Adakah Aku Dalam Hatimu

Adakah Aku Dalam Hatimu
3.Hati Tak Mudah Untuk Diarahkan (Khaira N.S)


__ADS_3

Setelah selesai shalat Khaira dan Silvia memutuskan untuk makan siang mereka memilih makan ditempat makan favorite mereka. Sebuah kafe minimalis yang di desain dengan penuh kreasi sehingga menampilkan kehangatan dan kenyamanan bagi para pengunjungnya. Khaira dan Silvia memilih duduk di dekat dinding yang terbuat dari kaca sehingga mereka dapat melihat lalulintas jalanan dan orang yang berlalu-lalang.setelah duduk tak lama kemudian seorang pelayan datang menghampiri mereka



" Mau pesan apa kak??" tanya pelayan itu ramah. khaira dan Silvia yang lagi menatap kearah jalanan mengalihkan pandangannya kepada pelayan tersebut



" Kamu mau pesan apa ra?? " tanya Silvia kepada khaira



" Cappucino Cincau dan kentang goreng " kata khaira menyebutkan pesanannya



" Saya Es coklat 1 sama kentang goreng juga " kata silvia menyebutkan pesanannya sambil tersenyum ke arah pelayan



" Ok baik lah kalau begitu tunggu sebentar kami akan segera mengantarkannya" Pelayan itu tersenyum kearah khaira dan Silvia lalu pergi mengambil pesanan mereka.



Silvia menatap khaira yang lagi melihat kearah jalanan, ia ingin menanyakan sesuatu kepada khaira dengan ragu-ragu ia mulai membuka suaranya



" Khaira " panggil Silvia


" Hmmm" jawab khaira singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari arah jalanan



" Kamu beneran ngac mau mencoba membuka hati untuk yang lain ?" tanya Silvia hati-hati


Khaira menghembuskan nafasnya kasar mendengar pertanyaan yang di lontarkan Silvia



" Kenapa kamu masih membahas masalah ini? " tanya khaira balik tanpa menjawab pertanyaan dari Silvia


khaira mengalihkan pandangannya kearah silvia



" Aku hanya tidak ingin kamu kecewa nantinya ketika semua harapan itu tidak terwujud aku tau kamu akan mengikhlaskan itu, tapi semua itu pasti akan menyakiti kamu takkan semudah itu kamu bisa menerima ketika suatu saat nanti kamu melihat dia dengan orang lain"


kata Silvia sambil memandang kearah khaira



Khaira hanya diam mendengar apa yang dikatakan Silvia, semua yang dikatakan sahabatnya itu memang benar bagaimana pun juga ia tetap seorang wanita biasa yang tentunya akan merasa sakit dan kecewa ketika melihat orang yang dicintai dengan orang lain.


Khaira menghembuskan nafasnya kasar seraya menundukkan kepalanya kebawah dan mencoba menghilangkan rasa sakit yang ia rasakan ketika membayangkan semua yang dikatakan temannya itu.


Baru membayangkannya saja sudah sesakit ini apa lagi kalau kenyataannya begini pasti akan lebih menyakitkan gumam khaira dalam hati



" kenapa kamu tidak mencoba melupakannya " tanya Silvia lagi setelah beberapa saat terdiam



" Aku telah coba melupakannya bahkan sering kulakukan namun perasaan itu tak pernah hilang bahkan aku telah sempat melupakannya ketika untuk pertama kalinya kita berpisah setelah lulus sekolah dasar.


Aku benar-benar tidak menyangka dia datang ketempat pengajian kita sehingga aku kembali melihat wajah nya perasaan yang mulai hilang itu kembali lagi ketika aku melihat tatapan matanya " jawab khaira masih dalam keadaan tertunduk kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah jalanan mencoba menepiskan rasa sakit sekaligus kerinduan kepada orang yang di nantinya selama ini.



Sesaat semuanya hening tanpa perbincangan diantara mereka hanya suara kendaraan dan orang-orang yang ada di kafe itu sedangkan khaira dan Silvia memilih untuk diam.


Silvia menatap lekat wajah sahabatnya itu yang tengah mengarahkan pandangannya kearah jalanan tak lama kemudian seorang pelayan datang menghampiri mereka mengantarkan makanan yang telah mereka pesan.



Pelayan tersebut menata makanan di atas meja


" Selamat Menikmati " ucap pelayan itu setelah ia selesai menata makanan di atas meja.


Silvia mengarahkan pandangannya kearah pelayan itu dan mengucapkan Terima kasih lalu pelayan itu pun pergi.


Silvia mengarahkan pandangannya kearah khaira yang masih fokus menatap ke arah jalanan



" Ayo makan Ra " ajak silvia, khaira mengalihkan pandangannya kearah Silvia dan terkejut ketika melihat makanan telah tertata rapi di atas meja



" Loh ini kapan datang ? " tanya khaira kepada Silvia


" Udah dari kemarin " jawab Silvia asal lalu meminum minuman yang tadi di pesan nya

__ADS_1


" hehehe " khaira hanya cengengesan mendengar jawaban dari temannya itu



" Emang kamu ngapain aja dari tadi natap jalanan terus sampai ngak sadar makanannya udah datang, ngelamun?? " tanya Silvia



" hehehe ngak hanya lagi merenung aja " jawab khaira sambil cengengesan


" itu mah sama aja " kata silvia


" Emang kamu ngelamunin apasih?? " tanya Silvia lagi


" Hemmm ngak ada apa-apa " jawab khaira lalu meminum minuman nya dan memakan sepotong kentang goreng



" Mana mungkin ngac ada papa dari tadi kamu ngelamun terus sampai makanan datang pun ngak nyadar "kata Silvia


" Beneran vi ngac ada apa-apa " jawab khaira lagi kemudian kembali memakan makanannya



" Masih kepikiran soal tadi? " tanya Silvia


" udahlah ngac usah dibahas " jawab khaira singkat seolah enggan untuk menjawab pertanyaan temannya itu


" Kalau memang ada yang ingin dibicarakan bicaralah aku siap mendengarnya dari pada kamu pendam sendiri " kata Silvia mencoba meyakinkan khaira agar mengungkapkan apa yang ia rasakan


" Tidak ada yang ingin aku bicarakan jawab khaira ia kembali meminum cappucino pesanannya.


" Ayolah Ra bicaralah aku akan mendengarkan apapun yang kamu katakan dan akan mencoba memberi saran yang baik jika kamu memang membutuhkan saran dariku " kata Silvia mencoba memaksakan khaira agar membuka suaranya.


Nun khaira hanya diam dan sibuk menikmati makanannya tidak menanggapi apa yang dikatakan silvia



" ya sudah Kalau kamu tidak mau bicara aku tidak masalah " kata Silvia setelah beberapa saat terdiam melihat temannya yang tidak menanggapi perkataan nya. Silvia kembali menyantap makanannya



" Jika aku bisa memilih aku lebih memilih untuk melupakannya karna perasaan ini benar-benar membuat ku tersiksa " ucap khaira setelah lama terdiam


Silvia mengalihkan pandangannya kearah khaira dan tersenyum ketika mendengar sahabatnya itu berbicara


Khaira menatap ke arah Silvia sesaat lalu ia kembali mengalihkan pandangannya ke arah jalanan




" Jika aku bisa aku ingin membuang perasaan ini sejauh mungkin namun aku tidak berdaya, aku tak pernah menyalahkan perasaan ini hadir di dalam hati ku karna sesungguhnya cinta itu fitrah dan cinta itu datang dari Allah hanya saja bagaimana kita menanggapinya " ucap khaira ia menghentikan ucapannya sejenak menghembuskan nafasnya seolah ia ingin membuat dirinya tetap tenang dan tidak ingin butiran bening jatuh membasahi pipi nya karna rasa sakit yang ia rasakan



Silvia megenggam tangan khaira seolah memberi kekuatan kepadanya khaira menoleh ke arah Silvia dan tersenyum seolah mengatakan aku tidak apa-apa



" aku lebih memilih sendiri dan menunggunya disini tanpa mengungkapkan perasaan ku padanya karna aku takut ketika aku mengungkapkannya pasti akan ada rasa yang berbeda apa lagi jika dia tidak mencintaiku dia pasti akan semakin menjauh " ucap khaira sejenak ia terdiam sambil menatap lekat kearah Silvia yang masih megenggam tangannya



" Aku memilih sendiri dan tidak berusaha mencari seorang kekasih juga memiliki alasan dan tentunya kamu pasti tahu apa itu alasanku karna aku juga sudah mengatakannya kepadamu waktu kita berada di taman tadi " lanjutnya khaira, Silvia hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan sahabatnya itu



" Lalu bagaimana jika suatu saat nanti ada seseorang datang kepada mu dan ingin menjalin hubungan yang serius dengan mu apa kamu akan tetap setia menunggunya? " Silvia membuka suara setelah lama terdiam mendengar khaira mengungkapkan apa yang dirasakannya.



"Aku akan mencoba membuka hatiku jika niat orang itu memang baik dan tergantung orangnya" jawab khaira



" maksud kamu? " tanya Silvia lagi ia tidak mengerti apa yang dimaksud khaira tidak mungkinkan sahabatnya itu memandang dari fisik dan materi yang dimiliki seseorang?



Khaira tersenyum ketika Silvia bertanya seperti itu ia tau apa yang di fikirkan sahabatnya itu.


" Aku tidak memandang dari fisik atau pun materi yang ia punya "Ucap khaira Silvia melepaskan nafasnya lega ternyata apa yang dipikirnya tadi salah mana mungkin sahabatnya melihat seseorang dari segi fisik dan materi fikirnya kemudian ia tersenyum ke arah khaira



" aku melihat dari segi agamanya bagaimana dia mencintai sang penciptanya jika ia bisa mencintai Allah dengan sepenuh hatinya tentunya dia tahu dimana dia akan menempatkan diriku dalam hatinya jika ia mencintaiku karna Allah dan imannya kuat tentunya ia bisa membimbingku kejalan yang benar hidup kami pasti akan bahagia walau hanya dalam kesederhanaan " Ucap khaira sambil menatap kearah Silvia dan tersenyum matanya berkaca-kaca mengingat jika seandainya apa yang ia katakan benar-benar terjadi.



Silvia juga ikut tersenyum mendengar ucapan khaira apa yang dikatakan khaira memang benar fisik dan harta bukan lah segalanya percuma jika kita memiliki suami yang kaya dan memiliki banyak harta jika kita tidak bahagia.


__ADS_1


" Tapi aku juga menginginkan suami yang memiliki pekerjaan setidaknya cukup lah untuk kehidupan kami sehari - hari " ucap khaira


" ya kamu benar walau pun tidak tampan dan tidak kaya setidaknya dia memiliki pekerjaan agar dapat menghidupi kita dengan layak " ucap Silvia membenarkan ucapan khaira



" Aish... aku meralat kata-kata mu yang mengatakan tidak tampan, bagaimana pun juga aku ingin memiliki suami yang tampan untuk memperbaiki keturunan ya walau pun tidak tampan- tampan amat tapi setidaknya wajahnya itu standart " canda khaira dan kali ini ucapan khaira menimbulkan tawa diantara mereka



" ah kamu bisa aja " ucap Silvia seraya memukul lengan khaira pelan karna geram mendengar ucapan nya barusan, temannya ini selalu saja mampu merubah suasana yang tadinya sedih kembali seperti semula penuh dengan canda tawa.



" Tapi aku dengar rizwan sekarang lagi dikota besar untuk melanjutkan studinya di sana, apa kamu tau? " tanya Silvia



" ya aku tau kalau dia kuliah disana bahkan aku sudah tau saat kita baru lulus sekolah " jawab khaira



" kamu tau darimana? " tanya Silvia


" Aku tau dari teman-teman mereka bilang kalau rizwan kuliah di sana" jawab khaira lagi


" terus pendapat kamu gimana" tanya Silvia lagi



" ya ngak gimana - gimana, baguslah kalau dia mau kuliah di sana itu artinya dia mau belajar menjadi orang yang sukses pendidikan disanakan lebih bagus " jawab khaira ia merasa aneh dengan pertanyaan sahabatnya itu



" bukan itu maksudku " kata silvia lagi


" lalu apa maksud mu bertanya seperti itu? " tanya khaira


Silvia melepaskan tangannya yang megenggam tangan khaira lalu mengarahkan pandangannya ke arah jalanan


" Maksudku apa kamu masih tetap menunggu dia disini sedangkan kamu tidak tau bagaimana dia disana siapa tau dia di sana sudah memiliki kekasih, di sana kan banyak cewek-cewek cantik " tanya Silvia pandangannya masih mengarah ke arah jalanan



" Hemm itu lagi " kata Silvia hal yang sama selalu ditanyakan temannya hingga ia bosan mendengarnya kemudian ia kembali menyantap makanan nya


karna tidak mendapat jawaban Silvia kembali menoleh kepada khaira


" Khaira " panggil silvia


" Hmmm" gumam nya ia enggan menjawab pertanyaan yang sama yg di lontarkan silvia


" Bagaimana?? " tanya Silvia lagi karna tidak mendapat respon dari khaira


" Bagaimana apanya? " tanya khaira santai dari nada bicaranya dapat di baca kalau dia enggan menjawab pertanyaan silvia


Silvia mendengus kesal mendengar respon dari khaira


" soal tadi yang ku tanyakan bagaimana kalau ternyata Rizwan sudah memiliki kekasih disana apa yang akan kamu lakukan " tanya Silvia geram


" udah ah kamu dari tadi nanya itu mulu aku kan udah beri jawabannya waktu di taman ngapain di tanya lagi " ucap khaira tak kalah kesal sambil melotot ke arah Silvia


Sedangkan Silvia hanya diam mendapat respon dari khaira



" udah habisi tu makanan habis itu kita pulang " kata khaira


" iya iya iya " ucap Silvia ia melanjutkan makannya dengan wajah yang cemberut khaira tidak perduli dengan Silvia ia terus memakan makanannya hingga habis



setelah selesai makan dan membayar makanan mereka memutuskan untuk pulang



************









__ADS_1




__ADS_2