
Kepergian Osmond membuat Zea bernafas lega, ia sangat memahami sikap kakaknya tersebut.
" Maaf atas sikap kakakku, dia memang orangnya yang penuh dengan jiwa posesif."
" Tidak apa-apa. Zea, aku benar-benar meminta maaf padamu. Jika bukan karena kebodohanku, hal ini tidak mungkin terjadi."
Genggaman tangan mereka berdua, Sabain letakkan diatas dahinya. Dengan penuh perasaan yang sangat bersalah dan penyesalan, berharap kejadian ini tidak akan terjadi lagi untuk kedua kalinya.
" Jangan menyalahkna diri sendiri, mungkin ini sudah jalannya takdirnya untukku. Tuan tidak boleh terlalu larut dalam rasa penyesalan, itu akan membuat diri tuan menjadi tidak baik."
" Aku mohon, maafkan aku Zea. Berikan akau kesempatan untuk memperbaiki semuanya ini, kita mulai lagi semuanya dari awal. Aku berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahan ini lagi padamu, jika hal ini terjadi lagi. Biarlah aku yang akan menerima hukumannya, tidak akan pernah aku membiarkan dirimu mengalami kesedihan dan kesusahan lagi. Aku mohon, berikan kesempatan itu padaku Zea. Aku mohon."
Perkataan Sabian kala itu terdengar begitu sangat tulus dan tidak ada keraguan didalamnya, hati Zea pun mengatakan jika dirinya masih sangat menyayangi pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu. Namun tidak dapat ia pungkiri, didalam hatinya menyimpan rasa kekecewaan teramat dalam.
" Aku sudah memaafkan anda tuan, tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Jika aku masih kecewa atas semua sikap dan perlakuan anda selama ini, biarkanlah rasa ini akan menghilang dengan sendirinya. Butuh waktu untuk semuanya kembali membaik, aku tidak bisa menjanjikan waktunya."
Tanpa sadar, airmata Zea pun mengalir. Perasaan yang selama ini ia simpan, kini sudah ia katakan semuanya kepada orang yang menjadi sumber dari akan permasalahan yang dihadapinya.
" Terima kasih sudah memaafkan kesalahanku, apa kesempatan itu masih ada?" Mengulang kembali permintaan yang sebelumnya ia katakan kepada Zea.
__ADS_1
Tanpa berkata, Zea hanya menganggukkan kepalanya dengan perlahan. Walaupun hatinya masih merasa kecewa, semuanya tertutupi oleh besarnya perasaan cinta dan kasih sayang yang mulai tumbuh pada suaminya.
Mendapati anggukkan kepala dari Zea, Sabian langsung memeluk tubuh Zea yang masih terbaring di tempat tidur. Kecupan bertubi-tubi ia berikan diberbagai bagian wajah Zea.
" Tu tuan, hentikan." Merasa sangat geli, Zea berusaha menghentikan tindakan Sabian padanya.
" Kenapa?" Dengan wajah yang sangat bingung, Sabian menghentikan tindakannya tersebut.
" Ini membuatku geli, tuan." Menahan senyuman dari wajahnya, Zea sungguh merasa begitu bahagia bisa merasakan perhatian dari suaminya. Yang selama pernikahan mereka, belum pernah ia rasakan sepenuhnya.
" Mulai saat ini, kamu harus membiasakannya sayang."
" Maksud anda tuan?"
" Argh."
" Makanya jangan menampakkan wajah menggemaskan seperti tadi, oke sayang. Itu membuatku menjadi sangat tergoda untuk menjahilimu, apalagi jika sampai kamu perlihatkan kepada orang lain. Maka, orang itu akan aku lempar ke kolam hiu."
" Kejam."
__ADS_1
" Sudah, lebih baik kamu kembali beristirahat. Tapi, jangan tidur terlalu lama seperti sebelumnya."
Senyuman kembali terpancara pada wajah menggemaskan itu, tanpa mereka sadari. Osmond sudah menahan rasa gejolak didalam dirinya, rasa marah, cemburu, dan sebagainya yang seakan-akan ingin meledak.
" Jangan berbuat mesum disini, jika sudah selesai. Maka pergilah, keberadaanmu ini sungguh membuatku sakit kepala!" Jemari tangan Osmond bergerak seperti memberikan tanda, agar Sabian segera pergi dari sana.
" Kak, kemarilah." Pinta Zea kepada Osmond.
" Sebelum pria itu pergi, aku tidak akan kesana." Tolak Osmond akan permintaan Zea.
" Tuan, berikan aku waktu untuk berdua bersama kak Osmond. Sepertinya, dia sedang dalam permasalahan perasaan."
Sabian mengerti akan situasi yang sedang terjadi saat ini, ia juga harus bisa mengerti akan posisi Zea.
" Baiklah sayang, aku juga akan pergi ke perusahaan papa dulu. Nanti kita akan bertemu lagi, jaga diri dan jangan terlalu lelah."
Beranjak dari duduknya, Sabian mengecup kening Zea dengan begitu lembut. Hal itu pun dibalas oleh Zea dengan senyuman yang begitu ceria.
" Titip salam untuk papa dan mama."
__ADS_1
Mendengar ucapan itu, Sabian langsung merasakan sesuatu hal yang membuat dirinya kembali mengingat kesalahannya. Berjalan meninggalkan ruang perawatan Zea, bermaksud untuk menegur kakak iparnya. Niat itu ia urungkan, melihat orang yang ia maksud membuang muka.
Sepertinya, aku harus lebih banyak bersabar untuk menghadapinya. Ternyata, berbesar hati itu penuh perjuangan. Sabian.