Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 7


__ADS_3

Selesai dengan tugasnya, kini Arvin hanya bisa memandangi kedua manusia yang sungguh membuat kepalanya sakit.


" Terima kasih love, kamu benar-benar mengabulkannya." Vania bergelayut manja pada lengan Sabian.


Mereka kini sudah sah menjadi suami istri, dengan pernikahan dibawah tangan yang sangat rahasia. Hanya Arvin dan Azka yang mengetahui pernikahan itu, keduanya hanya bisa menggelengkan kepalanya menyaksikan peristiwa tersebut.


" Vin, gue cabut duluan. Tu wanita, membuat perut gue mual mau muntah." Azka bergidik menirukam gaya orang yang sedang mual.


" Jangankan elu, gue yang ngurusinnya udah enek dari awal. Nggak tau pakai bacaan apa tu nenek sihir merayu Sabian, eh Ka. Lu tau, siapa istri sahnya Sabian?" Jiwa kepo mulai terlihat.


" Ni." Memperlihatkan foto pernikahan tertutup Sabian dan Zea sebelumnya.


" I ini kan, karyawan..." Betapa terkejutnya Arvin melihat foto Zea disana, wanita yang pernah dihukum karena bertabrakan dan menumpahkan air kotor pada Sabian sebelumnya.


" Karyawaanya sendiri, dan elu pasti juga tau itu. Kelihatannya, dia wanita baik. Ya sudahlah, gue cabut. Lama-lama muntah juga gue disini. Bye!" Azka segera berlalu dari tempat tersebut, meninggalkan sepasang manusia yang sama akan kegilaanya.


" Ya ampun! Kali ini kau memang sangat bodoh, Sabian!" Arvin pun pergi, ia juga tidak sanggup melihat dan menghadapi bosnya dan juga si nenek sihir.


Semoga kau tidak akan menyesal, Sabian. Nenek sihir, tetaplah nenek sihir. Azka.


......................


Beberapa hari pun berlalu, Sabian tidak pulang kerumah yang ditempati oleh Zea. Sungguh menyedihkan untuk pengantin baru, namun Zea menyadari itu semua adalah cobaan yang harua ia hadapi.

__ADS_1


" Non, jangan melamun. Nggak baik, ikut bibik panen buah dikebun belakang saja ya." Maryam melihat Zea yang begitu murung, menawarkan untuk ikut bersamanya.


" Panen buah? Apakah ada kebun dibelakang rumah bu?" Zea merasa heran, apakah benar dirumah besar tersebut memiliki kebun buah.


" Bukan kebun, non. Hanya beberapa pohon buah saja, daripada melamun. Ikut bibik panen saja, kan lumayan bisa mengisi waktu."


" Hem, benar juga bu. Baiklah, Zea ikut ibu."


Mereka berdua berjalan menuju kebun yang berada dibelakang rumah, ada beberapa pohon mangga, jambu air dan berbagai rempah-rempah yang biasa dipergunakan untuk memasak.


Rasa kagum itu terlihat dari wajah Zea, ia pun mulai larut mengikuti acara panen tersebut. Setelah selesai, merekapun kembali. Terdengar sayup-sayup suara orang yang sedang bersendau gurau, begitu bahagianya.


Deg!!


Tubuh Zea seakan hilang tenaga, hampir saja ia terjatuh ke lantai jika tidak ditahan oleh Maryam.


Terlihat sepasang manusia yang sedang bermesraan dihadapannya, apalagi mengetahui jika prianya itu adalah orang yang berstatus sebagai suaminya. Mereka semakin menggumbar kemesraannya, hal itu membuat Zea tersakiti lagi. Mereka pu melihat kehadiran Zea disana, membuat Vania semakin memainkan perannya.


" Love, itu istri yang kamu ceritain?" dengan menggunakan tatapannya, Vania menunjuk Zea.


" Istri? Dia hanya pembantu dirumah ini, kamulah istri dan permasuri hatiku honey. Hei kau! Cepat layani istriku, dan ingat statusmu yang hanya diatas kertas. " Sabian mengolok-olok Zea dan tidak mengganggapnya sebagai istri bahkan dengan mudahnya ia menjulukinya sebagai pembantu.


" Ya iyalah, kamu itu hanya status di atas selembar kertas. Dirumah ini, akulah ratunya. Benarkan love?!"

__ADS_1


" Tentu honey, dan kalian ingat. Dia adalah istriku, jadi kalian harus melayaninya sebagai nyonya dirumah ini. Camkan itu!" Merangkul tubuh Vania dan membawanya menuju kamar miliknya, meninggalkan Zea dan Maryam yang masih terdiam.


Setelah kepergian Sabian dan Vania, tubuh Zea langsung ambruk. Tanggisan itu semakin membuatnya terisak-isak, meratapi kehidupannya yang sangat menyedihkan. Menghadapi kenyataan jika kesuciannya telah direnggut secara paksa dan menikah pun terpaksa oleh keinginan kedua mertuanya, kali ini ia dihadapi dengan kelakuan suaminya yang sungguh menyayat hati. Menikah secara diam-diam dengan kekasihnya, dan membawa untuk tinggal dalam satu atap bersamanya.


" Non Zea." Maryam melihat jika Zea sudah sangat terpukul dengan kejadian tersebut.


" Ti tidak apa-apa bu, mungkin ini sudah jalan hidupku. Hanya ibu yang aku punya saat ini, bantu aku untuk kuat menjalaninya. Bantu aku bu."


Maryam semakin larut dalam kesedihan yang Zea alami, mendengar perjalanan hidupnya sampai akhirnya harus menikah dengan tuan mudanya. Hati wanita mana yang tidak akan hancur, jika dihadapkan dengan persoalan seperti ini.


" Non Zea adalah wanita yang kuat, bibik yakin. Suatu saat, tuan muda akan menyesal atas semua perbuatannya pada non Zea. Lebih baik, non beristirahat saja dulu. Nanti bibik buatkan sesuatu yang bisa membantu menenangkan suasana hati, mari non." Maryam membantu Zea berdiri dan memapahnya menuju kamarnya.


Maryam segera memasuki kamar miliknya, setelah menghantarkan Zea untuk beristirahat. Ia lali menghubungi Vita, untuk melaporkan kejadian yang baru saja terjadi dirumah tersebut.


" Nyonya besar, ada baiknya anda menemui nona Zea. Saya mempunyai informasi untuk anda, dan sepertinya kunjungan anda akan membantu nona Zea untuk tidak bersedih."


" Memangnya ada apa bik? Ada apa dengan menantuku?"


" Sebaiknya anda mendengarnya sendiri dari nona Zea, nyonya. Saya harap, kehadiran anda tidak diketahui oleh tuan besar dan tuan muda."


" Baiklah, saya akan segera kesana. Pastikan keadaan menantuku selalu terjaga!"


" Baik nyonya."

__ADS_1


Maryam begitu merasa iba dengan apa yang terjadi pada Zea, itulah satu-satunya cara untuk membantunya.


__ADS_2