Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 10


__ADS_3

Dengan dipenuhi rasa amarah yang begitu besar, Vania mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup membuat pengguna jalan yang lainnya membunyikan klakson dan menggumpat dirinya.


" Dasar pria bodoh, dia sudah mulai berani menentangku. Awas saja dia wanita sialan itu, akan kubuat dia menderita. Arrgh!!" Sembari memukul kemudi mobilnya, Vania sangat merasa kesal dan marah.


Mobil tersebut melaju ke sebuah apartemen yang cukup mewah, memarkirkan kendaraannya dan melangkah dengan begitu cepat. Hingga kemudian ia tiba pada salah satu unit, dengan nomor sebelas. Menekan tombol bel dengan berulang-ulang kali, lalu ia menggerutu disana.


" Lama banget bukanya, dasar tukang tidur."


Tak lama kemudian, pintu tersebut terbuka. Memperlihatkan seorang pria dengan perawakan yang cukup tampan, salah satu alis matanya naik keatas.


" Berisik sekali, lain kali jangan membuat kegaduhan pagi-pagi. Masuklah!" Pria tersebut adalah David Maxlian, seorang CEO dari salah satu perusahaan yang bergerak dibidang jasa.


" Siapa suruh untuk lama membuka pintunya, aku sedang kesal. Pria itu sekarang sudah berani menentangku, apalagi ditambah wanita sialan itu yang membuat moodku rusak." Menggempaskan dirinya pada sofa disana, untuk duduk berdampingan dengan David.


" Heh, itu semua yang sudah kau pilih. Jangan mengeluh dan cerewet, lebih baik kau selesaikan semuanya lebih awal. Dan kita bisa menikmatinya semua, bukan." David merangkul pundak Vania dari arah samping dan memainkan tangannya pada rahang wanita tersebut.

__ADS_1


" Boleh juga saranmu, pria itu juga sudah mulai menyentuhku. Rasanya aku begitu jijik padanya, hanya saja tujuanku belum terselesaikan. " Jemari tangan itu mulai bermain pada dada yang bidang, milik David.


" Hahaha, hanya akulah yang bisa memuaskanmu. Tubuhmu itu sudah menjadi milikku seutuhnya, tapi kau malah tergoda dengan dia."


" Aku hanya ingin menguras habis hartanya, bukan mau menjadi miliknya. Kamu itu lebih dari segalanya, puaskan aku untuk hari ini." Vania memulai aksinya untuk memancing gairah David pada dirinya.


" Kau yang memulainya, jangan salahkan aku jika kau akan semakin terlena."


Tanpa menunggu lama, keduanya sudah begitu larut dalam olahraga paginya. Melupakan sejenak semua permasalahan yang ada, menikmati keindahan diantara satu sama lainnya.


Setelah mengisi tenaganya dan juga dengan sedikit bercengkrama dengan para asisten rumah tangga yang lainnya, mereka pun menikmati suasana tersebut.


" Wah, non Zea ternyata asik juga ya. Maaf ni, kita sebelumnya takut sama non. Eh, nggak taunya. Non malah bocor." Titik yang merupakan asisten yang bekerja membereskan rumah, membanyol dengan lepas.


" Bener, non cantik bener. Resepnya apa yak, bagi-bagi non. Biar kebagian cantik juga, sayanya." Sinta melihat aura dari nyonyanya, begitu sangat tertarik.

__ADS_1


" Hush, hush. Kalian ini, kasian tu non Zea. Nanya nggak pakek pikir-pikir dulu, ayo lanjut kerja lagi, nanti ketahuan tuan muda. Habis kita." Maryam menghentikan acara tanya menanya dari yang lainnya.


Sinta dan Titik memanyunkan mulutnya, mereka yang lagi asik bertukar cerita bersama nyonyanya itu harus dihentikan. Zea hanya tersenyum dengan tingkah laku dari para asisten rumah tangga disana.


" Tidak apa-apa kok bu, mereka juga sangat asik. Senang bisa menjadi dekat dengan kalian, jangan merasa canggung ya. Jika membutuhkan sesuatu, anggap saja kita adalah teman dan saudara. Dan bu Maryam adalah ibunya, benarkan bu?" Meminta persetujuan dari Maryam, agar mereka menjadi semakin dekat.


" Aduh! Anak-anak ibu, seperti kayak keluarga cemara aja kita ya non."


" Hahaha ".


Mereka pun tertawa semuanya atas perkataan Maryam, begitu bahagianya Zea. Bisa merasakan rasa hangat dari yang namanya keluarga, sejak ia memutuskan untuk bekerja dan tingal sendiri. Begitu terasa hampa, tanpa keluarga bersamanya.


Tuhan! Jika memang keluargaku telah tiada, berikanlah mereka tempat yang terindah dan terbaik disisiMu. Namun, jika mereka masih hidup, pertemukanlah kami dengan caraMu. *Z***ea**.


Para pekerja sudah melanjutkan kegiatannya sendiri-sendiri, tapi tidak untuk Zea. Ia tidk diperbolehlan oleh Maryam untuk bekerja, mereka tidak ingin sampai tuan mudanya marah.

__ADS_1


__ADS_2