
Setelah kejadian yang sempat membahayakan nyawa Zea berlalu, kini mereka bisa hidup dalam ketenangan dan juga kebahagiaan. Usia kandungan Zea yang sudah memasuki minggu terakhirnya, membuat kedua pria yang sangat over protective dan juga posesif itu semakin siaga.
" Kak, tidak usah terlalu memikirkanku. Lebih baik kakak fokus pada pernikahan kalian saja."
" Benar sekali kakak ipar, kasihan dengan calon pengantin wanitanya selalu kau tinggal begitu saja. " Sabian ikut memanasi Osmond.
Acara pernikahan Osmond hanya tinggal menunggu jam saja, Clara yang sedang di make over oleh ahlinya dan berada dalam salah satu ruangan di mansion tersebut. Pihak keluarganya pun sudah berdatangan dan menunggu acaranya, hingga pada saatnya pembawa acara memberikan pengumuman melalui pengeras suara. Bahwa acara inti akan segera dimulai.
" Ayo kak, bersiaplah."
Zea meminta Sabian untuk mendampingi Osmond menuju tempat proses ijab kabulnya, sedangkan Zea kini ditemani oleh mama mertuanya dan juga para sahabatnya.
" Jangan tegang kakak ipar, santai saja. Atur nafasmu, terlihat sekali jika kau sedang gugup." Sabian memijat bahu Osmond, agar bisa memberikan sedikit ketenangan.
" Ah kau ini, sudah tau aku gugup. Kenapa masih juga bercanda."
__ADS_1
Sabian pun tertawa dengan sikap dari kakak iparnya itu, bagaimana tidak. Jika kesehariannya ia terkenal dengan sikapnya yang dingin, kejam dan juga tidak bersahabat. Tiba-tiba saja, saat ini ia akan segera menikah. Tidak banyak disangka, jika seorang Clara bisa menakhlukan pria sperti Osmond. Seluruh anggota keluarga telah bersiap menyaksikan proses akad nikah dari seorang Osmond, dengan sangat khusuk dan tenang. Akhirnya, seorang leader dunia bawah melepas masa lajangnya.
" Sah, sah?"
" SAH."
Selesai sudah proses sakral tersebut, kini statusnya telah berubah menjadi seorang suami. Perlahan pengantin wanita menuruni tangga, semua mata terpana akan kecantikannya. Begitu pula bagi Osmond, matanya tidak akan pernah berpaling dari wanitnya yang seperti bidadari.
" Selamat kak, akhirnya jodohmu telah sampai." Zea mengucapkan selamat kepada Osmond, sambil memeluknya.
" Selamat ya, Clara. Tolong jaga kakakku ya, dia sungguh mencintaimu."
" Terima kasih Zea, doakan saja yang terbaik untuk kita. Bagaimana kabar keponakanku ini, rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mereka." Tangan Clara mengusap perlahan perut Zea yang sudah sangat membesar.
" Baik aunty, mereka juga sudah ingin cepat keluar bertemu dengan auntynya yang sangat cantik ini. Aku juga minta doanya ya, kemungkinan dalam waktu dekat, aku akan lahiran. "
__ADS_1
" Benarkah? Wah, tidak sabar rasanya."
Kedua wanita tersebut larut dalam kegembiraan dan rasa bahagianya, membuat para prianya menjadi iri.
" Lihatlah, mereka sudah melupakan kita." Keluh Sabian yang merutuki kedekatan Clara dan Zea.
" Benar, tapi ya sudahlah. Tanpa mereka, kita juga akan meratapi nasib. Hanya mereka yang bisa mengambil dan memiliki semuanya yang ada pada diri kita, kau dan aku sama-sama beruntung." Osmond tidak sadar telah memuji kedua wanita dihadapannya.
" Kau dan aku? Hanya kau saja yang beruntung, jodoh nasibku sudah ditentukan bersama Zea. Sedangkan kau, pria dingin yang takhluk pada wanita." Sabian tdak terima jika harus disamakan dengan kakak iparnya itu.
" Heh, yang jelasnya. Zea dan aku sangat saling mencintai, buktinya saja kami akan segera mempunyai anak. Dan kau, masih harus berjuang meluluhkan hati wanitamu. Siapa sangka nanti kau malah yang menyerah duluan, hahaha." Sabian sangat puas mengejek kakak iparnya yang terkenal kaku dan sangat tunduk pada Clara.
Terjadilah berdebatan diantara mereka berdua, Osmond yang tidak terima jika Sabian mengejeknya. Semua orang yang menyaksikannya hanya ikut menggelengkan kepalanya atas sikap konyol mereka berdua.
" Akh! Ssstt..."
__ADS_1
Disaat sedang asik bercerita, tiba-tiba saja Zea mengerang kesakitan.