
Sabian melihat tamu mereka yang sudah berada dihadapannya, sirat wajah yang ia tampakkan penuh dengan tanda tanya.
" Dengan tuan Sabian Parves?"
" Ya, saya sendiri. Anda siapa?"
" Perkenalkan, kami dari pihak Owen Group. Ingin menyelesaikan masalah kontrak kerjasama diantara perusahaan kita." Pria tersebut tak lain adalah Kenzie, orang kepercayaan Osmond dalam berbagai hal, baik pada perusahaan maupun di dunia bawah.
Sabian sangat terkejut dengan apa yang ia saksikan saat ini, ia tau jika keadaan perusahaannya sedang dalam ambang kehancuran. Namun egonya sudah melampaui batasnya, membuat Sabian menjadi orang yang sangat angkuh.
" Katakan."
" Bisakah kita membicarakannya dengan duduk santai, tuan Sabian?" Kenzie secara tidak langsung menyindir Sabian dengan kalimat yang ia ucapkan.
" Maafkan kami tuan, silahkan duduk." Arvin mengambil alih untuk segera mendinginkan situasi.
Dengan seperti biasa, Sabian bersikap acuh dengan kedatangan tamunya. Kenzie mulai menyampaikan apa yang harus mereka bahas, hal itu membuat Sabian menjadi sangat terkejut.
" Apa kalian sudah gila! Bagaimana bisa saham yang begitu besar kalian tarik? Itu tidak sama dengan kesepakatan kita di awal, kalian ingin mempermainkanku, hah?"
Dengan penuh luapan emosi, Sabian merasa dirugikan dengan apa yang terjadi. Arvin kembali membaca berkas-berkas yang diberikan Kenzie sebelumnya.
Keputusan mereka sangat tepat, akupun akan bersikap demikian jika hasilnya akan seperti ini. Arvin.
" Anda adalah orang yang sangat cerdas, terpandang dan sukses, tuan Sabian. Dengan keadaan perusahaan yang seperti ini, investor manapun akan melakukan hal yang sama."
__ADS_1
" Tugas kami telah selesai, kami pamit undur diri. " Kenzie beserta beberapa pengawal yang ada beranjak dari hadapan Sabian dan Arvin.
" Argh! Sial! Sial! "
Kedua tangan kekar itu menjambak rambut kepalanya dengan begitu kasar, betapa beban pikiran Sabian saat ini teramat berat. Titik terendah yang ia hadapi dalam hidupnya, sedang terjadi.
Keadaan itu membuat dirinya semakin terpuruk, melihat kondisi yang dialami oleh Sabian. Akhirnya Arvin menghembuskan nafasnya dengan sangat berat, memberikan nasihat dan saran akan percuma saja disaat yanh seperti ini. Menepuk bahu Sabian perlahan, memberitahukan bahwa mereka akan menghadapi permasalahan tersebut bersama.
Waktu dan haripun berlalu, hingga kondisi itu semakin memburuk. Tatkala Sabian dan Arvin tiba di perusahaannya, semua karyawaan yang biasanya akan memberikan hormatnya kepada pemimpin perusahaan tersebut. Namun kali ini berbanding terbalik, tidak ada satupun diantara mereka memberikan hormat. Bahkan, banyak diantara mereka mencemooh Sabian.
" Eh, lihat tuh. Ada mantan bos kita datang."
" Masih punya muka tu orang datang kesini."
" Kasihan ya, pak Sabian bangkrut."
" Maaf, apakah anda sudah mempunyai janji terlebih dahulu?"
" Janji?" Ucap Arvin yang merasa heran.
" Benar tuan, untuk bertemu dengan pimpinan. Hanya klien atau tamu yang sudah membuat janji terlebih dahulu, yang bisa masuk."
" Apa kau bilang, hah! Aku adalah pimpinan dari perusahaan ini! Sabian Parves!"
Brugh!
__ADS_1
Orang tersebut mendorong tubuh Sabian dengan begitu kuat, Arvin pun dengan sabar membantunya berdiri. Dimana sebelumnya mereka telah mengetahui, jika perusahaan telah beralih kepemilikan. Namun Sabian tetap dengan prinsipnya, tidak ingin menerima kenyataan.
Klek!
Pintu ruangan terbuka, memperlihatkan seorang pria yang begitu tidak asing bagi Sabian dan Arvin.
" Kau!!" Secara bersamaan, Arvin dan Sabian membeo.
Pria tersebut, tak lain adalah David Maxlian. Rival mereka dalam dunia bisnis, terkenal dengan kelicikannya yang membuat lawannya menjadi gulung tikar. Dengan begitu emosi, Sabian berjalan dengan begitu cepatnya dan bisa dikatakan berlari kecil menghampiri David.
" Pergi dari sini!" Teriak Sabian dengan begitu keras.
" Pergi? Kenapa aku harus pergi dari perusahaanku sendiri, seharusnya anda yang tidak tau malu ini yang pergi. Membuat kegaduhan di perusahaan orang, apa itu pekerjaan barumu sekarang, Sabian? Hahaha."
Emosi Sabian seketika meningkat, tanpa sadar tangan itu meraih kerah baju yang dikenakan oleh David.
" Ini perusahaanku, keluar kau dari sini!"
Sebelum terjadi sesuatu, pria yang penjaga itu langsung mendorong Sabian.
" Jangan membuat kami berlaku kasar, tuan." Ujar pria tersebut. Arvin memijat pelipisnya dengan perlahan, lagi-lagi ia harus menghadapi kegilaan dari bosnya.
" Hahaha. Sayang, kemarilah. Kau akan senang melihatnya."
__ADS_1
David menyebut seseorang dengan panggilan sayang, tak lama kemudian. Terlihat seorang wanita berjalan dengan begitu anggunnya, ia menghampiri David dengan manja.
" Hem, ada apa honey? Kau sudah tidak sabar ya, baru saja kita berolahraga dan kah meminta lagi." Tanpa memperhatikan keadaan yang ada, wanita tersebut langsung mencium bibir David.