Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 84


__ADS_3

Tak terasa tiga bulan telah berlalu, dimana kehamilan Zea sudah semakin terlihat. Kedua orangtua Sabian semakin antusias dan sangat perhatian pada Zea, bahkan mereka juga ikut mengajak Zea dan Sabian untul tinggal bersama. Namun permintaan itu ditolak secara baik-baik oleh anak dan menantunya.


Ketika sedang asik bersantai di hari weekend, Sabian dengan penuh semangat. Membawa istrinya untuk sekadar berjalan-jalan di taman kota, banyak sekali pengunjung yang berada disana. Dari berbagai kalangan usia berdatangan, ada yang berolahraga dan ada juga yang hanya memanjakan mata.


" Bee, sepertinya makanan itu enak. Cobain yuk." Tak sengaja, mata Zea menangkap keberadaan penjual makanan berupa kentang goreng spiral yang sedang viral.


" Sayang, itu nggak bergizi. Nanti nggak baik untuk baby, yang lain saja ya." Tolak Sabian dengan mengatasnamakan baby.


" Kan itu kentang Bee, kalau nggak mau beliin. Aku bisa sendiri!" Zea memutar bola matanya dengan sangat malas, suaminya itu memang paling suka ngeles kalau dimintai belanja.


" Tapi Yang, hufh. Baiklah, mau apa lagi. Biar sekalian belinya."

__ADS_1


Mendengar suaminya menawarkan menu lainnya, Zea begitu semangat menyebutkan beberapa jenis jajanan yang berada disana. Bukannya malas untuk membelinya, Ternyata Sabian paling anti dengan godaan yang ia temui sepanjang jalan menuju penjual makanan. Setelah mendapatkan semua pesanan istrinya, Sabian segera kembali menemani Zea.


" Terima kasih Bee." Senyum Zea kepada Sabian.


" Iya deh, makanlah. Pelan-pelan saja, tidak ada yang akan merebutnya." Sabian menggoda Zea, karena Zea begitu cepat melahap jajanan miliknya.


Sembari menemani Zea makan, sudut mata Sabian merasakan adanya gerak-gerik yang mencurigakan dari beberala pengunjung disana. Ia menatapnya dengan penuh curiga, sembari melindungi istrinya.


Zea yang sedang asik menguyah, tiba-tiba saja kaget mendengar suaminya berkata seperti itu. Langsung saja Zea mengambil ponselnya dan menghubungi Osmond, sedangkan Sabian. Ia sudah memberikan jarak untuk bisa melindungi Zea. Benar saja dugaan Sabian, ada beberapa orang yang menggunakan pakaian biasa sedang mendekati mereka.


" Silahkan ikut kami, tanpa ada perlawanan. Jika ingin istrimu selamat." Salah satu dari orang tersebut menghampiri Sabian dan menodongkan sebuah senjata tajam pada tubuhnya.

__ADS_1


Mendapati hal tersebut, Zea pun ikut kaget dan panik. Makanan yang berada ditangannya jatuh seketika, disampingnya juga ada orang yang sudah bersiap membawa mereka. Tubuh Zea langsung bergetar karena panik, Sabian langsung meraihnya dari samping dan memeluknya.


" Bee." Suara Zea tampak bergetar.


" Tenang saja sayang, aku akan menjaga kalian. Tetap tenang dan jangan panik nanti baby akan juga ikut tidak nyaman. Ikuti saja mereka, nanti akan ada waktunya untuk menghindar." Sabian berbisik dari telinga samping Zea.


" Berhenti berbisik, jalan!" Tegas orang tersebut dan menggiring Sabian dan Zea untuk mengikuti langkah mereka.


Mereka pun mengikuti langkah dari orang tersebut, memasuki mobil yang sudah mereka siapkan. Sabian mengikuti hal tersebut tanpa perlawanan, karena ia tidak ingin membahayakan nyawa istri dan calon anaknnya. Namun ponsel yang sebelumnya digunakan oleh Zea, sengaja dibiarkan masih tersambung dengan sang kakak. Perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh, sampai pada akhirnya mereka berhenti pada salah satu bangunan yang cukup tidak terawat. Kembali mereka di giring menuju suatu ruangan yang cukup pengap dan tanpa penerangan yang cukup, keduanya di ikat pada kursi yang sudah dipersiapkan oleh orang yang tidak dikenal itu.


Tak lama kemudian, terdengar suara langkah yang cukup berirama. Dan pemilik dari langkah tersebut adalah seorang wanita, yang cukup mereka kenal.

__ADS_1


" Selamat datang."


__ADS_2