
Dengan begitu rapuh, menunggu didepan ruangan tindakan. Zea terlihat sangat shock dan cemas dengan kabar yang ia dapati. Berharap, jika suaminya itu baik-baik saja dan tidak ada masalah yang serius.
" Minumlah, Sabian pasti baik-baik saja." Arvin memberikan air mineral kepada Zea, terlihat jika dirinya begitu tegang.
" Te rima kasih kak. Apa masih lama?" Menanyakan kapan dokter akan selesai melakukan tindakan terhadap suaminya.
" Kita tunggu saja." Arvin ikut mendarat tubuhnya, untuk duduk bersama Zea dan Maryam.
Beberapa wakti berlalu, belum ada tanda-tanda jika tindakan medis telah selesai. Zea merasakan tubuhnya semakin tidak enak, perutnya begitu sakit. Tangannya perlahan mengusap perut ratanya.
Perutku, sakit! Sayang, kuatlah nak. Zea.
Keringat dingin mulai membanjiri wajah Zea, genggaman tangan Maryam merasakan jika itu terasa begitu dingin.
" Nona! Anda tidak apa-apa?" Wajah Maryam begitu sangat khawatir, saat melihat wajah Zea yang meringgis.
" Ti tidak apa-apa bu, hanya tegang saja." Berusaha menutupi keadaan yang ia rasakan.
Mendengar percakapan kedua wanita disampingnya, membuat Arvin ikut memperhatikan. Namun, ada kejanggalan yang ia tanggap dari wajah Zea.
" Kamu tidak apa-apa, Zea?" Nada bicara Arvin sangat mencemaskan keadaan Zea.
__ADS_1
Dengan menganggukkan kepalanya, Zea menyakinkan jika dirinya baik-baik saja. Tapi, sorot tajam mata Arvin tidak sengaja menangkap aliran cairan berwarna merah yang berada pada kaki Zea.
" Kamu tidak baik-baik saja, Zea!" Suara bariton Arvin meninggi.
Tak lama kemudian, Zea semakin meringgis dan mencengkram perutnya yang terasa begitu sakit. Hal itu membuat Arvin segera meraih tubuh Zea dan mengendongnya menuju ruang dokter, Maryam pun begitu kaget melihat keadaan nonanya. Ia pun ikut berlarian, mengikuti langkah Arvin yang begitu cepat.
Berjalan mondar-mandir seperti setrikaan yang sedang digunakan, menunggu akan hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap Zea. Sedangkan Maryam, dia begitu takut dan cemas akan keadaan nonanya. Apalagi dengan bayi yang berada didalam kandungannya, tiba-tiba saja Arvin mendekati Maryam.
" Apa yang sedang Zea alami, bik?" Pertanyaan Arvin begitu membuat Maryam menjadi ketakutan.
" E e... Sa ya, saya tidak tau tuan Arvin." Dengan begitu gugup, menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya.
" Apa ada yang sedang kalian sembunyikan? Jawab?!" Begitu tegas dan penuh intimidasi.
" Tu tuan." Suara Maryam menjadi tersendat, merasa jika Arvin sedang meminta penjelasan dari dirinya. Sedangkan mata itu masih menatap dirinya, tidak teralihkan kemana pun.
Sampai akhirnya, rasa takut itu telah mengalahkan semuanya. Tangan yang sudah mulai keriput, terlihat begitu bergetar dan saling menggenggam. Menceritakan semuanya yang telah dialami Zea, walaupun hatinya begitu ragu. Namun, Maryam berpendapat baik jika ada orang yang tau akan perlakuan yang didapatkan oleh Zea.
Mengetahui hal tersebut, membuat Arvin mengusap wajahnya dengan begitu kasar. Tak bisa diterima dengan akal sehat, bagaimana perjalanan hidup seorang wanita yang saat ini sudah ia anggap seperti adiknya sendiri begitu mengenaskan.
Mencoba mengatur emosi pada dirinya yang begitu besar, bagaimana pun juga ia harus bisa menempatkan dirinya.
__ADS_1
......................
Disalah satu ruangan yang berada pada sebuah bangunan mewah, seorang pria sedang berdiri sendirian. Menatap pemandangan dihadapannya dengan tatapan kosong, tetesan air hujan yang sedang turun membasahi rumput dan dedaunan yang ada. Menambah kesejukan suasana, dikala hati dan perasaannya saat itu sedang tidak baik-baik saja.
" Permisi, tuan."
Suara Kenzie memecahkan lamunan Osmond dikala itu, mengadahkan wajahnya untuk menatap langit. Lalu ia menghembuskan nafasnya, membalikkan tubuhnya untuk berhadapan secara langsung dengan asisten kepercayaannya, Kenzie.
" Hem, ada apa?" Berjalan perlahan menuju tempat duduk, yang biasa ia gunakan untuk bekerja saat berada dirumah.
" Saya sudah mendapatkan informasi yang anda butuhkan, tuan." Menundukkan sebagian tubuhnya dan menyerahkan sebuah berkas, yang terbungkus dalam sebuah map berwarna cokelat.
Osmond menerima berkas tersebut, perlahan ia membuka dan membaca informasi yang tertera pada kertas yang ada. Hingga akhirnya, air mata yang selama ini telah kering dan tidak pernah menyapa dirinya lagi. Setelah kepergian kedua orangtuanya untuk selama-lamanya, meninggalkan dirinya yang saat itu masih teramat terpuruk. Merasa jika hanya dirinya yang hancur, ia bahkan meninggalkan dan melupakan adiknya yang saat itu masih terbilang sangat kecil dan tidak tau apa-apa.
Mengusap gambar dua cincin yang menjadi satu dalam sebuah kalung, yang saat itu ia lihat Zea yang menggenakannya. Osmond begitu hancur kembali menginggat hal tersebut, apalagi sang adik kini telah menjadi istri dari kliennya hanya sebatas diatas kertas.
" Maaf, maafkan aku. Maaf!" Suara isakan tanggis terdengar jelas, Osmong begitu merasa sangat bersalah.
Mengetahui jika adik yang selama ini telah ia abaikan, hidup seorang diri. Tanpa mengetahui jati dirinya, dan tidak ada keluarga disisinya. Zea kecil dititipkan oleh seorang maid pada sebuah panti asuhan yang jaraknya sangat jauh dari keramaian, hingga pada usianya dewasa. Mau tidak mau ia harus hidup mandiri, dan menyisihkan sebagian hasil kerjanya untuk membantu panti tersebut.
__ADS_1
" Maafkan kakak, maafkan kakak yang telah menelantarkanmu."
Kenzie memahami keadaan dari tuannya saat itu, bagaimana tidak. Mereka berdua tumbuh dan hidup dijalanan bersama-sama, sampai akhirnya meraih kesuksessan seperti saat ini. Ia pun memberikan waktu sejenak untuk Osmond, menenangkan pikiran setelah mengetahui keberadaan sang adik.