Adakah Aku Dalam Hatimu

Adakah Aku Dalam Hatimu
Kegalauan Alfi


__ADS_3

*** Sungguh Berat Bagiku Saat Aku Harus Memutuskan Meninggalkan Dirinya•••


Namun Harus Aku lakukan Demi Keutuhan Rumah Tangga


Engkau Dan Aku ***.


••• Alfianda Rahman •••


💧 💧 💧 💧 💧


Khaira meletakkan HP nya di atas nakas lalu ia segera membaringkan tubuh nya di atas tempat tidur, ia sempat berfikir sejenak mungkin kah Alfi kini bersama Elisa.


◾ ◾ ◾ ◾ ◾


Berbeda dengan Alfi yang kini masih duduk di depan musala sambil menikmati angin malam. Alfi menatap bulan yang kini menampakkan cahaya nya, juga terdapat beberapa bintang yang ber kelap - kelip, menambah keindahan langit malam.


Ia tersenyum menatap ke arah HP yang ada di tangan nya, memikirkan khaira yang selalu mengancam nya jika berdekatan dengan Elisa.


Rasa rindu menyeruak ke dalam dada nya, baru beberapa jam ia tak berjumpa dengan khaira, namun kini rasa nya ia sudah tak bisa jika berjauhan terlalu lama dengan khaira.


Karna itu, tadi ia menghubungi khaira untuk mendengar suara nya. dan ketenangan itu begitu terasa saat mendengar suara indah khaira yang menyapa nya.


Senyuman Alfi kembali mengembang saat lagi-lagi ia memikirkan apa yang terjadi antara diri nya dengan Khaira tadi saat di rumah mama nya.


melihat wajah khaira yang kesal sekaligus memerah membuat nya merasa gemas. seperti nya saat ini ia sudah benar-benar jatuh cinta pada istri nya itu, bahkan berpisah pun enggan rasa nya, apalagi malam ini ia harus lembur jadi nya ia tak dapat bertemu khaira malam ini.


Alfi merasa begitu tertekan, ingin rasa nya ia segera pulang dan menemui khaira, Namun tuntutan pekerjaan membuat ia harus tetap berada di sana walau fikiran nya tertuju pada khaira.


ia sudah berjanji pada diri nya jika ia akan selalu bersikap baik pada khaira, dan menjadikan khaira satu-satunya wanita yang ia cintai, tapi........


Wajah Alfi berubah murung saat ia mengingat hubungan nya dengan Elisa. ia bingung bagaimana menjelaskan nya pada Elisa. bagaimana pun juga ia tak ingin menyakiti perasaan Elisa.


Elisa juga wanita yang baik lembut dan perhatian, Namun entah mengapa ia tak dapat menemukan ketenangan saat melihat wajah Elisa berbeda dengan khaira melihat nya dari jauh pun hati nya terasa Damai.


Alfi juga merasa bersalah pada Elisa karna ia tidak berterus terang pada Elisa soal hubungan nya dengan khaira. Mungkin ini akan menjadi hal menyakitkan bagi Elisa saat ia mengetahui semua kenyataan ini. Namun mau tidak mau ia harus mengatakan nya karna cepat atau lambat elisa pasti akan mengetahui nya.


Alfi mengusap wajah nya kasar, ia begitu frustasi memikirkan masalah yang begitu rumit, ia sadar semua masalah yang terjadi itu karna kebodohan nya.


Harus nya ia tidak menerima cinta Elisa saat wanita itu mengungkap kan perasaan nya, karna pada saat itu ia sudah tahu jika ia akan menikahi khaira.


Namun karna ego dan cinta nya pada Elisa membuat ia tak mampu menolaknya, dan ia tak perduli jika status nya sebentar lagi akan menjadi seorang suami, ia tak perduli jika ada hati yang terluka karna ulah nya itu .


Kini ia pusing memikirkan jalan keluar dari Permasalahan nya. ia tak ingin meninggalkan khaira karna khaira wanita yang sempurna bagi nya, wanita yang mampu memberikan rasa Damai di hati nya.


Alfi berfikir, tak mungkin ia melepaskan khaira hanya untuk Ego nya yang ingin bersama Elisa, ia tak akan melakukan kesalahan yang sama seperti waktu ia menerima cinta Elisa.


Dalam hal ini bukan Elisa yang bersalah tapi diri nya lah yang bersalah. ia yang telah menghadirkan Elisa di antara hubungan nya dengan khaira. Sedangkan Elisa ia tak tahu apa pun mengenai hubungan nya dengan khaira.


Alfi tak ingin meninggalkan khaira, karna jika ia melakukan hal itu, ia akan menjadi laki-laki yang paling bodoh karna melepaskan mutiara yang selalu terjaga dalam cangkang nya.


Alfi masih bergalut dalam fikiran nya tanpa ia menyadari jika sepasang mata sejak tadi memperhatikan nya, dan kini melangkah ke arah nya.


" Woyy....kenapa bengong aja, sendirian lagi di sini nanti kalau kesambet gimana? " seseorang menepuk pundak Alfi dan duduk di samping nya.


Alfi menolehkan pandangan nya saat seseorang menepuk pundak nya.


" Zaki? " Ucap Alfi, ia mengernyitkan dahi nya saat melihat zaki yang kini duduk di samping nya.


Zaki adalah salah satu teman dekat Alfi bahkan kedekatan mereka sudah seperti saudara. dan ia tahu jika Alfi sudah menikah dan masih menjalin hubungan dengan Elisa.


" Loe ngapain kesini ? " tanya Alfi sambil menatap Zaki dengan menaikkan sebelah alis nya.


" Loe tuh yang ngapain di sini sendirian ? bengong Lagi nanti kalau kesambet gimana? " Zaki malah bertanya balik pada Alfi, Alfi memutar mata malas saat mendengar pertanyaan Zaki.


" broe...coba lihat ini tahun berapa masih percaya aja sama yang begituan " ucap Alfi kesal ia memelingkan wajah nya ke arah lain.


" Mau tahun apa pun hal itu tetap ada kali, apa lagi kalau kita duduk sendirian sambil termenung terus pikiran kita kosong, keadaan seperti itu sangat mudah bagi mereka untuk merasuki tubuh kita "


ucapan Zaki membuat Alfi jengah mendengar nya, ia mencoba mengalihkan pembicaraan agar Zaki tak mengoceh lagi dengan hal yang tak penting bagi nya.


" loe ngapain di sini, tiba-tiba muncul kaya makhluk halus, Jangan-jangan loe ya yang mau masuk ke tubuh gue ? biar loe bisa menggunakan ketampanan gue untuk memikat gadis-gadis cantik yang ada di sini "


Ucap Alfi dengan PD nya membuat Zaki yang mendengar nya merasa jengah.


" Sok tampan banget jadi orang " ucap Zaki sambil membuang pandangan nya ke arah lain.


Alfi yang mendengar ucapan Zaki kembali menoleh kan pandangan nya ke arah Zaki.


" Memang tampan kan? " tanya Alfi dengan senyum mengejek.

__ADS_1


" Ya...pesona loe itu cukup bisa lah memikat banyak wanita, tapi percuma tampan kalau jomblo " jawab Zaki ia juga menjawab dengan senyum mengejek.


" yeahhh... itu mah dulu sekarang beda lagi gue udah jadi seorang suami, emang loe JOMBLO " ucap Alfi dengan bangga dan menekan kan kata terakhir nya sambil melirik ke arah Zaki.


" Loe memang udah nikah tapi sayang loe belum jadi suami sepenuh nya " ucap Zaki ia menatap sinis ke arah Alfi.


Alfi menaikkan sebelah alis nya saat mendengar ucapan Zaki.


" Maksud loe apa ngomong gitu " tanya Alfi sambil menatap tajam ke arah zaki.


" Loe kan masih punya hubungan sama Elisa " Ucapan Zaki membuat Alfi terdiam raut wajah nya langsung berubah sendu.


Zaki yang melihat perubahan raut wajah Alfi menaikkan sebelah alis nya


" Loe kenapa ? lagi ada masalah sama Elisa? kok muka loe lansung berubah saat gue sebut nama Elisa? " tanya Zaki ia menatap lekat ke arah Alfi.


Alfi menoleh kan pandangan nya ke arah Zaki yang kini menatap lekat ke arah nya.


" ngak gue ngak ada masalah apa-apa " ucap Alfi berbohong ia enggan menceritakan peasalahan nya pada Zaki.


" beneran ?? " tanya Zaki dengan tatapan menyelidik.


" iya beneran, udah sana pergi lagian loe ngapain sih tiba-tiba muncul disini, ganggu orang aja " ucap Alfi dengan nada kesal ia memalingkan wajah nya ke arah lain.


" Memang nya loe ngak liat di belakang loe ada apa ? " pertanyaan Zaki membuat Alfi kembali menoleh pada nya. Alfi menaikkan sebelah alis nya tidak mengerti maksud pertanyaan Zaki.


Lalu Dengan tampang bodoh nya ia memutar kepala nya melihat ke arah belakang. Dan dahi nya berkerut saat ia tak menemukan apa pun di belakang nya selain musala tempat ia melaksanakan shalat tadi.


" Ngak ada apa-apa " ucap Alfi tanpa melihat ke arah Zaki, mata nya masih sibuk menatap sekitar musala.


" Mata loe rabun ya masa segede itu loe ngak liat " ucap Zaki sambil memperhatikan Alfi yang masih sibuk menatap sekeliling musala.


" Mana gue ngak liat " Pertanyaan Alfi membuat Zaki berdengus kesal.


" Musala segede itu masa loe ngak liat " jawab Zaki ia merasa kesal karna Alfi tak juga mengerti maksud nya.


" Hah... musala ? " Alfi menatap bingung ke arah Zaki, begitu pun dengan Zaki ia juga menatap ke arah Alfi.


" ia musala, tadi gue habis Dari musala terus pas gue keluar, gue liat loe di sini sendirian maka nya gue samperin loe kesini "


ucap Zaki tanpa rasa berdosa, padahal Alfi dari tadi sibuk mencari apa yang ada di belakang nya, lah ternyata yang di maksud Zaki musala.


Pantesan Dari tadi ia tak menemukan apa pun pada hal yang di cari-cari ada di depan matanya.


" loe kenapa sih dari tadi ngelamun terus ada masalah sama Elisa? "


Alfi semakin kesal saat Zaki menyebut nama Elisa, ia memalingkan wajah nya ke arah lain, pertanyaan Zaki mengingat kan nya jika ia harus mencari cara untuk mengakhiri hubungan nya dengan Elisa besok.


" Atau loe Lagi ada masalah sama khaira ? " Alfi kembali menolehkan pandangan nya ke arah Zaki saat ia menyebut nama khaira.


" Jangan sok tau deh jadi orang, gue sama khaira baik-baik aja, malah hubungan kami saat ini sudah semakin membaik " ucap Alfi dengan nada ketus.


" terusss.... muka loe kenapa ditekuk gitu, udah kaya buah sunti ( belimbing yang sudah kering ) ? kalau ada masalah cerita lah sama gue siapa tau gue bisa bantu loe " Zaki berusaha membujuk Alfi agar mau bercerita pada nya.


" memang nya loe ngerti masalah percintaan loe kan jomblo " ucap Alfi sambil melirik ke arah Zaki.


" ya elah status gue emang jomblo, tapi kalau masalah percintaan gue mah udah hafal, gini-gini gue juga pernah pacaran kali " ujar Zaki karna ia tak Terima dengan ucapan Alfi yang mengatakan diri nya tak mengerti dengan masalah hati.


" oh... ya gue lupa loe kan juga pernah pacaran tapi putus karna di tinggal selingkuh, terus sampai sekarang loe ngejomblo karna takut di tinggal lagi, yakan ??? " ucap Alfi , ia malah tertawa lepas saat melihat Zaki yang kini sudah menatap kesal ke arah nya.


" ketawa terus sampai puas senang banget lihat orang menderita, lagian loe ngapain ungkit-ungkit masa lalu gue, gue aja udah lupa sama kejadian itu " ucap Zaki sambil membuang pandangan nya ke arah lain.


Alfi kembali berbicara setelah ia berhasil meng hentikan tawa nya itu.


" ya ya ya.... gue percaya kok sama loe, tapi masa cuma gara-gara satu perempuan loe rela nge jomblo se umur hidup " ucap Alfi sambil menepuk -nepuk bahu Zaki. zaki langsung menatap ke arah Alfi saat mendengar ucapan terakhir Alfi.


" Siapa juga yang mau jadi jomblo seumur hidup, gue hanya lagi cari wanita yang tepat buat dampingi gue, lagi pula menyembuhkan hati tak semudah yang loe bayang kan, maka nya gue saranin loe tinggali Elisa karna loe kan udah nikah sama khaira nanti kalau khaira sampai tau berabe kan urusan nya ".


Ucap Zaki panjang lebar, Zaki tidak tahu jika khaira sudah mengetahui hubungan Alfi dengan Elisa.


" Dia udah tahu kali " ucap Alfi santai, Zaki yang mendengar ucapan Alfi membelalak kan matanya.


" HAh..... Khaira tau loe punya hubungan sama Elisa ?" Alfi hanya menganggukkan kepala nya saat mendengar pertanyaan Alfi.


" Terusss tanggapan nya ? " Alfi mengernyitkan dahi nya saat mendengar pertanyaan Zaki, ia kembali menatap ke arah zaki.


" tanggapan gimana maksud loe? " Alfi malah balik bertanya pada Zaki membuat Zaki merasa geram karena nya.


" ya tanggapan khaira saat ia tahu loe selingkuh gimana ? " tanya Zaki lagi ia menggertak kan gigi nya saking kesal nya sama Alfi.

__ADS_1


" Jangan bilang gue selingkuh gue kan pacaran sama Elisa sebelum gue nikah sama khaira " Alfi menyangkal ucapan Zaki yang mengatakan nya selingkuh dari khaira..


" loe emang pacaran sama Elisa sebelum nikah sama khaira, nah setelah nikah harus nya loe putusin dulu tuh si Elisa, kalau gini kan sama aja loe selingkuhin khaira " ucap Zaki ia tak suka dengan sikap Alfi yang mendua kan khaira.


Jujur saja Zaki sedikit tertarik saat melihat wajah polos khaira namun dia berusaha mengabaikan nya karna ia tahu khaira adalah istri sahabat baik nya.


" Loe harus bisa memilih salah satu dari mereka, loe ngak bisa miliki dua-duanya, karna gue yakin baik khaira maupun Elisa mereka sama-sama tak ingin di dua kan "


ucap Zaki sambil menatap Alfi yang kini terdiam mendengar ucapan nya. Alfi memalingkan wajah nya ke arah lain saat mendengar ucapan zaki, benar apa yang dikatakan zaki jika ia harus bisa memilih antara khaira dan Elisa.


" loe benar Zak.... khaira juga mengatakan nya sama gue, dia bilang dia tidak mau di poligami dan jika gue sampai melakukan nya khaira akan meninggalkan gue "


Ucap Alfi ia menundukkan kepala nya, Alfi tak tahu apa yang akan terjadi pada diri nya jika sampai khaira meninggalkan nya.


Zaki hanya diam mendengar ucapan Alfi, ia ingin Alfi kembali bercerita pada nya agar ia tahu apa yang membuat sahabat baik nya terlihat begitu galau.


" Gue ngak tahu apa gue sanggup kehilangan wanita sebaik khaira, buat gue dia adalah wanita yang sempurna, seorang istri yang mungkin menjadi idaman setiap laki-laki "


Alfi kembali menghentikan ucapan nya, menghirup dan menghembus nafas nya secara perlahan, mencoba menepis rasa sesak di hati nya.


" Coba deh loe bayangkan! mana ada seorang istri yang bersikap tenang saat mengetahui suami nya memiliki hubungan dengan wanita lain.


Khaira tak marah atau pun mengamuk saat gue menceritakan soal hubungan gue sama Elisa, dia hanya diam saat mengetahui semua nya, tapi gue tahu jika sebenar nya hati nya terluka.


Dia wanita yang hebat Zak, gue merasa sangat beruntung bisa memiliki nya, dia wanita yang mampu menyembunyikan luka nya di balik senyuman, wanita yang mampu menahan amarah nya dalam diam, buat gue dia sempurna dan gue ngak sanggup jika harus kehilangan dia "


Ucap Alfi ia menatap ke arah Zaki yang kini menatap ke arah nya, Zaki masih tak membuka suara nya, ia ingin memberi waktu pada Alfi untuk mengeluarkan segala keluh kesah nya.


" khaira juga meminta gue untuk memilih antara dirinya dengan Elisa, jujur saja gue masih berat untuk melepaskan Elisa, karna dia juga wanita yang baik, apalagi ia tidak tahu apa-apa mengenai hubungan gue sama khaira. "


ucap Alfi ia masih menatap ke arah zaki. Zaki mencoba membuka suara nya setelah lama terdiam mendengar ucapan Alfi.


" Saran gue loe harus segera menentukan pilihan loe Al, karna meski pun khaira bersikap tenang mengetahui hubungan loe dengan Elisa, bukan berarti loe bisa melanjutkan hubungan loe dengan Elisa ".


Ucapan zaki membuat Alfi kembali memalingkan wajah nya ke arah lain, mencoba mencerna setiap kata yang baru saja di ucapkan zaki, Zaki kembali melanjutkan ucapan nya saat melihat Alfi yang hanya diam mendengar ucapan nya.


" Mungkin cara khaira menunjukkan kemarahan nya adalah diam, terkadang wanita memang seperti itu lebih suka menyimpan luka dari pada kebahagiaan.


Ia akan menyembunyikan luka nya sedalam mungkin tapi jika kebahagian ia akan membagikan nya pada orang lain.


Al....jika loe yakin untuk memilih khaira maka loe harus meninggalkan Elisa, begitu pun sebaliknya nya. jangan pernah loe lukai hati seseorang karna untuk menyembuhkan nya butuh waktu yang panjang. Dan loe harus percaya jika karma itu ada, cepat atau lambat ia pasti akan datang ".


Ucap zaki panjang lebar ia menepuk-nepuk pundak Alfi berusaha memberi semangat pada sahabat nya yang kini di baluti dengan kebimbangan.


" Jangan sampai khaira atau pun Elisa mengalami hal yang sama seperti gue Al, Luka fisik dapat di sembuhkan dengan di obati tapi luka hati....... tak bisa kita obati. itu lah yang gue rasa kan saat gue mengetahui Vina yang mengkhianati gue, benar apa yang loe bilang gue memilih sendiri selama ini karena gue takut terluka lagi.


tapi untuk saat ini gue mencoba untuk kembali membuka hati gue, karna gue tahu tak semua wanita seperti Vina, dan salah satu nya adalah Khaira istri loe, loe beruntung bisa memiliki istri sebaik dia, gue yakin loe pasti akan sangat menyesal jika loe sampai melepaskan dia ".


Ucapan zaki membuat Alfi kembali mengalihkan pandangan nya ke arah lain. entah mengapa baru membayangkan khaira yang pergi meninggalkan nya sudah sesakit ini, apalagi jika hal itu benar-benar terjadi pasti lebih menyakitkan.


" Gue sudah menentukan pilihan gue Zak, gue sudah memikirkan nya berulang kali, dan gue yakin untuk mempertahankan khaira di hidup gue, Gue sudah mengikat dia dengan ikatan suci dan gue tak ingin mengingkari janji yang sudah gue ucapkan "


Ucap Alfi ia kembali menolehkan pandangan nya ke arah zaki. Zaki tersenyum mendengar jawaban yang di berikan Alfi.


" Pilihan loe sudah tepat Al, dan gue berharap loe tak akan mengubah ke putusan loe itu " ucap zaki ia kembali menepuk-nepuk pundak Alfi. ia merasa bangga pada sahabat nya itu, yang kini sudah berubah menjadi lebih dewasa dalam menyikapi masalah.


" ya insya Allah gue sudah mantap dengan pilihan yang udah gue tentukan , dan gue sudah memutuskan kalau besok gue akan mengakhiri semua nya, tapi gue bingung gimana cara menjelaskan nya pada elisa ?" ucap Alfi sambil menatap bingung ke arah zaki.


" bagus kalau gitu... gue bangga dengan keputusan loe itu, kalau mengenai cara mengatakan nya pada elisa, ya loe bilang aja semua nya pada elisa, loe ceritakan awal loe bertemu khaira sampai akhir nya loe menikahi khaira. " ucap zaki sambil menatap ke arah Alfi, Alfi hanya mengangguk - anguk kan kepala nya.


" ya udah lebih baik sekarang kita kembali ke ruangan, soal nya gue masih banyak kerjaan " ucap zaki sambil bangkit dari duduk nya.


" baiklah , gue juga masih ada beberapa berkas yang harus gue kerjakan "


ucap Alfi, ia juga bangkit dari duduk nya. Lalu mereka pergi meninggalkan halaman musala menuju ke ruangan mereka untuk melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda .


🍁 🍁 🍁 🍁 🍁


Happy Reading


Silahkan memberikan kritik dan saran nya di kolom komentar.


Dan berikan like yang lebih banyak sebagai bentuk dukungan readers pada Author.


-


Terima Kasih 🙏


-

__ADS_1


Salam Author


Ety Salmila


__ADS_2