
" SABIAN!!!"
Terdengar suara teriakan yang begitu kerasnya, membuat kedua insan tersebut kaget dan pandangan mereka menjadi teralihkan pada sumber suara tersebut.
" Vania!!"
Mereka secara bersamaan mengucapkan nama tersebut, mendapati kehadiran seseorang tamu yang tidak diundang.
" Rupanya, wanita ini bekerja diperusahaanmu. Heh! Sungguh tidak tau malu, tidak ada tempat lain ya yang menampungmu." Ucapan pedas dan menohok, yang Vania berikan.
" Ada apa? Jika tidak ada hal penting, keluarlah." Tangan Sabian menggenggam tangan Zea dengan erat.
" Aku adalah istrimu, dan yang lainnya juga tau kalau akulah yang menjadi wanitamu. Yang harus keluar itu adalah wanita ini!"
Tanpa disadari oleh mereka, Vania dengan begitu cepatnya mendorong tubuh Zea hingga ia terjatuh.
" Argh.." Erang Zea, saat tubuhnya terhempas dengan sangat kuat.
" Zea!!"
Saat tangan Sabian akan membantu Zea, Vania langsung saja menariknya dan menghalanginya, bahkan tubuh Sabian sedikit terhuyung terkena dorongan.
" Jika kau masih membantu wanita ini, akan aku pastikan hidupnya akan sengsara. Dan kau juga akan menyesalinya, Sabian!" Dengan penuh rasa amarah, Vania berteriak dan meninggalkan mereka berdua yang masih terpana.
" Kamu tidak apa-apa, sayang?!" Perasaan cemas dan khawatir terhadapap Zea, membuat Sabian tidak habis pikir dengan kelakuan Vania.
" Mmm aku tidak apa-apa."
Argh! Perutku kram, Ya Tuhan. Semoga tidak terjadi apa-apa pada anakku! Zea.
Sabian membantu dirinya untuk berdiri, dengan tangan yang memeganggi perutnya. Zea berusaha menutupi rasa sakit pada perutnya, ia tidak ingin jika kehamilannya diketahui oleh suaminya. Berpikir, jika mereka mengetahui dirinya hamil. Maka keselamatan anaknya akan menjadi taruhannya. Dalam perjalanannya, Vania menghubungi seseorang.
" Jalankan semuanya hari ini! Tidak ada kata gagal!" Dengan begitu emosinya, ia berbicara. Memutuskan pembicaraannya dan pergi dari perusahaan tersebut, mengendarai mobil dengan kecepatan penuh.
__ADS_1
Keadaan di perusahaan pun normal kembali, pekerjaan demi pekerjaan telah selesai Zea kerjakan. Bersiap-siap untuk pulang, karena Sabian sudah terlebih dahulu pergi. Hanya mengatakan ada sesuatu yang harus ia kerjakan, dan menyuruh Zea agar pulang bersama Arvin. Sempat menolaknya, namuan Sabian tetaplah Sabian.
Tok tok tok...
Pintu terbuka dan menampakan seorang pria bertubuh tinggi, hampir menyamai Sabian.
" Sekretaris Arvin."
" Iya nona, sudah siap?" Sedikit menundukkan kepalanya, memberi tanda hormat kepada istri dari bosnya.
" Jangan terlalu formal kak, dia yang bosnya dan bukan aku." Senyum Zea tampakkan, mengurangi rasa kecanggungan yang ada.
Arvin menatap Zea dengan perasaan yang dipenuhi dengan rasa penasaran dan tanda tanya, baru kali ini ia mendengar seseorang memanggilnya dengan sebutan 'kakak'.
" Kak. Kok malah bengong, nanti jodohnya tambah jauh loh." Dengan menahan tawanya, Zea sengaja menggoda Arvin.
" Hah." Tersadar dari semuanya, membuat wajah Arvin sedikit memerah dengan perkataan Zea kepadanya.
Selama perjalanan pulang kerumahnya, Arvin dan Zea hanya berdiam diri. Namun itu hanya bersifat sementara.
" Hm, iya kak."
" Kenapa anda tiba-tiba memanggil saya dengan sebutan 'kakak'? Jika dilihat, status anda dengan saya begitu berbeda."
Menahan senyumnya, Zea menoleh untuk melihat wajah Arvin yang siapa tau akan berubah lagi seperti tomat masak.
" Status hanya akan ada pada penilaian manusia saja kak, aku sudah menganggapmu sebagai kakakku. Bukan tanpa alasan, itu semua aku yang merasakannya. Jangan menolaknya ya, dan terima kasih juga sudah begitu sabarnya menghadapi suamiku. Ya, walaupun itu hanya berlaku pada selembar kertas."
Pandangan mata Zea beralih menatap pemandangan dari balik jendela mobil, menghembuskan nafasnya secara perlahan. Ada perasaan sakit yang menyerang hatinya, dikala mengatakan jika status pernikahannya hanya sebatas diatas kertas.
" Terima kasih sudah menganggapku seperti itu, dan nasihat seorang kakak kepada adiknya ini untuk menyakin dirinya. Jika suaminya saat ini, begitu menyukai dan mencintai adiknya. Percayalah!"
Mendengar perkataan Arvin, seketika air mata Zea lolos melewati pipinya. Dan dengan cepat, ia menghapusnya.
__ADS_1
" Terima kasih atas nasihatnya kak, semoga saja itu semuanya benar dan terkabulkan."
" Hmm."
Setibanya dirumah, Zea segera berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada Arvin. Baru saja memasuki rumah, yang disambut oleh Maryam. Ia mendapati Arvin yang sedang lari begitu cepat menghampiri dirinya, hal itu membuat Zea menjadi begitu kaget dan penasaran.
" Kak Arvin!"
Maryam pun tak kalah kagetnya dengan kehadiran sekretaris tuannya itu, dengan nafas yang tersengal-sengal. Ia berusaha mengatur nafasnya, dan mengatakan sesuatu yang begitu mengagetkan.
" Kita kerumah sakit sekarang!"
" Kerumah sakit? Memangnya ada apa kak, siapa yang sakit?" Tanya Zea yang begitu penasaran.
Ada perasaan ragu didalam hati Arvin untuk mengatakan yang sebenarnya, berharap tidak akan terjadi apa-apa setelah iya menyampaikan berita tersebut.
" Kak."
" Sabian! Akan kakak jelaskan nanti."
Tubuh Zea seketika luruh, jatuh terhempas kelantai. Maryam yang juga ikut kaget dengan berita tersebut, tak sempat menangkap tubuh Zea.
" Nona!"
" Ti ti dak, tidak mungkin." Zea begitu kaget mendapati berita tersebut, air mata kembali mengalir.
Hal inilah yang Arvin takutkan, namun jika tidak diberitahukan. Malah akan manambah masalah dikemudian hari. Arvin berjalan menghampiri Zea yang saat itu begitu shok, ia mensejajarkan tubuhnya.
" Bagaimana keadaannya kak?"
" Belum tau, pihak rumah sakit belum memberitahukannya. Jika kamu belum siap, istirahat saja dulu."
" Ti tidak kak, aku kuat. Ayo kita kerumah sakit kak, ayo!" Terlihat begitu sangat khawatirnya Zea akan keadaan suaminya.
__ADS_1
Mereka pun beranjak pergi menuju rumah sakit, tidak ada percakapan yang terjadi diantara mereka. Zea hanya berdiam diri dan selalu berdoa didalam hatinya, untuk keadaan suaminya yang belum ia ketahui.