saja ayah nya marah bahkan menamparnya.
Mana ada seorang ayah yang bersikap santai saat ia mengetahui anak nya melakukan hal-hal yang menyimpang dari agama. walau pun khaira tidak melakukan nya namun dengan ia di tangkap dan dibawa ke kantor balai desa tentu saja semua orang akan berfikir negatif tentang nya bahkan termasuk ayah nya.
Semua orang terdiam termasuk Alfi yang duduk di samping khaira ia hanya melirik kearah khaira yang masih menangis kepalanya tertunduk kebawah.
" Dan kamu.... " ucap ayah khaira lagi sambil menunjukkan jari telunjuk nya kearah Alfi. ketegangan kembali terjadi diruangan itu, Alfi hanya melihat sekilas ke arah ayah khaira lalu kembali menundukkan kepalanya.
"laki-laki pengecut yang hanya bisa mendekati anak saya lalu menghancurkan masa depan nya, jika kamu memang menginginkan anak saya kamu harus nya datang ke hadapan saya bilang secara baik-baik kalau memang kamu ingin meminang putri saya dan saya akan mempertimbangkan nya, jika kamu memang bersungguh-sungguh untuk menikahi nya. " sambung nya lagi sambil menatap tajam kearah Alfi dan khaira secara bergantian.
"tenang dulu pak silah kan duduk, kita akan bicara kan ini secara baik-baik, kita harus menanyakan nya terlebih dahulu kepada mereka tentang kebenaran nya siapa tau ini hanya kesah pahaman. " ucap kepala desa ia kembali mencoba menenangkan ayah khaira yang masih dikuasai emosinya.
" yah lebih baik kita duduk dulu kita tanya kan baik-baik sama mereka agar masalah ini cepat selesai " sambung kakak khaira yang berdiri disamping ayah nya sambil merangkul ayah nya untuk duduk di kursi yang terletak di dekat khaira.ia melirik kearah Alfi ia sadar jika ia sedang ditatap oleh kakak khaira.
Karna kejadian ini Alfi tentu saja merasa malu dengan khairul ( kakak khaira ), memiliki profesi yang sama sebagai atlit voli tentu saja mereka saling mengenal bahkan pernah bermain dalam satu tim saat Alfi menjadi pemain sewaan di tim khairul. meski pun khairul hanya atlit voli lokal namun kemampuan nya dalam bermain juga cukup mumpuni.
Ayah khaira berusaha mengatur nafas nya lalu duduk di kursi yang terletak di dekat khaira. disusul oleh kakak nya yang duduk di samping khaira setelah ia mengambil salah satu bangku kosong dan meletakkan nya disana. jadilah sekarang khaira berada ditengah-tengah dua orang lelaki yaitu diantara Alfi dan khairul.
"Baiklah kita mulai sekarang, mohon jangan ada yang berbicara selagi saya masih bicara " ucap kepala desa semua orang yang ada disana hanya diam mendengar penuturan kepala desa, termasuk ayah khaira yang terlihat sedikit lebih tenang.
" Siapa nama kamu nak?" tanya kepala desa kepada Alfi
" Alfianda Rahman bapak boleh panggil saya dengan panggilan Alfi " jawab Alfi bersikap tenang namun semua itu tak dapat menutupi kegugupan nya.
" Kamu dari mana? " tanya kepala desa lagi
" Saya berasal dari kota besar pak " jawab Alfi tanpa menoleh ke arah kepala desa ia masih setia menundukkan kepala nya.
" lalu kenapa kamu bisa ada disini? " tanya kepala desa lagi, ia masih terus memperhatikan Alfi yang masih menunduk
" Saya di sewa oleh salah satu tim yang bermain di acara turnamen voli di sini, untuk bermain di tim mereka " jawab Alfi sekena nya
" lalu kenapa kalian berdua bisa tertangkap oleh bapak-bapak ini?, mereka bilang saat melihat kalian, saat itu kalian berada dalam posisi yang tidak pantas? "tanya kepala desa kini pandangan nya terlihat seperti seorang polisi yang sedang megintrogasi seorang penjahat.
JLEEB.....
Alfi menelan ludah nya kasar saat mendapat pertanyaan dan tatapan seperti itu dari kepala desa. ia berusaha bersikap tenang dan menarik nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Alfi mengangkat wajah nya menatap kepala desa yang ada dihadapan nya itu perlahan ia mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
" jadi gini pak..... " Alfi menghentikan ucapan nya membuat semua orang menatap ke arah nya termasuk ayah khaira dan kakak nya.
Kemudian ia melanjutkan kalimat nya setelah ia merasa sedikit lebih tenang
__ADS_1
" Satu minggu lalu saya dan khaira bertemu, kami tidak sengaja saling bertabrakan yang membuat HP khaira terjatuh, tanpa sengaja saya menginjak nya hingga membuat HP nya rusak parah. terus khaira meminta ganti rugi atas kerusakan HP nya itu, saya menerima nya dan membawa pulang HP khaira untuk saya perbaiki disana" ucap Alfi ia kembali menghentikan ucapan nya.
" lalu kenapa kalian tadi bisa berada di parkiran mobil bahkan dalam posisi yang tidak pantas ?" tanya salah seorang lelaki paruh baya yang tadi menangkap Alfi dan khaira.
" ituuu....... karna saya ingin mengembalikan HP khaira " Alfi membuka tas nya dan mengeluarkan sebuah kotak yang berisikan HP untuk khaira dan diletakkan nya di depan meja yang ada di hadapan mereka. khaira kaget saat melihat kotak HP yang diletakkan Alfi di atas meja ia yakin itu bukan lah HP nya yang ingin di perbaiki oleh Alfi karna merek HP tersebut lebih bagus dari HP nya yang rusak.
" Tapi pada saat saya ingin mendekati khaira untuk memberikan HP ini pada khaira ia malah mundur, semakin saya maju ia juga semakin memundurkan langkah nya, sampai akhirnya ia tak sengaja tersandung sebuah balok yang membuat nya hampir terjatuh, saat itu saya ingin menolong khaira agar tidak terjatuh tapi karna posisi saya yang tidak seimbang saya malah ikut terjatuh bersamanya " ucap Alfi menjelaskan
Sebenarnya Alfi mendekati khaira memang untuk memberikan HP itu pada khaira tapi karna cara Alfi memandang dan mendekati nya membuat khaira memikirkan hal-hal negatif yang akan di lakukan alfi, oleh sebab itu ia berusaha menjauhkan diri nya dari jangkauan Alfi.
"Sebenarnya tubuh kami sama sekali tidak bersentuhan pak, karna pada saat saya terjatuh saya menopang tubuh saya dengan tangan sehingga jarak kami cukup jauh, tapi karna bapak-bapak ini melihat kami dari arah belakang jadi nya kami terlihat seperti....seperti....eumm...seperti sedang...eumm.."Alfi menggantungkan ucapan nya membuat semua orang semakin mengamati nya untuk mendengar apa yang selanjutnya di ucapkan Alfi,
" Seperti apa? " tanya kepala desa kepada Alfi agar melanjutkan ucapan nya. kepala desa tersebut tersenyum mengingat apa yang akan di ucapkan Alfi selanjutnya.
Alfi tidak tau bagaimana cara nya ia melanjutkan kan ucapannya selanjutnya karna itu pasti sangat membuat nya malu. namun karna pertanyaan dari kepala desa dan tatapan orang-orang yang ada disana mau tidak mau ia harus melanjutkan ucapan nya.
"seperti sedang melakukan hal yang terlarang" ucap Alfi mengakhiri penjelasan nya, wajah nya memerah pada saat mengucapkan kata-kata terakhirnya karna malu.khaira yang mendengar ucapan Alfi menundukkan kepala nya untuk menutupi wajah nya yang juga memerah.
Semua orang yang melihat wajah Alfi dan khaira yang memerah sontak semua nya tertawa kecuali ayah dan kakak Alfi ekspresi mereka tetap sama datar bahkan tak ada senyuman disana.
" Apa benar yang kamu ucapkan itu? " suara ayah khaira membuat semua orang yang sedang tertawa mehentikan tawanya dan menatap ke arah ayah khaira.
" Kamu tidak melakukan apa pun kepada putri saya? " lanjut nya lagi ia menatap tajam ke arah Alfi.
" Benar saya tidak melakukan apa pun pada khaira ini semua murni kesalah pahaman " ucap Alfi kepala nya kembali menunduk saat berbicara kepada ayah khaira karna mendapat tatapan tajam dari laki-laki paruh baya itu bahkan ia merasa sangat sulit untuk menelan ludah nya.
" ayah " panggil khaira ia menatap wajah ayah nya dengan mata nya yang sembab.
" ayah harus percaya sama khaira, khaira tidak mungkin melakukan hal serendah itu... hiks... hiks.. " ucap khaira pada ayah nya dengan suara parau karna berusaha menahan tangis nya.
Ayah khaira hanya menatap ke arah khaira tanpa mengatakan satu patah kata pun.
" khaira minta maaf ayah tapi sungguh khaira selalu berusaha menjaga diri khaira dengan baik, bahkan khaira tak satu pun laki-laki yang dekat dengan khaira" ucap khaira lagi tapi ayah nya masih tetap tidak bicara pada khaira.
" Saya minta maaf Pak karna kesalah pahaman ini membuat bapak dan keluarga jadi malu " Alfi kembali bersuara setelah lama terdiam dan menyaksikan pembicaraan khaira pada ayah nya. khaira menoleh kearah Alfi begitu pun Alfi menoleh ke arah nya, khaira langsung menundukkan kepalanya saat mata nya bertemu dengan mata alfi.
Alfi kembali mengarahkan pandangan nya pada ayah khaira
" Benar kamu ingin melakukan apa pun untuk menutupi rasa malu saya dan keluarga?" tanya ayah khaira pada Alfi sambil melihat tajam ke arah Alfi.
" Benar pak" jawab Alfi singkat
" Kamu yakin? " tanya ayah khaira lagi memastikan apa yang di katakan Alfi
" Saya yakin " jawab Alfi mantap
Alfi menjawab begitu yakin tanpa memikirkan apa yang akan dimintai ayah khaira kepadanya, ia hanya ingin masalah ini cepat selesai dan bisa segera pulang kerumahnya.
" Baiklah kalau begitu jangan pernah membantah apa lagi menolak permintaan saya, karna saya telah memastikan jika kamu akan menerima permintaan saya " ucap ayah khaira tegas namun pandangan nya sedikit lebih redub
" baiklah saya janji akan menerima apa pun permintaan bapak terhadap saya " ucap Alfi lagi ia masih menatap lekat ayah khaira
" bagus kalau gitu " ucap ayah khaira lagi ia menatap seluruh isi ruangan itu.
" kalau gitu apa yang harus saya lakukan? " tanya Alfi sambil menundukkan kepala
Ayah khaira yang mendengar pertanyaan Alfi langsung melihat ke arah Alfi ia menatap Alfi dan khaira secara bergantian.beberapa detik kemudian ia mengeluarkan kata-kata yang membuat khaira dan Alfi membeku.
" NIKAHI ANAK SAYA !!! "
DUARRR...
DUARRR...
DUARRR....
ucapan yang dilontarkan ayah khaira bagaikan petir yang menyambar bagi dua orang yang masih tertunduk dan sontak membuat mereka langsung menatap ke arah nya.
Baru saja alfi ingin membuka suara nya tapi ayah khaira sudah lebih dulu menyela nya.
" saya tidak terima penolakan, karna tadi kamu sudah berjanji untuk menerima apapun permintaan saya, bahkan saya sudah menanyakan nya berulang kali tapi kamu tetap menjawab dengan jawaban yang sama bahwa kamu yakin untuk menerima permintaan saya. jadi sekarang, jangan coba-coba membantah nya karna ini adalah pilihan kamu sendiri" ucap ayah khaira dengan tegas.
__ADS_1
detik itu juga Alfi langsung terdiam ia merasa menyesal karna telah memberi jawaban seperti itu pada ayah khaira tanpa tau apa yang di mintanya. sedangkan khaira hanya diam mendengar apa yang dikatakan ayahnya sambil menundukkan kepala.
Akhirnya khaira mencoba membuka suara nya
" ayah khaira rasa khaira dan abang Alfi tidak perlu menikah karna kami tidak melakukan apa pun " ucap khaira dengan hati-hati wajah nya masih tertunduk.
" Ayah tidak perduli apa pun alasan nya, terjadi atau tidak terjadi nya sesuatu diantara kalian, ayah tidak perduli yang penting kalian harus menikah secepat nya". ucap ayah khaira tegas yang membuat khaira tidak berkutik lagi.
" Saya rasa masalah ini sudah selesai, saya mengucapkan terimakasih kepada pak zaki (bapak kepala desa) dan juga bapak-bapak sekalian yang sudah mau membantu menyelesaikan masalah keluarga saya. " ucap ayah khaira kepada kepala sekolah dan dua orang laki-laki paruh baya itu.
" iya sama-sama Pak ini memang sudah menjadi kewajiban kami selaku warga desa disini, apalagi saya sebagai kepala desa bertugas membantu menyelesaikan masalah yang terjadi dalam masyarat " ucap kepala desa sambil menatap ke ayah khaira.
" iya sekali lagi saya ucapkan terima kasih pak atas bantuan nya, dan saya mohon kepada bapak-bapak yang ada disini agar merahasiakan apa yang terjadi pada anak saya. saya yakin pasti tidak orang yang tau selain kita yang ada di sini karna mengingat malam yang sudah larut "ucap ayah khaira.
saat ini memang sudah sangat larut waktu sudah menunjukkan pukul 1:15 pagi.
" baik pak kami janji tidak akan mengatakan apa pun kepada warga disini termasuk keluarga kami sendiri kami akan berusaha merahasiakan nya sebaik mungkin. " ucap salah seorang lelaki paruh baya.
" baiklah kalau begitu kami permisi dulu" ucap ayah khaira kepada kepala desa dan kemudian bangkit dari duduk nya
" Ayah mau pulang dan kamu tolong sekalian ajak adik mu itu untuk pulang bersama mu". ucap ayah khaira kepada khairul yang hanya mengangukan kepala nya sebagai jawabannya.
" Dan KAMU...."sambil menunjuk ke arah Alfi, Alfi tersentak kaget saat ayah khaira menunjuk kearah nya.
"ikut dengan saya malam ini kamu boleh nginap di rumah saya, nanti kamu bisa tidur sama khairul di kamarnya, saya tidak mau kalau nanti kamu sampai kabur dan sekalian kamu telpon orang tua mu untuk datang menemui saya besok" ucap ayah khaira kemudian membalikkan badannya, baru beberapa langkah, ia kembali menoleh ke arah Alfi yang masih berada di tempat nya.
" Kamu ngak dengar apa yang saya bilang tadi IKUT SAYA SEKARANG " ucap ayah khaira ia menatap kearah Alfi dengan tatapan tajam. Alfi yang melihat tatapan tajam dari ayah khaira sontak langsung berdiri.
"Ba.. ba.. baik Pak saya akan ikut " jawab Alfi sambil menunduk. kemudian ia mengambil kotak HP yang ada di atas meja dan melangkah keluar mengikuti ayah khaira yang lebih dulu meninggalkan nya.
" ayo dek kita pulang " ucap khairul pada khaira,
sesuai dengan yang dikatakan ayah nya, khairul akan membawa khaira pulang bersama nya. ia menarik tangan khaira untuk berdiri setelah ia bangkit dari duduk nya. khaira hanya menganggukkan kepala nya kemudian berdiri dan melingkarkan tangannya di pinggang khairul, air mata masih membanjiri pipi nya bahkan matanya kini terlihat mengecil karna terlalu sembab.
Khairul merangkul bahu adik kesayangannya itu. iya benar-benar sangat menyayangi khaira bahkan ia tak menyangka jika kejadian ini akan menimpa adik satu - satunya. Khairul berpamitan kepada kepala desa dan dua orang laki-laki paruh baya yang masih berada disana setelah itu ia keluar dari kantor tersebut menuju pada tempat motor nya yang terparkir.
Sesampainya di sana tidak terlihat lagi mobil alfi seperti nya mereka sudah meninggalkan tempat itu setelah keluar dari ruangan kepala desa.
Khaira benar-benar bingung memikirkan apa yang terjadi di padanya, ia terlalu sibuk mengurus masalah nya sampai ia lupa jika dia pergi kelapangan bersama sahabat nya Silvia.
" astagfirullah... aku baru ingat kalau aku tadi pergi sama Silvia dan aku lupa mengabari nya " ucap Silvia dalam hati, sambil mengusap wajahnya. Khairul yang melihat adik nya seperti sedang memikirkan sesuatu lantas bertanya padanya
" Kamu kenapa dek, ada yang kamu fikirkan? " tanya khairul, khaira hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan kakak nya itu.
" kalau masalah tadi ngak usah difikirkan semua pasti akan baik-baik saja. Abang percaya kalau khaira tidak mungkin melakukan hal serendah itu" ucap khairul lagi seraya tersenyum kearah khaira.
" Abang percaya sama khaira? " tanya khaira ia menatap ke arah khairul
" iya abang percaya bahkan sangat-sangat percaya, abang sangat tau seperti apa adik abang ini, tidak mungkin ia melakukan hal-hal yang di larang dalam agama" ucap khairul sambil menangkup kan wajah khaira dengan kedua tangannya dan tersenyum.
" A..A...BANG.... " ucap khaira dengan suara manja nya lalu memeluk khairul air mata nya kembali mengalir karna terharu mendengar ucapan khairul barusan.
khairul malah tertawa melihat sikap manja adik nya itu, khaira selalu bersikap manja bila bersama keluarga nya apalagi abang nya yang satu ini...heumm..rasa nya ia tak rela kalau abang nya itu akan jadi milik orang lain.
" udah jangan nangis lagi, mau sampai kapan kamu kaya gini? cepetan naik atau aku tinggal ni " ucap Khairul sambil melepaskan pelukan khaira.
khaira tidak menjawab ia langsung naik di jok belakang motor Khairul.
" abang" panggil khaira setelah ia duduk di belakang khairul
" heumm... ada apa? "tanya khairul
" Silvia gimana? " khaira masih kepikiran soal Silvia
" oe Silvia tadi abang liat dia udah pulang kerumah nya " jawab khairul sambil menjalan kan motor nya. khaira tidak berbicara lagi saat khairul menjalankan motor nya. ia melingkarkan tangan nya di pinggang khairul menikmati Saat-saat terakhir ia bersama kakak nya. ia yakin jika kakak nya nanti sudah menikah atau dirinya menikah pasti ia takkan bisa bersikap semanja ini pada kakak nya.
ADUHhhh.....jika khaira mengingat sebentar lagi ia akan menikah dengan Alfi membuat kepalanya pusing mood nya jadi tambah hancur.
" udah lah jalani aja apa yang telah digariskan mungkin ini yang terbaik" gumam khaira dalam hati.
|•|•|•|•|•|•|•|•|•|•|•|•|
__ADS_1