Air Mata Keikhlasan

Air Mata Keikhlasan
Bab 54


__ADS_3

Mencoba untuk berdamai dengan keadaan, Sabian berjalan menuju ruangan dimana sang Mama berada. Berada dalam satu bangunan yang sama, namu berbeda ruangan. Dua wanita yang sangat berarti bagi hidupnya, kini terbaring tak berdaya.


" Bian, ada apa nak? Kenapa tampilanmu sangat lusuh." Reza yang mendapati puteranya berada diruangan tersebut, cukup terkejut.


Tiba-tiba saja tubuh itu berlutut dihadapan kedua orangtuanya, tanpa kata hanya air mata yang terus mengalir dari dirinya.


Kenapa anak ini tiba-tiba saja seperti ini, apa yang sudah terjadi. Reza.


Seakan-akan memahami apa yang dirasakan oleh sang anak, Reza menarik tubuh puteranya itu untuk duduk bersamanya.


" Ceritakan jika kau sudah siap." Bersandar pada sandaran tempat duduk, Reza memandangi istrinya yang masih terbaring diatas tempat tidur.


" Pa, Zea..."


Tertegun dengan apa yang Sabian ucapkan, Reza langsung menanggapinya.

__ADS_1


" Zea, kau sudah menemukannya? Kenapa tidak diajak kamari, apa kalian masih bertengkar?" Ungkap Reza dengan sangat antusias saat mendengar nama menantu yang mereka cari.


Tidak ada jawaban yang sabian berikan, menatap kosong pada lantai yang berada ujung kakinya. Reza merasakan jika adanya keanehan dari sikap anaknya saat ini, tangan itu perlahan menepuk pundak sang putera.


" Ceritakan jika hati dan perasaanmu sudah membaik, tapi jangan dipaksakan disaat semuanya masih terasa berat."


" Pa..."


" Zea ko ma pa, ini semua salah Bian. Bian yang salah..." Tanggisan itu semakin terisak, tubuh yang juga ikut bergetar. Menandakan dirinya sangat rapuh, bahkan untuk bernafas pun begitu sesak.


Dengan isakan tangis yang masih terdengar cukup jelas, Sabian mulai menceritakan dari awal ia mengetahui keberaan Zea dan berakhir dengan kejadian yang cukup tragis. Sungguh berita ini sangat mengagetkan bagi Reza, menantu yang ia nantikan kepulangannya dengan keadaan yang baik dan tidak kurang dari suatu apapun. Namun kini, penantian itu telah sirna.


" Jangan menyalahkan dirimu sendiri, penyesalan akan selalu hadir disaat kita baru menyadari akan kebenaran yang sebelumnya sempat diragukan. Lebih baik memperbaikinya, walaupun akan banyak ujian menerpa."


" Tapi pa, gara-gara kejadian itu. Kami telah kehilangan calon anak kami, pa."

__ADS_1


" Calon anak? Maksudmu, Zea hamil dan keguguran? " Reza semakin dibuat pusing dan penasaran.


" Iya pa, disaat Zea pergi. Dia sedang mengandung, Bian baru mengetahui yang sebenarnya. Sebelumnya, Bian sudah menuduhnya yang tidak-tidak." Rasa bersalah itu semakin menekan jiwa Sabian.


Detak jantung Reza begitu cepat, rasa sakit menyerangnya. Jemari tangannya menahan rasa sesak yang ditimbulkan oleh berita tak terduga, mencoba menahan dan menetralisir rasa sakit yang ia rasakan.


" Pa, papa kenapa?" Sabian seketika menjadi panik, saat matanya menangkap Reza menahan dada kirinya menggunakan telapak tangannya.


" Em, tidak apa-apa nak. Ini hanya kaget saja, ah papa rupanya sudah sangat tua."


" Maaf Pa, ini semua akibat dari ke egoisan Bian. Papa dan mama menjadi seperti ini."


" Huh, baguslah kalau kau sudah mulai menyadari akan kesalahan yang ada nak. Tekadkan untuk melakukan perubahan dan kebaikan untuk kedepannya, hidupmu masih sangat panjang."


" Berikanlah yang terbaik untuk kami berdua, jangan coba-coba untuk mengulangi kesalahan yanh sudah kau perbuatan dimasa lalu. Sekarang fokus untuk masa depan, sudah ada pendamping hidup. Hiduplah dengan harmonis nak, jadikan semuanya ini sebagai semangatmu untuk masa depan." Mengusap bahu yang masih bergetar, Reza tau akan perasaan yang sedang anaknya rasakan.

__ADS_1


__ADS_2