
" Zea, ini aku. Buka matamu Zea, aku mohon. Izinkan aku untuk memperbaiki semuanya, kita akan memulainya kembali dari awal. Maafkan aku Zea, aku mohon bangunlah."
Terlihat Sabian begitu sangat menyesal atas semua perbuatannya selama ini kepada Zea, ia ingin memperbaiki hubungannya. Namun hal tersebut masih mendapatkan dinding penghalang yang cukup tinggi dan kokoh, Sabian berusaha dengan semua kekuatan yanga ada pada dirinya untuk meruntuhkan dinding tersebut.
Dengan menundukkan kepala, Sabian meluapkan rasa penyesalannya. Disaat semuanya larut dalam pemikiran sendiri-sendiri, merasakan adanya gerakan pada telapak tangannya. Membuat Sabian menjadi kaget dan sontak saja ia menegakkan kepalanya dan menatap pergerakan tersebut, bagaikan tidak percaya. Matanya berkedip beberapa kali, untuk memastikan hal yang ia rasakan sebelumnya.
" Zea, benarkah ini! Zea."
Sabian menyaksikan sendiri, tangan mungil putih pucat itu bergerak. Senyuman mulai menghiasi wajah Sabian, ia mencium kening Zea dan berbisik pada telinganya.
" Kamu adalah wanita terhebat yang aku miliki, jiwaku telah seutuhnya milikmu. Bangunlah sayang, jangan tidur lagi. Aku akan melakukan apapun untukmu, maka dari itu bukalah matamu."
Karena mendengar ucapan dari Sabian tersebut, dengan perlahan mata dari wanita yang begitu dicintainya bergerak dan terbuka. Walaupun untuk masalah perasaan itu terlambat Sabian sadari, namun kini hati dan jiwanya telah seutuhnya milik wanita tersebut.
" Eegh!"
__ADS_1
" Sayang, buka matanya pelan-pelan saja dan jangan dipaksakan." Sabian kembali membisikan hal tersebut di telingga Zea.
" Zea!" Osmond mendengar suara tersebut, ia langsung mendekatinya dan menyingkirkan Sabian dari sisi Zea.
Tubuh Sabian sempat terhuyung ke belakang, dengan sigap Kenzie dan Hanafi menahannya.
" Anda tidak apa-apa, tuan?"
" Ya."
" Bagaimana keadaanmu, Zea? Apa ada yang kau inginkan?" Dengan penuh kegembiraan, Osmond menatap wajah sang adik yang masih terlihat pucat.
" Tidak kak, terima kasih." Zea menolak apa yang ditawarkan sebelumnya oleh Osmond padanya.
Begitu pula dengan tatapan mata yang terus memandangi wanitanya, Sabian tersenyum dengan penuh harapan. Berharap, ia akan mempunyai kesempatan kedua untuk memperbaiki semua kesalahannya.
__ADS_1
" Kak, aku ingin bicara dengan suamiku."
" Zea, lebih baik kamu beristirahat saja dulu. Kamu masih punya banyak waktu untuk berbicara kepadanya, jangan terlalu memaksakan diri."
" Zea mohon untuk kali ini kak, biarkan Zea menentukan jalan hidup yang akan Zea hadapi. "
Osmond tersentak akan perkataan Zea kepadanya, biasanya Zea akan selalu patuh akan perkataannya. Tapi kali ini, aura keberanian itu terlihat jelas diwajahnya.
" Apa yang sebenarnya yang kamu harapkan dari pria bre***ek itu? Dia sudah membuat hidupmu seperti ini, kakak tidak akan membiarkan orang lain yang sudah mengacaukan hidupmu untuk mendekatimu lagi."
" Kak, untuk kali ini percayalah padaku."
Melihat wajah Zea dengan penuh keyakinan, dan pada akhirnya. Osmond harus mengiyakan permintaan dari wanita yang ia sangat sayangi, walaupun didalam hatinya masih sangat tidak menyukai pria yang sudah membuat kekacauan pada hidup adiknnya.
" Baiklah, kau menang. Akan kakak kabulkan permintaanmu, dengan catatan. Jika dia mengulangi perbuatannya, menyakiti dirimu lagi. Maka kakak tidak akan pernah mempercayai perkataanmu lagi, ingat itu." Dengan terpaksa, Osmond menggeser tubuhnya untuk beranjak dari sisi Zea.
__ADS_1