
Kedatangan Vita membuat Maryam bisa bernafas, ia menceritakan semua yang telah ia saksikan kepada nyonya besarnya.
" Dimana Zea?"
" Nona ada didalam kamar itu, nyonya." Maryam menunjukkan keberadaan Zea kepada ibu mertuanya.
" Apa?! Ya Tuhan, benar-benar kurang ajar itu anak." Dengan begitu geramnya, Vita memasuki kamar Zea.
Ketika pintu kamar tersebut terbuka, terlibat jika Zea sedang mengadu kepada sang pemilikNya. Vita pun menunggunya dengan duduk pada pinggiran tempat tidur yang begitu kecil dan usang, hati Vita bagaikan teriris dengan melihat hal ini.
" Mama!" Mata Zea menangkap keberadaan ibu mertuanya yang berada didalam kamarnya tersebut.
" Tidak apa-apa sayang, selesaikan saja dulu doamu nak." senyuman Vita berikan, agar menantunya itu tidak buru-buru.
Segera saja, Zea merapikan perlengkapan sholatnya dan menyimpannya. Mencium punggung tangan kanan ibu mertuanya, lalu ia ikut untuk duduk bersama.
" Sejak kapan kamu tidur dikamar ini, zea?" Meraih tangan menantunya, Vita memandanginya dengan penuh kelembutan.
" Ma." Zea begitu takut, jika ibu mertuanya itu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
" Jujur sama mama, nak." Air mata seorang ibu telah menetes, dan tangan mungil itu juga yang telah menghapusnya.
" Ma, jangan menanggis. Ini tidak sepenuhnya salah mas Sabian, kami masih belajar untuk saling memahami. " Pembelaan itu Zea berikan, karena ia merasa jika memang dirinya juga ikut bersalah atas semuanya ini.
" Jangan berbohong, Zea. Mama sudah tau semuanya, kenapa kamu masih menutupi perlakuan anak mama itu sam kamu yang sungguh kejam ini dari mama nak. Mama sangat merasa bersalah padamu, sayang." Memeluk tubuh Zea, Vita semakin diliputi rasa bersalah yang teramat besar.
" Ma, biarkanlah semuanya ini mengalir seperti air. Jangan terlalu kerasa pada mas Sabian, Zea takut hal itu akan malah membuatnya semakin menjauh. Doakan saja, agar Zea bisa melewatinya semua. Mama jangan bersedih lagi ya, jangan sampai papa mengetahuinya. Hanya mama, Zea dan juga bu Maryam saja yang mengetahuinya. Biarlah ini menjadi rahasia kita, Zea mohon."
Memandangi wajah menantunya yang begitu yakin, Vita semakin merasa sakit. Namun, jika itu adalah keputusan yang telah ia ambil. Maka ia pun akan ikut mendukungnya, tapi tidak untuk hal yang lain.
" Baiklah nak, jika itu sudah menjadi keputusanmu. Mama tidak bisa untuk menolaknya, hanya saja jika anak mama itu sudah begitu melampaui batasnya. Jangan salahkan mama jika harus menghukumnya."
......................
Pengantin baru yang masih berada didalam kamar tersebut tidak mengetahui kedatangan nyonya besar mereka, masih asik bercanda dan wanitanya berprilaku manja.
" Love, apakah kita akan mengadakan perjalanan untuk berbulan madu? Aku ingin sekali ke Spanyol, apalagi disana tempatnya romantis banget." Vania begitu antusias untuk dapat pergi kesana.
" Nanti akan aku pikirkan dahulu, honey. Kau tau bukan, jika pekerjaanku di kantor sangat banyak. Apalagi papa akan curiga jika aku tidak dikantor dalam waktu yang cukup lama."
__ADS_1
" Tapi kapan? Kalau tau begini, lebih baik aku pergi sendiri saja. Kamu payah!" Berpura-pura untuk ngambek kepada Sabian, apalagi jika keinginannya itu tidak terpenuhi.
Begitupun dengan Sabian, ia tidak mungkin bisa pergi dalam waktu yang cukup lama. Tanpa mengikutsertakan Zea disampingnya, hal itu akan semakin membuat kecurigaan kedua orangtuanya.
" Aku ada ide, bagaimana kalau kita mengajak wanita sialan itu juga. Jadi, orangtuamu tidak akan curiga love. Kan lumayan, ada pembokat yang bisa disuruh-suruh. Bagaimana?" Pikiran Vania begitu kerasnya, hingga ia menemukan ide yang sangat jelek.
" akan aku pikirkan, honey. Lebih baik, kita beristirahat saja. Atau mau berolahraga?"
" Oh no, aku lagi kedatangan tamu bulanan love. Jadi, kau harus menahannya." Dengan memberikan ciuman pada kedua pipi Sabian, Vania tersenyum kecut.
" Tidak masalah, honey. Aku juga ingin beristirahat, terlalu banyak pekerjaan hari ini membuatku lelah."
" Beristirahatlah, love. Semoga lelahmu akan segera hilang setelah beristirahat." Kembali kecupan itu Vania berikan pada kening Sabian.
Sabian hanya tersenyum atas perlakuan dari istri sirihnya, ada sesuatu didalam dirinya yang begitu terasa menganjal dengan kebersamaannya pada Vania. Hal itu ia sampinkan terlebih dahulu, memilih untuk memejamkan matanya dan menghilangkan lelahnya.
Begitupun dengan Vania, ia ikut memejamkan matanya sembari memeluk Sabian dari samping.
Semuanya itu baru saja akan aku mulai, Sabian. Semoga saja kau masih bodoh seperti sebelumnya, drama panjang akan kita jalani sampai hartamu beralih semua kepadaku. Disaat itu terjadi, kau baru akan menyesali semuanya. Vania.
__ADS_1
Akhirnya, mereka berdua pun beristirahat dalam lelahnya. Tidak terjadi apapapun terhadap pengantin baru tersebut yang sebagaimana akan terjadi di malam pertama mereka, karena Vania telah mengatur semuanya dengan akal liciknya.